Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Hati Ayam


__ADS_3

"Tanteee... Ara udah pulaang ituuuu!!!"


Melonjak kaget Ara di ujung anak tangga. Suara menggelegar membuat bulu kuduk Ara merinding disko.


"Gimana?? Gimana?? Gimana??" Yuki menarik-narik lengan baju Ara. Entah sejak kapan Yuki sudah berada di samping Ara.


"Berhasil kencan sama Pak Kim??" Tanya Yuki semangat. Mata berbinar menuntut jawaban menatap lekat Ara.


"Lah belum pulang juga?? Dimas juga??" Tanya Ara mengalihkan pembicaraan.


"Dimas lagi makan di dapur tuh sama Rian. Mana bisa pulang kalau tau makanan.. Apalagi tadi Tante Liz tahan, tambah mekar lambungnya." Ucap Yuki menggebu-gebu, antara kesal dan gemas tidak bisa dibedakan. Sejenak Ara bernafas lega bisa mengalihkan perhatian Yuki.


"Ehh kok bahas si burung emprit?? Dimas buat apa juga ditanyain sih Ra.. Gimana Pak Kim?? Lancarkan kencannya??"


"Kakak kencan?? Pacaran sama siapa??" Mama Lauritz datang dengan baskom kecil berisi sawi, tomat dan seledri.


"Itu Tante si Pak Dosen.. Gebetan Ara Dosen di kampus itu loh Tante.."


"Seriusan kamu Kak?? Katanya gak mau nikah.. Udah berubah pikiran??" Rasanya sedih sekali Ara melihat senyum bahagia Mama Lauritz. Bukan Ara tidak suka, namun ia takut tidak bisa membayangkan jika keinginan Mama Lauritz yang satu itu tidak bisa Ara penuhi.


"Nggak Ma.."


"Iya Tante.. Pak Kim.. Kata Dimas kemarin sempat ke rumah juga." Yuki menyerobot sanggahan Ara dengan semangat juang yang berkobar. Seolah ia pemeran utama, Yuki nampak siap menjelaskan kronologi sebab akibat dari pertemuan yang disebutnya 'kencan'.


"Kim??" Mengernyit Mama Lauritz, pupil mata Mama Lauritz bergerak ke sisi kiri atas. Kerutan di dahinya lama-kelamaan bertambah dan diakhiri mata melotot pada Ara. Jelas bukan marah, pasti terkejut.


"Pak Kim yang datang ke rumah buat bawa kamu ke Kota Y itu Kak?? Yang sering chat Papa??" Ucap Mama Lauritz. Baskom sudah naik dari yang mulanya sebatas perut menjadi didekap di depan dada.


"Gak kencan Ma.. Cuma disuruh antar undangan sama Pak Dekan aja ke kantornya." Bantah Ara kuat.


"Gak usah malu-malu kali Ra.. Udah bener itu Tante. Top markotop deh tebakan Tante, emang orang itu yang pepetin Ara mulu. Tante mau tau berita yang pasti Ara diemin aja??"


"Ayo di dapur aja.. Ceritain sambil Tante masak tumis sawi ini." Ucap Mama Lauritz pada Yuki, kemudian menatap Ara yang sudah pasrah pada segala bentuk ujian yang akan dihadapi. "Mama mau dengar dari anak Mama yang lain aja, pasti kamu sengaja gak mau bagi-bagi cerita. Kamu bersih-bersih badan sana Kak.. Jangan lupa bawa baju ganti langsung, masih ada Dimas di rumah. Nanti jerit-jerit malu kalau ketahuan ngibrit pakai handuk aja."


Kecocokan antara Mama Lauritz dan Yuki tidak perlu diragukan lagi. Sebenarnya anak gadis Mama Lauritz itu Ara atau Yuki??


Menggelengkan kepalanya Ara tersenyum geli pada deduksi yang baru saja muncul di otak nya. Bagaimana bisa Ara malah berpikir mungkin roh mereka sempat salah jalan dan akhirnya tertukar. Benar-benar menambah kesimpulan aneh di luar nalar yang pernah Ara pikirkan.


Di kamarnya Ara menghempas kasar tubuh lelahnya di atas empuknya kasur. Matanya terpejam menikmati lepasan beban punggung di atas kasur yang hampir memenuhi 3 per 4 bagian ruang kamarnya.


Rangkaian kejadian yang sempat dilaluinya tidak terhapus sedikitpun, dari genggaman tangan, duduk berdua, ajakan menikah dan terakhir masih ada drama penahanan agar Ara menghabiskan kwetiau goreng yang sengaja dipesan khusus untuknya. Perutnya sudah cukup kenyang. Segala macam makanan kesukaannya hari ini bisa masuk banyak sekaligus.


Jika saja Ara tidak menolak keras, bisa jadi rumah Ara akan lebih heboh dengan kedatangan Rava yang beralasan mengantarkan Ara. Beruntung pegawai kantor yang ingin menarik motor matic miliknya itu berhasil Ara pelototi dan si Bos berhasil Ara bujuk. Meskipun dengan tidak tau malunya Ara harus merengek dihadapan banyak pasang mata. Kilasan bayangan di kelopak mata terpejam Ara tampak seperti sepasang kekasih dengan dua karakter yang perempuan keras kepala dan yang laki-laki posesif.


Membuka mata dan berdiri tiba-tiba, Ara ingin menghapus bayangan menggelikan baginya itu. Bisa-bisanya Ara masih memikirkan dirinya dan Rava layaknya seperti sepasang kekasih bila nyatanya ia baru saja menolak lamaran laki-laki itu.


"Betah ya Dim di rumah.." Ucap Ara sembari menyipitkan mata dan tersenyum mengejek serta sedikit menunduk untuk menampilkan angle ekspresi terbaik. Ekspresi wajah Ara yang sudah tidak terkondisikan itu justru memicu gelak tawa Yuki.


"Ma ini sambal goreng jeroan ya??"


"Dari Mama nya Yuki Kak.. Udah perjalanan jauh buat sampai ke rumah kita itu sambal goreng Kak." Jawab Mama Lauritz yang masih sibuk menyusun ulang stok gula, garam, ketumbar halus dan banyak lagi teman-temannya.


"Kayaknya pedas.." Ucap Ara yang sudah menyendok sambal goreng dengan banyak kentang kesukaannya, tidak lupa potongan kecil jeroan yang ikut tersendok.


"Kak!!!" Terlambat. Satu sendok penuh sudah melesat masuk rongga mulut Ara.


"Huk.. Hoek.. Huk.." Menutup mulutnya rapat-rapat, Ara berlari ke kamar mandi.

__ADS_1


"Kenapa Ra??" Yuki mengejar Ara dengan panik. Yuki takut Ara keracunan makanan dari Mama nya. Terbayang sudah Mama nya yang dituntut dan terpaksa menginap di hotel yang harus dibayar mahal dengan kejahatan.


"Hoek.. Hoek.. Hok.. Uhuk.. Uhuk.." Tidak ada jawaban selain suara muntahan dan Ara yang terbatuk-batuk.


Byur


Byur


Byur


Siraman pada lantai kamar mandi mengakhiri tragedi muntahan Ara. Perut penuhnya terasa kosong. Wajah sendu Ara menyesalkan kwetiau goreng yang dicerna tampaknya belum benar-benar terproses terpaksa harus ikut keluar.


"Santai aja Yuki.. Biasa aja ini." Ucap Ara sambil mengajak Yuki kembali ke dapur."


Kepanikan Yuki ternyata belum juga reda. Terbukti Yuki membujuk Mama Lauritz membawa Ara ke puskesmas terdekat. Tapi Mama Lauritz hanya tertawa melihat kepanikan Yuki, begitu juga Ara. Sedangkan Dimas yang baru saja tau alasan Ara memang tidak suka makan hati ayam hanya diam mengamati, pura-pura tidak tau apa-apa tapi menertawakan Yuki dalam hati.


Dimas bukannya tidak ikut panik, namun perkataan Mama Lauritz membuatnya berdecak kesal pada mulut pemilih Ara. Pantas saja tadi Mama Lauritz sempat berteriak, walaupun sayangnya tetap sudah terlambat.


"Ya udah pilih kentangnya aja Ra.. Hatinya kasih Jona sama Rian.."


"Gak bisa kayak gitu juga Kak Yuki.. Kakak itu banyak maunya. Minyak bekas goreng hati ayam aja gak mau dipakai lagi. Katanya bau." Celetuk Jona tiba-tiba di depan pintu kulkas yang sudah terbuka lebar. Tidak ada yang menyadari kapan Jona muncul. Sebotol air cincau dingin dan keripik pedas dari Dimas sudah ditentengnya kembali menuju ruang nonton, apalagi jika tidak sebagai camilan sambil nonton kartun bersama Rian.


"Pilih-pilih banget mulut mu Ra.. Gak makan udang, wajar sih alergi. Tapi gak suka ikan padahal anak perikanan, rada aneh banget. Tambah lagi sekarang gak suka hati ayam.. Gak tau besok apa lagi yang jadi gak disuka."


"Lebih aneh lagi dia doyan banget bawang putih rebus. Mungkin biar gak diburu drakula kali." Mana perduli Yuki dan Dimas memojokkan Ara di depan Mama nya sendiri. Bahkan malah seluruh keluarganya setuju dengan Dimas dan Yuki. Ara memang anak bayangan bila duo gendang koplo itu berkunjung ke rumah.


"Enak punya anak kayak Dimas ya Tante? Gak pilih-pilih kalau makan. Hehe.." Ujar Dimas dengan cengengesan.


"Dimas ini emang anak bujang Tante.. Seleranya sama juga kayak si bungsu Rian.. Apa aja masuk kayak jurang." Ucap Mama Lauritz yang kemudian berlalu ke halaman belakang untuk melihat jemuran.


Ara bukannya tidak suka hati ayam. Sangat suka malahan, tapi dulu. Ingatan Ara kembali pada masa lalu lagi. Tatapan benci orang-orang dewasa kala Ara terus memandang sambal goreng hati ayam sebagai salah satu makanan acara kumpul keluarga. Berlanjut dengan tangan Ara yang ditepis saat ingin mengambil makanan itu meski Mama Lauritz sudah menaruh sepiring kecil sambal goreng hati lengkap dengan nasi dihadapannya.


Sepiring kecil yang terlebih dahulu sudah diambil lebih rela dibuang sia-sia oleh para manusia sok berderajat tinggi daripada masuk ke perut kecil Ara. Teriris hati Ara mengingat masa itu. Kenangan buruk itulah yang akhirnya membuat Ara selalu mual jika ingin menyantap segala macam olahan hati ayam.


...----------------...


Menggantung di atas wajah pada sela jarinya, warna emas mengkilap kalung pemberian Rava menggoda untuk Ara kenakan. Jika bukan karena beban berat dari alasan mengenakan kalung itu, mungkin sudah Ara pakai sedari tadi. Bahkan Ara sangat penasaran dengan harga kalung mungil yang diberikan padanya. Ara memang tidak tau fashion atau banyak macam aksesoris, tapi Ara masih paham mana barang mewah dan memiliki harga selangit.


"Aku kok mulai berdebar ya??" Gumam Ara lirih sambil tetap menatap kalung yang berputar perlahan akibat gerakan jari Ara.


"Gak!! Gak boleh!! Belajar dari Hans Ra.. Dia contoh orang baik yang akhirnya juga mempermainkan mu. Keluarga mu aja gak mau kehadiran mu, gimana orang lain?? Haha.. Gak usah mimpi bisa bahagia sama yang lain." Ucap Ara miris pada dirinya sendiri.


Sorot pada Ara sendu, namun jantungnya berdegup kencang ngilu. Rahang mengeras milik Ara menahan amarahnya pada banyak orang, terutama laki-laki. Cukup sudah Ara menggunakan hatinya untuk tulus belajar mencintai orang lain dan berakhir mengenaskan. Ara akan tetap berpegang teguh pada ucapannya semenjak lulus SMA dengan bahagia dalam kesendiriannya.


"Aku gak perlu laki-laki buat hidupku bahagia. Walaupun aku mau anak, aku bisa adopsi. Kalau mau lahir dari rahim sendiri mana bisa inseminasi bayi tabung di Indonesia kalau gak ada pasangan sah." Gerutu Ara yang sudah meletakkan tangannya pada sisi tubuh dengan kalung yang masih dalam genggamannya.


"Semoga Mama sama Papa bisa terima pilihan aku." Meringkuk memejamkan matanya, Ara hanya ingin bahagia menurut versinya sendiri. Ia tidak punya pilihan dan tidak ingin memilih laki-laki mana yang ingin diajaknya berkomitmen menghabiskan sisa waktu hidup bersama.


Ketakutan yang mampu membuatnya kehilangan akal sehat, sakit kepala dan sesak nafas benar-benar ingin Ara lenyapkan. Sayang seribu sayang, pernyataan cinta dan lamaran dadakan Rava justru membuat ketakutan Ara membuncah sampai terasa membunuh jiwanya perlahan.


"Sekarang kamu bilang sayang aku.. Sekarang kamu bilang cinta aku.. Sekarang kamu ajak aku hidup bersama, susah senang bersama, terus berusaha buat aku senang.. Tapi aku tau kalau bosan juga aku dibuang.. Aku tau itu cuma rasa kasihan pasti sama aku.." Suara pilu Ara terdengar seperti kepakan sayap lebah, tidak jelas untuk didengar untaian kalimatnya.


"Aku cuma mau bahagia.. Aku sendiri gak apa-apa. Gak perlu datangin laki-laki buat aku Tuhan, kasih aku bahagia meski harus sendiri aja.. Aku mohon. Tolong buang rasa sakit yang bikin sesak ini. Aku susah bernafas. Kalau boleh aku mau pulang.. Panggil aku sekarang aja ya Tuhan.. Aku mau pulang.." Menahan tangisnya, suara Ara parau.


Ara belum sembuh. Dalam keheningan malam hidupnya terasa kosong dan hampa. Ara tidak memiliki arti hidup untuk dirinya sendiri, tapi jujur ia terlalu lelah untuk hidup demi orang tuanya. Hanya tugasnya menjaga Jona dan Rian yang masih menahan Ara untuk tidak benar-benar mengakhiri hidupnya. Percobaan bunuh diri bukan untuk kematiannya, tapi demi sakit fisik yang ia pikir mampu menyamarkan kesakitan semu di sekujur tubuhnya.


Membuka mata yang sudah menampung linangan air mata, Ara tatap bekas luka sayatan di tangannya. Sedikit memberikan ruang untuk Ara mampu bernafas normal, namun bujukan di kepalanya seolah menyuruhnya menambah karya baru di bagian tubuh yang akan terus tertutup.

__ADS_1


"Aku cuma mau bahagia!!" Ucap Ara dengan suara berat tertahan.


Plak


Plak


Celana yang sudah pendek di gulung naik menampilkan seluruh paha mulus Ara yang sudah memerah. Tamparan tangannya tidak terasa sakit atau hanya sekedar panas. Penggaris besi tipis sudah Ara raih. Pukulan kuat beringas dengan seringai lebar memuaskan pikiran kalut Ara. Suara hempasan di atas kasur mengakhiri tingkah gila Ara.


"Hahaha.. Hahahaha.. Gila.. Kenapa bisa gila lagi sih?? Aku benar-benar gila.. Dokter Dion kayaknya salah diagnosa deh." Mengusap wajahnya kasar, Ara kemudian menjambak rambutnya sekuat tenaga.


...----------------...


Tok


Tok


Tok


"Kakak.. Pacar Kakak di bawah!!!"


"Kakak!!! Udah di tunggu pacar mu itu!!"


Suara Jona mengusik mimpi gelap Ara. Mata yang terbuka kecil itu masih berusaha menyesuaikan terangnya sinar mentari. Berjalan gontai Ara hampiri pintu yang sudah ingin berontak saking kasarnya di ketuk terus-menerus.


Ceklek


"Kenapa sih??"


"Pacar Kakak udah ngapelin tuh pagi-pagi. Bawa martabak telur isi daging lagi.. Enak banget." Muka bantal Ara menyimak dengan dahi mengerut.


Menuruni anak tangga dengan wajah acak-acakan, Ara melenggang santai tidak menganggap perkataan Jona. Baju tidur hijau tipis dengan celana setengah paha rasanya langsung diterpa angin dari arah luar pintu. Membuka matanya lebar-lebar Ara dibuat diam mematung.


"Aaaaa..." Jerit Ara terkejut.


Duk


Brugh


Sial. Niat ingin kabur justru kepalanya menghantam dinding ruang tamu dan terjatuh. Tidak tau lagi harus dikatakan malu atau apa lagi. Terlihat muka bantal, rambut acak-acakan dengan setelan tidak pantas itu saja sudah membuat Ara malu.


"Ya ampun Ara. Makanya hati-hati, jangan suka kabur lagi. Kebiasaan banget kamu kalau lihat saya suka kabur." Usapan lembut pada dahi Ara mengurangi rasa sakit dan menambah rona malu di pipi Ara.


"Bapak ngapain pagi-pagi udah di sini??" Tanya Ara pada sosok laki-laki yang dipanggil 'bapak', tentu saja siapa lagi jika bukan Rava.


"Ma.. Kakak pelukan!!!" Mendorong kasar Rava yang tampak mendekapnya dari arah belakang hingga terjungkal, Ara melotot tajam pada Jona.


...****************...


*


*


*


Ada yang mau ditanyain?? Tulis di komen yaa😄


*

__ADS_1


*


Terima kasih udah dukung Hana dan terus pantau kisah Ara🥰


__ADS_2