
Di dalam kantong kresek hitam yang tertenteng di depan wajah Ara dapat diendus aroma gurih, manis dan berlemak yang berbaur tipis dengan bau bakaran. Jalaran sensasi nikmat itu menggoyang lidah bersama air liur yang terus menetes di dalam rongga mulut.
Ayam bakar dengan sapuan bumbu kecap berhasil membuat Ara kegirangan. Sudah tidak sabar Ara ingin segera menyantapnya di rumah. Meskipun bisa langsung disantap di tempat, tapi Ara ingin menikmati ayam bakar itu di teras belakang rumahnya sambil memandangi kangkung, sawi dan kacang panjang yang sebentar lagi siap panen.
Tampaknya Ara kembali tidak sabar untuk membagikan hasil kebun kecilnya pada Mama Lauritz. Saking girang dan tidak sabaran dengan segala pemikirannya, Ara tanpa sadar melakukan lompatan kecil di atas ujung kaki yang berjinjit.
“Pelan-pelan, Sayang … Kasihan Lipai kalau kamu loncat-loncat!” tegur Rava dengan cemas, gestur tubuhnya juga menyiratkan kekhawatiran dengan kedua lengan yang membentengi Ara baik dari depan maupun belakang.
“Hehe … Maaf, Mas, lupa.” Tersenyum kikuk, Ara bersuara lirih. Sejurus kemudian ini menunduk, mengusap perutnya yang belum membesar.
“Maafin Mama ya Lipai,” ucap Ara lembut yang ditujukan untuk janin dalam kandungannya.
“Iya, Mama, aku gak apa-apa kok,” ucap Ara lagi menyerupai suara anak kecil seolah calon bayi mereka yang memberikan jawaban. Sontak hal itu mendorong Rava untuk mengacak rambut Ara.
“Udah senang sekarang?” tanya Rava sambil mencoba mengambil kantong berisi 8 porsi ayam bakar bagian dada tanpa nasi. Cukup banyak jika hanya untuk mereka berdua habiskan, karena 4 porsi lainnya memang akan diantarkan ke rumah orang tua Ara. Sedangkan 4 porsi sisanya masing-masing tentu untuk Rava, Bik Tih dan Ara yang akan menguasai 2 dada ayam bakar.
“Belum.” Menggeleng dan menghentikan langkahnya, mata Ara berbinar melihat penjual sari tebu yang sibuk mendorong masuk batang tebu pada alat pemeras.
“Mau apa lagi sekarang?”
“Mau itu ….” Tunjuk Ara dengan tangan menggantung lurus. Bibir yang merekah kan senyuman manis itu seketika meminta Rava untuk membiarkan dirinya membeli sari tebu seorang diri.
“Mas bawa mobilnya putar ke sini. Ara tiba-tiba malas jalan lewati jembatan itu lagi … Ara mau beli itu dulu, jadi tinggalin aja,” ucap Ara cepat sambil mengayunkan langkah kakinya berbelok pada penjual sari tebu tidak jauh dari warung ayam bakar.
“Kita beli sama-sama … Nanti Mas gendong kalau malas jalan sendiri,” ucap Rava sambil menahan lengan Ara yang sudah berjalan dengan riang. Sayangnya, sedetik kemudian Ara justru merengut dengan bibir manyun yang pasti lucu jika diberi pita.
Menggeleng dan menggoyangkan jari telunjuknya sebagai isyarat menolak, Ara berucap dengan mantap, “kelamaan nanti, Mas. Lebih baik Mas ke sana sekarang ambil mobil. Ara mau beli air tebu itu dulu. Nanti Ara tunggu di situ, duduk dekat pohon.”
Mendorong pelan dada Rava, Ara benar-benar kukuh dengan keinginannya. Matanya melebar seakan memberi peringatan agar Rava menuruti kemauannya yang satu itu. “Lagi pengen minum langsung di situ. Lagi pula kan bisa pas nanti sama Mas datang Ara pasti udah selesai. Lihat itu sekarang malah ramai … Boleh ya, Mas?”
Menghembuskan nafas berat, Rava mengalah dari pada keduanya berdebat di bawah terik matahari. Meskipun tidak menyengat, namun kondisi Ara yang mudah pusing beberapa waktu belakangan sangat mengkhawatirkan. Dengan berat hati akhirnya Rava memilih menuruti kemauan Ara yang sejatinya membuat hati Rava tidak tenang.
“Tapi ingat jangan kemana-mana! Habis beli langsung duduk di situ, di dekat penjualnya, jangan jauh-jauh! Jangan kemana-mana, ingat?!” ucap Rava layaknya orang tua yang sedang menasehati anaknya yang masih kecil.
“SIAP!” ucap Ara tegas bak prajurit atau hanya selayaknya pemimpin regu barisan dalam upacara bendera.
__ADS_1
Setelah memastikan Ara mendapatkan tempat duduk dan memesan banyak sari tebu sekaligus untuk dibawakan kepada orang di rumah, Rava berusaha tenang dengan langkahnya yang terburu-buru. Berlari kecil melewati jembatan penyeberangan sambil sesekali melirik ke bawah pada Ara yang sepertinya menyadari Rava memperhatikannya. Dapat Rava lihat Ara yang melambaikan tangan meski ia jelas tau Ara pasti tidak bisa melihat dengan jelas dirinya dari bawah sana.
“Ada-ada aja kamu, Yang … Kalau kayak gini Mas yang khawatir.” Memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, dalam sekejap Rava sudah melewati jalur memutar pada lajur jalan raya 2 arah yang dibatasi tanaman pohon pinang dan pucuk merah yang berjarak serta aneka tanaman setinggi setengah meter.
Tin … Tin …
“Kenapa macet sih?” gerutu Rava sambil menekan klakson mobilnya tidak sabaran. Mobilnya terpaksa berhenti setelah melewati jalanan yang sedikit menanjak. Ia terjebak di belakang kemacetan yang mendadak memanjang. Keempat roda itu hanya mampu berputar pelan.
Tidak ingin membuat Ara khawatir, Rava meraih ponselnya, jarinya menggulir menyentuh ikon telepon untuk melakukan panggilan. Namun sayangnya suara dan getaran tidak asing justru menggema di dalam mobil.
“Astaga, Sayang … Macet banget lagi!”
Dengan tidak sabaran Rava keluar dari mobilnya yang sudah menepi. Tidak hanya Rava, namun beberapa orang yang tampaknya sedang diburu waktu juga tampak frustasi dengan kemacetan yang ada.
“Pak Kim? Apa kabar?” celetuk suara menyebalkan yang semakin merusak suasana hati Rava. Terlihat di sampingnya wanita yang pernah dijadikannya perantara agar bisa lebih dekat dengan Ara. Mungkin jahat, namun Rava yang tidak pernah memberi harapan hanya merasa tidak ada yang salah dengan tindakannya.
Tanpa menjawab Rava justru menghampiri seorang bapak-bapak yang sama tidak sabarannya dengan dirinya. Berlari cukup kencang, Rava melewati 3 mobil sambil menahan nafasnya.
“Maaf, Pak, lampu merah di depan rusak ya?” tanya Rava tiba-tiba pada orang asing itu.
“Mari, Mas … Saya buru-buru,” pamitnya tanpa menanti jawaban Rava. Melesat pergi meninggalkan Rava yang segera menuju mobilnya.
Tentu saja Rava harus kembali berpapasan dengan seorang wanita yang sangat dikenal semuanya, siapa lagi kalau bukan Dian.
Tersenyum ramah Dian yang ingin kembali menyapa Rava, namun ia terlambat. Rava sudah hilang dari pandangannya, kembali memacu mesin mobil dalam pergerakan yang sangat perlahan. Bergantian dari mobil satu dengan mobil lainnya serta berbagai kendaraan roda 2 yang menyalip gesit.
Rava akhirnya bisa bernafas lega saat deru mobilnya kembali bisa melaju dengan kecepatan normal. Tentu saja ia gelisah karena terpisah dengan sang istri yang sedang hamil. Belum lagi ponsel Ara yang tertinggal di mobil menyulitkan mereka untuk berkomunikasi.
Wiu … Wiu … Wiu …
Sirene yang saling bersautan seketika membuat Rava kehilangan kewarasannya. Dalam jarak dekat dapat Rava lihat kerumunan yang menyebabkan kemacetan. Tepat di samping sebuah truk pengangkut material bangunan yang terguling, kursi kayu yang sangat Rava kenali sudah hancur berhamburan.
Brak.
‘SAYANG!? SAYANG ….’
__ADS_1
Menghempaskan pintu mobil dengan kencang. Berlari kesetanan. Rava mengabaikan tatapan bingung dari banyaknya orang yang berkerumun. Ada yang membantu lapak penjual sari tebu yang terkena imbas laka lantas, ada yang sengaja mendokumentasi sebagai informasi kepada kerabat terdekat, namun ada pula oknum yang masih setia bertahan dengan berdiam diri.
“SAYANG!? ARA?? JAWAB AKU DI MANA KAMU SAYANG!!!”
Teriakan Rava menggila. Matanya sudah memerah dengan rahang mengeras. Ia memukuli dada yang terhimpit agar nafasnya terpecah. Sorot tajamnya kembali mengedar mencari sosok Ara yang menghilang.
Sejurus kemudian Rava berjongkok dengan tatapan nanar pada sandal jepit sebelah kanan yang sangat dikenalinya. Diambilnya sandal itu dan didekapnya. Rava kembali membelah kerumunan. Bertanya satu per satu pada setiap orang dengan suara meninggi yang sangat serak dan parau.
“Mas ….”
Berbalik ke asal suara yang memanggilnya, Rava terkalahkan oleh dobrakan panas di pelupuk mata. Wanita hamil yang dicarinya berdiri tanpa alas kaki sambil memegangi perut dan pinggang. Meringis sakit karena telapak kakinya baru saja menginjak kerikil tajam.
Berlari menghamburkan diri, dunia Rava yang hampir runtuh seketika berangsur kokoh. Saat ini waktu seolah berhenti, bahkan kebisingan yang ada seolah tidak terdengar sedikitpun oleh Rava.
“Kan Mas udah bilang supaya Mas temani! Kenapa kamu bandel?!” ketus Rava sambil memeluk perut Ara. lututnya yang melemas tidak sanggup menopang tubuh jangkungnya. Alhasil Rava kini berlutut dengan kepala menempel di perut Ara. Berulang kali pula Rava mengecupi perut Ara dengan kelegaan yang mulai terpupuk.
“Ma-af …,” ucap Ara terbata, kecemasannya berubah menjadi rasa bersalah pada sang suami. Diusapnya lembut kepala Rava yang masih menempel di perutnya.
Berdiri dan memutari tubuh Ara, Rava meneliti dengan panik tampilan sang istri.
"Ayo kita ke rumah sakit lagi!" ujar Rava tegas, membopong Ara yang pasrah sekaligus malu menjadi pusat perhatian. Sedangkan sebelah sandal Ara yang sempat didekap Rava tertinggal di antara kerumunan yang mulai berkurang.
...****************...
*
*
*
Drama nya kurang ya?🙈
Pengen buat Rava nangis sampai besok tiba-tiba gak tega😅
Terima kasih buat semuanya yang sudah dukung tulisan Hana😘
__ADS_1