Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Kapan Nikah? (Missions Complete)


__ADS_3

“Sebelumnya saya mohon maaf atas kelancangan dan sikap kami yang gegabah.” Gilang meremas jemari yang saling bertautan, menghela nafas perlahan menghalau suaranya yang bergetar. Sayangnya, hawa dingin yang menyapu tengkuk membuatnya semakin gugup.


“Saya dan Ara sadar atas apa yang kami lakukan sebelumnya itu salah. Jadi, di sini kami ingin memohon maaf kepada Tante sekaligus kami ingin mengembalikan uang yang pernah kami ambil dari Tante.” Ucap Gilang tegas tanpa menjeda kalimatnya.


“Maaf Tante.. Di sini ada uang Tante..” Ucap Ara menimpali sambil menggeser koper hitam di hadapannya.


“Maksud kamu di dalam koper ini isinya uang??” Tanya Tante Laura dengan mata berbinar. Sejurus kemudian muncul seringai kecil yang menyertai langkahnya. Ia mendekat perlahan pada Ara yang berdiri terdiam. Bukan takut, namun Ara hanya menanti sosok Tante Laura mendekat.


Plak..!


“Ibu!!”


“Tante!?”


Tamparan panas mendarat mulus di pipi kiri Ara. Serangan secepat kilat mengejutkan Gilang dan Ega yang sudah terbelalak dengan tangan terkepal. Keduanya kompak beranjak dari duduknya. Seolah menjadi penghalang kericuhan yang mungkin akan terjadi. Bukan tidak mungkin masalah menggemparkan di situasi berselimut duka itu akan pecah.


Sedangkan Ara yang sempat terperanjat kini tertawa kecil. Mengusap dan menggerakkan perlahan rahangnya yang berdenyut, Ara menatap remeh Tante Laura yang tampak angkuh.


“Lihat dia!!? Anak ini masih bisa tertawa.. Licik!!” Tunjuk Tante Laura pada Ega. Jari telunjuknya mengarah tepat pada wajah Ara. Meski tubuhnya dihalangi, Tante Laura tetap bisa menggapai Ara. Sesekali jemarinya menyentak kasar dahi Ara yang akhirnya terlindung telapak tangan Gilang.


Ara sudah mempersiapkan diri pada kekerasan fisik yang mungkin dirinya terima. Ia justru berpikir akan dicabuti habis rambutnya, rupanya hanya sebuah tamparan dan sentilan ringan baginya. Meski begitu, tamparan itu cukup membuat rahang bawah Ara ngilu. Tetap saja Ara masih bersyukur tidak ada yang berkurang sedikitpun dari tubuhnya.


“Ibu sudah!!” Bentak Ega pada sang Ibu. Rahangnya mengeras dengan tangan yang mencengkeram kuat bahu Tante Laura. Mendorong mundur hingga kembali terduduk pada posisi awal mulanya.


“Berani kamu bentak Ibu? Ibu ini orang yang melahirkan kamu, jangan kurang ajar ya!!” Cerca Tante Laura dengan emosi meluap. Sedangkan Ega hanya mampu menghembuskan nafas berat penuh keputusasaan. Ia tidak ingin menyakiti sang Ibu dengan melontarkan kalimat pedas yang sudah terangkai indah di pikirannya.


“Lepasin tangan kamu!! Ibu mau lihat sendiri.” Menghentak kasar bahunya, Tante Laura menepis tangan Ega. Berjalan tergesa-gesa dan merebut paksa koper yang masih Ara pegang.


“Ibu sabar dulu..” Ucap Ega lagi dengan suara rendah.


“Ibu harus pastikan sendiri. Anak kecil yang kamu anggap adik ini licik. Bisa aja dia nipu Ibu lagi.” Gerutu Tante Laura sembari membongkar isi koper yang nyaris terhambur.


“Pipi kamu, gak apa-apa?” Bisik Gilang tiba-tiba. Menyentuh wajah Ara sambil meneliti lamat-lamat, kernyitan di wajah Gilang mulai bercampur kekesalan. Bukan pada Tante Laura, namun dirinya sendiri yang seolah lemah.

__ADS_1


Harga diri Gilang yang sudah jatuh sebagai penipu, saat ini bertambah rendah karena merasa tidak bisa melindungi Ara. Ia tidak pernah berpikir bahwa Tante Laura akan memberikan Ara hadiah sebuah tamparan.


“Aman..” Jawab Ara lirih, menepis pelan tangan Gilang yang tanpa sadar masih menyentuh wajahnya. Mata Ara tetap fokus pada Tante Laura yang sibuk mengobrak-abrik isi koper sambil tersenyum sumringah.


“Ini berapa?” Tanya Tante Laura dengan senyum merekah yang terpatri di bibirnya.


“Pas 2 M.” Jawab Ara datar.


“KOK CUMA 2 M!!?? Asal kalian tau ya, Tante rugi besar gara-gara kalian!!” Senyuman di wajah Tante Laura seketika luntur. Uang yang sempat digenggamnya dihempas kasar.


“Kemana uang ganti rugi?? Kalian harus kembalikan uang ganti rugi juga!!” Tante Laura berteriak kesal. Menatap nyalang kedua anak manusia berlainan jenis dengan raut berbeda.


Jelas Gilang yang bingung dan mengkhawatirkan Ara bisa dengan mudah memberikan uang lebih. Namun tidak untuk Ara yang masa bodoh pada kesialan yang menimpa Tante Laura. Jika saja Gilang berani memberikan uang lain pada Tante Laura, maka Ara tidak akan segan-segan untuk memukul kepala Gilang agar segera tersadar.


“Kan hasil jual beli kita memang segini nominalnya, kalau Tante bisa rugi besar ya bukan salah kami. Tante mikir dong kenapa bisa keluarkan uang lebih banyak gara-gara apa..” Ucap Ara ketus, membuang sopan santun yang sempat dijunjungnya.


“Kalau kalian gak berulah, aku gak akan miskin sekarang ini..!!” Teriakan histeris itu memekakkan gendang telinga. Secara reflek Ara, Ega dan Gilang memejamkan mata dengan kepala sedikit tertoleh ke samping.


“Kalian keluar.” Bentakan Ega ditujukan untuk Gilang dan Ara, namun sorot matanya tidak pernah lepas dari sosok yang melahirkannya.


“Semua udah selesai sampai di sini. Sekarang kalian keluar!” Perintah Ega sambil mengarahkan tangannya pada pintu kamar yang tertutup.


“Mas..”


“Keluar Dek!! Bawa Ara keluar Ric!” Ucap Ega semakin tegas hingga membungkam semuanya.


Mengalah membawa langkah yang berat, Ara keluar dari kamar Ega dengan sedikit dorongan paksa oleh Gilang. Meski sejatinya Ara lebih ingin menyelesaikan masalahnya seorang diri.


“Ibu mau uang lebih?? Minta sama Ega!! Jangan ganggu Ara. Lagian semua kerugian yang harus Ibu tanggung itu salah Ibu.” Suara Ega meninggi, dirinya lepas kontrol. Padahal selama ini Ega berhasil meredam amarah dan kekecewaan pada sang Ibu. Emosinya kini meluap bercampur duka mendalam yang tergores nyata.


“Ibu pikir Ega bakal percaya kalau uang Ibu habis cuma buat bayar denda? Ega nggak sebodoh itu!!” Kilatan kekesalan Ega layaknya gemuruh badai di padang pasir. Ia mendudukkan dirinya, merebahkan beban punggung pada sandaran sofa. Ega sedang mencoba memadamkan luapan emosi yang membara.


“Coba kalau Ibu gak ikut arisan berlian abal-abal atau sok-sokan kasih pinjaman, semua uang Ibu gak akan hilang!! Belum lagi itu yang katanya investasi. Ibu sadar gak sih kalau sebenarnya yang nipu Ibu itu orang yang Ibu sebut teman-teman sosialita!?” Kalimat sarat akan kekesalan terucap dalam intonasi rendah.

__ADS_1


“Mak-maksud kamu apa? Ibu nggak gitu.” Kilah Tante Laura sembari membuang pandangannya ke segala arah dengan gusar.


Ruangan yang hanya terisi Ibu dan anak itu seketika hening. Ega memilih tetap diam, memijat kepalanya yang tidak sakit. Ia akan bersabar menanti jawaban jujur sang Ibu. Ega tidak ingin menjadi lebih bersalah dengan melepaskan amarah yang bergejolak.


Sedangkan di balik pintu, Ara dan Gilang ikut menanti kehadiran Ega dengan cemas. Tidak ada kelegaan dari masalah yang dirasa belum dituntaskan oleh mereka sendiri. Hingga akhirnya keduanya memilih beranjak setelah hampir setengah jam tidak kunjung mendapati Ega atau Tante Laura muncul dari balik pintu.


“Kemarin Om Yudith cerita kalau Bang Rava udah lamar kamu. Jadi gimana kelanjutannya?” Ucap Gilang memecah kebungkaman yang menyertai langkah kaki keduanya.


“Apaan?” Mengernyit heran Ara pada pertanyaan tiba-tiba dari Gilang.


“Kapan nikah?”


...****************...


*


*


*


Masalah selesai atau akan berlanjut dikemudian hari?🤔


*


*


Sabarin lagi ya.. Sebentar lagi akan ada pesta di sini.😊


Ini spoiler terbuka.😃


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰

__ADS_1


__ADS_2