
“Mas Rava nyebelin!!” Meremas rumput liar dengan segenap jiwa dan raga. Dengusan nafas yang terhembus kasar seolah masih belum mampu melegakan kekesalan Ara.
“Sayang?”
Terperanjat kaget tubuh Ara tersentak sedikit ke belakang. Beruntung Ara dengan cepat menyeimbangkan tubuhnya, jika tidak ia pasti sudah terduduk di atas tanah bertabur rumput liar.
Ara menolehkan kepala dengan mata yang melotot tajam. Sejenak pikirannya kosong, meski matanya menangkap sosok yang tidak asing.
‘Ini aku kelewat sebel sampai terbayang orang sama suara nya atau ini jelmaan ya?’ Menautkan kedua alisnya, Ara bergumam dalam hati. Ara seolah tidak percaya orang yang baru saja diumpatnya ada di hadapannya.
“Kamu kenapa? Saya salah apa lagi?” Suara merdu mengalun lembut dari bibir yang manyun. Layaknya anak-anak yang merajuk kala merasa benar ketika ia menjadi tertuduh.
“Ha? Ini beneran kamu Mas?” Menelisik dari ujung kepala hingga ujung sepatu mengkilap Rava, Ara seketika menutup mulutnya yang menganga dengan kedua telapak tangan.
“Iya, ini saya. Bisa-bisanya kamu bilang saya nyebelin.. Coba sebutin sekarang kenapa saya nyebelin?” Ucap Rava sambil melangkah mendekati Ara yang sudah berdiri, namun masih tetap membungkam bibirnya.
“Mas Rava ke sini naik apa?” Tanya Ara yang tersadar pada keanehan yang ada. Jujur saja Ara bukan sengaja mengalihkan pembicaraan.
“Motor.” Jawab Rava singkat.
“Terus sekarang motor Mas ada dimana?” Mengernyit heran, Ara memiringkan kepalanya.
“Itu, di sana..” Tunjuk Rava pada satu arah yang tidak terlihat apa-apa di mata Ara.
“Dimana?”
“Kamu ke sini dulu, dari sini kelihatan.” Lambai Rava agar Ara mendekat padanya. Benar saja, Ara dapat melihat motor Rava terparkir di sisi samping lainnya rumah Ara.
“Kok gak kedengaran ya?”
“Kamu fokus melamun apa tadi sampai Mas datang gak kedengaran?” Ucap Rava sambil merangkul bahu Ara.
“Gak melamun apa-apa. Motor Mas aja yang masih baru, makanya suaranya lembut. Coba kayak motor Ara yang udah sepuh, jangan ditanya lagi seberapa bisingnya bunyi mesin motor itu.” Ucap Ara sambil melangkah, tentu masih dengan Rava yang terus menempel.
“Coba jujur tadi kamu melamun apa sampai sebel sama Mas?”
“Iya tapi gak usah mepet-mepet gini kali, Mas!” Ucap Ara sembari mencoba menjauhkan tubuhnya dari Rava.
“Gak mau. Nanti kamu lari.” Percuma, Rava justru mengeratkan rengkuhannya hingga Ara sulit bergerak.
“Udah lama saya gak lihat kamu, kangen.. Pengen banget saya bawa kamu, tapi gak bisa. Sekarang bayar kangennya saya pakai peluk.” Rengekan Rava membuat Ara jengah. Ia tidak habis pikir pada tingkah Rava yang maha aneh itu. Teringat pada awal mula yang Ara yakini sebagai pertemuan pertama, jelas diingatan Ara bahwa sikap Rava melebihi kulkas 2 pintu.
__ADS_1
“Idih manjaan banget sih. Sebenarnya yang masih lebih bocah aku atau kamu?” Ucap Ara ketus sambil menyentak kuat tangan Rava.
“Jangan mulai singgung umur, karena saya jelas udah tua.” Ucap Rava kesal di belakang punggung Ara.
“Ciyee.. Ngaku nih udah tua? Ya udah, Ara mau cari daun muda aja.” Tersenyum menggoda, Ara berjalan mundur layaknya mobil derek di kartun anak-anak yang sempat populer.
“Awas aja kalau kamu berani macam-macam!” Melebarkan kelopak matanya, dahi Rava berkerut halus.
“Mau hukum pelukan selama yang Mas mau lagi?” Ucap Ara yang jelas mencibir.
“Iya.. Sini kamu Mas hukum sekarang!” Berlari mengejar Ara yang sudah tergelak tawa. Jelas saja dalam sekejap Rava berhasil menangkap Ara dalam dekapannya.
“KHEM!!” Tiba-tiba deheman kencang dari arah pintu utama terdengar.
“MAMA.. KAKAK PELUK-PELUK SAMA MAS RAVA!!” Teriak Jona sambil mengacungkan ibu jarinya. Seringai lebar menghiasi wajah tampan pemuda yang sudah mulai beranjak remaja. Berlari melebihi kecepatan kilat, Jona buru-buru menghindar dari amukan macan betina.
“JONA..!!” Teriak Ara kesal sambil mendelik sebal. Rahang mengeras dan tangan terkepal, Ara tidak semarah yang terlihat, ia hanya geram pada seringai nakal Jona.
“Jangan teriak-teriak, sayang. Tenggorokan kamu bisa sakit nanti.” Ucap Rava khawatir. Pasalnya teriakan panjang Ara terdengar hingga suaranya serak.
“Ngeselin si Jona itu, Mas.”
“Gak apa-apa lah, memang Mas peluk kamu kok.” Jawab Rava santai yang menambah tajam mata mendelik Ara.
“Apa itu?”
“Camilan, kamu suka?” Tanya Rava dengan senyum sumringah. Ia yakin Ara tidak akan kecewa pada makanan yang ia bawa.
“Rian pasti suka tuh Mas bawain jajanan.” Senyum Rava seketika luntur, niat hati berharap Ara berkata bahwa ia yang senang. Meski tidak dipungkiri ada rasa lega ketika tau mungkin Rian menyukainya. Benteng pertahanan Rian benar-benar sulit untuk Rava tembus dalam waktu singkat.
“Pasangan mesum akhirnya masuk juga.” Gumam Jona yang dibuat-buat sepelan mungkin. Nyatanya Jona sengaja mengeraskan gumaman nya agar seluruh pasang telinga bisa dengan jelas mendengarnya.
“Mulut mu Mas!! Kakak remas baru tau!!” Memutar bola matanya malas, Ara juga meremas udara di depan wajah Jona.
“Kan gitu Kakak kalau ketahuan salah tapi gak mau ngaku.” Mencebikkan bibirnya, Jona membuang pandangannya ke arah layar televisi yang menyala.
“Kamu kapan pulang dari luar Kota, Rav?” Tanya Papa Yudith tiba-tiba dari arah dapur.
“Sekitar sejam yang lalu, Pa.” Jawab Rava sambil tersenyum dan mencium tangan Papa Yudith.
“Kok gak langsung istirahat dulu? Kamu pasti capek perjalanan jauh kok langsung ke sini.”
__ADS_1
“Tadi Rava sempat pulang mandi terus baru ke sini, Pa.”
“Kamu udah makan belum?” Sekarang giliran Mama Lauritz yang bertanya. Sedangkan Ara sudah duduk di samping Jona sambil memiting leher Jona dengan lengannya.
“Belum sempat, Ma. Rava tadi gak kepikiran buat makan dulu. Lagian di rumah cuma ada mie instan.” Jawab Rava lagi setelah sempat mencium tangan Mama Lauritz. Tentu hal kecil itu sebuah nilai tambahan yang sejak awal memiliki kesan baik bagi orang tua Ara.
“Makan dulu sana, Rav. Tapi tunggu sebentar soalnya Mama belum masak.”
“Gak apa-apa, Ma. Gak usah repot-repot juga.”
“Kak.. Bikin tumis bayam atau ceplok telur sana buat Rava!” Perintah Mama Lauritz pada Ara.
“Kakak?” Tanya Ara sembari menunjuk pada dirinya sendiri.
“Bukan. Pak RT yang lagi nyangkul kebunnya itu yang Mama suruh!” Ucap Mama Lauritz jengah.
“Iya.. Iya.. Kakak yang masak. Tapi selera Kakak ya, ekstra garam.” Ujar Ara santai sembari melangkahkan kakinya menuju dapur.
“Kurangi garam mu itu, Kak. Orang kok makanan keasinan doyan banget.” Ucap Papa Yudith sambil menggelengkan kepalanya.
“Mas mau di sini atau ikut Ara ke dapur?” Menoleh ke arah Rava yang pasti ingin mengekori Ara.
“Udah ikut sana aja.” Ucap Mama Lauritz tiba-tiba sambil mendorong tubuh Rava ke arah dapur, seolah paham pada ekspresi wajah memohon Rava pada Ara yang tidak peka.
...****************...
*
*
*
Kenapa Ara masih kesal?🤔
*
*
Rava muncul dengan tingkah yang ngalah-ngalahin ABG baru jatuh cinta😆
*
__ADS_1
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰