Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Ngidam


__ADS_3

“Balas dong, yang..” Ucap Rava menyedihkan sambil menatap ponsel mahalnya dengan sendu.


Sudah terhitung 2 hari Rava sulit menghubungi Ara. Pertemuan terakhir mereka terputus dengan Ara yang merajuk. Bagaimana tidak merajuk jika Rava terpaksa meninggalkan Ara dengan tanpa menjelaskan kisah lama keduanya.


Bukan pula kesengajaan Rava ingin menghindar, namun panggilan kantor yang mendadak dan sangat genting terpaksa harus Rava dahulukan. Rava juga sadar untuk apa menyimpan kisah itu seorang diri selama ini. Harusnya ia menyadari sejak awal bahwa memang Ara masih terlalu kecil untuk benar-benar menyimpan semua kisah itu dalam kenangannya.


Dan sialnya kini Rava menyesal. Ara benar-benar mendiamkan Rava sesuai peringatan yang terucap di teras rumah berlantai 2 kala itu. Bagi Ara semua itu bukan karena amarah yang meluap atau bertindak kekanakan. Ara hanya ingin menegaskan pada Rava apa yang diucapkannya akan dia lakukan dengan sepenuh hati.


Sedangkan Rava yang sudah 2 hari terhalang pekerjaan semakin kelimpungan tidak mendapat tanggapan dari Ara. Panggilan teleponnya diputus, pesannya bahkan dibaca saja tidak apalagi untuk dibalas. Rava memang masih tetap tampan, namun jelas terlihat ia sedang tidak baik-baik saja. Rambut yang biasa disisir rapi itu berantakan seperti dihantam tornado. Belum lagi raut wajahnya yang bak iblis bertanduk siap melahap siapapun yang mengusik.


“Bisa-bisanya kamu senyum sama laki-laki lain. Sedangkan Mas di sini udah hampir gila nunggu kabar dari kamu.” Ucap Rava geram dengan tangan terkepal yang meremas kuat.


Saat ini Rava sudah sampai di kantin fakultas dimana Ara menimba ilmu. Menerobos keramaian jalan dengan perut keroncongan. Rava berharap Ara masih berada di lokasi terakhir yang dilaporkan mata-matanya.


Kala Rava mendatangi ke kampus tentu hanya mampu menatap dari kejauhan, seperti saat ini. Ara tidak menghindar, hanya saja Rava yang sebelumnya sudah mendapat laporan kesibukan Ara tidak ingin mengganggu waktu luang Ara bersama teman-temannya. Meski begitu dalam waktu 2 hari itu Rava tidak pernah absen mengirimkan pasukan hijau pengantar camilan siang, sore dan malam.


Sungguh nikmat hidup mana lagi yang harus Ara dusta kan?


Sehari setelah perdebatan kecil itu Rava yang harus bekerja hingga larut malam hanya mampu menghentikan tunggangannya sesaat, memandang rumah berlantai 2 dalam keheningan. Tentunya jika bisa ia ingin berlama-lama dan mampu menatap Ara saat membuka matanya, meski dari kejauhan sekalipun. Namun realita warga yang meronda harus ia hadapi. Tidak mungkin Rava akan mempermalukan dirinya yang diusir warga di dekat rumah sang pujaan hati.


“Mas Rava..?” Gumam Ara lirih. Mengerjapkan matanya berulang kali untuk memastikan penglihatan buramnya benar-benar menangkap sosok Rava.


“Aku duluan ya..” Ucap Ara pada Yuki, Dimas dan beberapa teman seangkatannya yang masih sama-sama sibuk menyantap sepiring nasi rames. Sedangkan Ara yang hanya memesan roti bakar sengaja menyisakan 4 potong untuk dibagikan pada Yuki dan Dimas saja.


“Mau kemana?” Tanya Yuki setelah menengguk the tarik dingin pesanannya.


“Tadi aku kayak liat Mas Rava.”


“Ululuu.. Yang udah seharian kemarin gak ketemu.. Gitu aja gaya merajuk.” Ucap Yuki yang dibuat semanis mungkin untuk menggoda Ara.


“Sok jual mahal!” Cibir Yuki dan Dimas yang secara tiba-tiba serentak. Bahkan keduanya juga terkejut dengan kekompakan itu dan berakhir saling pandang.


“Aduh, udah deh..!! Duluan ya.. Bye.” Melambaikan tangan tanpa melihat lagi Ara sudah berlari tunggang langgang menyelip diantara kerumunan mahasiswa yang tiba-tiba membludak.


“Mana sih??” Memutar tubuhnya 360 derajat, pandangan Ara sudah berkeliling mencari kehadiran Rava.

__ADS_1


“Itu kali ya? Cepat banget hilangnya.. Huh!! Gak jelas lagi itu iya apa bukan!!” Ucap Ara sambil menajamkan penglihatan. Beginilah Ara yang akan cukup kesal pada penyakit matanya, namun tetap menolak alat bantu kacamata yang menurutnya menjadi beban pada hidung miliknya yang tidak terlalu mancung.


“MAS..!!?” Teriak Ara girang tanpa sadar. Siluet Rava yang semakin jelas seiring langkah lebarnya membuat senyum di bibir Ara merekah.


Tampak Rava sudah berada di parkiran fakultasnya. Berdiri dengan gagah di samping kereta baja mengkilap yang siap melaju kapan saja.


“Kamu..” Ucap Ara dan Rava bersamaan.


“Mas ada apa ke kampus? Katanya cuma ada mata kuliah di hari jumat aja.” Tanya Ara sambil menyilangkan tangannya. Menelisik penampilan Rava yang tidak biasa dan jangan lupakan kantung mata yang terakhir kali Ara lihat belum membengkak.


“Ada yang harus Mas urus sebelum berhenti.” Memasukkan sebelah tangannya pada saku celana bahan kain, Rava berujar sambil melangkah mendekati Ara. Tentu saja Rava berkilah bila nyatanya niat asli dari kedatangannya hanya untuk bertemu Ara.


“Oh.. Kirain..” Gumam Ara lirih kecewa.


“Mas juga kangen sama kamu.” Bisik Rava tepat di daun telinga kiri Ara.


“Masa iya?” Tanya Ara sembari mengulum senyumannya. Bibirnya sudah benar-benar berkedut untuk tersenyum lebar. Barisan gigi putih nan rapinya seakan ingin menyapa dunia luar.


“Masa nggak?” Ucap Rava balik dengan senyum menggoda.


“Dasar.” Mencebikkan bibirnya, Ara memutar bola matanya malas.


“Udah. Tadi Ara cuma pesan roti bakar aja.”


“Memang kenyang? Kenapa gak makan nasi?”


“Lagi malas ngunyah aja.” Jawab Ara sekenanya.


“Temani Mas makan mau? Mas belum sempat makan tadi.”


“Ya udah, ayo..” Ara membalikkan tubuhnya dan berjalan mendahului Rava. Tujuannya hanya kembali pada kantin fakultas. Ia bahkan sudah membayangkan menyeruput es jeruk peras sambil menemani Rava menyantap makan siangnya.


“Kamu ada jam lagi setelah ini?” Tubuh Ara terhenti oleh tarikan lembut genggaman Rava. Meski begitu Ara sedikit tersentak ke belakang hingga kembali berhadapan dengan Rava.


“Gak ada. Hari ini udah bebas. Tadi makan di kantin gara-gara Yuki sama Dimas kelaparan.”

__ADS_1


“Kita makan di luar mau?”


“Kalau kamu capek bisa istirahat di mobil selama perjalanan ke sana.” Bujuk Rava lagi.


“Mmm.. Boleh deh. Ayo pergi sekarang aja.” Ucap Ara santai dan tentunya tanpa beban. Ia melupakan sesuatu yang penting dan dapat dipastikan akan histeris jika terlambat menyadarinya.


“Mas lagi pengen makan di tepi laut.” Ucap Rava sembari membukakan pintu mobil untuk Ara.


“Ngidam makan seafood ya?” Menaikkan alis kanannya, sudut bibir Ara juga tertarik ke atas.


“Ng..”


“Ara lupa..!! Motor Ara harus gimana kalau sekarang pergi sama Mas?” Menepuk dahinya kuat, Ara hampir saja melupakan motor matic yang sudah sangat setia ia tunggangi itu.


“Biar Mas suruh orang ambil motor kamu.” Rava menghadang Ara yang sudah pasang ancang-ancang melesat bak kucing tawuran.


“Jangan Mas! Ara tau harus suruh siapa.” Tahan Ara pada pergelangan tangan Rava yang siap meraih ponsel di saku celana. Ia tidak ingin motor tua nya di sentuh orang tidak dikenal.


...****************...


*


*


*


Siapakah laki-laki lain yang Rava maksud diberikan senyuman oleh Ara?🤔


*


*


Mungkin nggak kalau Gilang yang akan Ara hubungi?🤭


Kira-kira akan ada cogan baru atau justru sosok lama yang akan Hana hadirkan lagi?😬

__ADS_1


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2