Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Pelukan Rava


__ADS_3

"Siapapun yang datang punya niat baik untuk Ara akan Om dan Tante terima. Tujuan baik harus disambut baik juga kan?" Ucap Papa Yudith yang juga disetujui oleh Mama Lauritz dengan anggukan.


"Tapi, semua itu tetap kembali lagi ke Ara. Mau kami orang tua sesuka apapun.. Ya kayak nak Rava gini lah ya, berusahalah menyakinkan anak Om kalau memang kamu serius." Lanjut Papa Yudith, berucap tegas tanpa menolak atau mengiyakan tujuan akhir yang Rava inginkan.


"Gak usah kebanyakan janji. Siapkan aja modal untuk masa depan.. Membina keluarga itu gak cukup dengan saling cinta dan percaya, modal materi meski cuma secuil itu juga pondasinya. Realistis saja ya Rav. Berusaha berdua itu gak masalah, tapi gak semua orang mau melewati kesulitan itu. Begitu juga Ara yang sudah dari kecil diajak susah sama Om dan Tante, pasti keinginan untuk lebih bahagia setelah punya pendamping sendiri jadi jauh lebih besar. Tante juga gak mau Ara merasakan kesulitan terus-menerus dari segi apapun itu. Apalagi kalau sampai ada perpisahan hanya karena ekonomi." Ucap Mama Lauritz dengan kekhawatiran yang tergambar jelas pada raut wajahnya.


"Jangan tersinggung ya Rav, kamu tau kenapa Om dan Tante ingatkan ini? Karena laki-laki itu punya tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga. Memang perempuan yang mengatur urusan dapur, tapi rumah itu kewajiban bersama. Gimana dapur mau berasap kalau kamu gak pasok kayu bakarnya? Dan gimana cara mau membakar kayu itu alat atau korek apinya harus dicari sama-sama." Ucap Papa Yudith tidak kalah panjangnya menimpali ucapan Mama Lauritz.


"Iya Om, terima kasih karena udah mengingatkan Rava. Di sini Rava hanya akan terus berusaha, Rava akui memang saat ini cuma bisa kasih janji yang belum pasti. Jadi di sini Rava tulus dan serius meminta izin pada Om dan Tante agar niat Rava sebelum meminang Ara secara resmi dapat terlihat keseriusannya oleh Om dan Tante. Rava bersumpah tidak ada sedikitpun dari awal Rava mendekati Ara untuk tujuan lain selain untuk membawa Ara menjadi istri dan ibu dari anak-anak kami kelak."


"Meski Om belum yakin sama kamu, tapi semoga kamu mampu membuktikan kalau kamu pantas karena niat dan tujuan kamu saat ini sudah sangat baik."


"Terima kasih Om." Ucap Rava tulus. Ada sedikit kelegaan di relung hati Rava.


"Mas.. Kasih tau Rava masalah di rumah.. Takutnya Ara terima ide gila Papa." Menyentuh lengan Papa Yudith, Mama Lauritz mengingat pada permasalahan yang mungkin akan dihadapi beberapa minggu yang akan datang.


"Jadi begini Rav.." Suara Papa Yudith terdengar berat memikul beban, suasana mencekam menegangkan kembali Rava rasakan. Bukannya tidak gugup dan gemetaran saat mengucapkan berbagai macam kalimat serius dari dalam lubuk hatinya, Rava sebenarnya sudah panas dingin, mual dan cukup lama menahan rasa kebelet pipis.


"Dari keluarga Mama nya Ara sebelumnya sudah ingin menjodohkan Ara dengan laki-laki yang masih anak kerabat jauh."


JDARR


Organ tubuh Rava tampak meleleh hancur lebur. Nafas terhenti seraya kepala berdenyut layaknya dihantam bongkahan batu letusan vulkanik.


"Ma-Maksudnya gimana Om??" Terbata-bata Rava berusaha mendapatkan jawaban bahwa itu semua hanya gurauan semata. Jika kenyataan yang harus dihadapi, Rava memilih menculik Ara dan menyembunyikannya meski tanpa restu. Seolah tidak pernah mengucapkan kata merelakan Ara dan mengesampingkan egonya, Rava sudah meremas jari-jemarinya.


"Ada rencana perjodohan yang sebenarnya udah kami tolak dan pastinya Ara juga menolak mentah-mentah. Tapi Kakek nya Ara itu bahkan lebih keras kepala dibandingkan Ara. Jadi lebih baik kalau kamu serius dengan niat kamu, bawa orang tua mu langsung datang ke rumah. Minta Ara dihadapan Ara sendiri."


"Saya yatim-piatu Om, Tante. Sudah sekitar 10 tahun yang lalu orang tua saya meninggal. Jadi saya cuma berdua dengan adik saya saja."


"Adik saya Dion. Dokter yang menangani Ara." Ucap Rava lagi, menyebutkan nama Dion yang pasti sangat dikenal oleh kedua orang tua Ara.


Mama Lauritz mengernyitkan dahinya, rasa familiar pada nama Rava terjawab juga akhirnya. Bukan hanya kebetulan semata, namun kedua orang itu rupanya kakak-beradik.


"Maaf Rav, Om gak tau kalau orang tua mu sudah berpulang. Apa gak ada keluarga kamu yang lain? Saudara orang tua mu?"


"Gak apa-apa kok Om. Kalau saudara yang lain gak ada Om, kami hilang komunikasi setelah perusahaan Ayah hampir bangkrut 9 tahun yang lalu." Ucap Rava sendu. Kekecewaannya pada sanak-saudara orang tuanya sangat mendalam.


"Kalau gitu kamu bisa anggap Om dan Tante orang tua kamu juga Rav.. Kita tetap bisa punya ikatan keluarga meski seandainya nanti kamu tidak berjodoh dengan Ara." Ucap Mama Lauritz yang tentunya tidak sepenuhnya diinginkan oleh Rava. Tidak berjodoh dengan Ara adalah salah satu mimpi buruk yang cukup disimpan sebagai mimpi saja.


Flashback Off


"Hahahaa.. Kok Mama suruh anggap orang tua sih??" Memegangi perutnya, Ara tergelak tawa kencang.


"Memang kenapa?"


"Harusnya jadi Adiknya Mama. Umur Pak Rava sama Mama itu kan udah nyaris ibarat Ara sama Rian Ma.. Hahaha.." Tergelak lagi Ara membaringkan tubuhnya pada sofa panjang ruang tengah.


"Hus!! Mulut Kakak.."


"Fakta loh Ma.. Nanti kan Ara bisa panggil Om Rava jadinya.."


"Gak mau manggil sayang gitu??" Memainkan kedua alisnya, Mama Lauritz mencoba mengulik isi hati anak gadisnya. Namun nihil, tidak ada tanda-tanda kasmaran dari sorot bola mata Ara.


"Idiih.. Gak deh.." Mengibaskan kedua telapak tangan tepat di depan wajahnya, Ara bergidik membayangkan memanggil Rava dengan sebutan 'sayang'.


"Lagian ya Ma, kalau Pak Rava udah lama nikah dari dulu-dulu itu pasti sekarang anak pertamanya bisa seumuran Rian." Ucap Ara dengan mata berbinar, yakin pada dugaan yang dipikirkannya.


"Kamu mau ngomongin diri kamu di masa depan ya Kak??" Memiringkan kepalanya, Ara masih tampak kebingungan. Mata yang sempat menyipit itu tiba-tiba membulat sempurna seraya bibir manyun tercetak yang tampak meronta ingin diikat dengan karet nasi bungkus.


Pertanyaan Mama Lauritz jelas menohok dan menombak tepat pada jantung Ara. Tingkah Ara yang menggebu-gebu itu berubah kesal dan malas. Bagai senjata makan tuan, sungguh Ara tidak sadar diri jika suatu saat kalimat itu akan berbalik menyerangnya.


"Jangan tanya Ara kapan bisa kasih Mama cucu yaa.. Soalnya Ara gak mau cari pasangan. Nanti Ara bakal sama Mama Papa aja sampai tua."


"Kakak memang akan nemenin Mama sama Papa menua, tapi kalau nanti Mama sama Papa udah gak ada, siapa yang ganti nemenin Kakak sampai tua?" Ucap Mama Lauritz lembut, mengusap rambut Ara yang sudah mengering. Aroma mint dari shampo yang Ara pakai tercium jelas.


"Ada Jona sama Rian." Ucap Ara lirih, ragu akan jawabannya sendiri.


"Adik-adik mu nanti bakal punya keluarga masing-masing Kak.. Kakak jangan berpikir untuk hidup sendirian ya.." Ucap Mama Lauritz yang masih tetap mengusap lembut kepala Ara.


"Sekarang kasih tau Mama kenapa Kakak gak mau punya keluarga sendiri?" Berucap lagi, Mama Lauritz bertanya pada Ara.

__ADS_1


"Kakak punya keluarga kok, ada Mama, Papa, Jona sama Rian."


"Punya suami. Kenapa Kakak gak mau?"


"Kenapa Kakak harus punya suami?? Kakak udah bahagia hidup kayak gini Ma.. Buat apa memasukan orang asing yang belum tentu akan kasih kebahagiaan. Belum lagi kalau keluarganya jahat, kayak Mama yang dijahatin keluarga Papa dan keluarga Mama yang jahat ke Papa."


"Jadi Kakak takut ada yang ngerusuhin kayak yang terjadi sama Mama dan Papa?? Kalau gitu kenapa gak cari suami anak panti aja?" Menatap Mama Lauritz, Ara sudah siap dengan jawaban selanjutnya.


"Tapi kan anak panti tetap punya keluarga Ma.. Hidup di panti pasti ngebuat mereka ngerasa itulah rumahnya dan keluarganya."


"Nah itu Kakak tau, berdasarkan darah atau tidak hubungan keluarga tetap bisa kita bentuk. Jadi sekarang alasan Kakak menolak itu karena Kakak mau menghindari berkomitmen. Kakak tau kan kalau sebenarnya Kakak itu hanya terperangkap dalam ketakutan yang belum tentu benar, iya kan?"


"Tapi daripada Kakak berjudi sama nasib, lebih baik Kakak sendiri kayak gini kan Ma?"


"Memang Kakak yakin akan bahagia?"


"Karena ini pilihan Kakak dan gak akan ada tempat bergantung lainnya, Kakak yakin pasti bisa buat hidup Kakak bahagia Ma.."


"Sama juga kalau Kakak memilih mau hidup berpasangan dan membangun sebuah keluarga, di situ Kakak juga pasti akan yakin untuk bahagia karena itu pilihan Kakak."


"Tapi di sini Ara gak menetapkan pilihan Ma, karena cuma ada satu jalan. Buat apa memilih kalau hanya keinginan untuk gak nikah?" Sifat keras kepala yang melebihi batu karang benar-benar tidak terkikis sedikitpun, Ara tetap kukuh pada segala pola pikirnya.


"Iya deh.. Iya.. Sekarang jemur dulu itu handuk, pasti lembab buat keringkan rambut tadi."


"Kakak ke kamar dulu ya Ma.. Mau jemur di balkon aja." Ucap Ara sembari beranjak dari duduknya.


Menjemur handuk kecil yang digunakan mengeringkan rambut, mata Ara sempat menangkap ponselnya berkedip. Melangkah meraih ponsel di atas nakas, senyum Ara terkembang. Melompat kecil dengan girang, Ara kembali menuju balkon kamarnya.


"Maassss...." Teriak Ara kuat dari arah balkon. Masih mengenakan masker dan helm hitam, sosok 'mas' itu mencari suara gaib Ara.


Berbeda dengan Ara yang justru sedang berganti celana panjang dan meraih jaket secara asal. Berlari secepat kilat menuju halaman rumah sambil melakukan panggilan telepon pada nomor yang telah mengiriminya pesan yang sudah sangat dinantikan.


[Halo?]


"Iya, Mas jangan pergi."


[Sa..]


"Iya diem di situ aja.. Ini udah lagi lari. Kelihatan kan??" Ucap Ara sambil melambaikan tangan kirinya.



Rava mendengus sebal pada sosok laki-laki yang hanya tampak bagian belakangnya. Memilih tidak menjadi pengecut lagi, Rava menghampiri Ara dan sang ikan mas.


"Mas?? Kenapa aku Bapak kalau dia Mas??" Ucapan lirih penuh penekanan itu mengiringi langkah kaki Rava meninggalkan motor di bawah pohon akasia. Kilatan kekesalan menyambar, cemburu membakar isi kepala Rava.


Memicingkan matanya, Rava bersyukur belum bertindak gila hingga memalukan dirinya. Cengkeraman erat pada pengait helm sedikit mengendur, memilih mendekap helm miliknya sembari menyunggingkan senyuman menyilaukan.


"Nah ini Mbak.."


"Makasih ya Mas.." Ucap Ara lagi dengan senyum lebar mengembang. Sedangkan Rava justru meredupkan senyumannya, kali ini akhirnya Rava benar-benar kesal pada Ara.


"Ya sudah Mbak kalau gitu saya permisi. Misi Mas.." Ucap sosok laki-laki itu sambil menengguk air liurnya kasar, sorot mata Rava yang tajam tidak bersahabat membuatnya bergidik ngeri.


"Mas?" Mengernyit heran Ara berucap lirih dengan memiringkan kepalanya. Bingung kenapa sang mas-mas kurir paket yang rutin setidaknya sebulan sekali ke rumahnya berpamitan pada sosok selain Ara.


Merinding disko Ara memikirkan ada makhluk lain yang terlihat oleh mata sang kurir, Ara masih setia menatap punggung mas kurir sampai penglihatannya mengabur.


"Seneng banget ketemu si 'Mas' ya Ra??"


"Haa!!" Terlonjak dan melotot pada Rava yang bersedekap menenteng helm, nada penuh kekesalan mengejutkan Ara. Badan Ara yang berbalik spontan itu nyaris menghantam Rava dengan bogeman dan lemparan paket berisi selimut bulu impor.


"Bapak!!" Ucap Ara dengan tidak kalah kesalnya.


"Seneng banget ya ketemu sama Mas itu.. Umur juga pasti gak beda jauh, saya juga Mas tapi dipanggil Bapak." Gerutu Rava pada Ara. Berkali-kali sudah Ara saksikan Rava yang berubah menjadi sok manja dengan mencebikkan bibirnya pada Ara.


Plak


Berlalu meninggalkan Rava yang bertingkah melebihi Jona dan Rian, tanpa sadar Ara menggeplak bibir Rava dengan kesal. Mungkin tidak akan terlalu sakit, tapi diletakkan dimanakah otak dan kewarasan Ara?


"Dipegang?" Ucap Rava sembari menyentuh bibirnya. Meskipun sempat kaget, Rava malah tersenyum gemas pada Ara. Level bucin Rava sudah tidak tertolong lagi. Ia bukan dipegang, tapi digeplak alias diberikan pukulan atau tamparan di bibir.

__ADS_1


"Araaa..." Panggil Rava, berlari membentangkan tangannya.


Grep


Rava tiba-tiba memeluk Ara tepat di teras rumah orang tua Ara. Rasa senang yang membuncah membuat Rava melupakan strategi pendekatan perlahan.


Duk


"Arg!! Sakit Ra." Melepaskan pelukannya, Rava meringis mengusap tulang keringnya yang ditendang ujung kaki Ara. Bukannya meminta maaf pada kedua sikap kasarnya, Ara saat ini melebarkan bola mata dengan gigi terkatup rapat.


"Sekali lagi peluk sembarangan, nih!!" Seolah menggorok lehernya, Ara masih tetap melotot pada Rava.


"Jadi kalau gak sembarangan gak apa-apa kan?" Tanya Rava dengan mata berbinar, berkedip genit pada Ara.


"Jauh-jauh sana Bapak!!"


"Kalau maunya deket-deket gak boleh??"


"Ihh.. Sana deh Pak!! Saya pukul nih!!" Tangan terkepal Ara sudah terangkat menakut-nakuti Rava. Bukannya menghindar, Rava justru semakin menggoda Ara.


"Kita ini udah mirip grafik saham di bursa efek ya Ra.. Gak stabil yang kadang bikin kesel dan senang gak karuan. Tapi yang pasti grafik itu akan terus bergerak, walaupun nyaris menyentuh angka nol alias saya nyaris gak punya harapan buat perjuangin kamu.. Tapi ya balik lagi, tekad saya akan terus berkobar dalam berusaha buat perjuangin kamu."


Lupa sudah jika Rava berada di kandang macan, meski sang macan sedang sibuk bermain oli tapi 2 macan mini sedang asik menatap drama Rava dan Ara. Cekikikan keduanya menanti sang Kakak melayangkan jurus andalan untuk membuat Rava bertekuk lutut memohon ampun. Tidak tau saja Jona dan Rian bahwa Rava memang sudah bertekuk lutut terlalu bucin pada Ara.


"Yaaah.. Gak seru.." Ucap Jona kecewa kala Ara justru berlari meninggalkan Rava.


"Ayo kita main game aja!" Ucap Jona lagi yang kali ini ditujukan pada Rian. Saling merangkul keduanya kembali masuk ke kamar.


"Mamaaa.. Ada anak Mama yang paling tua itu." Teriak Ara sambil menaiki anak tangga. Sedangkan Mama Lauritz yang sedang asik menonton acara gosip langsung menoleh dan mengerutkan dahinya.


Brak


"Kesel!!" Melempar paket yang sudah dinantikan 4 hari lamanya secara asal, Ara menghempaskan tubuhnya kasar di atas kasur. Sejenak bayangan menjambak rambut Rava terlintas dipikirannya.


Kekesalan yang harusnya mereda itu bertambah semakin meninggi. Mata Ara menangkap koper yang sudah lama disembunyikan tampak menyembul dari balik kain yang tersingkap. Posisinya sama seperti dahulu, bedanya saat ini hanya Ara yang melihatnya.


"Hah!!" Menghela nafas kasar, Ara memandang gusar menerawang isi koper yang tampak transparan di mata Ara. "Kapan harus balikin ini uang ya??"


Sedangkan di luar rumah Rava baru saja memarkirkan motornya. Nyaris meninggalkan motor baru di bawah pohon akasia bila Mama Lauritz tidak bertanya dimana pasangan sang helm yang masih setia Rava tenteng.


...****************...


Dimana letak tulang kering? šŸ‘‡



Bursa Efek : Sebuah pasar yang berhubungan dengan pembelian dan penjualan efek perusahaan yang sudah terdaftar di bursa.


Bursa efek adalah istilah yang lebih resmi untuk bursa saham atau pasar saham. Sesuai dengan yang termuat dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal menggantikan Undang-undang Nomor 15 Tahun 1952 tentang penetapan Undang-undang Darurat tentang Bursa (Lembaran Negara Tahun 1951 Nomor 79) sebagai Undang-undang (Lembaran Negara Tahun 1952 Nomor 67).


Lalu, apa itu saham?


Saham : Sebuah tanda bukti penyertaan modal/investasi/sumber utama permodalan eksternal dari seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas bagi perusahaan dan pemerintah.


*


*


*


Kode Rava disuruh lamar langsung atau gak itu sama Papa Yudith?


Kira-kira Rava akan gantikan Gilang buat jadi gandengan Ara gak ya??


*


*


Alurnya lambat ya?? Iya, memangšŸ˜„


Masih ada yang penasaran kenapa Ara sempat bisa sedih tanpa alasan di bab sebelumnya?šŸ¤”

__ADS_1


*


Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🄰


__ADS_2