Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Pergi Sendiri


__ADS_3

"Hachuu.." Aroma parfum Jona menggelitik rongga hidung Ara. Bukan terpaksa ataupun dipaksa, namun Ara sengaja menyemprotkan parfum beraroma manis asam strawberry. Sangat mencerminkan karakter Jona yang easy-going, meski terkadang tengil dan juga sinis.


"Ma, izin mau pergi.." Ucap Ara pada Mama Lauritz.


"Kemana Kak?" Menghentikan kegiatan memberi asupan nutrisi pada para sawi dan cabai, Mama Lauritz memandang Ara dari ujung rambut hingga ke ujung sepatunya. Sangat rapi layaknya akan pergi ke kampus, namun Mama Lauritz ingat Ara pernah berkata jadwal aktif kuliahnya masih seminggu lagi.


"Jalan lah.. Anak muda.." Jawab Ara dengan sombongnya.


"Tumben Kak." Mengernyit heran Mama Lauritz, bukan pada tujuan Ara, namun waktu yang masih menunjukkan pukul 7 pagi kala itu.


"Ada yang ngajak sih."


"Yuki?" Tanya Mama Lauritz lagi.


"Bukan.. Nah itu yang ngajak orangnya udah datang." Telunjuk Ara mengarah pada seseorang yang masih berada di atas motor yang bergerak perlahan.


"Bang.." Panggil Ara pada sosok laki-laki yang berjalan ke arahnya.


"Pagi Tante.." Menyalami tangan Mama Lauritz, Ara seolah menjadi kutu tidak terlihat.


"Loh ini ada apa kok tumben Bima ngajak Ara pagi-pagi?" Tanya Mama Lauritz yang masih diliputi kebingungan.


"Mau ketemu temen-temen yang biasa ngamen sama jualan koran Tante." Begitulah jawaban Bima, sama seperti isi pesannya pada Ara di malam kejadian yang nyaris menghabisi nyawa Ara.


"Dimana Bim?"


"Gak jauh dari arah rumah Tante.. Ke daerah warung Kopi Surya itu Tante."


"Oh daerah situ.." Seolah sudah mendapatkan jawaban, Mama Lauritz mengangguk-anggukan kepalanya.


Melaju dengan kecepatan rendah, Bima dan Ara baru saja bergerak dari rumah Nenek Imah. Bibir cemberut Ara memang penanda bahwa ia sedang tidak suka dan kesal. Kantong keresek merah berukuran ekstra jumbo di pangkuannya berisi banyak makanan.


Tak


Bunyi standar motor dijatuhkan tidak mengurangi bibir manyun Ara. Melangkah sembari melirik Ara sekilas, Bima terkekeh. Sedangkan Ara langsung memberikan hadiah tatapan singa lapar.


"Makasih ya Bang Bima sama Kakak cantik." Ucap seorang bocah cilik yang membawa beban setumpuk koran di tubuh kecilnya.


Berderet beberapa anak yang usianya tampak sepantaran, Bima dan Ara tersenyum ramah. Keduanya sibuk membagi-bagikan kue dan minuman hingga berjalan kesana-kemari mencari dan menghabiskan puluhan kantong plastik kue.


Kebaikan yang dianggap sepele oleh sebagian orang adalah sesuatu yang amat sangat berarti bagi orang lain. Tidak mewah, tidak juga melimpah, hanya kue lapis warna-warni, nagasari pisang dan tahu isi. Bahkan sebungkus plastik transparan bila ditukarkan dengan uang tidak akan sampai 5 ribu rupiah. Meskipun hanya 3 potong kue dan segelas air minum kemasan, ada senyum syukur yang mampu mengiris hati Ara.



'Begitu bahagia mereka dengan hal sekecil ini. Ya Tuhan.. maafkan aku yang kurang bersyukur ini.' Ucap Ara miris pada dirinya sendiri. Pelupuk mata yang mulai memanas sebisa mungkin Ara kerjapkan guna meraup udara pendingin.


Tepat pukul 10 pagi keduanya sudah duduk di emperan pertokoan. Kaki letih Ara terasa berdenyut. Kaum rebahan sepertinya sesekali memang perlu dipaksa bergerak. Belum tau lagi bagaimana kondisi Ara saat menjelang tidur, mungkin akan encok dimana-mana.


"Abang kenapa gak bilang sama Ara kalau mau bagi-bagi lagi?" Ucap Ara menatap Bima dengan wajah cemberut. Ada kesal saat mengetahui ia sama sekali tidak diberitahukan sedari awal.


"Kan udah Abang bilang, buktinya ini kamu lagi ikut Abang kan?" Ucap Bima santai. Menenggak sebotol air minum hingga tandas, Ara nyaris gagal fokus ke jakun Bima. Kenapa jakun Bima seketika harus terlihat keren??


Mungkinkah Ara punya kesukaan khusus pada jakun, begitu pikir Ara sejenak. Menepis pandangan anehnya, Ara ingin mencubit lengan Bima. Kesal Ara kala Bima justru hanya menatap tanpa memberi penjelasan sebenarnya.


"Bukan gitu.. Maksud Ara itu Abang kasih tau sebelum kita gerak hari ini, jadi Ara juga bisa siapin sesuatu buat dibagikan."


"Ini juga udah cukup Ra.. Mendingan besok-besok lagi kita bagikan.. Belum tentu juga kan besok mereka bisa dapat rejeki kayak hari ini?? Jadi anggap aja kamu tabung lebih dulu. Lebih baik sedikit tapi rutin, daripada kita kasih langsung membludak."


"Iya juga sih.. Kue ini walaupun gak bisa jadi asupan utama, tapi bisa buat ganjal perut dulu."


"Menjelang siang nanti ikut Abang lagi ya?


"Kemana?"


"Kita bagikan pecel ke anak-anak jalanan lagi."


"Pecelnya beli dulu?" Mengernyitkan dahinya Ara pandangi wajah Bima.


"Udah ada di rumah Ra.. Pecel buatan Nenek enak banget, nanti kamu cobain deh.."


"Nenek udah buat pecel juga?" Terbelalak bola mata Ara selebar daun talas. Mulut yang terbuka lebar lama-lama terasa dingin, sudah cukup banyak angin yang masuk. Beruntung tidak bertahan lama sehingga tidak masuk angin.


"Abang ngeselin deh gak bilang lagi.. Kan kasihan Nenek masak sendirian.." Gerutu Ara sembari menghentakkan kakinya kesal.


"Nenek itu kalau lagi masak gak mau banyak tangan yang ikut. Katanya rasa masakannya jadi berubah." Jelas Bima.


"Jadi semua Nenek yang ngerjain ini?" Tanya Ara lagi. Meski kesal, tapi ia bisa apa bila sudah terjadi.


"Nggak Ra, sebelum jemput kamu tadi Abang sempatkan dulu goreng tahu tempe sama siapin bahan buat sayur. Jadi pulang nanti tinggal bantu Nenek rebus aja. Itu juga kalau belum direbus sama Nenek."


"Ya udah Bang, mendingan kita pulang sekarang. Biar Ara bisa bantuin Nenek di rumah. Perlu di bungkus juga kan??"


"Memang kamu bisa bungkus?" Menaikan alis kanannya, Bima sedang serius meragukan kemampuan Ara.


"Ya nggak bisa.." Ucap Ara lirih.

__ADS_1


"Ya kalau gitu mau bantu apa? Haha.."


"Dasar!! Memang dasarnya mau ngejek kan!??" Mendelik sebal Ara pada Bima yang masih saja meneruskan tawanya.


"Memang.." Menjulurkan lidahnya, Bima sudah berlari menuju motor yang terparkir di bawah terik matahari. Hari yang cukup panas. Tidak bisa dibayangkan akan terbakar seperti apa kulit Ara yang sering tersembunyi di balik selimut itu.


"Neneeekkk.." Pekik Ara kuat.


Klontang.


"Astaga anak gadis.."


"Hehe.. Maaf Nek.." Ara menaikan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan tanda perdamaian. Berjalan cepat meraih tutup panci yang tergeletak di lantai. Rupanya suara Ara memberikan efek kejut pada Nenek Imah.


"Ara numpang cuci tangan ya Nek." Ucap Ara cepat. Belum juga mendapat persetujuan, suara gemericik air keran sudah terdengar.


"Nenek lagi apa?" Tanya Ara pada Nenek Imah. Sungguh pertanyaan basa-basi yang tidak berguna, nyatanya mata Ara sudah menangkap kegiatan merebus kacang panjang.


"Ini lagi rebus sayurnya."


"Nanti langsung disiram kuah sambal kacang ya Nek??"


"Nggak Ra.. Sambalnya dibungkus plastik aja."


"Ooh.. Biar kalau kelamaan tetap enak ya Nek?"


"Iya Ra.. Kamu duduk aja situ makan kuenya. Belum makan kue buatan Bima kan?" Tanya Nenek Imah sambil memberikan senyuman di wajah renta penuh keriput itu. "Itu kue lapis Bima yang buat loh.. Kalau tahu isi cuma bantu ngisi aja."


Tersenyum antusias, Ara sebenarnya sedang menipu. Ia tidak terlalu suka makanan manis, justru Ara tergiur pada tahu isi, bukan kue lapis. Jarinya memang menyentuh kue lapis, tapi mata yang melirik tahu isi tidak goyah sedikitpun.


Bima menahan tawa melihat tingkah Ara. Ia baru saja kembali dari kamar mandi. Berjalan mengendap-endap, Bima menghampiri Ara.


"Makan aja tahu isinya kalau menggoda." Bisik Bima lirih tepat di telinga Ara. Bersemu merah terbakar pipi Ara menahan malu. Memicingkan matanya, Ara melahap ganas sepotong kue lapis.


"Sambalnya belum di plastik kan Nek?" Tanya Ara yang berdiri di samping Nenek Imah.


"Iya belum. Bantuin Nenek bikin sambalnya ya.. Kamu rebus dulu air di panci kecil itu buat bikin sambal." Tunjuk Nenek Imah pada panci berukuran sedang menurut Ara, cukup untuk menampung 2 liter air.


"Nenek bikin sambal kacang sebanyak ini diulek?" Lagi-lagi bibir Ara melontarkan banyak pertanyaan.


"Mana sempat Nenek ulek, di blender aja cepat. Lagian udah gak kuat tangan Nenek buat ngulek lama-lama." Ucap Nenek Imah diakhiri keluhannya.


Dapur minimalis seketika ramai dengan suara Nenek Imah yang memerintah Bima menakar nasi. Sedangkan Ara masih sibuk membungkus kuah sambal kacang. Meskipun pekerjaan Ara cukup lelet, namun semuanya dapat diselesaikan sebelum tepat pukul 12 siang. Namun sayangnya hanya berjarak 10 menit alias pekerjaan bungkus-membungkus selesai pada pukul 11 lewat 50 menit siang itu.


"Hati-hati ya Bim bawa anak gadis orang." Ucap Nenek Imah pada Bima.


"Aman Nek.." Ucap Bima mantap seraya berpamitan untuk melanjutkan kegiatan berbagi kepada anak jalanan.


"Bang.." Ucap Ara kuat di balik punggung Bima.


"Iya, apa?"


"Kok sehari ini udah 2 kali Abang bagi-bagi??" Tanya Ara cukup penasaran.


"Cuma bisa bersyukur dengan berbagi kayak gini Ra.. Gak banyak, tapi semoga cukup buat semua temen-temen di sini." Jawab Bima sambil kembali tersenyum. Sungguh senyuman mu bisa membuat diabetes gaib Bima.


"Kita ke tempat tadi lagi Bang?" Tanya Ara lagi.


"Nggak.. Kalau jam segini biasa anak-anak itu pindah Ra.. Jadi kita pindah tempat."


Benar saja perkataan Bima, meski tujuan keduanya pada lokasi berbeda, namun tampak wajah familiar bagi mata Ara. Kembali membagi-bagikan sebungkus pecel pada setiap anak-anak bahkan sampai orang lansia, Bima dan Ara hendak menuju lokasi sang motor terparkir. Cukup singkat bahkan terkesan lebih cepat membagi-bagikan pecel dibandingkan kue pada pagi di hari yang sama ini.


"Bang.. Kucing.." Tunjuk Ara pada seekor kucing hitam putih yang terperangkap di tengah jalanan ramai lalu lalang kendaraan bermotor. Langkah kaki Ara yang sudah terhenti ikut menghentikan langkah kaki Bima.


"Mana??" Tanya Bima yang masih belum mengikuti arah pandang lewat telunjuk Ara.


"Itu Bang.. Kasihan banget, tapi Ara takut kucing Bang." Ucap Ara penuh sesal. Sejujurnya juga Ara lumayan takut menyebrang jalan raya, ia pernah hampir tertabrak bus saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.


"Oh itu.." Ucap Bima singkat sambil memutar langkahnya. Mengikuti langkah Bima yang terhenti di tepi aspal, Ara pegang ujung baju Bima.


"Kamu di sini aja." Tersenyum memandang secuil bajunya yang Ara cengkeram, Bima menepuk pelan bahu kiri Ara.


"Adiknya Abang harus baik-baik aja. Biar Abang pergi sendiri." Ucapan Bima yang membuat Ara justru enggan melepaskan cengkeraman nya. Ada rasa sesak dan khawatir yang tidak dapat dijelaskan. Perasaan takut menyelimuti hati Ara.


"Tapi Bang.."


"Gak apa-apa. Kamu takut nyebrang juga kan?" Tidak ada jawaban, Ara bimbang untuk jujur atau berbohong saja.


"Abang tau kok kamu takut nyebrang. Nanti kita malah susah bantuin itu kucing. Udah di sini aja, kasihan itu kucing udah kebingungan." Melepas paksa bajunya yang bertaut di jemari Ara, Bima sudah berjalan perlahan memotong jalan. Tangan kirinya diangkat memberikan tanda pelan-pelan bagi pengguna jalan.


Berjongkok meraup si kucing yang malah kesenangan dalam dekapan, Bima sudah berhasil membantu misi penyeberangan. Lambaian tangan keberhasilan menyapa Ara. Senyum cerah menampakkan gigi putih Bima hingga pada bagian terdalam. Namun percayalah, di mata Ara hanya terlihat bayang-bayang nya saja. Buram dan samar, apalagi sinar matahari sangat menyilaukan.


Memerhatikan sisi kanan kiri jalanan, Bima mulai melangkahkan kakinya. Senyum terus terbingkai di wajah rupawan Bima. Bibir Ara tertarik sedikit menyambut senyuman Bima yang semakin lama terlihat jelas di matanya.


Tiiiinnn..!!

__ADS_1


Bunyi nyaring dari suara klakson mobil memekakkan indra pendengaran Ara. Menoleh ke arah sumber suara, bola mata Ara seakan bergetar. Sebuah mobil hitam melaju kencang hilang kendali.


"BANG BIIMAAAAA!!!!" Jerit Ara sekuat tenaga. Urat di pelipisnya menonjol. Kaki yang ingin berlari itu membeku. Seolah dipaku dan disemen separuh badannya, Ara hanya mampu menjerit tertahan kala tubuh seseorang melayang dan terhempas kasar.


Brak


Brak


Menabrak trotoar dan terguling, sudah bisa dipastikan pengemudi mobil terluka parah. Tampak penyok di berbagai bagian mobil, namun bukan itu yang Ara khawatirkan. Langkah berat yang dipaksakan itu disertai air mata. Tidak ada isak tangis, hanya nafas tercekat dan bibir bergetar.


"Ba-Bang bi-ma.." Ucap Ara lirih dan cukup pilu. Di tengah keramaian yang sangat mendadak itu Ara seperti dicekik. Tungkai Ara melemah seiring pandangan menggelap yang tertutupi air mata.


Brugh


Lutut Ara menabrak kasar aspal jalanan. Tangan bergetar itu memeluk kepala sosok yang masih setengah sadar.


"Minggir.. Minggir.."


"Minggir dulu Mas!"


"Ada yang kecelakaan!!"


"Ada orang di mobil!!"


"Ayo cepat keluarin yang di mobil itu!!"


"Cari yang pakai mobil buat bawa korban!!"


"AMBULAN!! PANGGIL AMBULAN!!"


"TABRAKAN PAK!!"


"TELEPON AMBULAN DULU!!"


"Ya ampun itu ceweknya yang ditabrak??"


"GAK PUNYA OTAK YA!!?? TELEPON AMBULAN SEKARANG!! BUKAN BUAT KONTEN!!!"


"Lihat-lihat itu.. Ya ampun. Huaaa.."


"Hiks.. Hiks.. Kasihan banget.."


"SIAPAPUN CEGAT YANG PAKAI MOBIL!!!"


Begitulah banyak sayup-sayup suara yang masih mampu Ara dengar. Meskipun tidak seluruh suara berhasil menembus saluran pendengaran Ara. Seluruh tubuh Ara seakan menghilang, tersisa jiwa yang masih menyangkut untuk memantau Bima.


Jangan menangis, itulah perkataan yang Ara simpulkan dari bibir yang bergerak perlahan. Menggelengkan kepalanya tidak beraturan, Ara akhirnya bisa mengeluarkan suara yang seakan sempat terkunci. Bibir yang mengeluarkan darah segar tetap menatap Ara dengan senyuman. Semburan darah tiba-tiba itu mengejutkan sekaligus menyadarkan Ara.



"TOLOOONG!!!!" Memekik hingga tenggorokannya terasa sakit, urat leher Ara menyembul.


"BANG BIMMAAAA!!!"


"Baaang.. Lihat Ara!! Lihat Ara Bang!!" Suara rendah serak melontarkan perintah pada Bima. Tangan kanan Ara menangkup pipi Bima.


"Abang gak apa-apa.. Sekarang lihat Ara dulu!! Ayoo.. Baaaang.. Lihat Ara Bang!!" Senyuman yang Ara tampilkan berganti dengan isak tangis. Tubuhnya mendadak sakit, kepala berdenyut, nafas tercekat di rongga dada.


"AARRGGHHHH!!! NGGAKK!!! HAH!! HAH!! HAH..!!" Jeritan pilu Ara diakhiri nafas yang tersengal-sengal.


...****************...


*


*


*


Apa yang terjadi dengan Bima selanjutnya?😳


Apakah Ara bisa menghadapi guncangan yang terjadi?😨


Bagaimana kondisi psikis Ara selanjutnya?🤔


*


*


Apakah meme Bima di bawah ini udah cukup menggambarkan ekspresi Kakak-kakak untuk bab ini??😂



*


Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🥰

__ADS_1


__ADS_2