
Flashback On.
“Jadi Om-om itu kamu Mas?”
“Iya, Om-om itu Mas.” Jawab Rava jengah. Sudah puluhan kali Ara mengulangi pertanyaannya.
“Kok Ara gak ingat ya kalau Om dulu itu Mas? Kalau Ara pikir-pikir juga kenapa bisa lupa sama nama Mas ya? Padahal dari cerita Mas juga kenalan pakai nama Rava. Kenapa Ara gak ngerasa familiar ya?”
“Karena Mas belum punya kesan mendalam buat kamu. Beda sama kamu yang udah sejak awal mengisi hati Mas.” Hembusan panjang nan berat nafas Rava sayup-sayup terdengar menyedihkan. Kalimat yang Rava lontarkan juga seakan terdengar menyedihkan bagi Ara.
“Gak usah cemberut gitu. Wajar lah dulu Ara panggil Om. Kita ini beda 12 tahun, dimana waktu itu juga Ara masih sekolah dasar dan Mas udah kuliah. Lagian itu juga udah lama banget, pasti gak menutup kemungkinan buat Ara lupa. Oh iya, Ara tebak waktu itu pasti Mas udah mulai kerja juga kan?" Ujar Ara sembari menyipitkan matanya.
"Lagian bisa-bisanya Mas suka sama bocah yang nawarin donat biar happy malah habis itu malak bayar donatnya ke Mas.. Salah deh, Ara waktu itu pasti bocil banget. Kok bisa sih Mas suka sama Ara yang masih kumal, kusam, jelek, bawel, terus bikin repot juga?” Ucap Ara lagi.
“Jangan pernah merendahkan diri kamu sendiri. Gak perduli kayak gimanapun, kamu spesial buat Mas dan buat semua orang yang sayang sama kamu.” Ucap Rava tegas.
“Iya, Iya.. Ngomong-ngomong kenapa Mas selalu beli donat yang Ara bawa? Kalau diingat-ingat yang banyak makan juga Ara. Lucu ya, Ara jual, tapi Ara juga yang makan.” Ujaran santai itu disertai kekehan. Kilasan kenangan itu tiba-tiba terputar dalam ingatan Ara, meski jujur saja ia masih belum mampu mengingat bagaimana sosok Rava kala itu.
“Modus biar ngobrol sama kamu.” Ucap Rava jujur yang membuat Ara merinding. Bagaimana tidak merinding memikirkan sosok laki-laki dewasa yang memodusi bocah di bawah umur.
“Bikin merinding aja Mas ini! Gak kebayang banget dulu Mas sengaja PDKT sama Ara yang masih bocah..!!” Ujar Ara sambil mengusap lengannya yang benar-benar merinding.
Ketukan pelan mendarat mulus di dahi Ara. Jari telunjuk Rava hampir saja menyentil gemas dahi si pemilik hatinya.
“Gak usah mikir yang aneh-aneh!”
“Gimana gak aneh-aneh kalau Mas yang aneh?” Tanya Ara nyolot.
“Dulu Mas cuma anggap kamu Adik. Kepergian kamu membuat Mas merasa kehilangan dan ada rasa yang berbeda. Sampai puncaknya Mas sadar kalau udah jatuh cinta sama kamu saat kita bertemu lagi di umur kamu sudah 15 tahun. Kamu pasti gak ingat lagi kan?”
“Nggak. Hehe..” Menyengir Ara menggelengkan kepalanya. Jujur saja ia masih sulit merangkai kenangan itu. Otaknya sudah pernah dipaksa melupakan ingatan masa lalu yang bertumpuk dan sering berputar gila menyakiti dirinya.
“Udah Mas duga.” Menghela nafas pasrah, Rava hanya mampu bersabar. Berharap kisah itu suatu saat nanti bukan hanya miliknya. Namun juga tidak menuntut Ara untuk mengingat setiap pertemuan yang terjadi, karena kini ia bertekad akan menjadi pendongeng kisah itu pada Ara. Menceritakan sekaligus bernostalgia, begitulah pikir Rava.
“Ayo cerita lagi!” Rengek Ara.
“Waktu itu Mas bersyukur buku kamu jatuh. Seandainya gak ada buku mu, pasti Mas gak tau kamu pulang ke Kota K lagi.”
__ADS_1
“Waktu itu ya.. Tahun yang menyebalkan..” Gumam Ara lirih, mengurai senyum kecut dengan wajah menunduk. Tidak dipungkiri dadanya sejenak merasa nyeri. Ara kembali mengingat alasan dirinya berkeliling Kota seorang diri, meski tidak pergi terlalu jauh, namun ia tetap butuh berpindah angkutan umum dalam perjalanan singkatnya.
Walaupun kini ia harus cukup bersyukur orang tua Mama Lauritz sudah mulai menerima hadirnya, namun tetap saja luka itu sembuh dengan bekas yang menggores nyata. Sedangkan untuk keluarga Papa Yudith entah lah harus Ara deskripsikan bagaimana lagi, ia lebih memilih melupakan segalanya. Berhenti mengharapkan hal semu dan berfokus pada kebahagiaan dengan orang-orang yang jelas menyayanginya.
“Hmm.. Udah ya gak usah di bahas lagi habis ini. Mas jadi teringat omongan Dion yang bilang Mas pedo.” Ucap Rava dengan semangat yang menguap dan nyaris lenyap. Ia dapat menangkap raut mendung bergemuruh di wajah yang sekuatnya sengaja Ara sembunyikan.
“Memang pedo kan?” Terkekeh Ara menggoda dalam ujaran pertanyaan singkatnya. Kedua sudut bibir Ara tertarik ke atas dengan sempurna. Melupakan kenangan lama yang nyaris mengombrak-abrik kembali ketenangan jiwanya.
“Jangan ikutan Dion.. Kamu gak usah ikutan kayak anak tengil itu ngejekin Mas pedo.”
“Dokter Dion baik loh Mas.” Puji Ara tanpa sadar.
“Jangan muji laki-laki lain!!” Rengek Rava kesal. Ia cemburu, bahkan super cemburu.
“Adik mu loh itu.” Memutar bola matanya malas, Ara sempat menatap sekilas pada Rava yang mendengus sebal.
‘Tapi dia juga pernah jatuh cinta sama kamu.’ Gumam Rava dalam hati dengan perasaan berkecamuk ragu. Iya, Rava ragu akan cinta Dion yang ia sebut dengan kata pernah, karena mungkin saja cinta itu masih sama. Hanya Dion yang tau rahasia hatinya.
“Kadang Dokter Dion itu kalau jahil mirip Jona. Kalau Mas ini agak mirip Rian, pendiem banget. Tapi, semoga Rian nanti gak kayak Mas deh.” Celetuk Ara tiba-tiba. Kini Ara sadar pada rasa familiar kala menghadapi kedua bersaudara yang rupanya memiliki sedikit kemiripan dengan sikap kedua Adik kandungnya.
“Memang Mas kenapa?” Tanya Rava tidak terima pada Ara yang memohon Rian tidak menjadi seperti dirinya.
Walaupun cukup malu, namun Ara berusaha tersenyum memaksa sembari menepis pelan tangan Rava. Tentu ia tidak ingin kemesraan itu menjadi tontonan gratis. Dan tentu saja ia tidak ingin semua mata yang tanpa sengaja melirik menangkap perdebatan kecilnya dengan Rava. Padahal di mata orang lain sikap Rava dan Ara sukses membuat baper sekaligus iri.
“Kan nempel nya cuma sama kamu.” Ucap Rava santai dengan intonasi yang terdengar sangat tulus.
“Biasa anak kadal nih yang doyan kalau gombal bilang cuma kamu.. Jangan-jangan Mas Rava ini udah golongan kupu-kupu ya!?” Memicingkan matanya yang seakan menuduh, kilatan mata Ara benar-benar tampak garang.
“Mas gak paham maksud kamu apa. Kadal lah, kupu-kupu lah. Ini Mas disamakan kayak binatang aja.” Mendengus kasar Rava mengerutkan dahinya bingung.
“Tingkat paling tinggi setelah buaya itu menurut Ara ya kadal, terus jadi kupu-kupu. Masih gak paham maksudnya?” Ucap Ara sekenanya. Penjelasan itu masih menggantung. Tidak ada inti tersurat dalam bahasa yang teruntai pada tutur kata Ara.
“Apa hubungannya gombal, kadal, kupu-kupu dan buaya?” Tanya Rava yang semakin bingung. Meskipun ia sempat hampir memahami maksud dari buaya, namun tidak dengan kadal dan kupu-kupu.
“Fix Mas gak paham, lupain aja.” Mengibaskan tangannya di depan muka, Ara juga menggeleng sejenak.
“Sayang..!!” Rengekan Rava kembali menggema. Sungguh bayi besar berbahaya yang menggemaskan, begitu pikir Ara.
__ADS_1
“Ssstt! Udah ayo pulang aja. Matahari udah mau tenggelam. Kalau Mas gak mau ditenggelamkan ke kubangan oli bekas, mending antar Ara pulang sekarang sebelum Papa sampai duluan di rumah.” Ucap Ara panjang lebar yang sengaja mengalihkan pembicaraan. Karena nyatanya Papa Yudith hanya akan memberikan nasehat menyentil pada Rava seorang tanpa Ara ketahui.
“Hish.. Kamu ini bikin Mas penasaran aja.” Rava menangkup pipi Ara yang kembali gembul dengan gemas. Semua itu berkat setoran makanan dari Rava yang tidak pernah terlambat, bahkan berat badan Ara sudah melesat naik. Jangan tanya berapa kenaikan berat badannya jika tidak ingin Ara beri bogem mentah.
“Lagian salah Mas yang sinyal lemah banget. Masa gak paham juga maksud Ara apa.”
“Ini kenapa kamu yang manyun-manyun gitu? Bikin gemes aja.” Ucap Rava dengan senyum menawan yang menghiasi wajah rupawan nya.
“Sabar..” Gumam Rava lirih yang masih tertangkap pendengaran Ara.
‘Pasti otaknya udah mesum. Tumben gak bilang jadi pengen nyium.’ Ucap Ara dalam hati. Matanya melirik Rava yang baru saja selesai mengemas sampah bungkus jajanan pinggir jalan yang Ara nikmati sampai ludes. Benar-benar anak muda laknat yang membiarkan Rava seorang bersih-bersih, sedangkan dirinya hanya memandang tanpa beban.
...****************...
*
*
*
Sudah tepatkah sikap yang Ara ambil terhadap keluarga kedua orang tuanya dan fokus pada kebahagiaan yang ada?🤔
*
*
Hayoo.. Kenapa level tertinggi kupu-kupu?😄
By the way, Bang Gilang alias Song Kang calon suaminya Hana itu julukannya Mas kupu-kupu di drama barunya. Cuma perannya jadi cowok gak benar.☹️
Hana belum berani nonton full, hanya mengandalkan spoiler akun para lambe peminat kdrama.😂
Spoiler aja udah bikin nafas api naik level, gimana kalau nonton langsung kan.😗
FYI, Hana tidak mengamatkan Sila Kedua dengan tidak beradabnya Hana sengaja kemarin gak double up biar ada jatah UP buat hari ini. Nilai lebihnya Hana bisa revisi ulang dan nambah-nambah lagi sampai akhirnya bab hari ini ada yang dipangkas buat besok.🤭
Besok masih ada tentang flashback ya.. Siap-siap ada kejutan (yang gak mengejutkan sih).😬
__ADS_1
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰