Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Firasat Buruk


__ADS_3

Tok.


Tok.


Tok.


“Masuk!” Ucap Rava dingin, namun sangat berwibawa. Duduk di balik meja kerja dengan setelan kemeja putih dengan dahi yang berkerut.


“Kenapa suruh Ara datang?” Tanya Ara tanpa basa-basi, menatap Rava yang masih berkutat dengan pekerjaannya. Sedetik kemudian sosok yang tadinya enggan hanya untuk sekedar melirik langsung berdiri dengan senyum sumringah. Melangkah lebar dan mendekap bahu mungil sang kekasih.


“Taksi online nya gak telat kan jemput kamu?” Tanya Rava tanpa menjawab pertanyaan Ara. Menuntun Ara yang dirangkulnya agar ikut duduk di sofa panjang dalam ruangan yang tidak terlalu besar itu.


“Nggak kok, malahan lebih cepat 5 menit dari jam yang Mas bilang.” Ucap Ara sambil mendudukkan dirinya. Tali tas selempang berwarna hitam masih menggantung di bahu kiri Ara, membelah dada dan berakhir dengan tas berbentuk setengah lingkaran terpangku di pahanya.


“Mas sibuk?” Tanya Ara, menatap Rava yang tersenyum senang sambil mengusap puncak kepalanya.


“Nggak.” Jawab Rava cepat tidak sesuai fakta yang ada. Nyatanya pekerjaan Rava sudah menumpuk dan menggunung.


Jika dahulu Rava meneruskan perjuangan Ayahnya semasa hidup, kini Rava berjuang membangun usaha miliknya sendiri dari titik dasar. Memang status Rava masih pemegang saham tertinggi PT ELANG AKIRA, namun dirinya tidak akan terjun lagi ke dalam manajemen perusahaan jika bukan menyangkut hal-hal yang penting dan genting.


Secara perlahan Rava ingin mewujudkan dan membesarkan sebuah keinginan masa kecil Ara, tentunya tanpa sepengetahuan Ara. Anggap saja semua itu kejutan sekaligus investasi masa depan mereka berdua.


“Jadi Ara disuruh ke sini buat apa?” Ucap Ara sambil mengedarkan pandangannya. Meneliti ruangan minimalis yang terasa sangat nyaman.


“Sebentar ya, Sayang.” Beranjak dari duduknya, Rava berkata sambil melangkah menjauh, menghampiri meja kerja miliknya mengambil setumpuk buku yang didominasi warna cerah.


“Coba lihat ini, Yang.” Ucap Rava sambil menyodorkan sebuah buku bertuliskan ‘Your Dream Day’ pada bagian sampul depan. Tampak sangat elegan dengan tulisan bercorak Glitter emas di atas sampul putih tulang berhias gambar sepasang cincin yang tersemat di jari manis dua orang berlainan jenis. Tanpa disebutkan lebih jelas lagi, Ara sudah tau kira-kira apa isi semua buku tipis yang Rava bawa itu.

__ADS_1


“Apaan ini, Mas?” Tanya Ara memastikan isi pikirannya, mencocokkan apa yang sempat terlintas di angan dengan jawaban yang akan Rava berikan.


Membuka lembaran pertama, Rava memilih untuk menunjukkan sebuah gambar lengkap dengan berbagai penjelasan yang lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan Ara.


“Ini?” Ucap Ara penuh tanya dengan dahi berkerut, bukan tidak tau maksud terselubung Rava, namun ada sesuatu yang membuat Ara seketika terpaku. Bingung, canggung dan meragu, itulah yang mungkin Ara rasakan.


“Mas punya kenalan yang buka WO, jadi kemarin waktu reuni iseng aja minta.” Kilah Rava, nyatanya sudah beberapa hari dirinya memang diam-diam mencari wedding organizer yang cukup terkenal di Kota B, sekaligus mencari informasi lewat kenalan rekan bisnisnya.


“Mas hanya mau kita lihat-lihat dulu. Selama persiapan nanti pasti banyak hal yang ingin diubah, tapi gak ada salahnya kita lihat-lihat ini. Kalau ada yang cocok sama selera kamu, kita bisa pakai buat pernikahan kita nanti.” Ucap Rava setenang mungkin masih mencoba mengartikan sorot mata gusar Ara.


"Satu bulan setelah kamu wisuda, tiga bulan lebih seminggu dari sekarang, mau ya jadi istri Mas?” Berkata sambil meraih jemari Ara dalam genggamannya, Rava bisa merasakan kegugupan yang menjalar pada diri Ara. Jari mungil yang terbiasa hangat itu berubah sedingin es dalam genggaman Rava. Mencoba berpikir efek pendingin ruangan sebagai penyebabnya, Rava mengusap perlahan punggung tangan Ara.


“Mas, pernikahan kita..” Menarik perlahan tangannya menjauhi Rava, Ara berucap lirih menggantung, lidahnya seakan tidak mampu meneruskan kalimat yang sudah terangkai sempurna di otak.


“Kenapa dengan pernikahan kita?” Tanya Rava masih dengan suara lembut, memilih membolak-balikkan sebuah buku di tangannya. Tidak dapat dipungkiri firasat Rava mengatakan ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia tidak tau apa yang mungkin terjadi, namun sikap Ara yang berbeda membuat dirinya takut.


“Bisa ditunda lagi?” Ucap Ara lebih lirih lagi, nyaris seperti bisikan samar yang sangat halus.


Layaknya sebuah sengatan listrik yang menyambar tiba-tiba, Rava hanya mampu mematung terkejut. Seketika pikiran Rava kosong meski sepasang pupil matanya menatap lekat pada Ara yang menunduk sambil meremas jemari.


“Setahun lagi aja, bisa?” Ucap Ara masih dengan kepala menunduk semakin dalam.


“Memang kenapa harus kita undur sampai selama itu?” Tanya Rava dengan suara lemas, tatapan matanya sayu, binar kebahagiaan seketika menghilang, lenyap terbuang tanpa sisa.


“Ara pengen kerja dulu, Mas.” Jawab Ara dengan memberanikan diri menatap Rava, namun hanya sebentar. Meskipun begitu, Ara dapat menangkap raut kekecewaan dari garis wajah Rava yang mengeras.


Memejamkan mata dan menghembuskan nafas panjang, Rava masih mencoba bersikap tenang. Ia tidak ingin Ara melihat emosi meluap yang sudah memberontak di dalam dirinya. “Setelah kita menikah kamu tetap bisa kerja, itu kalau kamu mau. Mas janji gak akan larang-larang kamu.”

__ADS_1


“Tapi beda, Mas..” Sanggah Ara menyela ucapan Rava. Setelah Ara pikirkan lagi, dirinya ingin terjun ke dunia kerja terlebih dahulu sebelum menikah dengan Rava.


Merasa belum menjadi anak yang berbakti dan Kakak yang bertanggung jawab, itulah alasan Ara ingin menunda pernikahannya dengan Rava. Meski Rava mengatakan tidak melarang, namun saat ini bagi Ara semua itu akan terasa berbeda dengan adanya status pernikahan.


Dangkal? Iya, Ara membenarkan pikirannya yang terlalu dangkal. Tapi memang seperti itu yang kini Ara rasakan dan inginkan.


“Apanya yang beda, Sayang? Kamu tetap bisa kerja. Apa karena status? Mas yakin semua itu gak akan ganggu dan berpengaruh apa-apa.” Berlutut di hadapan Ara, Rava menatap wajah Ara yang tertunduk dengan mata berkaca-kaca. Entah apa yang Ara pikirkan hingga membuatnya menahan tangis.


Ingin Rava berteriak marah, namun Rava lebih ingin mendekap erat Ara dalam rengkuhannya, menyakinkan hati yang tengah goyah agar kembali pada tempatnya semula.


“Lihat Mas sini.” Menangkup kedua sisi pipi Ara, Rava tersenyum kaku. Berusaha mentransfer rasa cinta menggelora yang tidak akan gentar pada apapun yang akan terjadi.


“Mau kamu kerja atau lebih memilih di rumah, Mas akan selalu dukung keputusan kamu. Jangan jadikan status pernikahan sebagai alasan kamu merasa terkekang, karena Mas selalu di pihak kamu.” Meski kalut, Rava masih mampu mengendalikan diri. Terbukti perkataan yang Rava ucapkan mengalun lembut, semuanya jelas agar Ara tidak tersakiti lewat kalimat yang keluar dari bibirnya.


“Ara mau kerja lebih bebas lagi, Mas. Maaf..” Ucap Ara kali ini menyulut emosi yang sedari tadi Rava tahan. Kecewa serta marah benar-benar tergambar jelas di wajah dan gestur tubuh Rava yang kini sudah menjauhi Ara.


Mengepal erat dan menyugar kasar rambutnya, Rava berdiri membelakangi Ara. “Sebenarnya kamu mau atau tidak jadi istri Mas? Kenapa semuanya seolah ditunda dan diundur terus-terusan?” Ucap Rava datar, enggan melihat Ara yang pastinya hanya membuat Rava merasa tidak diinginkan.


...****************...


*


*


*


Ada yang sudah kelewat gemas mereka tidak langsung menikah?🤔

__ADS_1


(Sabar..🤭)


Terima kasih sudah menanti kelanjutan kisah Ara😄


__ADS_2