
Menenteng keranjang belanjaan, Ara yang tadinya hanya membutuhkan cengkeh sudah mengisi keranjangnya dengan roti abon, sosis, sereal, santan instan dan tentunya cengkeh serta biskuit untuk camilan. Kebiasaan ngemil yang tidak bisa ditinggalkan. Bahkan di rumah mereka Rava sengaja mengisi rak setinggi satu setengah meter khusus untuk camilan Ara.
Tapi tetap saja Ara masih ingin membeli beberapa camilan yang tampak lezat berdasarkan penglihatannya. Benar-benar gaya hidup konsumtif jika berhubungan dengan makanan seperti saat ini.
‘Kenapa berasa ada yang ngintai ya?’ Gumam Ara dalam hati, tangannya menggantung saat ingin memilih nugget di dalam freezer.
Melirik sekilas dari sudut ekor matanya, dapat Ara lihat suasana yang lenggang tanpa ada seorangpun. Aneh. Ara jelas merasa ada seseorang yang mengikutinya. Firasat Ara selalu tepat, meski kurang peka, tapi jika berkaitan dengan pertahanan diri Ara selalu memiliki insting yang kuat.
Drrt.. Drrt..
Masih berusaha mengamati keadaan sekitar sambil mengamankan tas berisi barang-barang berharga, ponsel Ara tiba-tiba bergetar. Menurunkan keranjang belanja yang ditentengnya, Ara merogoh ponsel dari dalam tas selempang yang ia kenakan. Tampak tertera nama Rava di layar ponsel yang terus bergetar itu.
“Halo, Mas?” Ucap Ara membuka percakapan.
[Sayang udah sampai?] Tanya Rava dari seberang panggilan telepon, matanya sibuk mengamati wanita cantik yang menempelkan ponsel ke telinga dan tangan sibuk membongkar tumpukan nugget di dalam freezer untuk mencari merek yang disukainya.
“Iya, udah sampai. Baru aja masuk nih..” Ucap Ara menjawab pertanyaan Rava. Meski keranjang belanjaannya sudah terisi beberapa barang, tapi semua itu tidak memerlukan waktu lama. Terhitung belum sampai 10 menit Ara berada di dalam swalayan yang berlokasi dekat dengan kantor Rava.
[Baru masuk tapi udah borong ya?] Ucap Rava sambil terkekeh, sejak Ara memarkirkan motornya, Rava sudah menanti kedatangan Ara. Diam-diam sosok meresahkan yang membuat Ara merasa sedang diawasi tentu saja Rava. Memang tidak perlu diragukan lagi jika Rava berbakat menjadi penguntit.
“Borong apaan lagi..? Cuma beli sedikit.” Jawab Ara sambil melenggang pergi dengan raut kecewa. Stok nugget dari merek yang dicarinya tidak ada. Padahal Ara sudah membayangkan akan membuat saus dari resep eksperimennya sebagai cocolan.
Cup.
“Sayang..”
Duk.
“Ugh! Sayaaang..”
Semuanya terjadi begitu cepat. Bermula dari bibir Rava yang mendarat seenaknya mengecup pipi Ara. Berlanjut dengan bisikan sayang yang dihadiahi sikutan maut menghantam tepat sampai ke ulu hati. Super kilat nyaris selesai dalam satu kedipan mata.
__ADS_1
“Maasss..!!” Rengek Ara yang baru sadar sosok kurang ajar yang hampir dilumpuhkannya itu adalah sang suami.
“Nakal banget sih!!” Protes Ara tidak suka dengan serangan dadakan Rava. Apa lagi dilakukan di depan umum. Ara yang sudah siap dengan segala ancang-ancang karena merasa terancam sudah pasti membentengi diri dengan rancangan taktik perlawanan.
Sialnya, sesuatu yang Ara anggap ancaman rupanya keisengan Rava yang berujung kekerasan dalam rumah tangga tanpa sengaja Ara lakukan. Cemberut dengan raut kesal bercampur rasa bersalah, Ara mengulurkan telapak tangannya mengusap dada bidang dan perut bak roti sobek milik Rava.
Meringis menahan nyeri yang bukan kepura-puraan, Rava justru tiba-tiba menggila pada usapan lembut Ara. Tubuh dan otaknya sudah benar-benar dipenuhi kemesuman. Apa lagi bibir manyun di hadapannya ingin digigit saat itu juga. Seandainya keduanya di rumah, sudah pasti Rava tidak akan mengaku kalah pada sesuatu yang berontak.
“Sayang udah..” Ucap Rava lirih. Menangkap pergelangan tangan Ara yang terus saja mengusap area perutnya tanpa tau aksi yang dilakukan menimbulkan gelayar fantasi liar Rava. Merutuki pikirannya yang kotor, Rava memblokir sesuatu di ujung lidahnya untuk tidak meminta jatah.
“Kok ada di sini?” Tanya Ara sambil melingkarkan tangannya ke lengan Rava. Sontak hal itu membuat Rava semakin berbunga-bunga. Tidak masalah dirinya baru saja dihantam siku, yang pasti saat ini Ara terlihat bermanja-manja dengannya.
“Surprise..” Jawab Rava dengan senyum mengembang memamerkan deretan gigi putih bersihnya.
“Gak lucu ya. Serius kenapa ada di sini?” Sentak Ara dengan bahunya pada lengan Rava, merasa tidak puas dengan jawaban singkat Rava.
“Serius mau kasih kejutan, tapi malah kena sikutan.” Ucap Rava mencolek gemas hidung Ara.
“Ada magnet yang panggil Mas datang ke sini. Rupanya ada bidadari lagi belanja.” Imbuh Rava berucap sambil terkekeh. Menurunkan tangan Ara yang melingkar di lengannya, menggenggam jari-jemari pemilik seluruh hatinya dengan posesif.
“Semua yang Mas sebut selalu kamu bilang gombal, padahal fakta.” Ucap Rava sambil meraih keranjang belanja dari tangan Ara.
“Udah gak belanja lagi?” Lanjut Rava berucap lagi yang langsung dijawab dengan gelengan oleh Ara.
“Udah deh. Lagian di rumah Mama udah nungguin, Mas.”
“Nanti kalau perlu bahan lainnya kasih tau Mas, kamu cukup di rumah aja. Apa lagi kalau ada Mama di rumah, minta Mama sebutin semua yang dibutuhkan. Nanti biar diantar sama orang suruhan Mas. Oh iya, tadi gak dapat nugget ya? Nanti Mas bawain sepulang kerja.” Ucap Rava panjang lebar, berjalan beriringan dengan Ara menuju meja kasir. Ikut masuk dalam antrian untuk membayar barang belanjaan Ara.
“Cuma beli ini aja gak perlu suruh orang lain kali Mas.. Nugget juga, Ara bisa beli sendiri.” Tolak Ara. Jujur saja, belum lama menjadi istri Rava, Ara sudah merasa serba tidak bisa sendiri. Sedikit-sedikit Rava yang mengurus.
Berbeda dengan sebelumnya dimana Ara terbiasa melakukan segala hal yang diinginkannya dengan mandiri. Memang cukup menyenangkan memiliki sosok yang menjadi tempat bergantung, namun semua itu perlu dilakukan perlahan dan bertahap.
__ADS_1
“Hati-hati di jalan pulang, Sayang.” Ucap Rava sembari memasangkan pengait helm yang Ara kenakan di parkiran swalayan.
“Iya, Mas.” Jawab Ara mengiyakan dengan anggukan kecil.
“Ngomong-ngomong Mas, tempat ini kenapa namanya mirip kayak kantor Mas ya?” Tanya Ara dalam suara lirih yang sarat akan unsur kepo. Jika sebelumnya Ara tidak terlalu perduli meskipun berulang kali melewati bangunan 3 lantai itu semenjak pembangunan sampai kini beroperasi, maka berbeda dengan saat ini dimana Ara baru tersadar jika nama kantor Rava dengan swalayan yang dikunjunginya memiliki satu kata nama yang mirip.
“Arvada?” Gumam Ara dengan dahi mengerut dan bibir yang seketika menyunggingkan senyuman. “Kalau Arva aja kayak gabungan nama kita ya Mas, Ara Rava.”
“Iya, mirip nama kita.” Jawab Rava sambil tertawa kecil. Spontan Ara mengernyit bingung. Berpikir mungkin saja Rava menertawakan celetukan asal-asalan nya.
“Malah diketawain.”
“Bukan ngetawain kamu, Sayang. Tapi kenapa kamu tau aja kalau ini memang singkatan nama kita?”
“Maksudnya?” Tanya Ara dengan isi kepala yang seakan diputar mendadak hingga pusing berkunang-kunang.
“Ini memang penggabungan nama kita. Swalayan ini punya kamu.” Bisik Rava dengan cengiran tanpa beban.
Mematung dan membeku, menolak mempercayai ucapan Rava, jiwa Ara seolah berkelana sejenak ke dalam angan-angan. Keluar dan menyusup ke dalam bola mata Rava, mencari titik-titik kebohongan yang hasilnya tidak terlihat sama sekali.
“SERIUS!!??” Pekik Ara tanpa sengaja dengan suara super meninggi. Terlalu syok pada perkataan dan sorot mata kejujuran Rava.
Sudah bisa dipastikan kini pasangan muda itu menjadi objek perhatian setiap pasang mata yang terkejut akan lontaran teriakan singkat penuh pertanyaan. Sedangkan Ara yang sadar menjadi pusat perhatian hanya mampu memegangi kepalanya, bukan malu, tapi sangat terkejut pada fakta yang ada. Berulang kali Ara menatap Rava dan bangunan berlantai 3 di depannya secara bergantian sambil meracau tidak percaya.
...****************...
*
*
*
__ADS_1
ARVADA?🤔
Terima kasih sudah menanti kisah ArVa🥰