
Seumur hidup Rava baru kali ini menaiki kendaraan roda 2 selain sepeda yang dikayuh saat masih sekolah dasar tentunya. Rava lebih memilih naik mobil yang aman dari hujan dan panas, belum lagi ia sudah terbiasa dengan adanya Pak Supir. Meski keuangannya nyaris kacau dan perusahaan peninggalan orang tuanya nyaris bangkrut, Rava tetap mempertahankan sang supir yang sudah mengantar jemput nya sejak kecil. Hingga akhirnya Rava terpaksa mandiri tanpa supir karena sudah ditinggal pulang ke surga.
Bukannya sok kaya dan sombong dengan harta yang sudah bergelimang sedari kecil, karena nyatanya kedua orang tua Rava juga merintis usaha bersama dari masa pacaran di bangku perkuliahan. Kisah romantis yang pernah membuat telinganya bosan kini akan selalu Rava kenang.
Sungguh kehidupan masa kecil yang jomplang dengan Ara. Bila Rava bisa duduk nyaman dengan semilir sejuknya AC, maka Ara akan berpanas-panasan, ditambah lagi senggolan dan desakan di angkutan umum. Apalagi bila hujan, Ara harus rela berangkat lebih cepat dengan baju bebas dan berganti di sekolah. Takut baju sekolahnya basah terkena hujan dan cipratan air kubangan.
Pernah pula Ara pulang sekolah berjalan kaki di bawah terik matahari, padahal perjalanan panjang harus ditempuh. Bukan tidak diberikan uang lebih untuk naik angkutan umum bila terlambat dijemput, tapi uang Ara kala itu tidak cukup karena es lilin kacang hijau yang menggoda.
Kehidupan Ara dan Mama Lauritz perlahan membaik, bebas tekanan keluarga yang ada tapi tampak tiada. Semuanya menjadi tepat saat mengikuti keputusan Papa Yudith untuk ikut merantau bersamanya. Sejak 10 tahun merantau ke Kota B, 2 tahun pertama keluarga Ara menghabiskan waktu kebersamaan di dalam kontrakan sederhana. Bukan tanpa alasan rumah yang kini Ara tempati terpencil, kedua orang tuanya sengaja membeli tanah murah meski di pelosok asal bisa terlepas dari uang sewa bulanan.
Rumah dengan hanya 4 ruangan berubah menjadi berlipat bahkan sudah berlantai 2 setelah proses sambung-menyambung. Sebuah keberuntungan pula 3 tahun yang lalu program pembuatan jalan oleh pemerintah memiliki rute tepat di depan rumah Ara. Rumah yang awalnya terpencil kini justru dekat dengan akses jalan utama, meski masih tetap sendirian.
...----------------...
Di parkiran sebuah minimarket yang tersedia mesin ATM, Rava sedang asik merapikan rambutnya. Kacamata yang hanya untuk gaya-gayaan sudah ia kenakan. Menatap Ara yang Rava perkirakan masih sibuk menghitung uang, Rava kembali mengabadikan momen diam-diam. Tampaknya kegemaran Rava itu sudah menjadi penyakit akut yang sulit disembuhkan.
Menyembul dari balik pintu ruangan kaca yang hanya dapat memuat 2 orang dan 1 orang bila dengan size ekstra, Ara melangkahkan kaki menatap Rava yang sedang sibuk berbincang dengan seseorang yang diyakini pegawai minimarket. Tampak dari seragam khas dan tongkat pel yang masih digenggam tangan kirinya.
Menanti di motor Rava yang masih terparkir rapi, Ara hanya ingin pulang secepatnya. Menghindari tertangkap mata pengawasan, Ara khawatir akan muncul notifikasi bertabur cacian lagi di ponselnya. Bukan takut, tapi muak. Ponselnya akan bergoyang heboh bila tidak dipaksa mati.
'Hah!! Manusia aneh.. Kayak gak ada laki-laki lain! Padahal di kampus yang muda ganteng juga banyak.' Membatin kesal Ara teringat pada daftar pengisi pesan memuakkan.
"Ara sini dulu!" Ucap Rava kencang dengan tangan kanan melambai-lambai. Berjalan dengan gontai Ara menghampiri Rava. Langkah kaki malas itu membawa Ara berada tepat di samping Rava.
"Kita foto dulu ya.."
"Apa!!??" Melengking suara Ara di gendang telinga siapapun yang mendengarkan. Ara tidak suka di foto, tingkahnya pada Gilang dahulu itu semua karena tuntutan misi rahasia. Cukup bersua foto dengan keluarga, tidak dengan orang asing. Lebih baik memotret langit sebagai catatan harian setiap momennya dibandingkan menyimpan wajah aib atau bakal calon kenangan buruk.
"Sebentar aja ya Ra.. Saya udah minta tolong pekerja minimarket yang lagi istirahat nih.." Ucap Rava memelas. Tangannya sudah berani meraih jari kelingking Ara. Singkat, hanya sedetik sebelum ditepis oleh Ara.
"Ya udah, sekali aja ya?" Tanya Ara dengan mencebikkan bibirnya. Mengangguk semangat Rava menyerahkan ponselnya pada sang pegawai minimarket. Senyum mengembang tanpa baking powder dan larutan formalin tidak melunturkan bibir terbuka sebagai jendela gigi yang nyaris kering dan kedinginan.
"Lah ini ceweknya gak senyum Bang.."
"Senyum dikit ya Ra.." Ucap Rava menatap Ara memohon kembali. Melemaskan bibirnya dengan membuka miring kanan kiri mengerucut dan menganga sejenak, Ara kemudian tersenyum cerah. Lebih baik Ara menuruti keinginan Rava agar cepat selesai.
"Udah ini Bang, coba di cek dulu." Mengembalikan ponsel Rava setelah beberapa kali jepretan.
(Editan Hana yang amatir, harap maklum 🙏)
"Bagus Bang, makasih ya.." Ucap Rava senang, menatap layar ponsel yang menampilkan foto bersama Ara. Sosok itu hanya mengangguk-anggukan kepala dan berpamitan untuk meneruskan jam kerjanya.
...----------------...
Tin.. Tin..
Bunyi klakson saling bersahutan, tampak beberapa pemotor dengan pakaian yang seragam layaknya arak-arakan pawai. Bergabung di antara rombongan yang searah, Ara menangkap sepasang pengantin sedang bersenda gurau dari jendela mobil yang terbuka.
'Oh.. Rombongan orang nikah.' Batin Ara sambil terus mengamati mobil yang hampir menyalip.
"Bapak mau tukaran sama saya bawa motornya?" Tanya Ara tiba-tiba.
"Gak." Jawab Rava kilat, mata yang tiba-tiba melotot tentu tidak bisa Ara lihat. Namun suara yang tegas tentu menyentak kesadaran Ara.
"Gak usah maksud saya Ra.. Kamu biasain dulu ya saya bawa pelan banget gini. Saya takut bikin kamu celaka kalau langsung kebut-kebutan." Jelas Rava lagi dengan suara lembut menggelitik pendengaran Ara, ia tersadar suaranya sempat meninggi tidak terkontrol. Bagai dihujani duri landak, Rava tidak ingin harga dirinya merosot jatuh hanya karena tidak becus membonceng Ara.
"Hm.. Hm.." Mengangguk-angguk Ara bergumam.
"Pelan aja gak apa-apa Pak.. Di depan ramai banget." Lanjut Ara lagi, kali ini Ara sedikit membusungkan posisinya agar lebih dekat berbicara dengan Rava. Suasana ramai tidak memungkinkannya berteriak-teriak, malu.
"Iya Ra.. Kamu pegangan aja ya kalau takut saya buat jatuh." Mengulum senyuman, Rava mengerjap perlahan.
"Oke."
'Yes!!' Teriak Rava dalam hati. Matanya mencuri-curi pandang pada sisi kanan kiri bergantian. Lama-kelamaan senyum Rava sirna, kedua alisnya nyaris bertautan.
"Kamu gak pegangan Ra?"
"Pegangan kok Pak." Mengernyit heran Rava, matanya lagi-lagi menatap sisi pinggangnya.
"Kok tangannya gak keliatan di pinggang saya??" Tanya Rava sambil menatap spion kiri yang memang diarahkan langsung untuk melihat wajah Ara.
__ADS_1
"Udah kok, saya pegangan ke penyanggah belakang nih."
"Pegangan saya maksudnya Ra.. Bukan ke motornya!" Mengerucutkan bibirnya, Rava menghela nafas kasar.
"Udah juga kok Pak.. Nih ya saya pegang. Kerasa gak??" Tanya Ara sembari menarik-narik secuil kaos hitam Rava yang ia pegang bagian punggungnya. Atau lebih tepatnya yang Ara cubit dengan ujung kuku telunjuk dan ibu jari kirinya.
Lagi-lagi menghela nafas kasar, Rava mencari tempat yang aman untuk menepi. Memutar setengah badannya agar mampu menghadap Ara, raut wajah Rava membuat Ara ingin terpingkal. Lucu, persis seperti Rian saat diberikan harapan palsu iming-iming jajanan kaki lima.
"Ck! Marahnya hilang." Ucap Rava tiba-tiba, rasa kesalnya seketika luncur kala manik matanya saling bertatapan dengan bola mata Ara yang mengerjap bak boneka hidup. Memalingkan wajah dan mengusapnya dengan gusar, Rava sudah bertekad bulat. Tidak perduli menjadi pemaksaan, ia harus maju lebih jauh lagi.
Meraih kedua tangan Ara dan menahannya di sisi pinggang, Rava mampu merasakan sorot tajam sedang menusuk tengkuknya. Belum lagi kedua tangan yang ditahan tiba-tiba sudah terkepal erat. Merasa kepalang tanggung, Rava justru kembali sedikit memutar separuh tubuhnya dengan raut cemberut.
"Diem! Jangan dilepas! Awas kamu gak pegangan kayak gini sama saya!"
"Bapak ngancam saya!!??" Melebarkan kelopak matanya, gigi Ara sudah mengatup rapat. Bergidik ngeri Rava mendengar suara lirih Ara.
"Biar aman loh Ra.. Saya khawatir sama kamu. Di depan sana ramai banget."
"Bapak itu bawa motor udah kayak kura-kura jalan santai, mau seaman apalagi saya ini?? Kenapa gak sekalian bawa tali terus saya diikat aja!!??" Tanya Ara sengit.
"Benar juga Ra, besok ya??" Tanggapan diluar dugaan Ara membuatnya syok. Kalimat sindiran yang justru ditangkap Rava sebagai kesempatan menunjukkan pada dunia bahwa Ara miliknya.
"Hadduuuhhh... Bodo amat lah Pak!!" Pasrah Ara, tidak pernah terpikirkan oleh Ara jika di masa depannya akan berhadapan dengan makhluk langka. Iya, Rava yang Ara perkirakan baru saja keluar dari cangkang kadal purba.
"Nanti kita kalau nikah gak usah kayak gitu ya Ra.. Cukup resepsi yang normal aja. Kamu mau kemana aja nanti saya turutin." Memandang jauh lurus ke depan, Rava menggenggam tangan Ara yang sudah dilingkarkan paksa di pinggangnya.
"Hm.." Memutar bola matanya jengah, deheman Ara diartikan sebagai lampu hijau oleh Rava. 'Gas terus Rav!!', begitulah pikirnya.
'Memang aku bisa nikah? Buat apa? Sama siapa juga yang mau?' Berkata pada dirinya sendiri, Ara seolah ragu ia memiliki jodoh. Lupa pada sosok yang menggenggam tangannya sudah menawarkan berjuang bersama dalam ikatan suci pernikahan.
Sedangkan tampak dari kejauhan ada seseorang yang menyeringai, kamera ponselnya sudah menangkap adegan mesra Rava dan Ara. Seolah foto itu senjata mematikan, diusap dan mengetuk-ngetuk telunjuk kanannya dengan senyum yang sulit diartikan. Merencanakan tipu muslihat yang hina untuk menyingkirkan salah satu dari keduanya.
Memarkirkan motor di pelataran sebuah kafe yang baru saja dibuka, Rava sudah turun dari motornya. Berbeda dengan Ara yang masih setia nangkring sembari mengernyitkan dahinya. Helm yang masih terpasang melekat di kepala Ara itu dilepaskan pengaitnya oleh Rava. Jari-jemari dingin yang tidak sengaja menyentuh dagu Ara berhasil memberikan kejutan.
"Kenapa ke sini? Mau apa?" Tanya Ara beruntun, masih membiarkan Rava menyelesaikan aksinya. Dipikiran Ara hanyalah jangan sampai dugaannya benar.
"Makan dulu yuk.. Katanya di sini enak."
"Lapar?"
'Kalau ada ngengat di dalam sana gimana?' Ucap Ara dalam hatinya.
"Ra? Ara?? Kamu kenapa?" Melambaikan telapak tangan kanannya, Rava semakin gugup melihat Ara yang tiba-tiba melamun.
"Gak apa-apa.. Beneran enak makanannya?" Menatap Rava, Ara menaikan sebelah alisnya.
"Karyawan saya bilang makanannya enak-enak Ra, terus kekinian juga. Biasanya anak muda suka kan yang kekinian gitu?"
"Pfft!!" Menutup mulutnya yang hampir tertawa terbahak-bahak, Ara memejamkan matanya rapat. "Bapak udah ngerasa tua banget ya? 'Biasanya anak muda suka', memang Bapak gak muda lagi?"
"Kamu sih panggilnya Bapak terus.. Sekarang panggil Mas Rava ya Ra, oke?" Menepuk kepala Ara pelan, Rava tersenyum cerah.
"Mas Rava.." Ucap Ara seraya tersenyum sumringah, gigi kelinci Ara bahkan terlihat mengintip di sela senyumannya. Memiringkan kepalanya, Ara tetap tersenyum memandang Rava yang sudah kembali menjadi gletser.
Plak
"Bapak ngapain??" Tanya Ara terkejut melihat Rava bertingkah konyol menampar pipinya sendiri.
"Beneran halusinasi ternyata." Mata sendu Rava menatap langit yang seolah menertawakannya.
"Mas Rava halusinasi apa??" Tanya Ara heran.
"Heh!! Lagi-lagi.. Hahaha.." Ucap Rava lirih yang masih mampu Ara tangkap maksudnya.
"Yakin Mas Rava halusinasi?" Tidak tau kesadarannya pergi kemana, Ara merasakan kebahagiaan kala melihat tingkah konyol Rava. Bahkan dengan berani Ara bersuara lembut nyaris menggoda, tidak ketus dan datar seperti biasanya pada Rava.
"Coba ngomong lagi Ra!?"
"Mas Rava mau dengar Ara ngomong apa?"
"Ini kamu serius panggil saya Mas?? Bukan Bapak lagi kan??" Memegang kedua sisi bahu Ara, Rava berdebar kencang. Seolah terlempar ke atmosfer bumi bertabur meteor berwarna-warni.
"Karena saya ingat-ingat lagi Bapak udah beberapa kali minta saya panggil 'Mas', jadi ya tadi sambil di jalan udah saya pikirin sih." Ucap Ara dengan menekan kata 'Mas'.
__ADS_1
"Tapi kok barusan Bapak lagi sih Ra?? Panggil Mas Rava lagi, sekali lagi ya??" Memohon Rava dengan telunjuk kanan tepat dihadapan wajahnya.
"Mas Rava.."
"Lagi Ra.."
"Mas Rava.."
"La.."
"Minta lagi ku panggil Buyut!!" Menatap tajam Rava yang mulai membuat Ara jengah.
"Hehe.. Makasih ya Ra.. Hari ini banyak banget yang saya dapatin dari kamu." Ara mengernyit heran, entah apa yang sudah diberikan Ara.
"Mataharinya cerah banget yaa.. Tapi gak secerah senyuman kamu." Melancarkan gombalan yang sudah dipelajari dari internet, Rava tersenyum dengan diam-diam menyimpan debaran tidak karuan. Rasa bahagia membuncah tidak bisa ia tutup-tutupi lagi.
Ara menatap datar, tidak ada senyuman sama sekali. Jadi dari mana datangnya senyum cerah itu?
"Udah gak cerahkan?" Tanya Ara tidak kalah datarnya, merotasi bola mata sembari memalingkan wajah. Langkah kaki Ara terhenti kala matanya bertatap dengan sosok sang penabuh genderang perang di rumah makan Padang.
Ardiana Larissa (Oh Yeon Seo)
Menatap tubuhnya yang terasa rata terbalut koas hitamnya, Ara mendesah kesal. Bukan pada badannya yang rata, tapi pada mata Rava yang buta pada sosok cantik Dian. Seolah Dian hanya sekumpulan angin yang tidak terlihat, sorot mata laser tidak mampu menembus kekaguman Rava pada Ara.
'Gak ada ngengat, tapi ketemu Ratu tawon.' Kesal Ara pada kesialan yang senang berpihak padanya, apalagi bila sudah berkaitan dengan Rava.
Menarik kursi pada meja bulat berwarna putih, Rava mempersilakan Ara untuk duduk. Menopang pipi kanannya menatap lekat Ara, tidak sadar Rava sedang membelakangi seseorang yang sudah panas luar dalam.
Drak
Suara kursi digeser kasar mengalihkan pandangan banyak pasang mata, termasuk Ara. Namun jangan harap Rava teralihkan, berkedip pun Rava tidak rela melepas pandangannya dari Ara. Terpujilah Ara yang diam tapi mampu membuat Rava bertekuk lutut dengan level bucin akut.
"Pak Kim?" Sapa Dian pada Rava, namun sayangnya suara Dian tidak mampu menembus benteng tebal dengan radar khusus yang hanya mendeteksi suara Ara.
"Mas!!" Sentak Ara kuat membelalakkan mata indah Dian. Amarah memuncak Dian tersalur pada tangan terkepal dan rahang mengeras.
"Kenapa Ra??" Tanya Rava yang dijawab dengan ekor mata Ara yang menyorot sosok Dian di samping Rava.
Sedangkan lagi-lagi sosok dengan niat terselubung kembali memotret Ara dan Rava dengan tambahan personel, siapa lagi kalau bukan Dian. Senyum yang semakin lebar menghiasi wajah mempesona yang menjadi topeng kejahatan.
...****************...
👆Link : https://www.infoastronomy.org/2018/12/apa-bedanya-meteoroid-meteor-dan-meteorit.html?m\=1
Meteor memiliki perbedaan warna disebabkan oleh kandungan yang mendominasi meteor tersebut, perbedaan warna itu dapat dilihat sebagai berikut.
👆Link : https://bebaspedia.com/astronomi/mengapa-meteor-memiliki-warna-yang-berbeda-beda/amp/
(Penjelasan kali ini lewat foto aja yaa😊)
*
*
*
Tebak dong siapa kira-kira yang motret diam-diam😄
Siapa targetnya? Ara atau Rava??😳
*
*
Naik level yang cukup cepat kan??😆
Kira-kira ada alasan khusus selain Rava kebanyakan minta dipanggil 'Mas' gak ya??😁
__ADS_1
*
Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🥰