
7 Bulan Kemudian.
Udara pagi masuk lewat jendela bertralis yang terbuka. Dingin menusuk hingga membuat tulang ngilu. Sontak saja Ara yang masih merebahkan tubuhnya di atas kasur langsung menarik selimut menyembunyikan diri.
"Jam 10 Mas harus ke lokasi proyek yang baru." Melangkah mendekati ranjang, Rava mendudukkan diri tepat di samping Ara, membawa telapak tangan kanannya mengusap puncak kepala Ara.
Air hangat di atas nakas masih mengepulkan uap, menanti untuk Ara minum. Namun Ara yang terkalahkan oleh dinginnya udara berkabut tebal lebih memilih meringkuk dengan separuh wajah yang menyembul, tepatnya hanya sebatas mata ke atas yang terlihat.
"Mau ikut atau di sini aja?" tanya Rava sambil menyibak poni rambut yang menutupi dahi mulus Ara.
"Ikut. Ngapain juga di dalam sini sendirian? Percuma Mas ajak Ara pergi kalau cuma nungguin di penginapan aja."
"Memang badannya udah enakan? Perutnya gak masuk angin lagi?" tanya Rava lembut, kepalanya merunduk menyerbu dahi Ara dengan kecupan singkat. Sejurus kemudian Rava ikut merebahkan diri di sisi kanan Ara. Memeluk erat tubuh kecil yang terbalut selimut tebal.
"Awas nanti jatuh, Mas ...," ucap Ara khawatir. Tangannya ingin keluar dari selimut untuk menarik tubuh Rava merapat, namun ia seperti bayi terbedong yang terkunci rapat.
Menggulingkan tubuh ke sisi kiri Ara, Rava kembali mencuri kecupan di pipi Ara.
"Hari ini gak usah ikut ya? Istirahat aja," bujuk Rava pada Ara.
"Ara udah sehat, aman kok. Tapi lain kali Mas jangan nakal. Gara-gara Mas Ara harus mandi 2 kali sampai masuk angin."
'Kamu yang gak mau mandi pakai air hangat, Sayang,' gumam Rava cukup dalam hati saja, akan panjang urusan jika Rava ucapkan secara langsung.
"Iya-iya, gak nakal, tapi gak janji."
"Dasar!" ketus Ara sambil memutar bola matanya malas. Bibirnya manyun seolah merajuk.
"Ayo makan dulu...," ucap Rava sambil membantu Ara duduk. Telapak tangan kanannya menyelip di bawah punggung Ara.
"Gak selera, Mas." Menggeleng Ara dalam posisi sudah duduk. Selimut masih dipertahankan untuk membelit tubuhnya.
"Ingat kata Dokter, selain jangan stres, kamu juga gak boleh telat makan lagi."
"Masih pagi Mas ... Gak mau, nanti aja. Masih pengen tiduran."
__ADS_1
"Mas udah buatin kwetiau goreng, masih gak mau makan?" Menaik-turunkan sepasang alis secara bersamaan, Rava jelas tau Ara tidak akan menolak menu sarapan paginya kali ini.
"Serius?" Bola mata yang terbelalak itu berbinar. Senyum mengembang seolah memenuhi wajah.
"Kalau gak mau biar Mas habisin sendiri." Beranjak dari atas kasur, Rava mengulum senyumannya.
"Kalau kwetiau mau. Udah lama banget Mas gak bolehin Ara makan itu," sungut Ara sambil berlari kecil mengejar Rava.
"Gimana Mas gak larang kalau hampir setiap hari kamu minta kwetiau terus? Memang Sayang gak bosan?"
"Kalau belinya di tempat yang beda-beda gak cepat bosan, Mas." Merangkul lengan Rava, tubuh Ara merinding saat udara dingin di dalam penginapan itu menerpa.
Ruangan yang hanya terdiri dari masing-masing 1 kamar tidur, dapur, kamar mandi dan sebuah ruang tamu itu sudah menjadi tempat Ara dan Rava menginap beberapa hari belakangan ini.
Rava yang harus meninjau lokasi proyek pembangunan bakal calon cabang swalayan baru di luar daerah tidak tega meninggalkan Ara seorang diri. Ara juga lebih memilih mengikuti Rava ketimbang harus menunggu di rumah orang tuanya. Alhasil Rava memutuskan memboyong Ara pergi bersamanya.
Mengenai perdebatan awal keinginan Ara untuk bekerja bisa dipastikan perlahan terkikis. Bukan benar-benar menghilang begitu saja. Bahkan sempat di awal bulan ketiga pernikahan mereka perihal bekerja ini membuat Rava mendiamkan Ara. Tentu tidak lama, hanya bertahan 2 jam dan setelah itu Rava yang bersuara terlebih dahulu karena tidak tahan godaan Ara dengan baju kurang bahan hadiah pernikahan dari Yuki yang baru dikenakan saat itu.
"Sayang pelan-pelan!" tegur Rava saat Ara menyuapkan helaian tipis kenyal menggunung dari sendok ke mulutnya. Segelas air hangat yang tadinya sempat Rava letakkan di atas nakas sudah cukup mendingin di atas meja dapur, tepatnya bersisian dengan piring Ara.
Sambil menyengir dan mengunyah dengan semangat Ara mengacungkan ibu jarinya. Masakan Rava tidak pernah bisa diragukan, bahkan cita rasanya jauh lebih lezat dibandingkan masakan Ara.
...----------------...
"Mas, pengen itu." Tunjuk Ara pada sebuah warung makan bertuliskan 'Serba Rp 10.000'. Perut yang baru saja diisi 1 jam lalu dengan seporsi kwetiau goreng buatan Rava kembali meronta-ronta.
Terlihat jelas dari samping jika Ara sudah berulang kali menelan air liurnya yang seketika meluap. Dari leher yang terekspos itu tampak terdapat pergerakan samar.
"Sayang ... Kamu baru makan loh. Bukannya gak biasa makan banyak-banyak? Apa lagi ini masih tergolong pagi." Memasangkan topi di kepala Ara, Rava berusaha menolak permintaan Ara.
Sudah sangat Rava hafal jika kapasitas kemampuan lambung Ara untuk menampung makanan rendah. Biasanya saja jika mereka sengaja makan di luar, contohnya saat memesan ayam bakar lengkap dengan nasi, maka jatah separuh nasi akan beralih ke piring Rava.
"Tapi mau itu!" rengek Ara sambil memanyunkan bibirnya.
Tepat di seberang jalan kantor kecil yang terdiri atas 2 lantai, aneka makanan yang tidak terlalu jelas wujudnya di mata Ara terlihat sangat menggiurkan lidah.
__ADS_1
"Tunggu 1 jam lagi baru makan. Yang tadi masih di sini, belum diproses semuanya," ucap Rava sambil mengarahkan tangannya menyentuh perut membulat Ara, buncit karena kebanyakan makan.
"Ya udahlah kalau gak boleh. Gak jadi dan gak pengen lagi." Menunduk, Ara memandang ujung sepatu yang menendang paving area parkiran.
"Boleh, Sayang ... Tunggu 1 jam lagi, jangan sekarang." Rava tidak akan mengalah pada kalimat yang selalu dilancarkan sebagai jurus andalan Ara.
Kemarin malam saja saat mereka memadu kasih Ara sempat-sempatnya salah fokus pada lemak perut yang bergetar. Sontak hal itu bukan hanya menghentikan Rava yang sudah siap melepaskan siraman bibit unggul, namun berhasil membuyarkan sensasi yang sudah di ujung tanduk.
Kini entah sadar atau tidak Ara malah ingin mengisi perutnya lagi. Padahal jelas lambungnya tidak bisa dipaksakan menerima makanan dalam porsi besar di waktu berdekatan.
"Kayaknya ayam gorengnya enak itu," gumam Ara sambil menelan air liurnya. Terlihat tatapannya sangat ingin.
"Memang kelihatan di sana ada ayam goreng?" cibir Rava sembari terkekeh. Terkadang saja saat melihat Rava dari kejauhan Ara suka memicingkan mata mencoba memfokuskan bias cahaya yang masuk membentuk siluet Rava.
"Ish ... Kelihatan ya! Jangan ngejek!" ketus Ara sambil menatap sinis Rava. Seketika dua jarinya mencubit kecil pinggang Rava.
"Udah ayo masuk dulu. Mas udah ditungguin untuk meeting pagi ini."
Meski langkah kaki mengikuti Rava dengan tangan yang sudah pasti digenggam erat, namun sesekali kepala Ara menoleh ke belakang, memerhatikan warung sederhana yang tampak ramai. Sedangkan Rava yang menyadari arah pandang Ara hanya mampu menggeleng perlahan.
Sekilas Rava mengingat jika beberapa hari ini selera makan Ara benar-benar meningkat pesat. Tentunya sejalan dengan keluhan tentang lemak perut, dagu, pinggul, lengan dan pipi yang juga ikut meningkat pesat. Bahkan tadi pagi saja sebelum menemani Rava berangkat ke kantor cabang, Ara sempat mengeluh jika paha nya sudah semakin merapat akibat lemak yang terus bertambah tebal.
"Selamat pagi ...," sapa Rava berbasa-basi sesaat setelah memasuki ruangan yang ditunjukan oleh laki-laki yang menjabat sebagai Manajer Cabang.
Mengekor tepat di belakang Rava, Ara cukup kikuk berada dalam suasana formal namun genggaman tangan Rava enggan untuk terlepas sedetikpun.
"Mas tinggal meeting dulu ya? Kamu duduk di sini, jangan kemana-mana!" pinta Rava layaknya perintah sambil menuntun Ara agar duduk di sofa yang terpisah jarak cukup jauh dari meja rapat minimalis, namun masih berada dalam jangkauan penglihatan satu sama lainnya.
Menanti dalam diam, Ara mengalihkan perhatiannya menyibukkan diri berkirim pesan dengan Dimas. Grup chat mereka berubah sunyi. Tidak ada lagi perdebatan absurd antara Dimas dan Yuki. Jika ditanya mengapa, maka jawabannya adalah Yuki yang menghilang.
...****************...
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah menanti kisah anak pertama Hana, semoga gak bosan dengan perbucinan ArVa😃