Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Terpesona


__ADS_3

“Silakan menghalu ya Yuki.. Jangan nangis kalau ditolak nantinya..” Ucap Ara sambil menghela nafas kepasrahan.


[Ya udah aku matikan kalau gitu. Cepat hubungi Mas Dokter ganteng ya, Ra.. Jangan kelamaan!! Udah ya.. Bye..]


“Ii..” Mengernyit dan melongo, Ara menatap layar ponselnya yang sudah kembali pada foto maha tampan Lee Minhyuk BTOB.


“Asem banget ini Yuki!! Untung temen ya kamu!!” Ucap Ara sambil menunjuk layar ponselnya. Panggilan seenaknya dari Yuki benar-benar berhasil mengubah suasana hati Ara. Bukannya bertambah buruk, Ara justru bisa melupakan rasa kesal yang sebelumnya bersarang di dadanya.


“Mending sekarang chat Dokter Dion aja. Kalau telepon bisa jadi masih sibuk.”


^^^✉^^^


^^^Me^^^


^^^Sore Dok, hari ini klinik buka seperti biasa nggak?^^^


Belum juga ponsel Ara berhasil mendarat di atas nakas, getar yang terasa di genggaman mengejutkan Ara. Secara reflek Ara langsung menggeser simbol hijau guna mengangkat panggilan itu.


[Halo?] Sapa Ara yang tidak langsung menerima sahutan. Sosok si penelepon sedang tersenyum bodoh meresapi suara lembut Ara.


[Halo??] Sapa Ara lagi sambil sesekali memeriksa sebuah nama yang masih tertera di layar ponselnya.


[Dokter!!??] Kali ini Ara sedikit meninggikan suaranya. Tentu Ara berharap ini bukan panggilan yang tidak sengaja terhubung.


“Iya, Ra.. Maaf, aku baru sadar kalau udah terhubung.” Bohong. Dion berkilah dari kenyataan sebenarnya bahwa ia sempat terpesona pada suara yang telah lama ia rindukan.


“Ngomong-ngomong ada apa kamu Tanya klinik buka atau nggak? Kamu ada keluhan lagi?”


[Bukan gitu kok, Dok. Tapi itu klinik buka di jam biasa kan, Dok?]


“Iya, kayak biasanya kok. Jam 5 sore aku udah stay di klinik.”


[Kalau sekitar jam 7 nanti Ara minta waktu salah satu perawat Dokter bisa?]


“Siapa?”


[Nanti deh Ara kasih tau, tapi jangan tanya-tanya staf Dokter siapa yang mau ada urusan sama Ara ya..!!]


“Iya.. Iya.. Nanti kamu sesuaikan aja waktunya. Tapi kalau memang lagi sibuk, kamu harus rela loh nungguin.”


[Iya, gak apa-apa kok Dok.]


“Kenapa gak mau bilang sama aku dulu, Ra? Nanti biar aku yang sesuaikan jadwal kamu sama dia.”


[Gak usah, gak apa-apa. Gak terlalu penting juga kok.]


“Ya udah, kamu nanti hati-hati ya..”


[Siap Pak Dokter!!]


Panggilan itu terputus, Dion sendiri pula yang mengakhiri. Namun jujur ada rasa sesal. Setiap untaian kalimat yang terangkai dalam nada indah suara Ara sukses mendebarkan degup jantung Dion. Sepele, tapi benar-benar mengobarkan rasa rindu yang sempat dipaksa terkubur.


Perasaan cintanya benar-benar mengkhianati akal sehat. Bukannya semakin padam, justru perasaan Dion pada Ara seakan membara. Rasa sakit setiap membayangkan Ara akan menjadi kakak iparnya justru menguatkan cinta Dion pada Ara. Aneh dan bodoh, mungkin dua kata itu yang tepat menggambarkan kondisi Dion.


...----------------...


“YUKI STOOOPPPPP!!!”

__ADS_1


Ciiittt…!!


Bukan bunyi ban yang berdencit, namun suara rem yang tampaknya nyaris kehabisan kampas kopling yang berbunyi nyaring. Teriakan Ara dari arah balkon mengejutkan Yuki yang otomatis menarik rem motornya.


Membuka kaca penutup helm nya, Yuki memandang ke sumber suara yang pemiliknya sedang melambai heboh.


“Cepat turun!! Aku tunggu di sini aja!!” Teriak Yuki pada Ara.


“Siap..!! Bentar..”


Berlari menyambar tas selempang nya, Ara menuruni tangga dengan terburu-buru. Sesekali Ara juga menyelipkan rambutnya ke belakang daun telinganya.


“Ehh??” Ucap Ara kaget mendapati sosok tampan di hadapannya.


“Kenapa kaget gitu?”


“Sejak kapan Mas ada di sini??”


“Makanya pulang kuliah jangan asal nyelonong aja. Mas mu ini udah dari tadi pagi di sini sama Kakek.” Menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menggeleng perlahan.


“Lagian Mas Ega juga gak nyapa kok.” Balas Ara ketus disertai bibir yang mencebik.


“Salahin aja terus Mas mu ini.”


“Memang salah Mas kok.”


“Udahlah. Itu kamu mau pergi?” Tanya Ega.


“Iya..”


“Itu temen kamu yang nunggu di luar, Dek?” Melirik ke arah jendela kaca, tampak Yuki yang asik bermain ponsel di atas motor matic miliknya.


“Oh..”


“Naksir?? Suka??” Memicingkan matanya, Ara menatap Ega dengan sorot mata menajam.


“Kenalin, Dek.” Ucap Ega sambil mencolek lengan kanan Ara.


“Ogah!! PDKT sendiri sana..!!” Tolak Ara. Berlalu meninggalkan Ega yang rupanya masih mengekori langkah kaki Ara.


“Titip salam ya, Ra..” Ucap Ega manis, semanis kecap dengan kedelai hitam asli. Tentu saja langsung mental tidak mempan pada Ara yang suka sensasi mercon kesambar gledek.


“Sok titip salam malu-malu embek. Orangnya masih di depan itu kenalan sana sendiri!” Meraih helm miliknya, Ara mengedikan dagu seolah menunjuk pada Yuki.


“Pakai perantara dulu kali..”


“Kalau bisa gerak sendiri kenapa harus pakai perantara? Kurang laki kamu Mas.” Cibir Ara cukup kuat, namun Yuki masih tidak menyadari perdebatan receh kedua bersaudara itu di teras rumah.


Melangkahkan kaki menghampiri Yuki yang akhirnya menyadari keberadaannya, Ara sudah memakai helm hitam miliknya. Bukannya meminta maaf karena tidak langsung keluar rumah, Ara justru dengan tidak jelas memainkan kedua alisnya.


“Lama banget Buk??” Keluh Yuki sambil memasukan ponsel miliknya ke dalam tas.


“Kena hadang kadal air tadi.” Jawab Ara sekenanya.


“Kadal air?” Mengernyit heran, Yuki sedang membayangkan kadal berenang.


“Udah lupain aja. Ayo, berangkat!!” Ucap Ara disertai tepukan pelan di bahu Yuki.

__ADS_1


Menolehkan kepalanya ke belakang, Ara melirik sinis sambil menjulurkan lidahnya mengejek Ega. Sedangkan yang dihadiahi ejekan sudah melebarkan kelopak matanya sambil melongo tidak percaya.


“Adek kurang ajar..!!” Mendelik sebal, Ega masih memandang motor matic yang membawa tubuh kedua gadis cantik itu menghilang dari pandangannya.


...----------------...


“Loh Ara?”


“Hi Kak..” Sapa Ara ramah.


“Jadwal kamu bukannya belum hari ini ya?”


“Bukan mau berobat kok, Kak.”


“Suster Nindy ada kan Kak?” Tanya Ara sambil tersenyum manis.


“Udah gak di sini lagi. Seminggu yang lalu dia di pecat.”


“Ha!!?? Kok bisa??” Tanya Ara lagi, namun kali ini dengan mata terbelalak lebar. Tujuannya pergi ke klinik Dion hanya untuk bertemu Nindy. Sesuai saran Yuki, ia tidak ingin berbasa-basi membiarkan segala hal semakin berlarut.


“Gak tau ya ada masalah apa, tapi gosipnya sebenarnya diberhentikan secara tidak terhormat.”


“Serius Kak?”


“Banget, Ra. Cuma dapat kabar juga kalau Dokter Dion hanya kasih peringatan aja, makanya Kak Nindy itu bisa kerja di klinik lain. Katanya sih klinik yang baru juga masih punya kenalannya Dokter Dion. Memang Dokter Dion itu Dokter paling sempurna yang cuma ada di klinik ini. Muda, pinter, baik, perhatian, ramah dan yang udah gak terbantahkan itu gantengnya. Setuju kan kamu?”


“Iya..” Jawab Ara datar pada pertanyaan yang tiba-tiba menyerbu. Pikiran Ara masih menerawang jauh bagaimana cara ia bisa menemui Nindy.


“Kamu udah datang, Ra?”



“Ganteng banget jadi pengen diculik..” Ucap Yuki gemas tanpa sadar sambil meremas ujung baju Ara. Yuki terpesona pada sosok Dion yang berjalan mendekat bak model di atas catwalk.


Bugh.


“Sadar!!” Pukulan ringan yang sengaja di darat kan pada lengan Yuki itu diiringi bisikan lirih dari bibir yang tampak terkatup rapat.


...****************...


*


*


*


Ada masalah apa sebenarnya Nindy hingga sampai diberhentikan dari klinik Dion?🤔


Apakah akan ada cinta bersegi super banyak juga di kisah Yuki?🤔


Masih wajarkah rasa cinta Dion pada Ara?🤔


*


*


Sekali lagi Hana minta dukungannya ya buat karya Hana yang lain✌ Selain itu juga karena karya itu cerpen juga cukup dibaca sekali duduk dan tamat ya.. Jadi maaf buat yang minta dilanjut😁

__ADS_1


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2