
“Ini dari Nenek..” Menggeser selembar kertas kecil yang terlipat, Ega berujar lirih sambil menatap kertas yang masih berada di bawah jemari kanannya.
“Pesan yang sempat Nenek tulis sebelum pergi buat Papa.. Ega cuma mau kasih ini.” Lanjut Ega berkata sambil menatap sepasang pupil mata Papa Yudith yang melebar.
Terkejut? Jelas Papa Yudith terkejut. Otaknya memutar, menduga-duga segala hal yang mungkin tertulis.
Meraih kertas itu dengan ragu, Papa Yudith dapat melihat ada bekas remasan. Sejenak waktu seolah tidak berputar. Keduanya terdiam hingga akhirnya Papa Yudith mulai membuka lipatan kertas yang rupanya terdapat pula bekas robekan pada salah satu sisi tepinya.
'Yudith,
Maafkan Mama yang belum sempat meminta maaf ke kamu secara langsung. Terima kasih sudah menjadi suami terbaik untuk anak Mama yang suka bertindak seenaknya itu. Lauritz memang keras kepala, tapi dia anak yang rapuh. Semua salah Mama yang selama ini kurang perhatian dengan Lauritz.
Maaf karena sudah mengorbankan kamu dan Lauritz untuk masalah Laura. Maaf karena sempat ingin menukar harga diri dan pengorbanan kamu dengan uang. Mama dan Papa hanya ingin anaknya punya masa depan yang lebih baik hingga tanpa sadar cara kami salah. Begitu juga yang kami inginkan dengan menjodohkan Ara dengan Eric. Tapi lagi-lagi rupanya kami salah.
Maafkan juga karena Mama bukan Nenek yang baik untuk Ara, Jona dan Rian. Tolong dekatkan cucu-cucu Mama dengan Papa kalian. Maafkan sikapnya yang selama ini menyakiti keluarga kecil kamu.
Tolong sampaikan permintaan maaf Mama kepada anak dan cucu yang selama ini Mama sia-siakan. Maafkan Mama yang menjadi salah satu penyebab penderitaan Ara selama ini. Bukannya menemani dan memanjakan Ara di masa kecilnya, kami para orang tua justru memberi luka. Mama dan Papa gak pernah menyangka kami akan memberi luka sedalam itu untuk Ara, karena ego yang enggan kami turunkan.
Jika keluarga kamu masih belum bisa menerima Lauritz, tolong biarkan anak-anak mu mengenal mereka dari jauh. Jangan tutupi, tapi juga jangan paksa mereka mendekat. Mama takut apa yang terjadi pada Ara akan terulang.
Mama juga titip Ega. Laura bukan Ibu yang baik. Mama juga takut kasih sayang dan materi yang keluarga Arya berikan justru menjerumuskan Ega. Jangan sampai kisah kedua orang tuanya terulang lagi di Ega. Maafkan Mama yang hingga akhir hayat rupanya selalu menyusahkan kamu.'
Nyeri, dada Papa Yudith seolah sesak terhantam udara yang mengeras. Bagai pelangi terlukis indah di langit setelah badai yang tidak mampu untuk diraih, begitulah kebahagiaan dari secuil kata ‘maaf’ yang tertuang.
Bukan permohonan maaf yang selama ini Papa Yudith harapkan, tapi makna bahwa dirinya sudah diterima sebagai suami dan ayah bagi keluarga kecilnya sendiri. Tidak masalah hanya dirinya yang tau, semua sudah cukup berharga kala orang tua sang istri sendiri yang akhirnya mau menerima hadirnya.
Seolah satu beban di bahunya terangkat, Papa Yudith terisak dalam diam. Matanya berkaca-kaca dan di dalam hati dirinya mengucap syukur berulang kali. Meski semua kebahagiaan itu jelas terasa berbeda karena bercampur duka.
"Kamu mau ikut Papa?" Tanya Papa Yudith tiba-tiba pada Ega setelah menyimpan kertas berisi pesan mengharukan ke dalam saku celananya.
“Maaf, Pa.. Ega gak bisa ikut Papa sekarang. Papa tau kan kalau keluarga Ayah sibuk mendidik Ega supaya jadi penerus yang hebat? Ega harus bisa jadi kebanggaan semua orang terlebih dahulu.”
“Jangan memaksa diri kamu untuk jadi kebanggaan banyak orang, cukup jadilah membanggakan untuk dirimu sendiri. Pulanglah ke Kota B jika kamu butuh tempat istirahat saat kamu lelah, di sana ada rumah kamu. Rumah dimana ada Papa, Mama dan adik-adik kamu.” Ucap Papa Yudith sambil menepuk pelan bahu Ega yang menurun lesu.
Kepala Ega tertunduk dengan mata terpejam menghalau air mata. Tepukan pelan yang Papa Yudith berikan sukses menghangatkan hati Ega yang mulai mendingin.
‘Seandainya Ega nggak berhutang kehidupan dengan Ayah dan Ibu, apa Ega boleh jadi anak Papa dan Mama aja?’ Tatapan sendu Ega terpusat pada ujung ibu jari kanannya yang menekan bagian dalam jari manis kiri dari jemari yang saling terbelit.
__ADS_1
...----------------...
Di pagi yang cerah, dikala sang mentari dan langit tersenyum menyapa dengan riang tangis kehilangan, lagi-lagi Ara memilih menyingkir. Meski tatapan aneh harus ia dapatkan dari banyak pasang mata yang asing. Ara justru menyilangkan tangan, bersembunyi di balik pepohonan yang terletak beberapa meter dari tempat Mama Lauritz bersimpuh meluapkan tangisnya.
Walaupun terbersit keinginan memeluk Mama Lauritz, Ara tidak ingin kesedihan yang rupanya hadir terlambat itu terbebas. Ia juga ingin memberi waktu pada Mama Lauritz melepas kepergian orang terkasih yang selama ini terpaksa ditinggalkan.
Diam-diam Ara ikut menyalahkan dirinya. Sadar atau tidak, Ara yakin keputusan yang pernah diambil Mama Lauritz dan Papa Yudith untuk menyingkir juga untuk kebaikan dirinya.
“Kakak sedih?”
“Mas ngapain ke sini?” Mengernyitkan dahinya dengan alis kanan terangkat, Ara sempat terperanjat pada kehadiran Jona yang sudah ada di sampingnya. Ia tidak melihat apalagi mendengar langkah Jona yang mendekat.
“Karena Kakak di sini.” Jawab Jona singkat.
“Kakak sedih?” Melirik Ara sekilas, Jona kembali bersuara, namun kali ini dirinya mengulang pertanyaan yang belum Ara jawab sebelumnya.
“Nggak, kamu?”
“Jona juga nggak sedih. Mereka semua terlalu asing buat Jona.” Menghela nafas berat, Jona juga menggeleng pelan. Tampak tatapan mata Jona hampa. Ada kekosongan yang tidak mampu Ara definisikan.
“Kayaknya udah selesai..” Ucap Jona dengan kelopak mata sedikit melebar, jelas tergambar raut lega dari wajahnya.
“Rian sini..!” Panggil Jona pada sang Adik yang sedang berjalan ke arahnya dalam rangkulan Ega.
“Papa udah pesan untuk kalian pulang sama Mas.” Ucap Ega pada ketiga adik sepupunya itu.
“Kita pulang duluan. Mama masih perlu waktu di sana..” Ucap Ega lagi sambil memutar badannya ke arah gundukan tanah basah yang masih baru dan bertabur bunga. Di sana ada Papa Yudith yang setia mengusap punggung Mama Lauritz yang bergetar hebat akibat terus terisak, menumpahkan tangis yang enggan mengering.
“A..”
“Ara..” Baru saja Ara ingin berkata ‘ayo’, namun sebuah suara familiar menginterupsi. Memanggil dirinya dengan lembut bersamaan dengan derap langkah kaki mendekat.
“Bang.. Mmm.. Eric?”
“Ck! Gilang aja.” Berdecak disertai bola mata yang memutar, Gilang ingin menyentil dahi Ara.
“Kan ini bukan di Kota B. Kirain harus berubah nama panggilan jadi Eric.” Kilah Ara santai sambil mengamati Gilang sejenak.
__ADS_1
“Mas duluan ke mobil. Kamu cepat nyusul. Duluan ya..” Ucap Ega pada Ara diakhiri mengedikan dagunya sekilas yang ditujukan untuk Gilang.
“Sip.. Hati-hati..” Balas Gilang sambil tersenyum dan mengangkat tangan kanannya singkat sebatas bahu.
“Naik motor atau mobil?” Tanya Ara tiba-tiba pada Gilang.
“Motor, kenapa?” Jawab Gilang dengan perasaan mulai tidak enak.
“Sebentar ya..” Berlalu meninggalkan Gilang penuh kebingungan, Ara berlari kecil menuju mobil dimana Ega sedari tadi sudah menanti. Bahkan mesin mobil itu langsung menyala saat Ara memutar tubuhnya dan berlari mendekat.
...****************...
*
*
*
Sudah tertebak apa yang akan Ara lakukan?🤔
*
*
Setelah Hana selesai buat outline kisah ini, rupanya masih cukup panjang lagi. Apalagi kisah ini akan ada sangkut paut dengan kisah Yuki.🙂
Oh iya, ini cover kisah Yuki.👇
Kasih sarannya ya kalau kurang CETAAARRR.😁
(1 Bab udah meluncur, tapi rilis bersamaan dengan 1 bab spoiler dari sini.🤫🤭)
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰
__ADS_1