Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Maju atau Ditikung


__ADS_3

“Itu kan Ara. Siapa cowok yang sama dia itu?” Gumam seorang gadis yang duduk di atas motornya. Menanti giliran mengisi bensin premium di salah satu SPBU di Kota B.


Cekrek.


Sebuah foto yang tidak cukup jelas, gelap dan buram, namun dipotret dengan sudut pengambilan yang cukup mesra. Diambil pula dalam sudut pandang yang tepat sesuai pikiran setan si pemotret.


Ajaibnya terlihat jelas adegan seorang gadis sedang memegangi lengan sang lelaki yang fokus membantu melepas pengait helm yang dikenakan. Tampak pula adegan saling tatap diantara keduanya. Belum lagi tawa menawan si lelaki yang diakhiri mengacak rambut sang perempuan.


Nyatanya pemeran utama foto itu adalah Ara dan Gilang. Adegan yang tampak mesra di foto tidak sejalan dengan fakta sebenarnya. Kulit leher Ara terjepit pengait helm dan Gilang sedang berusaha membukanya sambil menertawakan kesialan yang Ara alami. Helm yang sempat Ara lepas sembari menanti Gilang mengisi bahan bakar seolah marah dan menggigit.


Padahal helm itu baru terlepas dari kepala Ara kurang dari 15 menit setelah motor tunggangan Gilang mulai mengantri bahan bakar. Sedangkan Ara menanti di taman kecil sambil memandang Gilang dengan motor yang sudah lapar setelah menyusuri perjalanan panjang dari kejauhan.


Ara yang seketika panik sambil menahan sakit bukannya langsung melepas pengait helm yang dikenakannya. Dengan sekuat tenaga Ara justru memukul asal lengan Gilang agar membantu membebaskan rasa sakitnya. Begitulah fakta sebenarnya yang bisa menjadi menu utama ghibah tergantung sudut pandang dan besarnya level pencarian informasi.


“Setidaknya kalau sekarang aku nggak bisa dapatin Pak Kim, aku bisa jauhkan kamu dulu. Dasar munafik! Sok nggak tertarik sama cowok, tapi nempel genit sama Dimas. Bahkan malam-malam gini jalan sama cowok lain. Ketawa-ketiwi gak jelas sok manis!!” Gerutunya kesal dengan masih mencuri pandang pada Ara yang tidak menyadarinya.


“Tapi ada untungnya juga sih gara-gara dia aku jadi bisa lebih dekat sama Pak Kim. Dulu aku pikir Pak Kim tertarik sama aku, nyatanya disuruh mata-matain si Ara!! Lagi pula kalau dibandingkan sama Bu Dian, apa sih kelebihan Ara?” Gerutuan itu masih berlanjut, bahkan ia tidak berpikir jika tidak dengan Ara, belum tentu Rava mau dengannya.


Lebih parahnya ia justru membandingkan Ara dengan Dian. Padahal sudah jelas bila kelebihan atau kekurangan seseorang yang tampak secara fisik tidak bisa dijadikan tolak ukur utama kemana rasa di hati akan condong.


“Mbak.. Mau maju atau ditikung?” Ucap seseorang dari arah belakang yang mencondongkan badannya hingga menempel pada kap kepala motor.


‘Ish..!! Sialan, bikin malu!!’ Menolehkan kepala sepersekian detik setelah suara dari arah belakang menginterupsi, ia merutuki fokusnya yang teralihkan pada Ara yang rupanya sudah tidak ada di tempatnya.


“Iya, Pak. Maju ini Pak..” Mendorong motor dengan kedua kaki yang seakan mengayuh, ia menunduk malu sambil sesekali melirik pada petugas pengisian bahan bakar yang mengulum senyuman menahan tawa.


“Makanya jangan ponsel terus yang diperhatikan, hampir aja saya tikung. Kebiasaan anak jaman sekarang itu ponsel mulu.” Omelan familiar yang khas terucap lancar dan lantang. Padahal kebiasaan terlalu fokus pada ponsel bisa melanda seluruh lapisan generasi tanpa batas usia, siapapun bisa berada di posisi ini.


...----------------...


Malam yang lembab dengan tanah basah dan genangan air di mana-mana, Ara dengan khidmat mendengarkan nyanyian kodok yang saling bersautan. Sudah hampir melewati 6 malam berlalu semenjak Rava pergi.


Selama itu pula komunikasi akan lancar saat air laut di daerah Rava berada akan bergerak surut. Tepatnya Rava harus berjalan puluhan meter menyusuri pesisir pantai, berjalan seolah mengejar deburan terakhir yang semakin menjauh. Sama seperti malam ini, tepat jam setengah 8 malam dengan angin laut yang terus berhembus, Rava berdiri di bawah terangnya rembulan.


[Sayang.. Kangen banget tau.] Ucap Rava sambil mengeratkan jaketnya.

__ADS_1


“Iya, sama.” Balas Ara dengan suara lirih. Ara terlalu malu jika suaranya sampai terdengar oleh keluarganya, terlebih Jona yang pasti gencar mengejeknya.


[Jadi tambah kangen..] Ucap Rava sambil menyugar rambutnya. Mendapati Ara yang juga merindukannya justru membuat Rava semakin gelisah ingin cepat-cepat menikahi Ara. Bukan sekedar ingin pulang memeluk, tapi menuliskan nama Ara di bawah namanya dalam selembar kertas sakral yang tidak main-main jika ingin mendapatkannya, apalagi kalau bukan Kartu Keluarga alias KK.


[Gagal pulang cepat lagi nih.] Mendesah kecewa, Rava menendang pasir pantai yang tidak bersalah.


“Kenapa?”


[Mas pikir-pikir lagi lebih baik ditinjau sampai habis, jadi kalau sesuai target ya 5 hari lagi baru pulang.]


“Lama banget, Mas.” Ucap Ara sedih dengan tatapan sendu. Ia merindukan kebersamaannya dengan Rava.


[Supaya setelah ini Mas nggak jauhan sama kamu lagi. Merana banget beberapa hari ini susah buat dengar suara Sayang nya Mas ini.] Tutur Rava malu-malu. Jika air laut bisa tertawa, mungkin sudah terjadi tsunami akibat terlalu geli pada tingkah Rava.


“Masa iya?”


[Iya Sayang.. Gak pecayaan nih kamu sama Mas.]


“Mas kebiasaan ngomong manis, jadi kayak udah terlatih aja. Tau-tau nanti cuma buat gombalin Ara.”


“Hehe.. Maaf Mas..” Permintaan maaf itu dibumbui cengiran Ara yang tentu tidak dapat dilihat oleh Rava.


[Jaga hati di sana ya Sayang. Jangan gampang tergoda sama yang lain. Mas rasanya lebih sering takut sekarang ini.]


“Takut kenapa?”


[Takut kamu diambil sama yang lain.] Ucap Rava serius. Belum lagi Rava baru saja teringat pada sebuah foto samar yang ingin ia tolak kebenarannya.


“Ada-ada aja sih..”


[Lama banget kamu lulus kuliahnya.]


“Memang mau apa?”


Terperanjat Ara pada sosok yang ikut menempelkan telinga pada ponselnya. Masih dengan raut wajah yang syok, Ara mengerjap lucu hingga menimbulkan suara gelak tawa dari si pelaku.

__ADS_1


“Papa ini nggak sopan ya. Gangguin deh..” Rengek Ara sembari mencebikkan bibirnya.


“Kamu itu yang aneh Kak. Papa udah dari kamu kangen-kangenan udah di pintu situ. Sampai akhirnya Papa duduk di sini juga kamu masih nggak sadar.” Ucap Papa Yudith tanpa dosa sambil menggeleng takjub.


“Kayak nggak pernah muda aja Papa ini.” Ucap Ara sewot, memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Ara salah tingkah dan malu sudah ketahuan membucin bersama Rava.


“Papa sama Mama mu mana pernah pacaran kayak kamu.” Mencubit gemas pipi gembul Ara, Papa Yudith menatap sayang pada anak gadis satu-satunya itu.


“Aww, argh.. Sakit Papa..!” Keluh Ara kesal. Sedangkan Rava di seberang sana sudah bergerak gusar, gelisah dan khawatir pada jeritan kesakitan Ara. Padahal sebenarnya Ara hanya pura-pura tersakiti dalam rengekan manja pada Papa Yudith.


“Pura-pura lemah gara-gara Rava dengarkan? Biasa suka main tinju sama anak orang, nubruk pohon mangga pakai sepeda, ini dicubit dikit ngeluhnya bukan main.” Ucap Papa Yudith tepat sasaran.


“Sstt! Papa nih!” Meletakkan jari telunjuk kanan di bibirnya, Ara seakan memberi ancaman agar Papa Yudith menyudahi kalimatnya.


...****************...


*


*


*


Siapakah mata-mata utusan Rava?🤔


*


*


By the way, 17 Agustus lalu Hana buat akun FB, tapi sampai sekarang nggak dipakai lagi. Bingung juga mau promo di FB harus kayak gimana.


Kalau ada yang punya FB bisa cari ‘Hana Hikari’. Di situ ada 1 video yang Hana masukan kumpulan cast novel ini.


Kalau yang mau lihat di IG juga ada, @hi.onelight itu akun Hana. Di reel peringatan kemerdekaan, coba deh amati seluruh visual cast nya. Pasti yang jeli bisa dapat spoiler duluan.🤭


*

__ADS_1


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2