
Bunyi nyaring benturan sepatu pantofel pada lantai keramik memenuhi lorong sepi rumah sakit malam itu. Setiap langkah yang menapak keras membawa beban berat yang mampu mendobrak bendungan air mata. Pikiran Rava kacau mengingat ekspresi meringis menahan sakit dari layar ponselnya. Wajah pucat Ara menyayat ulu hati Rava.
Seandainya ia bisa menyelesaikan semuanya lebih cepat. Seandainya dari awal dirinya tidak lalai hingga berujung pencucian uang. Seandainya satu-satunya pesawat yang seharusnya terbang ke Kota B tidak melakukan pembatalan penerbangan. Seandainya ia juga tidak terjebak macet. Segala dengungan menyerbu layaknya anak panah yang menghunus. Intinya Rava benar-benar dipenuhi penyesalan mendalam.
Kini setelah 4 jam berlalu dari panggilan telepon pertama Mama Lauritz, Rava baru bisa berlari kencang menyusuri lorong panjang. Berharap agar raganya segera menemukan Ara yang terakhir diketahui sudah mengalami kontraksi pembukaan 8.
“Paah … Hah, hah, haah ….” Deru nafas tersengal yang memburu terhembus kasar dari lubang hidung dan mulut. Ditelannya secara paksa air liur membasahi kerongkongan yang tercekat.
Jarak itu masih terbentang jauh, namun suara Rava sudah lebih dulu sampai di telinga Papa Yudith dan Mama Lauritz. Laki-laki tua yang bolak-balik tiada henti seperti piston dalam mesin pembakaran itu tidak kalah paniknya dengan Rava.
Sudah setengah jam lamanya sang anak masuk ke dalam ruang bersalin. Sedari tadi memang Papa Yudith yang setia menemani Ara. Menolak saat Mama Lauritz memintanya pulang terlebih dahulu. Meski akhirnya tetap menyempatkan pulang setelah drama panjang untuk mengurus Jona dan Rian yang sengaja ditinggal dan diamanati menjaga rumah.
Ceklek.
“Maaf Pak, apa suami dari pasien sudah datang?”
“Ini, ini Sus. Ini suami anak saya,” ujar Papa Yudith sambil mendorong bahu Rava.
“Mari Pak, ikut saya masuk. Baby nya udah nungguin loh.”
Seperti kerbau dicucuk hidungnya, Rava mengekor tanpa suara. Mengikuti segala instruksi agar mensterilkan diri. Dibenaknya hanya ingin segera menemui pemilik hati yang tentu saja sudah gelisah dengan segala sensasi yang melanda.
“Sa-yaang ….” Terbata Rava mengusap dahi berpeluh Ara. Wajah wanitanya teramat pucat dengan bibir yang tampak tanpa darah.
Jemari Rava bergetar menggenggam tangan kiri Ara yang terkepal. Sedangkan Ara hanya tersenyum simpul, sedikit lega mendapati Rava sudah berada di sisinya.
“Seperti instruksi saya tadi ya, Bu … Tatap perutnya, gigi dieratkan baru mengejan!” perintah sang Dokter yang sudah memposisikan diri di ujung ranjang.
Mengangguk pelan, kepalan tangannya berubah meremas jemari Rava. Menyalurkan kesakitan yang seolah mengoyak inti tubuhnya tanpa sisa.
“Tahan sebentar ya, Bu. Atur nafas dalam-dalam tapi jangan mengejan dahulu,” katanya lagi dengan kepala menunduk.
Sekali lagi Ara hanya bisa mengangguk. Ia bertahan mematuhi perintah Dokter, meski gelombang itu tidak bisa dikendalikannya. Sejenak segala kenakalannya pada Mama Lauritz terbayang. Ara seketika larut dalam beribu macam kesalahan dan kubangan dosa.
Sedangkan Rava masih setia berulang kali menggumamkan kata maaf karena membuat Ara kesakitan. Ia sudah sangat bersyukur meski hanya diberi satu anak saja. Tidak ingin menambah bila harus melihat sang istri kesakitan diambang maut.
“Uuuuggghhhh!!” Mata itu terpejam kala mengejan untuk pertama kalinya. Terbuka lebar saat memasok udara sebagai bekal kekuatannya. “Huft … Huft … Huft … Eeeeerrgghh!!”
“Semangat, Sayang. Kamu bisa. Kamu bisa!” bisik Rava sembari menciumi genggaman erat Ara. Tidak perlu dipertanyakan, tangannya nyaris seperti dihancurkan oleh Ara.
__ADS_1
“Dorong sedikit lagi ya, Bu. Kepala si kecil sudah mulai terlihat. Bayangkan sebentar lagi baby nya ada di pelukan Ibu … Semangat untuk ikuti instruksi saya sekali lagi ya, Bu ....”
Mengangguk lemah, pikiran Ara sudah berkecamuk. Antara menyerah dan kembali berjuang. Tulang panggulnya seakan ikut terlepas setiap dirinya mengejan. Bahkan punggung yang berbaring di brankar persalinan terasa ditekan hingga remuk.
“Tarik nafas … Dorong lagi!”
Ara mendongak, menarik nafas dalam-dalam dan kembali menatap lekat perutnya yang masih membulat. Sedetik kemudian ia mencengkeram erat rambut belakang Rava hingga pemiliknya tersentak dan melebarkan kelopak mata.
“Aaaaaaarrrgghhh!!”
“Oeek … Oeek … Oek ….”
Bagai singa mengaum memamerkan kekuasaannya, Ara berhasil membebaskan tangisan nyaring dari raga kecil yang bersimbah darah. Namun perjuangannya belum selesai. Beberapa saat setelah tangis itu terus menggema, Ara harus kembali mengejan. Mengeluarkan plasenta agar pendarahannya terhenti dan rahim menutup dengan benar. Benar-benar proses yang menakjubkan.
Selanjutnya dengan bergetar Rava menerima sang buah hati. Menempelkan tubuh mungil polos itu bersentuhan langsung dengan kulit dadanya.
Berbeda dengan Ara yang menarik naik sudut bibirnya, Rava mengernyit dengan kekhwatiran yang menumpuk. Wajah buah hati pertama yang sudah berada di dekapannya dipenuhi gumpalan putih. “Dokter ini anak saya kenapa putih-putih?"
“Itu namanya Vernix Caseosa, bukan kotor ya, Pak. Jadi jangan khawatir karena fungsinya untuk membantu kulit si Kecil beradaptasi dengan dunia luar sekaligus menjaga suhu tubuh serta dari kuman. Nanti lama-kelamaan juga bisa hilang sendiri terserap kulit si Kecil.”
“M-mas Ra-va pi-kun,” gumam Ara lirih terbata-bata. Matanya tetap terpejam, namun bibirnya mengulas senyum tipis yang semakin mengembang. Ia benar-benar kelelahan dan kehabisan tenaga. Meski rasanya sangat luar biasa saat bayi nya sudah berhasil dilahirkan. Ia bagai terayun bebas, terbang dengan ringan.
"Anak kita," bisik Rava sambil mendekatkan tubuhnya yang mendekap sang buah hati. Spontan tangan Ara terulur lemah, menyentuh lembut tangan mungil yang langsung menangkap ibu jarinya.
...----------------...
“Sayang, anak kita cantik ya kayak Bundanya?”
“Mirip Mas Rava semuanya. Tega banget diambil Mas semua,” gerutu Ara dengan bibir yang sengaja dimanyunkan. Sedetik kemudian ia kembali meringis kala puncak dadanya berdenyut nyeri. Hisapan lembut namun kuat dari bibir mungil sang buah hati sedikit banyak membuat Ara malu sekaligus bangga di hadapan Rava.
“Lucu banget sih kamu, Sayang … Bunda jadi gemas pengen cium lagi,” lirih Ara kala hisapan itu terlepas, meninggalkan bibir mungil yang mengecap kuat perlahan terhenti dengan damainya.
“Sini kasih ke Mas aja. Kamu masih harus banyak-banyak istirahat.”
“Nanti kebangun lagi, Mas.”
“Nggak. Percaya sama Mas.”
__ADS_1
Dengan perlahan pasangan orang tua baru itu memindahkan gendongan dari rengkuhan Ara ke dalam dekapan Rava. Sejenak keduanya sama-sama membeku. Namun kemudian diteruskan dengan tangan Rava yang sedikit digerakkan memantul. Menimang putri kecilnya yang menggeliat seolah mencari sumber ASI.
Beberapa saat kemudian datang Papa Yudith bersama Mama Lauritz yang diikuti oleh Rian. Remaja belasan tahun itu mengintip canggung anak dari sang Kakak.
“Namanya siapa, Rav?” tanya Mama Lauritz. Kemarin malam Mama Lauritz sengaja menahan diri agar tidak langsung menanyakan perihal nama yang sudah anak dan menantunya siapkan. Apa lagi telepon mendadak Rian yang ketakutan membuat Papa Yudith dan Mama Lauritz memilih pulang memastikan keamanan Rian dan Jona yang rupanya salah mengira celurut menyusup di gudang sebagai manusia yang hendak maling.
“Namanya-”
“Princeeeessssss …,” ucap Jona menggema, mengundang mata melotot seluruh anggota keluarga yang menatapnya bak laser.
Spontan makhluk mungil yang masih awam dengan dunia itu mencebikkan bibir melengkung seakan hendak menangis. Namun urung saat Rava dengan lihainya berhasil menimang.
Tertawa canggung, Jona mendekat perlahan dengan mata berbinar. Jari-jemari pemuda itu bergerak gemas ingin meraih si cantik dalam buaian Ayahnya.
“Princess nya Uncle udah lahir … Mirip banget sama Mas Rava. Cuma pipinya yang mirip Kakak, gembul,” cerocos Jona antusias. Berkali-kali jari telunjuknya ingin mencolek keponakan pertamanya itu, namun selalu diurungkan. Ia takut sentuhannya terlalu kencang hingga menyakiti bayi mungil yang asik terlelap.
Akhirnya ia bisa memamerkan bidadari kecil dari keluarganya pada seluruh teman-temannya. Apa lagi tidak perlu diragukan bahwa keponakannya itu bibit unggul sejak lahir.
“Kak, pulang ke rumah Mama ya nanti? Jangan pisahkan aku sama Princess,” pinta Jona pada Ara.
“Princess itu siapa?” tanya Mama Lauritz sambil mencubit pipi Jona.
“Anak Kakak lah, Ma. Udah gak bisa diganggu gugat pokoknya official Mamas panggilnya Princess,” lugas Jona.
"Mamas jangan berisik. Ganggu Princess!" ketus Rian tiba-tiba. Wajahnya cemberut tidak suka pada kebawelan Jona.
"Ndut ikut-ikutan aja manggilnya," cibir Jona pada Rian.
...****************...
*
*
*
Sensasi melahirkannya gak realistis ya?😂 Meski udah nonton video proses lahiran orang lain, tapi tetap gak menjiwai😅
Terima kasih sudah mengikuti kisah Ara😘
__ADS_1