
Tanpa menunggu jawaban dari Rava yang masih terdiam, Ara sibuk mengobrak-abrik isi tasnya. Ponselnya menyelip diantara pecahan uang kertas yang berserakan.
Salah satu kebiasaan Ara yang jarang membawa dompet agar tidak kalap untuk urusan jajan. Ia hanya butuh uang pas untuk berjaga-jaga bila tiba-tiba motornya mogok atau sekedar ban bocor.
“Bawa pulang sendiri motor ku ya!? Aku mau pergi sama Mas Rava.” Ucap Ara saat sambungan teleponnya bersambut di seberang sana.
[Yang mulai bucin meresahkan sekali..!!] Teriak Dimas tepat di ponsel Yuki yang sengaja diletakkan di atas meja dengan pengeras suara yang aktif.
[Udah sana pergi mesra-mesraan! Gak usah sok merajuk gak jelas lagi!] Ucap Yuki menimpali ujaran Dimas.
“Apaan sih kalian!?” Sergah Ara yang salah tingkah. Beruntung suara keduanya hanya mampu tertangkap oleh pendengaran Ara.
[Udah tenang aja sama motor itu pasti sampai rumah. Aku matikan sekarang, bye..] Ucap Yuki cepat. Ibu jarinya hampir saja memutus panggilan secara sepihak.
[Ehh.. Satu lagi deh, titip salam buat Pak Rava pajak traktiran jadi kurir motor ke all you can eat yang baru buka cabang di jalan depan ya.. Gak perlu ke restoran bintang 5. Cari yang lebih murah-murah aja gak apa-apa, asal jangan mie ayam bakso favorit Dimas! Aku kok lama-lama bosan.] Ucap Yuki sewot setelah sempat mendelik sebal saat Dimas dengan semangat membisikan warung langganan ketiganya dikala kelaparan dengan uang saku menipis.
“Gak usah..” Menghembuskan nafasnya perlahan namun berat, Ara siap menyambar ocehan Yuki. Tapi sayangnya ia kalah cepat. Nada sambungan terputus sudah lebih dahulu menyapa pendengaran Ara.
“Lah udah dimatikan?” Mulut Ara terbuka lebar dengan raut wajah kesal. Bahkan pekikan tertahan Ara juga disertai dahi berkerut dan mata melotot.
“Ada apa?” Tanya Rava bingung.
“Ini Yuki belum pamit udah ditutup aja telepon nya Ara.” Ujar Ara kesal.
“Ya udah jangan marah-marah gitu. Lihat ini kerutan dahi kamu bisa nambah kayak kue lapis.” Ucap Rava sembari menyapukan jemarinya lembut di dahi Ara. Raut wajah serius Rava tampak menambah kesan ia sedang sibuk meratakan kembali dahi Ara yang sempat berkerut-kerut.
“Mas mau ke kantor lagi?” Ucap Ara tiba-tiba sembari menusuk-nusuk lengan Rava dengan jari telunjuknya.
“Kamu mau kita jalan-jalan? Mas bilang sama Papa dulu ya izin bawa kamu.” Ujar Rava dengan tatapan berbinar. Ia bahkan melupakan pekerjaan yang mengancamnya untuk lembur bila tidak langsung diselesaikan.
“Gak sibuk?”
“Gak. Mas punya banyak waktu luang kok.” Ucap Rava yang menurutnya tidak sepenuhnya bohong. Bagi Rava tidak masalah bila harus bermalam dengan berkas-berkas menyebalkan jika sudah diberikan penawar rindu oleh Ara.
“Nomor Papa gak bisa dihubungi.. Nomor Mama juga. Gimana ini yang?” Desah Rava kecewa. Bukannya tidak mungkin ia tetap bisa pergi berduaan dengan Ara, namun tetap saja sebagai laki-laki ia harus bisa bertanggung jawab dengan meminta izin terlebih dahulu pada kedua orang tua Ara.
__ADS_1
“Kirim pesan aja gak apa-apa Mas. Biar Ara yang bilang. Mas gak usah.”
“Gak bisa, sayang. Kamu memang harus izin sama Mama dan Papa karena gak langsung pulang. Tapi di sini Mas juga wajib meminta izin ke Mama dan Papa untuk mengajak kamu pergi. Kamu itu sepenuhnya belum tanggung jawab Mas, jadi gak bisa seenaknya Mas bawa kemana-mana.” Penjelasan Rava mengandung makna tersirat. Ia berharap hati Ara terketuk untuk menerima lamarannya. Meski ia tau Papa Yudith belum mengizinkan Ara menikah setelah semester ini berakhir.
“Emang bisa sepenuhnya jadi tanggung jawab Mas?” Sembari duduk di kursi samping Rava, Ara bertanya dengan polosnya, ia tidak sadar pada maksud sebenarnya dari ucapan Rava atau mungkin sedang pura-pura polos. Namun bukannya kecewa, hal itu justru membuat Rava senang.
“Nikah sama Mas maka kamu sepenuhnya tanggung jawab Mas.” Ucap Rava santai sembari memasangkan seatbelt pada Ara. Ia sempat terpaku sejenak kala tatapannya beradu pandang dengan mata Ara yang mengerjap kaget atas perlakuan Rava.
“Cantik.” Tersenyum lebar, jemari Rava mengusap surai rambut Ara.
“Khem.” Berdehem dengan keras, tindakan Ara menyentak kesadaran Rava. Ia bahkan hampir merasa jantungnya dihentikan sekilas.
“Udah ayo berangkat. Lama banget Mas pasang sabuk pengaman aja.” Ucap Ara ketus sambil memalingkan pandangannya keluar jendela. Pipinya sudah panas dan telinganya sudah semerah kepiting salju kukus.
“Oh, iya, okey.” Ucap Rava menyugar rambut asal untuk mengurai kegugupannya.
Sepanjang perjalanan keduanya banyak bercerita. Meski jelas Rava hanya banyak menimpali ujaran Ara yang heboh menceritakan reaksi Jona dan Rian pada makanan yang selalu Rava kirimkan. Jangan lupakan juga Rava yang menanyakan alasan sebenarnya dari tawa lepas Ara dengan Dimas yang rupanya disebabkan hidung Yuki tersodok sedotan dari minumannya karena terlalu sibuk bermain ponsel.
Hingga tidak Ara sangka laju tunggangannya itu terhenti di rumah makan aneka seafood yang cukup ramai. Sejujurnya Ara memang kurang suka makanan laut, namun ia tetap suka saus dari olahan berbagai hidangan laut seperti sotong, kepiting dan berbagai jenis kerang.
“Mas, Ara tinggal ke toilet sebentar ya.” Ucap Ara sambil meletakkan tas nya pada kursi di samping Rava yang sudah mendudukkan dirinya. Sudah cukup lama Ara menahan ingin buang air kecil.
“Mau Mas temenin?” Tanya Rava sambil menahan pergelangan tangan Ara.
“Mau ngapain temenin Ara pipis?” Mengernyitkan dahinya, Ara menatap linglung pada Rava.
“Temenin di luar toilet, sayang..”
“Gak perlu. Udah ya lepas sebelum Ara ngompol!” Menepis tangan Rava dengan gerakan cepat Ara berlari. Tatapannya hanya tertuju pada satu tempat dengan simbol ‘TOILET’ yang melekat di dinding.
“Hah.. Lega.. Akhirnya bebas.” Seakan baru saja menghirup udara segar untuk pertama kalinya, Ara bersorak riang. Namun sayang, senyumnya luntur seketika.
...****************...
Hayoo.. Kenapa kepiting kalau dimasak jadi berubah warna jadi merah?
__ADS_1
Jadi, udang, kepiting dan sejenisnya yang masih tergolong Crustacea memiliki pigmen karotenoid bernama astaxanthin di exoskeleton atau kerangka (cangkang) luarnya.
Sebelum dimasak, astaxanthin yang ada di kulit terluar udang atau kepiting masih terlindung dengan rantai protein yang disebut crustacyanin.
Karena protein crustacyanin tidak tahan panas, maka saat dimasak ikatan protein crustacyanin akan mengurai secara perlahan dan warna merah dari zat pigmen astaxanthin akan terlihat.
Dimana pigmen dari zat astaxanthin dapat dilihat sebagai warna merah, kuning, oren dan merah tua. Sama seperti astaxanthin, crustacyanin juga berperan dalam menciptakan warna biru pada hewan Crustacea.
Oleh karena itu, kandungan crustacyanin menyebabkan udang ataupun kepiting cenderung berwarna gelap saat masih hidup sehingga bisa menyerupai lingkungan habitatnya.
Akumulasi astaxanthin berlangsung melalui metabolisme konsumsi makanan yang akan membentuk warna pada tubuh dengan sifatnya yang tidak stabil atau berubah tergantung kemampuan sel mensintesis senyawa tersebut.
Astaxanthin sendiri merupakan pigmen yang larut dalam lemak tetapi tidak larut dalam air atau dapat disebut bersifat non polar.
(Masak udang atau kepiting berasa masak power rangers aja ya.. Bisa berubah kostum.😎)
*
*
*
Ada masalah apa sampai senyum Ara luntur?🤔
(Mules lagi kali ya..🤭)
*
*
Bab sebelumnya Hana cuma ‘canda’ aja kok. Ara itu ketawa sama Dimas gara-gara Yuki waktu mau minum tapi matanya fokus main ponsel, jadi deh yang mau nyeruput lubang hidungnya.😂
Slot cogan selanjutnya kita siapkan di kisah Yuki aja ya..😊
*
__ADS_1
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰