Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Kepingan Puzzle


__ADS_3

“Ti-ga pu-luh tu-juh ha-ri.” Eja Ara dengan bibir sesekali mengerucut, mengangguk mantap pada setiap suku kata yang terucap.


“Kok cepat ya, Ra? Perasaan waktu pertama datang rasanya laammaaa banget..” Ucap Arini, salah satu teman yang semakin dekat dengan Ara menjelang waktu KKN sudah berada di penghujung hari.


“Karena kita mulai nyaman di sini, jadi waktu terasa cepat berlalu.” Celetuk Lea ikut mendudukkan dirinya di lantai semen bangunan Sekolah Dasar. Kini ketiganya menatap pot gantung dari bahan botol plastik bekas dengan tangan terjulur menjauhi baju yang melekat di tubuh, takut sisa cat yang menempel di telapak tangan menodai pakaian mereka.


“Feby gak jadi nyusul?” Tanya Ara tanpa mengalihkan tatapannya dari pot bunga hasil kreasinya. Seumur hidup Ara yang terlahir dari Mama Lauritz dengan kreatifitas tinggi, baru kali ini menghasilkan kerajinan lewat tangannya sendiri. Tuntutan kreatif dan terpaksa berinovatif menjadi alasan kuat hadirnya berbagai pot gantung dengan beraneka ragam bentuk dan corak.


“Males banget bahas si Feby itu.” Mendengus kesal, Lea berujar dengan sewot.


“Kamu masih marahan sama dia, Lea?” Tanya Ara, menolehkan kepalanya menatap Lea yang sudah cemberut, kedua alisnya nyaris tertaut dan menimbulkan kerutan di dahi.


“Gak marahan lagi, tapi gak mau bahas.” Kilah Lea dalam sanggahan ketus. Jelas terlihat bahwa hubungan antara Lea dan Feby masih memburuk.


“Memang masalah kalian apa sih? Kata Feby cuma gara-gara dia pinjam ponsel kamu. Tapi kenapa jadi lama banget marahan nya.” Tanya Arini penasaran, menuntut jawaban dengan sesekali menyenggol lengan kanan Lea.


“Ada lah pokoknya, gak penting juga.” Ucap Lea yang enggan membahas lagi permasalahannya dengan Feby. Memilih beranjak dari duduknya, Lea berjalan mendekat pada Ara.


“Kamu jauh-jauh aja Ra dari Feby, dia itu ular.” Ucap Lea lirih pada Ara yang masih bisa terdengar oleh Arini.


“Memang Feby matuk?” Celetuk Arini dengan bibir tercebik, menggelengkan kepala pelan disertai helaan nafas yang terbuang dalam dorongan paksa.


Menahan rasa ingin tau yang seketika membludak, Ara mencoba mengambil sikap yang cukup bijak. “Kita sebentar lagi selesai kegiatan ini, bukannya makin akur malah jadi bermusuhan. Jadi, lebih baik kalian duduk berdua dan selesaikan baik-baik.”


“Ogah banget. Dia itu munafik!” Tolak Lea dengan suara menggeram yang jelas ditujukan untuk Feby, bukan Ara atau bahkan Arini. Entah apa yang terjadi sebenarnya, hampir lewat satu minggu Feby dan Lea berseteru.


“Udah biarin aja si Lea. Kayaknya dia masih marahan.” Ucap Arini pada Ara.

__ADS_1


Mengangguk menyetujui ucapan Arini, akhirnya Ara menyerah mencoba membujuk Lea berdamai dengan kekesalannya. Lebih baik diabaikan saja selama tidak saling menyakiti. Sudah cukup sering baik Lea atau Feby ditegur dan diingatkan untuk berbaikan, namun nihil, keduanya sama-sama egois dan menolak keras ucapan dari orang lain.


"Ya udah Ra, ayo pulang ke markas. Itu Lea udah kabur duluan.” Ajak Arini sambil menunjuk Lea yang sudah berada di kejauhan. Berlalu terlebih dahulu meninggalkan Arini dan Ara dengan seenaknya.


“Eits..! Beresin dulu ini..!!” Cegah Ara saat Arini ingin langsung pergi menyusul Lea yang sedang terkekeh memerhatikan Ara dan Arini dari kejauhan.


“Lah lupa barang masih berantakan.” Menepuk dahinya dengan telapak tangannya secara spontan, Arini bahkan sampai melupakan bahwa tangannya terkena noda cat yang masih basah.


Menoleh dengan kelopak mata dilebarkan, Lea meraup oksigen sebanyak-banyaknya. “LEEEAAAA..!!! JANGAN KAABBUUURR..!!!” Teriak Arini kencang memekakkan telinga Ara. Telunjuk kanannya menuding Lea yang menjulurkan lidah tanpa dosa, bersungut dengan dengusan nafas yang memburu kesal.


“Dasar Lea, rupanya sengaja ninggalin kita!!” Gerutu Arini lagi sambil meraih kaleng cat yang masih tersisa setengah bagiannya.


“Kurang ajar itu anak malah ninggalin kita. Ngeselin!!” Lanjut Arini menggerutu, bibirnya terus bergerak dengan suara lirih yang keluar layaknya sedang membaca mantra.


Malas menanggapi kekesalan Arini, Ara hanya diam menutup mulut dan terus menggunakan tangannya membuang sampah plastik bekas guntingan botol. Sekelebat suara Lea yang mengatakan Feby sebagai ular terlintas di pikiran Ara. Tentu saja Ara paham bahwa ular yang dimaksud bukan ular sesungguhnya yang bertubuh lunak dan melata.


Sejenak Ara mencoba mengingat hari terakhir hubungan Lea dan Feby saat masih baik-baik saja. Benar, saat itu mereka baru pulang dari memanfaatkan waktu luang untuk sekedar berlibur sebelum menyelesaikan kegiatan bakti Desa yang terakhir dan kembali ke Kota B.


Kini, saat hubungan Lea dan Feby semakin memburuk, Ara yakin bukan hanya dia yang mencoba merangkai ulang adegan yang menyatukan kepingan puzzle permasalahan.


Praduga dan curiga mengalir jelas di otak masing-masing orang. Salah satunya terkaan berupa kemungkinan mereka sedang merebutkan laki-laki yang sama dan baru ketahuan saat saling meminjam ponsel.


“Ara, jadi nitip beli oleh-oleh khas Desa L nggak?” Tanya seorang teman laki-laki yang menghampiri Ara, bukan Zen, namun teman yang lainnya.


“Mau beli sekarang? Sebentar ya, aku cuci tangan terus ambil uang dulu.” Ucap Ara sembari mengangkat telapak tangannya, menunjukkan noda cat yang masih tersisa.


“Cuci pakai minyak dulu Ra, baru bilas pakai sabun cuci piring.” Pekik suara dari arah belakang Ara yang langsung membuat Ara menoleh, mengangguk dan tersenyum sekilas.

__ADS_1


Mengacungkan ibu jari kirinya, Ara berucap singkat sebagai balasan dan rasa terima kasih karena telah diingatkan. “Sip, thanks ya..”


Menyeka setiap tetesan di sela jemarinya dengan cepat, Ara menempelkan telapak tangan yang terasa lembab pada baju yang ia kenakan. Dirinya saat ini sudah duduk berjongkok di depan mini koper miliknya.


Mengernyit heran, Ara mengobrak-abrik isi kopernya dengan panik. Seingat Ara sudah menyimpan beberapa lembaran biru di dalam tas kecil seukuran telapak tangannya, menyelip diantara baju-baju yang terlipat rapi di dalam koper. Namun kini, hanya tersisa dua lembar uang biru dan beberapa lembaran hijau, coklat dan ungu. Beruntung uang dalam lembaran berwarna merah Ara simpan terpisah di dasar koper dan sengaja terlindung salah satu pakaian dalamnya.


“Uang ku kemana!?” Gumam Ara lirih sambil terus mengeluarkan satu per satu pakaiannya dari dalam koper.


Menggigit kuku ibu jari kanannya, pupil mata Ara bergerak gusar. “Masa hilang? Tapi gimana bisa hilang?” Gumam Ara bertanya pada dirinya sendiri.


“Aku selalu kunci koper ku, kecuali.. Gak mungkin waktu aku gak kunci ada yang nakal curi uang aku kan?” Gumam Ara semakin gusar, ia tidak mungkin asal menuduh hanya karena menaruh curiga pada orang lain, khususnya teman perempuan. Satu-satunya yang bisa mengakses tempat tidur di mana koper itu juga diletakkan hanya kaum perempuan saja.


...****************...


*


*


*


Ada masalah apa diantara Feby dan Lea?🤔


*


*


Udah menanti UP ya? 🤭 Maaf ya baru bisa kasih kelanjutannya, doakan hari ini bisa selesaikan bab selanjutnya dan 2 bab di sebelah lagi😁

__ADS_1


*


Terima kasih sudah selalu dukung karya Hana🥰😘


__ADS_2