
Hembusan semilir angin terasa nyata memporak-porandakan rambut tergerai yang sudah berulang kali disibakkan. Riuh ombak dan aroma laut yang kuat menyeruak pandangan dan pendengaran. Sayangnya tidak ada suara camar yang saling bersautan layaknya pemandangan tepi laut seperti dalam drama atau film yang pernah Ara lihat.
“Dingin?”
“Hm? Nggak kok.. Cuma agak silau aja.” Ara menolehkan kepalanya sembari tersenyum dan memeluk tubuhnya sendiri. Seolah menegaskan ujarannya, Ara juga menggeleng dengan perlahan.
“Kamu mau pakai kacamata punya Mas? Sebentar ya, ada di mobil.” Tanya Rava dengan kernyitan diantara kedua alisnya. Tampak kekhawatiran menghiasi raut wajah Rava.
Berlebihan, namun membuat perasaan senang Ara melambung tinggi. Bukan karena ia senang jika Rava khawatir, hanya saja hal kecil dan sepele yang Rava berikan perhatian benar-benar menggelitik sesuatu yang tidak bisa Ara jelaskan melalui kata-kata.
“Gak usah Mas. Ara gak pede pakai kacamata gitu.” Sergah Ara sambil menahan pergelangan tangan Rava yang hendak berlalu menuju mobilnya di parkiran taman yang berada di wilayah tepi laut itu.
Sekilas terlintas dibenak Ara akan kedua temannya. Jika penawaran itu diberikan pada Yuki atau Dimas pasti mereka akan bersorak riang penuh gaya. Level kepedean keduanya dalam tingkat yang sama.
“Ya udah.”
“Mas tangannya ngapain?” mengernyit heran Ara pada telapak tangan Rava yang sedikit menghalangi pandangan Ara. Ibu jari Rava yang menempel di dahi cukup terasa hangat untuk kulit Ara yang terasa lebih dingin.
“Biar kamu gak silau.” Jawab Rava serius.
“Apaan sih?” Menepis lembut tangan Rava dan mengelakkan kepalanya, Ara membuang pandangan ke segala arah guna menetralkan dirinya yang salah tingkah. Rasa hangat dari tengkuk seketika menjalar cepat di wajahnya. Menunduk secepat kilat Ara mencoba menyembunyikan wajahnya dalam kurungan rambutnya.
“Kenapa? Malu?” Rava mengintip wajah Ara dari celah rambut yang tergerai menjulur menutupi kedua sisi wajah tertunduk Ara. Mengulum senyumannya dengan sudut bibir berkedut hebat. Ada getar menakjubkan yang bahkan tidak pernah ia miliki di masa remaja.
“Nggak. Tapi gak perlu juga kayak gitu. Ara tinggal geser sedikit terus duduknya miringkan udah gak silau lagi.” Ucap Ara sembari menggeser dan merubah sedikit posisi duduknya.
“Kenapa gesernya cuma sedikit?” Pertanyaan Rava terdengar berbeda bagi Ara. Sangat jelas ada rengekan dan ketidakpuasan dalam untaian pertanyaan singkat yang Rava lontarkan.
“Kan dikit gini aja udah gak silau.” Jelas Ara sambil menunjuk pada kursi yang didudukinya bersama Rava.
“Gak peka.” Gumam Rava lirih.
“Gini loh maksudnya Mas itu.. Harusnya kamu geser banyak biar dekat sama Mas.” Menggeser tubuh Ara secara paksa, rengkuhan Rava terasa sangat posesif.
Plak..!
Plak..!
Tamparan layaknya kepakan sayap ayam yang tenggelam Ara hadiahkan pada lengan Rava. Ia cukup syok dengan tindakan tiba-tiba yang Rava lakukan. Menolehkan kepala ke kanan kiri dengan gusar Ara memastikan tidak ada yang memerhatikan keduanya.
“Lepas deh! Modus banget Bapak-bapak satu ini!” Pekikan kecil Ara disertai dengusan. Ia melotot tajam pada Rava yang mulanya justru hanya menyengir.
“Yaaaangg..!!” Rengek Rava.
“Jangan sebut aku Bapak lagi.” Lanjut Rava merengek. Mengguncang pelan bahu Ara yang masih ia rengkuh.
“Iya, Om.” Terkekeh Ara menjawab rengekan Rava.
“Ish, nakal!”
__ADS_1
“Jari mu itu yang nakal!!” Ujar Ara sambil mengusap ujung hidungnya yang baru saja Rava cubit.
“Gemesin banget sih sayang nya Mas ini..” Puji Rava yang sudah menangkup kedua sisi pipi Ara dengan telapak tangannya.
“Mas.. Sibuk banget ya?” Tanya Ara masih dengan pipinya yang menyembul menghimpit hidung karena Rava menekannya dengan gemas.
“Iya, kerjaan Mas cukup banyak.”
“Ini gak apa-apa Mas habisin waktu sama Ara? Gak ganggu kerjaan?” Ucap Ara sembari menghela nafas lega. Menggerakkan rahang bawahnya perlahan untuk menetralkan rasa menekan di pipinya yang sudah terlepas.
“Gak bisa berduaan sama kamu gini yang ganggu kerjaan Mas.”
“Masa iya?”
“Beneran. Mas kangen banget sama kamu.” Sebelah tangan Rava menepuk pelan punggung tangan Ara yang berada dalam genggamannya.
“Kangen kok yang datang ke rumah cuma martabak, soto ayam, mie ayam, rawon, basreng, cheesecakes, pizza, sate, roti bakar, milkshake, jus sama kawan-kawannya aja? Mas kemana?”
“Mas gak sempat sayang buat mampir. Kemarin Mas pulang udah larut malam banget, jadinya gak sempat buat mampir ke rumah.” Mata Rava berubah sendu mengingat malam yang ia lalui hanya dengan memandang balkon rumah berlantai 2 berteman suara jangkrik. Ia tidak mungkin mengungkapkan kejujuran yang belum diungkapkan saja sudah membuatnya malu.
“Tapi kok gak ngabarin Ara? Lupa? Asik pacaran sama berkas!?” Pertanyaan Ara terlontar sinis. Tiba-tiba ada rasa cemburu memikirkan Rava yang tidak menyisihkan sedikit waktu untuknya.
“Kamu yang gak pernah angkat kalau Mas telepon. Pesan aja kamu nggak baca, apalagi dibalas.” Gerutu Rava.
“Sebentar aku cek dulu..” Jemari lentik Ara sudah berselancar di layar ponselnya. Kernyitan di dahi dan bibir manyun yang tiba-tiba sangat jelas membingkai wajah mempesona Ara.
“Ehh!!?” Ujar Ara spontan.
“Rupanya Ara lupa kalau blokir kontak Mas. Hehe..”
“Tunggu jangan dibuka dulu blokirannya!” Menahan jemari Ara untuk tidak bergerak lagi, Rava merogoh ponselnya untuk memastikan sesuatu.
Benar saja, nada sambung panggilan itu berbeda. Rava yang kalut saat itu tidak menyadari keanehan yang ada. Ingin rasanya Rava menertawakan dirinya yang sebelumnya sudah marah-marah tidak jelas seorang diri.
“Tega kamu ya blokir nomor Mas.” Memicingkan matanya, Rava bukannya marah, ia justru takjub pada Ara yang lupa telah memblokir nomor ponselnya.
“Hehe..” Cengiran dengan jari melambangkan perdamaian teracung tepat di depan wajah Ara.
“Kamu marah banget ya sampai blokir nomor Mas segala?”
“Nggak kok.”
“Kalau nggak kenapa diblokir? Maafin Mas yang gak cerita tentang kita sebelumnya. Mas cuma mau kamu ingat Mas dengan sendirinya.” Ucap Rava serius dengan raut wajah mendung di bawah silau mentari yang mengkilaukan air laut
“Ara memang sempat kesal sama Mas. Tapi semua itu wajar kan? Ara juga kesal sama diri Ara sendiri kenapa gak bisa sadar sama semua ini.”
“Maaf..”
“Bukan salah Mas. Tapi..” Ucap Ara terpotong, ada keraguan yang menutupi rasa penasarannya.
__ADS_1
“Tapi kenapa?” Mengeratkan genggamannya pada Ara, Rava berusaha menyakinkan Ara untuk melepaskan beban pikirannya.
“Mas kapan sadar kalau kita pernah ketemu waktu kecil?” Tanya Ara dengan wajah bingungnya.
“Eh.. Itu..” Gelagapan Rava mengalihkan pandangannya. Menatap riuhnya ombak yang tidak akan pernah bosan berderu.
“Jangan ada yang di tutupi lagi!” Seru Ara cukup kuat.
“Dari awal.” Ucap Rava singkat, ia memberanikan diri menatap mata Ara yang mengerjap bingung.
“Maksudnya?” Kerutan di dahi Ara benar-benar bertambah halus. Pupil matanya melebar kaget dan kebingungan secara bersamaan.
“Dari awal sebelum kamu tau Mas. Dari awal sebelum Mas ngajar di kampus.”
“Kok bisa!?” Ucap Ara disertai mata yang terbelalak lebar.
“Mas udah suka sama kamu dari dulu. Dari kamu masih kecil, Mas udah jatuh cinta sama kamu.”
“Ha!!?? Ap-appa ini?? Mas lagi prank ya? Maksudnya apa? Ara bingung. Sumpah ini maksudnya apa sih?” Tanya Ara tidak menentu. Otaknya seketika mampet pada informasi dan praduga yang terlalu banyak diproses.
...****************...
*
*
*
Apa yang akan Ara lakukan setelah seluruh fakta perjalanan cinta Rava terungkap?🤔
*
*
Hana sempat macet ngetik lanjutan bab ini. Ide ada, tapi gagal merangkai kata-kata.🤧
Bahkan ada bab acak yang udah siap diketik, cuma gak pas sama lanjutan kisah ini.☹️
Kenapa?
Karena itu tadi, waktu mau ngetik seketika hilang untaian kata yang sempat ada di imajinasi.
By the way, Hana punya cerpen baru lagi.. Ini hasil maksa otak merangkai kata.
FYI, ini fantasy lagi😊 Maaf kalau kurang greget.
Syukurnya setelah kelar cerpen ini membantu banget untuk mulai merangkai kata buat bab hari ini.😁
__ADS_1
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰