Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
•Teman Laknat


__ADS_3

Masih berada pada posisi yang sama, bahkan cara duduk dan lokasi masih di taman Fakultas Kelautan Universitas Negeri ternama di Kota B. Hanya saja saat ini Ara tengah duduk berhadapan dengan dua orang anak manusia yang sok mengintimidasi. Siapa lagi kalau bukan Yuki dan Dimas.


Dimana Lauwis Hans atau Hans Liu?


Hans pulang dengan cara yang tidak baik-baik saja. Sempat ada adegan perang satu sisi dari Yuki bersenjata omelan melengking dan khutbah cempreng. Belum lagi karena saking tidak puasnya Yuki sampai memanggil ajudan andalan untuk pertumpahan darah pertama di kampusnya itu.


"Jadi itu si bajingan!??" Kepalan erat terlihat hingga buku-buku jari Yuki memucat.


"Hm."


"Sialan!! Argh!!" Sekarang kepalan tangan itu sudah menggebrak meja persegi panjang.


"Argh!! ADUH!! SAKIT GILA!!" Lagi-lagi masih didominasi suara Yuki. Tentu saja gebrakan itu menimbulkan rengekan kesakitan. Bagaimana tidak sakit jika meja yang di gebrak bukan terbuat dari kayu biasa melainkan beton yang berkamuflase.


"Aku baik-baik aja kali Ki. Jangan stress gitu deh." Ara meraih tangan Yuki untuk menenangkan, padahal ia yang harus diberi kekuatan menghadapi makhluk yang seperti 'M-A-N-T-A-N' barusan.


"HUH!! Kata siapa kamu baik-baik aja Ra? Aku bukan Dimas yang gampang dibegoin perempuan! Kalau tadi aku gak datang terus kamu pingsan gimana? Harusnya kalau mau ketemu dia kamu cerita dulu.. Biar kita bisa jagain kamu dari jauh." Cerocos Yuki tanpa menyadari ada yang sedang melongo disampingnya.


'Gampang dibegoin perempuan?' Dimas yang hendak menyuapkan siomay kuah pedas manis dengan topping telur ceplok ke mulutnya memilih mengatupkan bibirnya dan meletakkan sendok plastik ke dalam mangkuk siomay.


Dimas tidak suka telur rebus, jadi jangan heran bila adanya telur ceplok, beruntung siomay itu dibeli di kantin dalam lingkungan kampus. Bisa dibayangkan jika harus membeli siomay abang-abang gerobak, alhasil siomay itu akan minus telur.


Sejak mereka duduk bertiga Dimas memang memilih bungkam, bukan hanya karena siomay yang dibawanya tapi juga mengamati kondisi kedua temannya terlebih dulu.


"Apa hubungannya sama aku? Siapa juga perempuan yang udah begoin aku kalau bukan kalian berdua?" Cerca Dimas merasa tidak senang.


Bukannya menjawab seperti biasanya, kali ini Yuki hanya menatap Dimas sekilas penuh iba. Tidak jelas juga bermaksud apa tatapan Yuki itu.


"Udah ya kalian. Dim.. Cepetan dihabisin itu siomay!! Bikin ngiler aja." Ara mencoba mengalihkan perdebatan yang mungkin akan terjadi, lebih baik diinterogasi dari pada berada diantara perdebatan kedua manusia di depannya.


"Tadi itu Lauwis Hans. Dia juga Hans Liu dari Universitas elit di Kota Y. Asdos Pak Damar partner penelitian Bu Dian. Mereka orang yang sama. Dia juga Hans yang pernah aku ceritain. Tadi dia kasih ini." Menunjuk pada map merah yang tergeletak tidak berdaya di depan ketiganya Ara memandang ke sembarangan arah, pandangannya menelisik jauh mengingat masa lalu.


Ingatannya kembali pada masa 1 tahun pertama Ara menjauhi Hans. Diam-diam Ara masih suka mencuri pandang Hans dari balik jendela kelasnya saat Hans berada di lorong depan kelasnya saat jam istirahat kala itu. Cinta tidak bisa hilang begitu saja meski besarnya kekecewaan melebihi cintanya.


Bohong bila Ara mengatakan tidak ada perasaan lagi saat ini. Rasa kecewa yang tertumpuk itu masih tidak mampu menutupi rasa suka yang tersisa. Cinta memang sudah tidak ada, tapi sejauh ini Ara belum mampu benar-benar membuang Hans. Terbukti sudah dengan rasa sakit menusuk di dadanya yang sudah dua kali Ara rasakan saat bertemu Hans.


Mencintai siapapun itu hak semua orang, tapi tidak ada yang berhak menuntut cinta itu sendiri. Memperjuangkan itu berbeda dengan menuntut. Ara tidak pernah menuntut bahkan memilih berhenti berjuang dengan alasannya sendiri.


Trauma.


Hanya trauma alasan Ara memilih berhenti berjuang. Ketakutan dicampakkan dan dibuang lagi terus menggerogoti relung hatinya.


"Ra.." Panggilan lembut Yuki menyadarkan Ara dari lamunannya.

__ADS_1


Ara menoleh dan tersenyum pada kedua temannya, "Don't worry. I'm fine"


"Sekarang aku paham kenapa ada yang gagal move on." Senyuman mengejek tersungging jelas di bibir Yuki, "Kirain tipe anak pinter cupu kayak gimana yang bikin galau. Ternyata ganteng banget kayak artis. Badannya pas banget jadi model. Tinggi banget lagi. Pasti abs nya juga kotak-kotak roti sobek." Binar mata dan senyum merekah Yuki muncul lagi seperti pada awal pertemuan dengan Hans.


Pletak.


"APA??" Yuki melotot tidak suka pada jitakan mulus yang Dimas darat kan.


"Heh bocah!! Bisa-bisanya masih mikirin ganteng?? Pakai komen badan lagi. Jaga mata ya Yuki. Gak usah pakai zina mata segala. Gue yakin banget pasti kalau itu bukan mantan Ara lo udah kegatelan."


"Tapi bener sih kata Yuki Ra. Insecure aku. Mantan ganteng ya Ra??" Dimas menaik turunkan alisnya menggoda Ara. Tunggu sebentar, siapa yang tadi bilang Yuki bocah? Dimas atau Demit?


'Dasar temen laknat!!' Memutar bola matanya jengah Ara membatin sebal.


...----------------...


Di ruangan abu muda dengan penerangan lampu remang kekuningan tepat pukul 7 malam Ara terlelap begitu nyenyak ke alam mimpinya. Bukan tidur karena kemauan alaminya, melainkan pengaruh obat penenang.


Saat ini Ara berada di salah satu ruang hipnoterapi klinik milik keluarga Dokter Dion. Dokter muda itu telah menemani Ara hampir setahun belakangan. Hubungan dekat keduanya tampak lebih dari sekedar pasien dan dokternya. Seperti saat Ara baru datang dan bertemu sudah Dokter Dion sambut dengan pelukan seolah tahu apa yang Ara butuhkan.


Tidak ada sesi hipnoterapi, Ara hanya dibiarkan tidur sesukanya di sana. Setelah 3 jam yang lalu Dokter Dion hanya memberikan waktu Ara berkeluh kesah hingga emosi yang memuncak tidak stabil memaksa Ara menenggak obat penenang lagi.


"Eugh!" Mengerjapkan mata secara perlahan Ara berusaha menyesuaikan penglihatannya.


Mama


📞37 Panggilan


Prince Jona Tamvan


📞12 Panggilan


Papa


📞23 Panggilan


Yuki


📞9 Panggilan


Dimas


📞3 Panggilan

__ADS_1


+62812*******5


📞1 Panggilan


Dahi Ara mengkerut. Senyum manisnya juga menghilang begitu saja saat melihat 1 panggilan dari nomor tanpa nama. Meskipun tanpa nama, Ara masih ingat betul itu nomor siapa. Hans.


"Sayangku Ara sudah bangun, hmm??" Suara berat itu datang bersamaan dengan lampu utama ruangan abu muda itu menyala.


"Dok udah deh jangan panggil sayang-sayang lagi." Gerutu Ara pada Dokter Dion yang suka seenaknya memanggilnya sayang.


"Lah kan Ara sayangnya aku." Senyum super tampan Dokter Dion sukses membuat rona merah di pipi Ara.


"Nanti kalau suster Nindy denger pasti marah." Celetuk lirih Ara yang masih bisa didengar Dokter Dion.


"Kenapa Nindy harus marah? Kan kita yang sayang-sayangan. Dia bisa juga sama pacarnya." Sergah Dokter Dion.


'Iya punya pacar. Tapi kalau lihat kita dekat udah kayak macan mau menerkam.' Membatin Ara mengingat ekspresi suster Nindy yang mengerikan.


"Lagian Dokter dulu panggil aku Ara aja. Kenapa sekarang pakai sayang mulu sih?"


"Kan itu dulu. Sekarang kamu sayangnya aku Ra. Panggil Mas Dion gitu Ra, jangan Dokter mulu."


"Lah kan emang Dokter. Dari dulu juga gitu. Dokter aja yang aneh-aneh ini. Apa beda dulu sama sekarang? Panggil Ara aja udah." Kekehan Ara mengisi ruangan itu.


"Dok, ini udah malam ternyata. Ara pulang ya.. makasih banget ya Dokter udah kasih Ara waktu dan tempat." Lanjut Ara untuk berpamitan pulang.


Oke sepertinya cukup. Langsung saja kita jelaskan. Dion sudah jatuh hati pada Ara. Sejak 2 bulan pertama setelah Ara berkonsultasi masalah mentalnya, perasaan cinta itu mulai terpupuk semakin dalam hingga saat ini seiring kebersamaan yang terjalin.


Perasaan yang bermula dari kesedihan, keprihatinan dan kepedulian Dion pada Ara mengantarkannya pada level rasa cinta. Kesedihan atas bagaimana Ara bisa menjelaskan kisah pilu masa kecilnya yang mendapat perlakuan tidak adil hanya karena ia anak Papa dan Mama nya oleh seluruh keluarga terpapar dengan jelas. Hal yang paling memilukan dan menyayat hati Dion adalah bagaimana Ara ingat jelas kejadian buruk sejak ia berusia 3 tahun.



Dokter Dion (Kim Taehyung a.k.a V BTS)


...****************...


*


*


*


Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🥰

__ADS_1


__ADS_2