Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Kerasukan


__ADS_3

Tin.. Tin..


“Astaga!! Jangan bilang itu Mas Rava! Hih orang itu bandel juga rupanya.” Ucap Ara dengan mata membulat sempurna. Kaki nya sudah melangkah heboh ke arah balkon kamarnya.


“Kok gak ada? Tumben juga suara motornya agak beda.” Mengernyit heran, kini Ara menyembulkan kepalanya mengamati halaman luas dari lantai dua. Mendengus kesal Ara masih mempertahankan kerutan tipis di dahinya, bahkan pupil mata Ara seakan bergerak naik ke sisi kiri dengan mata yang memicing.


Didukung rasa penasaran yang menggelora, Ara yang tadinya hanya mengintip lewat celah pagar balkonnya bergegas ke pintu depan. Semakin mendekat ia semakin yakin bahwa ada sosok di balik pintu itu.


Tok.


Tok.


Tok.


Benar saja, hanya menyisakan 3 langkah lagi Ara sampai pada pintu, suara ketukan sudah terlebih dahulu bergema. Sontak hal itu membuat Ara yakin bahwa Rava benar-benar datang lebih cepat. Meskipun ada sedikit perasaan ragu mengingat bunyi motor yang berbeda. Ara tentu ingat bagaimana mesin motor Rava yang maha bagus dan terbaru itu tidak menimbulkan suara berisik hingga dulu sempat membuat Ara tidak menyadari kehadiran Rava.


Ceklek.


“Alamak..!! Belum mandi jam segini!!? Ck! Ck! Ck!” Decakkan itu mengiringi sorot mata yang menelisik Ara dari ujung kaki hingga sampai kembali pada wajah kusam Ara.


“Loh kok Dimas?” Ucap Ara tidak habis pikir. Dugaannya meleset jauh. Dengan raut wajah yang masih penuh tanda tanya, Ara menyilang kan tangannya, menatap lekat Dimas yang memutar bola matanya malas.


“Ada apa?” Tanya Ara ketus.


“Gak usah jelek gitu itu muka mu! Keliatan banget gak ikhlas didatangi cowok paling ganteng ini..”


“Jijik kali aku liatnya.” Ucap Ara sambil mengusap lengannya seolah bergidik ngeri pada perkataan Dimas.


“Astoge, Ra.. Toge-togenya kamu jijik sama aku? Salah aku apa sama kamu?” Ucap Dimas dengan wajah memelas, bibirnya menukik dengan kedua sudut bibir tertarik ke bawah.


“Dosa apa aku didatangi orang gila pagi-pagi gini.” Menggelengkan kepalanya, Ara nyaris pasrah dan ingin menghentikan waktu untuk menjambak rambut cepak Dimas.


Pletak.


“Udah siang kali!! Anak gadis macam apa kamu yang udah siang gini belum mandi, pasti baru bangun tidur juga kan? Mentang-mentang gak ada kuliah pagi jadi seenaknya.” Cerocos Dimas setelah sempat menyentil dahi Ara.


“Tadi kamu habis nabrak emak-emak di pinggir jalan ya?”


“Ya nggak lah!” Bantah Dimas tegas.


“Kenapa terasa ada aura jiwa emak-emak yang barusan keluar!? Kerasukan dimana kamu!!??” Menyipitkan matanya, Ara kembali mengusap kedua lengannya dengan tangan menyilang.


“Hish.. Itu bibir seenaknya aja kalau ngomong.”


‘Lah kan kamu yang dari tadi seenaknya ngomong Dimas..!!’ Jerit Ara dalam hati, ia tidak ingin membantah ujaran Dimas lagi. Ia bukan Yuki yang akan terus melawan peperangan ini hingga harus dipisahkan secara paksa.

__ADS_1


“Gak gitu maksud ku.. Oh ya, tumben ke rumah ada apa?” Ucap Ara berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Mau antar dagangan lah.” Ucap Dimas sambil mengangkat kantong kresek besar di tangan kanannya yang baru Ara sadari. “Nanti berangkat kampus sekalian aja sama aku.”


“Motor Yuki udah bener?” Tanya Ara bingung, pasalnya sudah beberapa hari Yuki menumpang pada Dimas. Entah bagaimana ceritanya, Yuki hanya menjelaskan motornya rusak. Padahal biasanya Yuki akan mengeluh tidak ada habis dan bosannya. Bahkan akan bercerita berulang kali seolah Ara bisa menyelesaikan segala keluhannya.


“Udah. Lagian itu anak agak aneh beberapa hari ini.” Ucap Dimas sambil mengangguk tiga kali.


“Ngemeng-ngemeng kapan tamu besar ini dipersilakan masuk?” Ucap Dimas lagi pada Ara.


“Kayak biasanya gak langsung nyelonong anggap rumah sendiri aja.” Ucap Ara sinis


“Lagi pencitraan.” Ucap Dimas santai sembari mengangkat kedua bahunya sekilas.


“Di sini gak perlu pencitraan, gak ada yang perlu peta buat jelajah rumah ini.” Balas Ara ketus sambil memutar tubuhnya. Berjalan masuk meninggalkan Dimas yang pasti sudah mengekor.


“Dikira ini pencitraan satelit pakai bikin peta segala! Aneh.. Udah gila kali ya..” Gerutu Dimas dengan bibir tercebik.


“Masih ku dengar ya Dim..” Ucap Ara lantang.


“Tau kok, kan aku sengaja biar yang dihina dengar.” Menyamakan langkahnya, Dimas berujar tepat di sisi kiri Ara. Ia bahkan tidak takut pada sorot mata Ara yang menajam.


"Udah sana ke samping, Mama ada di sana." Ucap Ara sambil kembali berlalu meninggalkan Dimas.


“Dim.. Baru datang?” Ucap Mama Lauritz sembari menoleh pada Dimas sekilas.


“Udah dari tadi Te. Ara aja yang gak suruh masuk. Dimas dibiarin di teras.” Celetuk Dimas sambil menyeringai.


“Ngadu aja terus..!” Ucap Ara nyaring sambil membawa semangkuk bakso yang sudah dibumbui saus cabe dan sedikit kecap manis.


“Tante.. Ini titipan minggu ini.” Ujar Dimas dengan tangan yang sibuk mengeluarkan isi dari kantong kresek yang ia tenteng sedari tadi. Tampak ada berbagai jenis olahan, seperti keripik singkong pedas, peyek kacang dan bawang goreng dalam plastik transparan yang sudah diberi logo dagang lengkap dengan berbagai informasinya.


“Masing-masing ini 25 bungkus aja ya, Tante.. Belum lama ini ada orderan keripik lumayan banyak, jadi di beberapa tempat yang dititip dikurangi dulu. Tenaga orang rumah gak sanggup buat bikin lebih banyak lagi.” Jelas Dimas pada Mama Lauritz.


"Nenek mu sehat kan Dim?"


"Sehat kok Tante.. Pagi ini juga ngotot mau goreng keripik lagi, tapi udah Dimas larang. Cuma gak tau ini waktu Dimas tinggal masih duduk diam apa nggak." Ucap Dimas menjawab panjang lebar pertanyaan singkat Mama Lauritz.


“Mau peyeknya Dim.” Ucap Ara tiba-tiba dengan tangan yang sudah terulur pada bungkusan peyek yang tampak renyah dengan taburan kacang tanah potong melimpah.


Plak.


“Beli! Minta lagi.. Ambil uang mu sana.” Menepis punggung tangan Ara, Dimas berusaha menyembunyikan dagangannya itu di balik punggung.


“Sama aja uang Mama ku itu. Buang-buang waktu aja buat ngoper uang.” Ucap Ara malas.

__ADS_1


“Beda. Kalau pakai uang yang ada di kamu kan jadi berkurang jatah bulanan mu.” Bantah Dimas pada Ara.


“Dasar licik!” Dengus Ara kesal.


“Itu bakso dimakan Dim. Tante baru selesai buat tadi. Kalau mau pakai mie sama kuah ambil sendiri di dapur. Itu Ara sama Adik-adiknya memang kebiasaan suka dicemil pakai saos sama kecap.” Ucap Mama Lauritz tiba-tiba.


“Kalau disuruh gitu Dimas semangat nambah yang pakai mie sama kuah ini.” Ucap Dimas girang. Sebutir bakso sudah selesai ia tusuk dengan garpu, hanya menunggu sesi meluncur ke dalam rongga mulutnya.


“Kak.. Ada orang itu kayaknya di depan.” Menghentikan aksi memotong daun-daun yang rimbun, Mama Lauritz mengedikkan dagunya seolah menunjuk ke arah bagian depan rumah.


“Masa Ma? Gak denger.” Ucap Ara ragu, telinganya tidak mendengar bunyi asing apapun.


“Cek sana dulu..!” Perintah Mama Lauritz pada Ara.


“Iya deh..” Angguk Ara sembari melangkah gontai, sejujurnya ia terlalu malas untuk bergerak lagi. Belum lagi ia harus menghadapi kenyataan akan menyambut tamu dalam penampilan yang lusuh.


“Siapa sih yang bertamu? Tumben banget ada yang datang kalau Papa gak di rumah.” Gumam Ara sambil terus melangkah.


Ceklek.


“Sayang..” Sapaan senang ini bukan suara Ara, melainkan Rava yang tampak gagah dalam balutan setelan kerjanya. Meski sederhana, namun pesona Rava sangat terpancar dalam balutan kemeja biru dongker dan celana hitam bahan kain. Selain itu juga tampilan Rava dilengkapi dasi hitam dan jas berwarna senada yang tertenteng di lengan kirinya.


“Mas kok udah jemput!?” Bukannya menyambut kedatangan Rava, Ara justru melontarkan pertanyaan dengan mata yang menyipit.


...****************...


*


*


*


Siapakah yang akan Ara pilih antara Dimas dan Rava untuk mengantarkannya ke kampus?🤔


Apakah ada alasan khusus dari perubahan sikap Yuki bagi Ara dan Dimas?🤔


*


*


Beberapa bab ini masih manis-manis aja kayaknya.. Ingat ya ini Ara semester 6, bentar lagi Rava yang ditinggal KKN.🤭


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰

__ADS_1


__ADS_2