
“Apa kamu sekarang sadar kalau sudah lama ada Ara di hati kamu??” Pertanyaan itu tajam. Suara bergetar nan parau itu dipaksa setegas mungkin. Mengepalkan tangan di atas pahanya, bukan amarah yang sedang menggelora, namun Dinda butuh menyalurkan sesak di dadanya.
“Hah..!!” Menghela nafas perlahan namun berat, Dewa tidak menyangka untaian pertanyaan itu akan terucap dari bibir Dinda. Keterkejutan yang sempat menerpa sesegera mungkin Dewa tutupi.
“Tidak.. Baru semalam aku menyadari rasaku pada Ara bukan benci, tapi kekalutan yang tidak berani aku tepis kala itu. Bodohnya aku yang baru menyadarinya.” Sakit. Jantung Dinda seakan diremas tangan tidak kasat mata.
Penuturan Dewa berhasil menghancurkan hatinya, meski rasa cinta yang Dewa pertanyakan memang terasa ambigu untuknya. Sedangkan Dewa yang lebih memilih jujur dalam pengakuannya langsung dilanda penyesalan. Sayangnya bukan penyesalan akan ucapannya pada Dinda, namun rasa yang terlambat ia sadari selama ini.
‘Bolehkah aku tetap egois menyimpan mu hanya untuk aku seperti dahulu?’ Gumam Dinda dalam hati. Dinda belum bisa menerima kenyataan kandasnya hubungannya dengan Dewa.
“Dinda.. Ayo, kita akhiri lagi dengan baik-baik kisah kita berdua.” Rasanya Dinda ingin tertawa terbahak-bahak pada nasibnya.
Hidup bagai terkurung di dalam kastil tidak bertuan. Tidak ada keharmonisan keluarga, apalagi dengan kakak kandungnya. Dinda bagai seorang musuh yang harus dilenyapkan.
Lahir dari seorang selingkuhan yang tidak pernah dinikahi Ayahnya, bahkan kehadiran sang Ibu tidak pernah diakui dunia. Dipisahkan secara paksa hingga ajal menjemput sang Ibu sukses membuat Dinda tumbuh dalam lingkungan yang sangat buruk. Ayahnya sibuk, Kakaknya membencinya, belum lagi para pembantu yang sangat bermuka dua. Ia bak tuan putri yang selalu dilayani, namun di belakangnya selalu terhina.
Penyesalan ayah Nindy dan Dinda menghancurkan hidup kedua anaknya. Berselingkuh hingga menghasilkan seorang bayi tidak berdosa mengejutkan Ibu Nindy hingga membuatnya sakit-sakitan. Lucunya kenangan dan rasa cinta kembali membuncah kala Ibu kandung Nindy alias sang istri sah dalam kondisi kritis. Hingga sebuah janji terucap tidak akan menemui selingkuhannya asal istri sahnya sembuh.
Sayang, begitu janji itu terbalas oleh senyuman, saat itu juga sang istri menghembuskan nafas terakhirnya. Tentu lagi-lagi hanya penyesalan yang tersisa. Janji itu tetap ditepati tanpa memikirkan nasib Dinda kecil yang masih bayi, meski Nindy juga tidak akan bahagia dengan kehadiran Ibu kandung Dinda.
“Ada satu hal yang ingin aku akui ke kamu..” Menarik nafasnya dalam-dalam, Dinda sedang memantapkan keberaniannya.
“Apa yang kamu tuduhkan dulu benar. Aku memang pernah tidur dengan beberapa laki-laki.” Lanjut ujaran Dinda.
Terbelalak melebarkan kelopak matanya, Dewa juga mengepal kuat hingga tangannya memucat. Meski ia sudah yakin tuduhannya tepat, namun mengetahui dari mulut Dinda yang selama ini ia jaga sungguh sangat melukai harga dirinya.
Dinda memilih kebenaran itu terucap dari bibirnya. Ia tidak akan sanggup menghadapi Dewa lagi bila semua itu diperdengarkan pada Dewa dari orang lain. Belum lagi Nindy yang notabene tidak menyukainya bisa saja justru memperkeruh segalanya.
“Maafkan aku yang jadi lebih menjijikan untuk mu. Tapi aku tidak bohong kalau laki-laki yang dulu sempat mengaku sebagai pemakai jasa ku itu bohong. Aku tidak pernah menjajakan tubuhku demi segelintir rupiah.” Menunduk meremas lututnya yang melemah, keberanian Dinda luntur seketika.
“Kenapa kamu merusak dirimu sendiri?? Bukannya dulu aku selalu bilang untuk menjadikan aku sandaran kamu? Bukannya aku selalu minta kamu untuk berbagi cerita dengan aku?? Apa kamu gak pernah menganggap aku sebagai sosok manusia, bukan barang yang bisa kamu kendalikan??” Lidah Dinda kelu. Tidak ada jawaban yang tepat untuk membalas semua pertanyaan Dewa.
__ADS_1
Kini Dinda benar-benar tersadar bahwa tidak ada apapun yang bisa diselamatkan dari hubungannya dan Dewa. Keduanya hanya sama-sama bertahan pada sebuah status hampa karena terbiasa bersama.
“Lebih baik kita akhiri pembicaraan kita ini!!” Ucap Dewa ketus. Menatap sinis ke arah Dinda yang tampak mengenaskan.
“Ayo, Berdiri..!! Aku akan mengantar kamu pulang sampai ke rumah.” Melangkah terlebih dahulu, Dewa sudah berjalan meninggalkan Dinda.
“Dewa..!! Tunggu..!!” Teriak Dinda sambil berlari hingga langkahnya terhenti paksa. Mematung menatap adegan saling tatap di hadapannya.
“Maaf..” Suara datar terlontar dari wajah tidak kalah datarnya. Tampak malas dan jengah hingga membuang pandangannya ke sembarang arah.
‘Ara..’ Ujar Dewa dan Dinda di dalam hati serentak, namun dengan rasa yang jelas berbeda.
“Sayang hati-hati.. Kamu kenapa lari ninggalin Mas?” Ucap Rava sambil menekan kata ‘sayang’. Melangkah lebar dan berdiri memutus pandangan seseorang, Rava sudah memunggungi Dewa. Menyembunyikan sosok gadis mungil yang sibuk mengernyitkan dahinya. Rava cukup sensitif alias pencemburu akut yang gampang peka pada calon-calon pesaingnya.
Sedangkan Ara yang tadi sempat sekilas bertemu pandang dengan sorot mata Dewa hanya membatin heran. Ada binar yang sangat kontras dengan aura permusuhan yang selama ini selalu Ara dapatkan dari sosok Dewa.
“Pak Rava..” Sapa Dewa sopan. Mau tidak mau, suka tidak suka, Dewa bisa didepak kapan saja bila bertindak melewati batas kepada Rava.
“Kamu sama pacar kamu?” Tanya Rava yang mulai menyadari kehadiran Dinda.
“Pacar?” Dewa membeo, bingung akan pertanyaan Rava. Bahkan ia melupakan kebersamaannya dengan Dinda barusan.
“Itu di belakang kamu. Jika kalian sedang marahan, tolong jangan saling meninggalkan.” Pesan Rava pada Dewa yang dengan canggung diangguki. Pasti Rava berpikir aneh-aneh, begitu batin Dewa.
“Mas, udah tutup matanya. Gelap banget nih..” Protes Ara yang sedari tadi sudah menahan untuk diam saja. Menarik paksa telapak tangan Rava yang enggan berpindah posisi.
“Udahan ya.. Ayo kita lanjut kencan lagi.” Ucap Ara lirih, merangkul lengan Rava dan sedikit menariknya. Ara sedang berusaha membujuk Rava agar segera menjauh. Sungguh tidak nyaman bagi Ara yang tiba-tiba saling mengunci tatapan dengan Dinda.
Masih membekas jelas bagaimana perlakuan Dinda padanya. Bukan takut, Ara hanya teramat sangat kesal hingga muak dengan apapun yang berhubungan dengan Dinda.
“Saya permisi dulu kalau begitu, Dewa. Calon istri saya sudah gak sabar untuk jalan-jalan.” Tersenyum puas, Rava sedang menegaskan keberadaan posisi Dewa. Sebuah klaim samar yang hanya para laki-laki yang tau artinya.
__ADS_1
“Mas Rava tadi kenapa pakai tutup-tutup mata Ara?” Tanya Ara sok polosnya. Mengerjab menggemaskan dengan mata bulat yang berbinar, Rava terkekeh menyadari Ara yang sedang berakting.
“Saya gak suka mata cantik kamu lihat laki-laki lain.” Ucap Rava santai.
“Kalau gitu kenapa sekarang gak ditutupi juga?? Ara barusan liat Abang-abang ganteng yang jual balon Spongebob loh..” Tantang Ara dengan nada menggoda. Mendayu lembut namun juga sedang mencibir alasan dari tindakan Rava. Sedangkan Rava langsung mengedarkan pandangannya.
...****************...
*
*
*
Kira-kira perasaan Dewa pada Ara akan membuat Dewa maju atau diam di tempat?🤔
Status Ara dan Rava, pacaran atau apa ya?🤔
*
*
Lagi-lagi Hana mau bertanya, gimana nih pendapat Kakak-kakak semuanya setelah diungkap dari kisah Dinda?😄
Oya, bonus visual Dewa dan Dinda ya di bawah ini👇👇
*
__ADS_1
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰