Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Beberapa Bulan Kemudian


__ADS_3

Beberapa Bulan Kemudian.


Bulan sudah beranjak naik, bersinar paling mencolok dibandingkan bintang yang lebih banyak bertebaran. Sunyi, sepi dan lenggang mendominasi gedung besar berlantai dua yang beberapa waktu lalu masih terdengar keriuhan nya.


Gema tapak kaki tidak beraturan dan tidak konstan terdengar nyata, bahkan hembusan nafas yang tadinya tanpa suara kini menyeruak indera pendengaran. Sejenak suara samar menyerupai isak tangis menyelingi, mengisi ruangan dingin yang tidak jauh dari gedung Fakultas Kelautan.


Tok.


Tok.


Tok.


Terperanjat kaget, tubuh Ara sedikit tersentak ke belakang. Menoleh spontan dengan rasa was-was, namun sepasang alis Ara justru nyaris tertaut mendapati sosok familiar tersenyum manis kepadanya. “Mas? Mas kok di sini?” Ucap Ara sembari melangkahkan kakinya mendekat pada laki-laki yang tidak lain adalah Rava.


“Kenapa gak bilang kalau mau lembur?” Bukannya menjawab, Rava malah melontarkan pertanyaan dengan intonasi yang seolah tidak suka. Senyum yang menghiasi wajahnya seketika memudar, berganti cemberut khas orang merajuk.


“Kenapa harus bilang?” Tanya Ara dengan polosnya. Bagi Ara tidak perlu mengabari Rava jika dirinya harus lembur untuk menyelesaikan analisis bahan penelitian skripsi nya di laboratorium.


Bukan tidak menganggap, menghargai atau tidak memposisikan Rava sebagai seseorang kekasih yang penting, hanya saja Ara merasa cukup memberi tau Rava saat ia sudah selesai dan pulang ke rumah.


Bahkan sudah sejak awal Ara berkutat di laboratorium mengabaikan ponselnya. Terlalu repot bekerja jika otak harus membagi fokus dengan ponsel yang memiliki segudang magnet magis penggoda.


Lebih baik memfokuskan diri agar cepat selesai dan cepat pulang. Sesederhana itu pikiran Ara. Namun sayangnya tidak bagi Rava, ia terlalu khawatir saat puluhan kali panggilannya tidak diangkat. Belum lagi setelah mencoba menghubungi Jona justru mendapati fakta Ara sudah izin akan pulang sekitar jam 9 malam dari kampusnya.


Dengan seribu langkah lebar dan panik dadakan, Rava bergegas menyusul Ara. Memilih memacu laju motor miliknya dan menyalip diantara kemacetan agar lebih cepat sampai ke kampus Ara.


Bagaimana bisa Rava tidak khawatir dan panik jika memikirkan Ara yang seorang diri. Segala pikiran negatif tentu langsung bersarang di otak Rava. Meskipun sebelumnya Jona juga sudah memberitahukan Rava jika tepat jam 8 malam nanti akan menyusul Ara bersama Papa Yudith.


Sroot..


“Kamu nangis?” Tanya Rava tiba-tiba. Hidung dan mata memerah Ara membuat Rava seketika terbelalak. Mengulurkan tangan hangatnya ke pipi yang sudah kembali membulat, Rava mendapati pipi Ara sebeku es. Sangat-sangat dingin yang mungkin efek pendingin ruangan.


“Ini pilek, bukan nangis.” Tukas Ara membantah kalimat tanya Rava sembari menarik kedua sudut bibirnya tersenyum datar dan mata menyipit malas. Bisa-bisanya Rava mengira Ara menangis, padahal sangat jelas antara menangis, mengantuk dan kedinginan itu berbeda.

__ADS_1


Sedangkan yang Ara rasakan saat ini adalah mengantuk yang dibalut kelelahan. Namun mau tidak mau Ara tidak boleh menyerah. Hanya tersisa 10 hari lagi sebelum dirinya bisa mengajukan seminar hasil sebagai kunci proposal penelitiannya diloloskan untuk sidang skripsi.


“Apa gak bisa kamu naikin dulu suhu ruangannya?” Ucap Rava sambil mengedarkan pandangannya, mencari remot pendingin ruangan.


“Gak bisa Mas. Ini lab kimia. Coba lihat itu, itu lemari untuk bahan-bahan kimia.” Ucap Ara sambil mengarahkan telunjuknya pada lemari kaca setinggi Rava dengan berbagai tempelan kertas berisi daftar nama bahan kimia dalam setiap rak nya. “Ada bahan-bahan kimia yang udah diatur suhu ruangannya. Jadi gak bisa Ara sembarangan naik turunkan suhu di dalam sini.”


“Kalau tau gitu kamu harus pakai pakaian yang lebih tebal lagi, Sayang. Kamu kan gak kuat dingin.” Ucap Rava putus asa. Jika sudah sebuah berkaitan dengan ketentuan mutlak, maka Rava tidak bisa apa-apa lagi. Selain itu juga Rava tidak terlalu mengerti mengenai prosedur di dalam laboratorium kimia, atau bahkan laboratorium lainnya yang nanti akan Ara gunakan. Karena jelas latar belakang bidang studi mereka berdua sangat berbeda.


“Kan ini sambung kerja dari setelah kuliah dulu, Mas. Bisa kegerahan kalau Ara pakai baju tebal. Apa lagi tadi siang panas banget.” Gerutu Ara sambil meraih salah satu jas laboratorium yang tergantung di sudut ruangan.


“Pakai ini.” Ucap Ara lagi sambil menyodorkan jas laboratorium itu kepada Rava.


“Pakai?” Mengerutkan dahinya, Rava memiringkan kepala menatap lekat penuh tanya, namun tangannya tetap menyambut uluran tangan Ara.


“Mas mau duduk di dalam atau di luar? Kalau di dalam harus pakai ini.” Menjatuhkan tangan yang menggantung ke sisi tubuh, bahkan sebelum Rava sempat meraih jas laboratorium yang hendak Ara berikan kepadanya.


“Di dalam lah, Yang. Mas mau bantuin kamu.” Ucap Rava meraih sebuah jas berwarna putih yang digunakan khusus saat berada di dalam laboratorium. Panjangnya hanya sampai setengah paha Rava dan panjang lengan menggantung sebatas siku.


“Mas jadi gak merasakan kesenjangan jarak diantara kita kalau kayak gini.” Ucap Rava tiba-tiba yang membuat Ara mengernyit heran dengan perubahan suasana hati Rava yang tergambar sangat jelas.


“Maksudnya?” Tanya Ara bingung tanpa menatap pada Rava. Ia harus segera melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena kehadiran Rava.


“Lihat Mas ini udah pakai jas lab yang samaan kayak kamu.”


“Lagi ngebayangin jadi sesama mahasiswa kayak Ara?” Tebak Ara tepat sasaran yang langsung diangguki oleh Rava.


“Halah, Mas. Kalau lagi sama Dosen lain juga jadi samaan tuh. Mas lebay nih..” Ejek Ara pada Rava, tertawa renyah saat matanya menangkap senyum Rava yang memudar, berganti dengusan kesal.


“Jangan bahas laki-laki lain!” Ucap Rava ketus.


“Perempuan, Mas. Bu Rika, Bu Dian sama Dosen-dosen yang lain kan gak hanya laki-laki.” Ucap Ara mengoreksi tuduhan Rava, lagi pula memang kebenarannya jika Dosen lain yang Ara maksud tidak melulu laki-laki.


Menggeleng perlahan, Ara mengemas peralatan yang ia gunakan untuk titrasi oksigen. Membawa beberapa peralatan gelas yang pastinya sudah kotor ke wastafel untuk dicuci.

__ADS_1


"Sayang, sweater Mas kamu pakai dulu. Badan kamu udah terlalu dingin. Bisa-bisa nanti kamu sakit." Ucap Rava menahan bahu Ara dan menyodorkan sweater abu-abu yang ia lepaskan sebelumnya.


"Udah nanggung, Mas. Nanti aja. Lagi pula Ara mau nyuci ini, sayang nanti sweater Mas basah malah gak bisa dipakai lagi. Nanti aja pakai sweater nya." Tutur Ara cukup panjang, menolak halus permintaan Rava agar Ara mengenakan sweater untuk lebih menghangatkan tubuhnya.


“Biar Mas aja yang cuci.” Cegah Rava saat tangan Ara hampir bersentuhan dengan dinginnya air kran.


“Kamu lanjut lagi apa yang mau diselesaikan.” Imbuh Rava sambil mendorong tubuh Ara agar segera menjauhi area wastafel. Tentu saja hal ini membuat Ara mengangguk senang, ia bisa menghemat waktu untuk menginput data ke dalam software khusus agar bisa langsung diketahui hasil beserta nilai error yang ada. Karena dengan begitu jika ada nilai yang jomplang maka Ara bisa melakukan pengujian ulang menggunakan peralatan utama yang sengaja belum ia kemas.


“Nanti kita beli baju couple mau? Lucu juga kayaknya, Yang.” Celetuk Rava menghentikan jemari Ara yang menari di atas keyboard. Mendongak menatap Rava yang menyengir di hadapannya, Ara hanya bisa menggeleng tidak habis pikir.


‘Bukannya cewek ya yang suka lucu-lucuan gemes gitu sama baju couple? Ini kenapa jadi Mas Rava?’ Gumam Ara dalam hati. Memang dasarnya Ara yang terlalu datar menjalani hidupnya. Beruntung Rava yang sebeku gletser akan berubah layaknya hot choco lava jika menyangkut tentang Ara.


...****************...


*


*


*


Sudah ada yang lihat 1 foto Ara pakai gaun pernikahan?😄


Kalau iya, itu salah satu dari 3 hasil edit Hana. Pasti yang gak ngintip ke IG atau FB mulai kepo nih🤭


Sebelumnya Hana sangat-sangat berterima kasih untuk seseorang yang kasih Hana tips hati (❤). Karena kemarin nt/mt sempat error, jadi gak tau siapa yang kasih. Tapi intinya terima kasih banyak ya🥰


Jujur aja saat tips itu dikasih, maka recehan yang biasanya Hana dapat setelah sebulan UP bisa langsung terbayarkan. Hana ini masih penulis baru yang tulisannya kurang banyak peminat, bersyukur banget teman-teman semuanya bersedia meluangkan waktunya buat baca hasil halu penulis doyan molor ini🤗


Oiya, recehan ku ini benar-benar receh ya, sampai seporsi bakso cilok pun kalau bayar dari hasil nulis ini masih harus ngutang😂 Tapi selama hampir setengah tahun ini aku tetap bahagia bisa nulis dan hasilnya ada yang baca meski gak banyak😁


IG : @hi.onelight


FB : Hana Hikari

__ADS_1


__ADS_2