Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Orang Ketiga


__ADS_3

Udara tipis yang terasa samar di punggung tangan Rava menghadirkan desiran hangat. Merekah nyata kedua sudut bibir yang tertarik ke atas, Rava bahagia pada perhatian kecil yang Ara berikan. Meskipun kalimat ketus sempat terlontar beberapa kali guna memarahi Rava yang bertindak seenaknya.


“Kapok. Makanya jangan muncul tiba-tiba langsung main rangkul aja.” Ucap Ara ketus, matanya memicing sinis pada Rava yang mengulum senyumannya.


Menepuk pelan puncak kepala Ara dengan penuh kasih sayang, kini Rava beralih mengusap rambut Ara yang berantakan. “Tadinya mau langsung peluk gak mau lepas, tapi ini di depan umum.”


“Bisa babak belur kalau tadi Mas nekat peluk kamu.” Imbuh Rava, terkekeh membayangkan pukulan ganas Ara yang bisa saja menghantamnya tanpa basa-basi.


“Pasti. Minimal Ara banting atau sekedar pukul biasa aja.” Mendengus sebal Ara berkata tanpa ragu, mengucapkan kata ‘banting’ dan ‘pukul’ penuh penekanan.


“Pacar Mas kok bar-bar ya?” Ucap Rava sembari mencubit gemas kedua sisi pipi Ara.


“Baru sadar? Nyesal?” Tanya Ara sambil menaikkan sepasang alisnya, menghadirkan kerutan di dahi yang terlihat sangat jelas.


Menekan pipi dan menggoyangkan wajah Ara perlahan, Rava sangat merindukan kebersamaan mereka. “Nggak dong. Justru Mas senang, jadi gak ada yang sembarangan dekati apa lagi sampai berani sentuh punya Mas ini.” Ucap Rava sembari melepaskan tangannya dari pipi Ara yang terasa sedikit tirus, beralih mengambil koper milik Ara.


“Lebay.” Desis Ara meninggalkan Rava. Berjalan terlebih dahulu, Ara sesekali menoleh ke belakang pada Rava yang tidak juga menyamakan langkahnya.


“Mobilnya mana?” Membalikkan badan dan menghentikan langkah, Ara memiringkan kepala bertanya pada Rava yang langsung merangkul bahunya.


Menunduk menatap langsung pada wajah Ara, sekilas jika dilihat dari sisi yang salah, Rava seolah sedang mencium Ara. “Coba sini lihat dulu.” Ucap Rava tiba-tiba, menarik perhatian Ara yang langsung membalas tatapannya.


“Hm?” Dehem Ara bingung.


“Kamu kurang tidur ya?” Tanya Rava khawatir, suaranya mengalun sangat lembut.


“Ayo pulang.. Kamu tidur di mobil dulu ya, Yang.” Lanjut Rava berucap sambil menekan tombol unlock pada kunci mobilnya. Tanpa Ara sadari ternyata dirinya dan Rava sudah berdiri tepat di dekat pintu penumpang samping kemudi.

__ADS_1


“Ara?!” Samar-samar terdengar suara teriakan memanggil nama Ara. Namun secara spontan tangan Rava menahan wajah Ara yang hendak menoleh ke sisi kiri. Menekan pelan pipi Ara agar terus menatap kepadanya atau hanya lurus pada pantulan bayangan mereka dari kaca mobil.


Rava tersenyum miring, menatap sinis Zen yang memaksakan senyum ramahnya di kejauhan, sedetik kemudian raut wajah Zen berubah masam. Jelas Rava tau ada hati yang panas. Tapi itu bukan urusannya, karena sudah jelas Ara hanya miliknya.


Di dalam pikiran Rava membenarkan perkiraannya selama ini jika ada laki-laki lain yang menaruh hati pada Ara nya. Jangan coba-coba berani masuk sebagai orang ketiga atau bahkan sebagai perusak, karena Rava tidak akan segan-segan menyingkirkan siapapun itu.


“Tidur aja ya. Nanti Mas bangunkan kalau udah sampai rumah.” Ucap Rava sambil membantu memasangkan seatbelt pada Ara. Mengelus singkat pipi Ara yang sejujurnya ingin dikecupnya.


“Mas, gak mau tidur, Ara lapar. Tadi mau beli mie instan di kapal mahal banget. Bisa dapat 3 mangkok kalau buat beli di warung sini.” Ucap Ara dalam nada sedikit merengek.


“Cari makan dulu ya Mas baru pulang, ya-ya, ya?” Ucap Ara lagi, suaranya melembut memohon agar Rava mengabulkan keinginannya. Tanpa seorang pun yang tau, ini adalah salah satu hal yang Rava senangi, Ara yang tiba-tiba manja dan merengek kepadanya.


Selalu menganggap bisa sendiri dan terlalu mandiri membuat Ara jarang sekali merengek. Sedih tentu saja Rava rasakan saat terkadang melihat Ara nya terlalu memaksakan kemampuan diri sendiri hingga lupa bahwa masih ada orang lain untuk diandalkan. Oleh karena itu, rengekan kecil Ara tentu saja membuat Rava cukup senang.


“Kamu kebiasaan banget sih Yang kayak gitu. Lain kali beli aja.” Tutur Rava sembari meraih sebungkus biskuit yang ada di mobilnya.


“Ara pikir tadi kan sebentar lagi sampai terus bisa makan di rumah. Lagi pula sayang uangnya Mas.” Ucap Ara lirih, melemaskan punggungnya mencari posisi menyandar yang nyaman, ia sedikit menyerong sehingga bisa dengan lebih leluasa memandang Rava yang memusatkan perhatian pada jalanan lurus di depannya.


Menghela nafas perlahan, Rava memanfaatkan laju mobil yang terhenti di persimpangan untuk beralih menatap Ara. “Sayang sama perut kamu, jangan uangnya. Kalau lapar terus sampai sakit gimana?” Tutur Rava dengan sangat khawatir. Rava jelas tau jika Ara tidak boleh telat makan, lambungnya memang tidak bisa langsung menampung banyak asupan makanan, namun Ara lebih baik sering makan meski hanya dalam porsi sedikit.


“Kalau sakit ya sakit.”Jawab Ara sekenanya, terkekeh seolah bukan masalah besar.


“Dasar kamu ini.” Mencubit gemas hidung Ara, sedetik kemudian Rava kembali melajukan mobil tunggangannya.


“Sekarang kamu mau makan apa? Bubur ayam aja ya? ini masih termasuk pagi terus perut kamu sebelumnya kosong juga kan. Kita isi sama yang teksturnya lembut supaya mudah kamu cerna.” Ucap Rava yang hanya diangguki oleh Ara, mau menolak juga percuma. Rava pasti melarang makanan pilihan Ara yang berbau pedas untuk mengawali paginya yang kelaparan dengan perut kosong.


Berbelok dan menepi pada sebuah warung sederhana, Rava secepat kilat berlari memutari mobil. Membukakan pintu untuk Ara yang hanya bisa menggeleng tidak habis pikir pada sikap Rava yang menurut Ara cukup manis, meski sangat berlebihan.

__ADS_1


“Pak, bubur ayamnya dua. Satu pakai kacang, yang satunya lagi nggak.” Ucap Rava memesan pada seorang Bapak-bapak dengan rambut yang hampir memutih seluruhnya.


“Mas Rava gak suka kacang ya?” Celetuk Ara yang belum juga beranjak meninggalkan Rava untuk mencari tempat duduk.


“Kamu kan yang gak suka makan bubur ayam pakai kacang tanah?” Mengernyit heran, Rava bukannya menjawab justru melontarkan pertanyaan.


“Sok tau deh. Ara makan semuanya kok.” Ucap Ara sembari memukul asal lengan Rava. Tentu tidak kuat, hanya pelan layaknya senggolan.


“Pak, bubur ayam yang tadi semuanya pakai kacang.” Melongokkan kepala diantara tubuh Rava dan gerobak penjual bubur, Ara berkata lantang mengganti pesanan Rava sebelumnya.


“Yang Mas ini pesan kan Mbak?” Tanya Bapak penjual bubur ayam itu memastikan.


“Iya, Pak.” Jawab Ara sambil mengangguk, kemudian ia memilih berlalu menuju salah satu meja di sudut ruangan yang tidak terlalu besar itu.


Mengikuti langkah kaki Ara, Rava menarik kursi tepat di seberang Ara mendudukkan tubuhnya. Kini keduanya dalam posisi saling berhadapan menanti pesanan bubur ayam diantarkan ke meja mereka. “Sayang, sejak kapan kamu mau makan bubur ayam pakai kacang?”


...****************...


*


*


*


Apakah ada sesuatu tentang bubur ayam?🤔


*

__ADS_1


*


Terima kasih semuanya yang masih setia menanti kisah Ara dan gak pernah bosan buat dukung Hana🥰


__ADS_2