Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Tidak Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3

"Jadi, tolong Kakak sadar kalau dia itu gak suka sama Kakak. Jangan paksa seseorang untuk suka sama kakak juga." Bulir-bulir air mata menetes tanpa izin. Sekuat apapun ia bertahan, tetap saja rasa kehilangan akan sosok Dewa mampu menghancurkan dinding pertahanannya.


"Lihat aku Kak!! Sekarang aku bahkan mau mengemis supaya Dewa tetap mau ketemu sama aku!!" Teriak Dinda. Iya, seorang Dinda yang pernah terlabel sebagai kekasih Dewa itu putus asa. Layaknya seperti memakan nanas muda setelah gosok gigi, pahit. Meski nantinya tetap mampu dilewati, namun tetap saja rasa itu sempat mengguncang.


"Kakak pikir aku nggak kecewa sama Kakak!!?? Kalau aku tahu Kakak bohong tentang hubungan Ara dan Dewa, aku nggak mungkin cari masalah sama Ara lagi. Gimana kalau Dewa tau?? Dia pasti tambah benci sama aku.." Kalimat panjang tanpa sanggahan yang terus terucap itu bahkan belum bisa menjelaskan keterpurukan Dinda. Menyesal, sangat menyesal hingga rasanya ingin tertidur selama, itulah yang kini Dinda rasakan.


"Munafik!!" Cibir Nindy dengan tatapan mencemooh. Berdiri angkuh di hadapan sang Adik yang sudah berderai air mata.


"Kamu itu sama kayak ibumu. Sangat tidak mungkin kamu melepas Dewa begitu saja. Benar-benar anak parasit!!" Teriak Nindy menggelegar.


"Kamu tahu ibumu dulu juga sok baik kayak gini?? Di depan ibuku dia pura-pura ingin berteman, rupanya itu hanya alibi perselingkuhan.” Suara marah Nindy terdengar pilu. Ada kesedihan yang tersirat dalam kalimat ketus yang terlontar.


“Ibu mu yang tidak tau malu itu berselingkuh dengan laki-laki beristri!! Bahkan anak si laki-laki sudah bisa berlari dan fasih berbicara.” Lanjut ujaran pilu Nindy yang berhasil menyayat hati kedua bersaudara yang tumbuh besar tanpa kasih sayang yang jelas.


“Maafkan Ibu ku, Kak..” Ucap Dinda lirih sambil menunduk. Ia tidak mampu mengangkat wajahnya bila membahas kesalahan orang tua kandungnya yang bermain serong hingga dirinya hadir.


“Ingatan menyebalkan ini benar-benar memuakkan!!”


“Maaf..”Lagi-lagi Dinda hanya menggumamkan kata maaf. Meski berjuta maaf yang terucap tidak akan mampu melembutkan hati Nindy yang membatu.


“Tingkah mu yang seperti ini semakin mengingkatkan aku dengan wanita murahan itu. Kamu tau, akhirnya dia sampai mengemis agar tidak ditinggalkan. Sangat mirip denganmu. Ibu dan anak sama saja menjijikkannya!!” Menyeringai, Nindy masih berdiri arogan di hadapan Dinda. Bukannya menyudahi perdebatan, Nindy justru memanfaatkan situasi untuk meluapkan sesak dan amarah yang mengganjal di dadanya.


“Aku tahu Ibuku memang salah tapi tolong jangan ungkit lagi kesalahannya.. Biarkan dia tenang di alam sana.. Lagipula, sampai kapan Kakak nggak mau mengakui aku sebagai Adik?? Aku juga mau punya keluarga..” Menatap sendu Nindy yang tidak melunak sedikitpun, Dinda tampak sangat rapuh.


"Tenang??" Ucap Nindy dengan suara berat tertahan.


"Aku berdoa setiap saat semoga ibumu yang tinggal kerangka di bawah tanah tersiksa selamanya!!" Kilatan amarah itu semakin menggelora. Namun yakinlah bahwa yang Nindy ucapkan adalah sebuah kebenaran. Tidak pernah sekalipun ia lupa berdoa agar Ibunya bahagia dan sang perusak alias Ibu kandung Dinda menderita.


"Belajarlah Kak untuk berdamai. Mau bagaimanapun juga kita bersaudara.." Sekali lagi Dinda berusaha meredam amarah yang mulai tersulut. Sebersalah apapun Ibunya, ia sadar tetaplah anak yang lahir dari rahim wanita berdosa itu.

__ADS_1


"Sampai matipun kamu cuma anak haram!! Menjijikan bisa sedarah sama kamu!! Kalau aku bisa memutus hubungan darah ini, akan aku putus hubungan darahku denganmu dan dengan ayah nggak tahu diri itu!!" Ujar Nindy histeris. Kaki menghentak kasar disertai jari yang menghardik Dinda.


"Kita nggak pernah mencoba untuk menjadi keluarga. Kenapa Kakak gak mau coba memulai dengan aku?? Kita sudahi hidup mengerikan ini.."


"Kamu mau keluarga!!?? Pergilah!! Cari keluarga sendiri di luar sana!! Di sini tidak ada keluarga. kita hanya kebetulan berasal dari laki-laki brengsek yang sama." Ucap Nindy ketus.


"Tapi Kak.." Ucap Dinda terpotong.


"Satu hal lagi.. Jangan kamu pikir aku nggak tahu segila apa pergaulan mu. Dewa memang masih bersih tapi kamu.. Ck!" Berdecak sambil menelisik dan menyoroti Dinda dari ujung kepala hingga kaki yang berbalut flatshoes, Nindy menatap hina sang Adik.


"Bekas!"


Deg!


Mematung Dinda mendengar penuturan Nindy. Benar, ia pantas disebut bekas, bukan gadis lagi. Kesepian dan hiburan melenceng membawa Dinda terjerumus dalam pergaulan bebas.


"Benar-benar anak dari seorang wanita murahan." Cemooh Nindy lagi.


"Cukup Kak!! Tolong jangan ikut campur untuk urusanku dan Dewa!! Jangan memperkeruh hubungan kami lagi..!! Tanpa Kakak mengatakan kebenarannya, aku.. Aku sudah kehilangan Dewa.."


“HAHAHAHAHA..!!” Suara meninggi Dinda justru memecah gelak tawa Nindy. Hubungan keduanya selama ini tidak pernah normal.


“Setakut itu kamu ditinggalkan Dewa??” Memicingkan matanya, Nindy sejatinya benar-benar terkejut pada reaksi Dinda. Namun keterkejutan itu segara ia tepis. Sudah sejak lama Nindy mengetahui Dewa bak mainan dalam rumah boneka yang bisa dikendalikan sesuka hati oleh Dinda.


“Terlambat. Aku bertaruh Dewa dan Ara pasti akan bahagia bersama. Sedangkan kamu disini hanya meratapi nasib menyedihkan.” Kalimat memprovokasi sengaja Nindy lontarkan. Berharap Dinda yang terobsesi pada Dewa memakan umpannya.


Membalikan tubuhnya, Nindy meraih tas tangan dan amplop terkutuk yang tergeletak sedari tadi. Ia kembali diliputi rasa kesal akibat isi amplop terkutuk itu.


Sedangkan Dinda hanya mampu mengepalkan tangan menahan amarah. Dinda tau apa yang diucapkan Nindy bisa saja menjadi kenyataan. Bukan sehari, seminggu, bahkan sebulan Dinda mengenal Dewa, tapi sudah bersama sekian tahun. Menutup mata dan hati, sebenarnya Dinda tahu apa yang selama ini Dewa simpan rapat-rapat.

__ADS_1


Dinda sadar sudah sangat bersalah pada dua hati yang sempat saling ingin memiliki. Nyatanya perasaan Ara pada Dewa tidak bertepuk sebelah tangan.


Perasaan Dewa yang berubah itulah yang memicu kebencian Dinda pada Ara. Semuanya mulai muncul kala tanpa sengaja Dinda melihat senyum tidak biasa Dewa. Senyum samar yang ditujukan pada sosok gadis kecil yang ketahuan sedang mengintip di balik celah rak buku perpustakaan. Senyum yang sama pernah Dinda lihat saat awal mula Dewa menyatakan cinta padanya.


Layaknya anak petir, kala itu Dinda ingin langsung menyeret Ara menjauh. Gemuruh badai tornado disertai kilatan petir seakan ingin membinasakan pemandangan yang tampak romantis bila ditayangkan dalam adegan film remaja.


Dinda yakin, bahkan sangat yakin bahwa perhatian Dewa tanpa sadar teralihkan pada sosok Ara. Sosok imut dan manis dengan pipi chubby, bukan jelek dan gendut seperti hinaan yang pernah Dewa lontarkan pada Ara. Kenyataannya semua hanya doktrin seorang Dinda agar Dewa merendahkan Ara. Mengatasnamakan cinta monyet keduanya, Dinda mengancam dan mendramatisir agar Dewa mengikuti keinginannya. Jelas salah satu keinginan Dinda adalah sikap kejam Dewa pada Ara.


Mengusap sisa lelehan air mata, Dinda tetap bergegas untuk menemui Dewa. Ia masih berharap Dewa tetap mau menemuinya, meski hanya sebatas teman. Tidak peduli ia harus mengemis sekalipun.


...****************...


*


*


*


Apa isi amplop di tangan Nindy?🤔


Apakah Dewa akan mendekati Ara?🤔


*


*


Gimana nih pendapat Kakak-kakak semuanya setelah diungkap dari kisah Dinda?😄


*

__ADS_1


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2