Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Bohong


__ADS_3

Di bawah gelapnya langit berselimut angin malam, cahaya gemerlap Kota B tidak meredupkan sinar sang rembulan. Alunan musik odong-odong bersama gelak tawa anak-anak kecil membuat jantung Ara tercabik. Ara merasa iri.


Seberapa banyak Ara tertawa saat ia masih kecil dahulu? Seingat Ara tawanya hanya ketika bersama dengan Mama Lauritz. Berdua di rumah kecil dengan teras yang dipakai berjualan es campur. Demi rupiah untuk masa depan keluarga, Papa Yudith berkelana jauh meninggalkan 2 orang yang dicintainya.


Papa Yudith yang terpaksa merantau banyak melewati masa-masa menggemaskan Ara. Suara yang sering bersua lewat panggilan telepon tentu tidak bisa menggantikan kealpaan sang raga. Meski perlakuan layaknya putri kaisar akan Ara dapatkan dari kedua orang tuanya, namun Ara tetap masih mengidamkan kasih sayang dari orang lain yang juga disebut 'keluarga'.


"Maaf, cuma ada ini."


Aroma bumbu balado pedas manis yang dicampurkan dengan keju manis menjadi perasa dari sebungkus cemilan tela-tela menyeruak indra penciuman Ara. Jangan lupakan pop ice cappucino, teh hangat, pisang bakar, nugget dan usus goreng tepung yang sudah terlebih dahulu mengisi lapak beralas rumput hijau di samping Ara.


"Gak apa-apa Pak. Lagian saya yang kasih saran buat di taman kota aja." Ucap Ara tanpa menatap lawan bicaranya.


"Udah bisa dibilang kencan belum ini?" Celetukan suara maskulin tiba-tiba yang membulatkan mata Ara.


"Uhuk!! Huk!! Uhuk!!" Es yang sudah mencair rasanya ingin keluar lewat hidung. Cappucino yang agak pahit itu tiba-tiba sedikit pedas di kerongkongan dan hidung Ara. Jika bisa Ara ingin saat itu juga mengutuk pemilik suara menjadi sosis bakar madu.


"Tadi bukannya Bapak bilang ada masalah yang mau dibahas dengan Dosen lain?" Mengalihkan pembicaraan merupakan jalan tikus terbaik.


"Kok belum mulai kumpul ya Pak?" Lanjut Ara sambil mengamati sekitarnya.


"Saya bohong." Ucapan ringan dan santai, namun mampu membekukan Ara.


"Hah!!???"


"Saya cuma mau berduaan sama kamu." Senyum tanpa dosa terukir indah dari bibir Pak Kim/Rava. Begitu sulitnya jika punya dua nama panggilan.


"Jangan panggil saya Pak lagi ya Ra. Tadi hampir aja saya dikira Bapak kamu waktu beli pisang bakar." Mendengus sebal, laki-laki dewasa itu terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk karena kehabisan permen.


"Pfft!!"


"Kalau mau ketawa jangan ditahan." Tersenyum lebar, manik mata Pak Kim menatap Ara penuh kasih sayang.


"Gak kok Pak." Ara menggelengkan kepalanya kuat tanda menolak, namun ia kalah, "Hahahahahaa.."


"Jadi apa yang mau Bapak omongin sama saya?" Ucap Ara sesaat setelah tawanya hilang.


"Udah dibilang jangan manggil Bapak lagi!"


"Hem." Berdehem, Ara sudah malas membahas hal yang sama berulang kali.


"Saya mau buat pengakuan sama kamu." Ucap Pak Kim mantap.


"Saya suka sama kamu. Saya jug.."


"Yang pernah kasih Ara surat, kasih makan siang, melototin setiap Ara melangkah kemana aja, diam-diam suka ngikutin Ara. Bener kan?" Ucap Ara panjang setelah dengan lancang memotong perkataan Pak Kim. Tatapannya masih lurus ke depan. Pemandangan tawa riang banyak pasang keluarga mengisi lensa mata Ara.


"Ka-Kamu tau semua itu??" Ucap Pak Kim lumayan terkejut. Meskipun ia sudah sempat menduga hal ini, namun saat dugaannya terbukti benar tentu ia tetap terkejut. Rasanya ia benar-benar tidak gentleman selama ini.


"Ayam bakar waktu di Kota Y itu jangan-jangan dari Om juga ya?" Ucap Ara yang hanya dijawab dengan anggukan kecil. Wajah merona menambah ketidakpercayaan Ara dengan apa yang sedang ia lihat. Pikir Ara hebat sekali dirinya bisa membuat manusia gletser menjadi pinguin lucu.


"Fix!! Penguntit!!" Ucap Ara bernada tinggi, matanya terbuka lebar melotot. Sedetik kemudian Ara tersadar dan membekap mulutnya. Terlambat, perkataannya sudah terlanjur terdengar.


"Ehh!! Kok tadi panggilnya Om!??" Memicingkan matanya, kerutan dahi Pak Kim terlihat sangat jelas. Bisa-bisanya Pak Kim baru menyadari bahwa panggilan 'Pak' sudah terganti, namun menjadi 'Om'.

__ADS_1


...----------------...


"Ciye kakak yang habis diapelin. Uhuuuy.. Cicicuiiittt uuiiitt uuiiiitt.. Hahahaha.." Goda Jona pada Ara yang baru saja selesai membasuh muka di kamar mandi.


"Ck!!" Berdecak kesal Ara berlalu menuju kulkas di dapur. Kehausan. Padahal Ara biasanya tidak tahan udara dingin, ia akan pilek sebentar lagi dan butuh air hangat.


"Akhirnya ada cowok lain yang datang selain Bang Hans. Tapi kayaknya yang ini lebih tua ya kak dari Bang Hans?" Memangku dagunya dengan jari membentuk logo salah satu produsen sepatu terkenal, Jona menaikan salah satu alisnya.


Tentu saja Pak Kim lebih tua dari Hans, bahkan Hans saja lebih muda 5 bulan dibandingkan Ara.


"Dari mana kenal Hans?" Ara ingat betul bahwa Jona tidak pernah bertemu Hans. Meskipun Hans pernah sekali datang ke rumahnya, namun kondisinya saat itu Jona dan Rian masih asik terlelap.


"Weekend kemarin Bang Hans datang. Tapi kakak gak ada, cuma Jona yang di rumah. Rian di bawa Mama ikut ke bengkel Papa dari pulang sekolah."


"Kenapa kamu gak bilang sama Kakak??"


"Kata Bang Hans mau kasih kejutan. Udah gitu Kakak gak ada bahas juga, padahal kan Jona udah gatal pengen godain Kakak. Hehehe.." Ucap Jona dengan tawa cengengesan ingin menggoda Kakaknya lagi.


"Jangan pernah main rahasia-rahasia sama Kakak. Ingat itu ya! Kalau ada orang asing yang suruh kamu simpan rahasia sama Kakak jangan dituruti. Bilang langsung sama Kakak." Ucap Ara tegas pada Jona. Kurang ajar sekali Hans sampai bisa membuat Jona tutup mulut. Ara memikirkan sogokan apa yang sudah Hans diberikan pada Jona.


"Iya, Kak. Maaf. Soalnya dulu Mama pernah sebut nama Bang Hans, jadi Jona pikir pasti temen deket Kakak kayak Bang Dimas sama Kak Yuki gitu." Ucap Jona memelas. Binar mata penyesalan yang Ara jelas tau itu hanya akting tetap saja meluluhkan amarah Ara.


"Ya udah. Kali ini Kakak ampuni. Sekarang dimana Mama Papa?? Rian pasti udah molor ini." Tanya Ara pada Jona sembari berjalan menuju tangga.


Jona tentu saja sedari tadi masih setia mengekor, namun kali ini tidak ada jawaban dari si cerewet Jona. Menghentikan langkahnya, Ara merasakan ada masalah tidak enak yang baru saja terjadi.


"Kenapa??"


"Tante Sekar telepon tadi, jadi langsung ke kamar ngobrolnya." Ucap Jona lirih.


"Minta uang lagi dia??" Suara Ara sungguh berat. Kepalan tangannya bahkan membuat telapak tangannya tersakiti oleh kuku tajamnya.


"Mungkin."


Ara menuju kamar orang tuanya. Meninggalkan Jona yang masih terdiam menahan kekesalan. Bukan berniat menguping, Ara ingin mendengar langsung. Diketuk nya pintu kayu coklat berukiran bunga anggrek.


Tok


Tok


Tok


"Ma?? Pa??"


Ceklek


"Sstt!" Telunjuk Mama Lauritz berada tepat di depan bibirnya.


"Jadi sekarang kamu udah mengakui punya Mas!!??" Bentak Papa Yudith pada si penelepon.


[Mas gimana sih?? Kan memang Mas itu Mas ku. Oh atau ini gak mau kasih pinjam duit pasti gara-gara Lauritz kan?? Tau kalau dia dibuang sama keluarganya dulu Mas gak perlu nikah sama dia. Kita itu harus cari yang punya uang.]


Tidak ada rasa hormat atau bahkan sopan santun, Tante Sekar memanggil Mama Lauritz tanpa embel-embel 'Mbak' atau 'Kak'. Padahal dari segi umur juga lebih muda Tante Sekar 5 tahun dan Mama Lauritz statusnya juga sebagai istri Mas nya sendiri.

__ADS_1


"Sadar kamu Sekar!! Kalau suami mu punya uang kenapa harus minta sama Mas??" Ucap Papa Yudith dengan nada yang masih meninggi. Kehadiran Ara di belakang punggungnya tidak diketahui.


[Wajar dong Mas aku minta, aku adik mu. Suami ku bisnisnya cuma lagi menurun. Aku gak minta kok, aku pinjam. Bilangin itu sama istri mu buat gak usah takut uang nya kurang, sekarang ini aku lebih kaya dari dia.]


"Uang segitu gak sedikit Sekar." Mengusap wajahnya kasar, Papa Yudith terkejut saat berbalik sudah melihat wajah anak gadisnya merah padam, Ara mengatupkan gigi rapat hingga rahangnya ikut mengeras.


Tidak ingin mendengar apapun lagi, Ara berlari menuju kamarnya. Menutup pintu dengan kasar dan menguncinya. Tujuannya saat ini adalah sudut kamarnya.


Bugh


Bugh


Bugh


Bugh


"AARRGHHH!!!" Teriakkan frustasi itu kuat, namun tetap dengan suara tertahan. Seolah malu-malu ingin terlontar.


Brak


Buku klasifikasi plankton berbahasa Jepang seharga jutaan Ara lempar dengan kasar. Jika kesadaran Ara normal pasti ia akan sangat menyesal melempar buku mahal itu. Buku yang harus ia beli meski tidak mengerti bahasanya demi melihat gambar plankton dengan nama ilmiah yang tetap tersemat diantara tulisan Kanji Jepang itu.


Sisi luar kepalan tangan kanan Ara tampak sudah membengkak. Seolah mati rasa, pukulan kasar Ara pada dinding dan lantai dengan tangan kosongnya terasa lembut.


"Orang sialan!!" Geram Ara.


"Uang, uang, uang terus!!"


"Pengen ku bunuh mereka!!"


"Berani-beraninya bikin Papa Mama ku pusing lagi." Kembali mengepalkan tangannya, Ara tinju dinding biru itu sekali lagi hingga tulang jarinya mulai terasa ngilu.


Masih hangat dalam ingatan Ara bagaimana kemiskinannya dihina hanya karena tidak bisa meminjamkan uang. Bahkan Papa nya diludahi dan tidak ingin dianggap saudara lagi. Sekarang saat keluarganya sudah tergolong berkecukupan dan mampu dengan tidak tau malunya Tante Sekar mengemis. Bahkan jika pengemis saja masih tau diri dengan menengadahkan tangannya meminta dengan permohonan.


...****************...


*


*


*


Maafkan hari ini yang super lama upšŸ™


Hana hari ini seharian disewa khusus sama Kanjeng Ibu Ratu buat jadi tukang angkut, tukang pikul dan ojekšŸ˜„


*


*


Terima kasih ya buat Kakak-kakak yang udah setia memantau kisah Ara🄰😘


*

__ADS_1


Bantu share ya biar banyak temen lain yang ikut baca kisah Ara inišŸ˜„


__ADS_2