Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Senior Ghibah


__ADS_3

"Tumben Papa gak pakai baju bengkel Ma, Papa mau kemana Ma??" Tanya Ara pada Mama Lauritz sembari ekor matanya menatap Papa Yudith.


"Itu ke rumah Bang Buna. Barusan dapat kabar Oma-nya Bang Buna meninggal." Ucap Mama Lauritz sambil menatap Ara penuh kecemasan.


"Ooh.." Ucap Ara dengan bibir mengerucut membentuk celah lingkaran tanpa sadar akan tatapan Mama-nya.


"Kakak gak apa-apa?" Tanya Papa Yudith tiba-tiba.


"Maksudnya?" Dahi Ara berkerut sembari berbalik menatap Papa Yudith, "Memang Kakak kenapa?"


"Itu Kak, helm merah Papa pakai gak apa-apa kan?" Ujar Mama Lauritz sambil mengelus lembut puncak kepala Ara.


"Iya gak apa-apa lah Ma.. Itu helm punya Jona kok." Ujar Ara sambil tersenyum geli, tumben sekali bertanya kepadanya tentang helm. Padahal Papa Yudith biasanya hanya asal memakai helm acak yang paling dekat untuk diraih.


"Ya udah deh Ma, Pa. Kakak berangkat dulu yaa.. Bye Mama cantik ku."


Cup


Ara mengecup pipi Mama Lauritz sekilas.


Cup


"Bye Papa ku sayang." Ujar Ara setelah mengecup pipi Papa Yudith sekilas sembari berlalu mengendarai motor matic pink miliknya.


Di atas motor matic pink miliknya yang sedang melaju, Ara mulai merangkai ulang drama helm yang terjadi belum lama itu di rumahnya. Ada sesuatu yang dirasa janggal meskipun ia belum tau pasti.


"Biasa ke rumah Bang Buna gak pernah pakai helm.. Kapan ya Papa dapat kabar Oma meninggal??" Tanya Ara pada dirinya sendiri dalam dialog dengan para angin yang sedang ia tabrak.


"Heh.. Oma meninggal?? Meninggal?? Eyang.. meninggal.. Iya, Eyang apa kabar di sana??" Nada ujaran Ara kali ini seolah mencibir bahkan mencemooh. Tidak tau siapa yang ingin Ara cibir dan cemooh.


Sekelebat bayangan kejadian 5 tahun lalu terputar di depan mata Ara. Kejadian yang akhirnya menjawab perlakuan tidak adil yang Ara dapatkan dari kedua belah keluarga orang tuanya. Meskipun sebelumnya sudah banyak dugaan Ara pikirkan, namun 5 tahun yang lalu baru benar-benar Ara tau bahwa dugaannya benar. Ara tidak diharapkan.


Mengingat bagaimana 5 tahun yang lalu keluarga Ara pulang meski tidak layak disebut pulang, karena tempat itu bukan lagi rumah untuk Mama maupun Papa-nya apalagi bagi Ara. Kepulangan itu permintaan sang Eyang, sosok perempuan sepuh berusia lebih dari 100 tahun itu Ibu dari Kakek Barend dan Nenek dari Mama Lauritz.


Hanya di waktu itu Ara disebut sebagai 'anak cantik' dan diakui sebagai 'keturunan keluarga Vromme' dengan senyuman dan dekapan hangat. Baru saja Ara merasa bahagia karena diinginkan, namun keesokan harinya Eyang pergi dari hidupnya selamanya.


Masih dalam keadaan berduka, keluarganya lagi-lagi harus menerima hinaan. Bukan dari keluarga Mama Lauritz saja, namun juga keluarga Papa Yudith yang tega mengusir Ara dan Mama Lauritz saat Papa Yudith mengajak pergi ke rumah orang tuanya.


......Dasar pembawa sial......


......Gara-gara anak ini rusak garis keturunan kita semua......


......Tulangnya aja udah miskin kayak bapaknya......


......Buang perempuan itu sama anaknya......


......Cucu Ibu cuma anak Dito dan Sekar......


......Perempuan itu udah miskin Yudith......


......Bisa jadi dia bukan anak Mu......


......Bilang sama Bapak mu mau dibeli berapa......


......Dasar anak bodoh......


......Bilang Bapak mu sampai kapanpun kamu itu aib.....


......Anak jelek......


"Aaaarrrrgghhhhh!!!!!!" Suara teriakan meraung Ara secara tiba-tiba semakin kuat seiring dengan laju pacuan motor yang bertambah kencang.

__ADS_1


"Hahahahaha.. Hahahaha.. Hahaha.." Tawa Ara ikut menggelegar. Beruntung jalanan yang dilewati tidak ada pengendara lain dan hanya diisi dengan pohon-pohon besar serta semak belukar.


"HAH!! Udah Ra!! Udah!! Mereka yang harus menderita!!" Ucap Ara masih dengan nada tinggi, namun mulai berusaha menenangkan emosinya sembari mengurangi laju motornya. Mata Ara masih penuh kilatan amarah. Kebenciannya semakin membesar.


"Pasti Dokter Dion yang kasih tau orang rumah." Tiba-tiba Ara tersenyum. Cibiran dan cemoohan tadi rupanya ia tujukan untuk dirinya sendiri.


Trauma kejadian itu membuat Ara belum bisa menerima segala bentuk berita kematian yang berhubungan dengan sosok tua, renta dan sepuh. Bahkan akan lebih parah bila sosok yang meninggal dipanggil 'Eyang'.


Ara bersyukur kedua adiknya sengaja dijauhkan dari kedua belah keluarga. Setidaknya adik-adik tersayangnya tidak akan merasa tidak diingkan, dibuang berkali-kali dan dicampakkan. Cukup Ara, jangan pernah adik-adiknya.


...----------------...


"Ada masalah??" Tanya Yuki.


"Dari pagi sampai sore gini murungnya gak kurang-kurang." Ucap Yuki melanjutkan kalimatnya.


"Aku gak apa-apa. Iya kan??" Bukan Ara yang menjawab, namun Yuki sendiri, "Selalu gitu kalau ditanya."


"Hah!!" Helaan kasar nafas Ara akhirnya muncul juga. Hampir seharian Ara berusaha keras agar tidak ada yang sadar akan kesedihannya.


Belum juga Ara sempat berujar lebih pada Yuki, suara lantang dari arah belakang Ara dan Yuki mengejutkan keduanya.


"Ara.. Dipanggil Sekretaris Jurusan di gazebo fakultas. Hah.. Hah.. Hah.." Terengah-engah si pengirim pesan sembari dengan tidak sopannya meraih pop ice rasa taro yang ditambahkan susu kental manis menggunung milik Yuki.


"Gila ini minuman apaan manis banget!??" Dimas, tentu saja manusia berakhlak rendah itu Dimas.


Byur


"Ehh bodoh!! Kenapa ditambah air putih Ara??" Tanya Yuki diselingi rengekan pada Dimas yang mengisi separuh cup pop ice miliknya itu dengan air minum dari botol Ara.


"Kemanisan banget tau." Ucap Dimas santai.


"Tapi aku suka gitu peak. Kalau kayak gini mana enak. Udahlah habisin aja sana!!" Mendengus sebal Yuki menyilangkan kedua tangannya. Bibirnya manyun tanda sebal hingga tampaknya bisa diikat dengan karet gelang.


"Jadi aku dipanggil SekJur nih?" Ucap Ara lagi-lagi sebenarnya bertujuan menyudahi tragedi yang bisa saja terjadi.


"Hampir lupa aku. Ayo Ra!!" Ajak Dimas pada Ara sembari berbalik badan dan pergi terlebih dahulu.


"Aku pergi dulu ya Yuki. Nanti pulang duluan aja. Pasti lama nih kalau urusannya sama SekJur." Ucap Ara sambil terkekeh ringan mengingat Sekretaris Jurusannya itu cerewet mirip Yuki, namun lebih senior dalam bidang gosip atau ghibah.


Jika harus diibaratkan lihainya setiap kalimat yang diucapkan Sekretaris Jurusannya, maka Ara akan mantap mengatakan mirip Feni Rosewidyadhari alias pembawa acara gosip yang terkenal dengan panggilan Feni Rose.


"Permisi Bu." Ucap Ara saat tiba di dekat seorang Dosen dengan blouse ungu dan rok span hitamnya yang sedang asik bermain ponsel.


"Tumben Ra pas dipanggil datangnya lama banget? Dimas aja udah habis itu kue 3 potong langsur kabur tuh." Mengedikkan dagu pada kotak kue balok coklat dengan topping matcha.


"Yuki gak ikut Ra?" Menoleh ke kanan kiri dan mencari sosok yang mungkin berada di belakang Ara.


"Ng.."


"Baguslah Ra. Gara-gara temen mu Dimas itu yang lupa Ibu kasih tau harusnya kalian kebagian masing-masing 2 jadinya gagal. Semuanya buat mu aja itu Ra." Belum juga Ara mampu menjawab sudah dipotong banyak kalimat. Bukan hanya kata, tapi kalimat.


"Oya, ini data seluruh anggota tim penelitian kemarin dari semua jurusan fakultas kita. Nah Bu Dian lagi dinas keluar kota lagi, jadi kamu kasih ini ke Pak Kim ya Ra.. Beliau belum pulang dan masih nunggu di lorong fakultas katanya. Beliau nanti yang serahin ke perusahaannya, soalnya dana kita sebagian dari perusahaan tempat Pak Kim. Kamu tau kan Ra kalau Pak Kim juga dijadiin perwakilan buat mantau kinerja dari kucuran dana itu?? Makanya jangan heran lagi kalau Pak Kim kemarin bisa ikut di pertemuan. Dana dari lembaga penelitian ternyata kurang.. Untung aja dari pihak Pak Kim nawarin kerjasama ke Rektor. Siapa juga yang bisa nebak kalau risetnya jadi melebar sampai kemana-mana. Bagus sih kalau kita ada dana.. Tenaga aja gak cukup. Iya kan Ra?" Tanyanya singkat setelah panjang lebar berucap kemana-mana.


"Iya Bu." Cukup iyakan saja. Jangan pernah dijawab panjang lebar juga bila tidak ingin menciptakan acara bincang-bincang berakhir ghibah dadakan.


"Kalau gitu saya langsung saja ya Bu kasih ini ke Pak Kim.. Takutnya beliau sudah mau pulang." Ucap Ara cepat. Secepatnya ia ingin pergi dari hadapan Ibu biang keributan telinganya itu.


"Ini di bawa sekalian Ra." Ucapnya sembari menyodorkan kotak kue balok itu.


"Makasih ya Bu." Ucap Ara sembari mengambil kotak kue itu dan berlalu dari gazebo fakultasnya.

__ADS_1


...----------------...


Ara sudah menginjakkan kakinya pada pelataran fakultas ekonomi setelah menguras banyak tenaga untuk berjalan kaki, bodohnya Ara tidak menggunakan motornya saja.


Berjalan masuk semakin ke dalam untuk mencari Pak Kim yang katanya di lorong, tubuh Ara seketika mematung. Sosok Dewa sedang bersama dengan Pak Kim, keduanya tampak dalam pembicaraan serius.


Srak


Brugh


Jantung Ara terpacu cepat. Tangannya sudah sangat bergetar sehingga map berisi beberapa lembar kertas itu jatuh dan berserakan. Jangan lupakan pula kotak berisi 3 potong kue balok yang sudah bertemu lantai keramik putih lorong itu.


Duduk berjongkok, tangan Ara sibuk menyusun kembali kertas-kertas yang belum di jilid itu. Hingga sepasang sepatu mengkilap berhenti di hadapan Ara, tangan terulur membantu Ara menyusun. Tentu Ara menerima dengan baik bantuan itu, tangannya yang bergetar tidak karuan sangat menyulitkannya.


"Ayo pergi!!" Suara bariton itu memerintah Ara sembari satu tarikan Ara rasakan pada tas punggungnya yang membuat ia akhirnya berdiri menatap sosok yang sedari tadi membantunya.


"Maaf Pak.. Itu.. Itu tadi.." Ucap Ara dengan sedikit terbata-bata.


"Saya tau. Ayo saya antar." Ucap sosok yang tidak lain ialah Pak Kim itu yang telah berjalan mendahului di depan Ara. Langkah kakinya sempat terhenti dan menatap Ara yang masih diam mematung.


Berbeda dengan beberapa saat yang lalu, saat ini kecanggungan dan kebingungan memenuhi relung hati Ara. Bagaimana tidak canggung dan bingung bila Ara saat ini telah duduk manis di kursi penumpang tepat di sebelah Pak Kim. Mobil memang masih terdiam di parkiran, namun terdiamnya juga kedua sosok di dalam mobil itu yang menciptakan suasana tidak enak.


Ara ingin rasanya langsung berpamitan pada Pak Kim karena ia membawa motornya sendiri. Akan tetapi keramaian tiba-tiba dari banyak mahasiswa yang baru ingin pulang itu menciutkan nyali Ara untuk langsung melompat keluar mobil. Ara masih sangat sadar dan waras untuk tidak mau ambil bagian menjadi bahan gosip selanjutnya.


"Ara.."


"Pak.."


Ucap keduanya bersamaan dengan tidak sengaja saling bertemu pandang. Tidak tau kenapa rasanya pipi Ara terasa sangat panas dan pandangannya terkunci. Hingga sebuah senyuman manis yang tidak pernah Ara lihat sebelumnya dapat Ara tangkap dari sosok yang sedang ia pandang itu. Ara sangat yakin jika mungkin satu kampusnya akan heboh bila ikut melihat.


...****************...


*


*


*


Note buat Kakak Cantik & Ganteng :


Pertama. Maaf kalau dikit-dikit Ara kumat, karena basic kisah Ara itu penderita mental illness. Baik dengan/tanpa dukungan proses sembuhnya gak bakal cepet, bahkan yang katanya sembuh bisa kumat lagi.. Jadi, maaf ya sampai ke bab ini pun masih ada cerita sakitnya😁


Kedua. Sama 1 lagi nih, kisah ini bukan tipe yang punya konflik Jdarr Jduuaar Jlepp Jderr yang menyayat hati pembaca seketika kayak novel-novel yang udah populer itu.. Terkesan terlalu slow mungkin buat beberapa orang, tapi inilah yang aku mau😄 Di samping fakta aku masih meraba cerita🤭 Tapi tenang aja yaa.. Kisah Ara ini udah siap sampai ending kok cuma butuh revisi sendiri lagi aja😉


Ketiga. Aku kan pernah bilang mau buat bab spesial pengumuman nih, jadi kalau ada yang mau ditanya biar aku jawab di bab itu kakak-kakak semuanya yang cantik dan ganteng bisa kasih clue 'Tanya Hana' aja yaa.. Itu kalau ada yang mau ditanya sih😋 Pakai clue biar bisa ku save dulu yaa..


Bonus Visual Mas ganteng Devga Divta Mahendra yang lagi gatal perlu bantuan digaruk nih kayaknya😆



Nah kalau Bang Bima berponi masih keren gak sih??🤔 Nih Hana kasih Abang Bima Eka Ridho sekalian😚



*


*


ho ho ho.. btw, Pak Kim udah ada kemajuan mulai senyum ini teman-teman 😄 Siapa di sini yang ngeship KiRa a.k.a Pak Kim >< Ara??😆


Dewa udah 2 kali muncul di depan Ara, bakalan bikin Ara jatuh cinta lagi gak ya??🤔

__ADS_1


Terakhir nih, Dokter Dion sekian lama gak dikasih tau nama lengkapnya gak ada yang pada penasaran apa??😳


__ADS_2