
Seulas senyum tipis terukir di bibir Ara. Raut wajahnya secerah sinar sang mentari yang masih setia menyinari, meski sesekali tertutupi awan putih yang tebal.
Melangkah dengan percaya diri dan bangga pada pencapaiannya, tanpa dijelaskan siapapun bisa menarik kesimpulan jika seminar hasil penelitian Ara sukses. Aura positif benar-benar menguar dari diri Ara yang doyan berwajah datar. Kini senyum merekah itu belum juga luntur.
“Gimana-gimana?” Tanya Yuki memberondong Ara, telapak tangannya sudah menempel di lengan Ara yang terbungkus kemeja putih berbalut jas hitam.
“Udah senyum selebar parabola gitu gak perlu ditanya juga udah jelas, Kicot!” Tukas Dimas sambil merotasi matanya jengah. Menurut Dimas, Yuki terlalu lebay sampai melebihi kapasitas.
Mendengus sebal mengabaikan ucapan Dimas, Yuki melepas untaian permen lollipop yang seperti kalung besar dari lehernya. “Selamat ya Ara udah berhasil sampai sini. Semoga aku cepat nyusul.” Ucap Yuki sembari memindahkan kalung lollipop itu melingkari leher Ara.
“Gaya-gaya berharap semoga cepat nyusul, lusa kan kamu seminar, Ki.” Ucap Dimas ketus.
“Merusak suasana banget sih, Dim! Ini itu yang namanya basa-basi belaka.” Mendelik sebal, Yuki melirik sinis ke arah Dimas.
“Jadi gimana, Ra?” Ucap Yuki lagi, namun kali ini ditujukan untuk Ara. Binar matanya tidak dapat berbohong bahwa dirinya ikut bahagia atas pencapaian Ara.
“Berhasil..” Ucap Ara puas, mengangkat map oren berisi berkas persetujuan dari para Dosen pembimbing dan penguji.
“Aaaa.. Selamat..!!” Pekik Yuki riang, melompat kecil bersama Ara layaknya anak-anak sedang bermain trampoline. Sejenak dunia terasa hanya milik mereka berdua. Sedangkan Dimas seolah menjadi seorang Ayah yang berdiri diam mengawasi kedua anaknya bermain.
“Akhirnya perjuangan aku tinggal sebentar lagi.” Ucap Ara masih dengan senyum sumringah. Tidak dapat lagi didefinisikan bagaimana tunas-tunas kebahagiaan di hatinya yang mulai memunculkan kuncup daun baru itu tumbuh.
Beralih mendudukkan dirinya di kursi panjang, Ara memasukan ke dalam kantong kresek beberapa jilid proposal penelitian miliknya dari awal mulai revisi hingga sebuah proposal yang sudah mendapat seluruh tanda tangan Dosen di bagian sampul depannya. Tujuan dari tanda tangan itu tentu saja sebagai bukti bahwa naskah proposal itu yang sudah disetujui untuk kembali disusun.
“Apaan sih kok rame-rame?” Tanya Yuki penasaran, sedangkan Ara sibuk menyatukan berkas-berkas baru sebagai bukti proposal skripsi miliknya sudah disetujui untuk diajukan dalam sidang skripsi nantinya. Meski tetap harus melewati beberapa tahap revisi kembali.
“Astaga Ara..!!” Pekik Yuki tertahan, namun bukan suara Yuki yang membuat Ara geram, akan tetapi guncangan seenaknya di bahu Ara hingga membuat kepalanya seakan terombang-ambing tidak jelas di udara.
__ADS_1
“Yuki udah! Pusing aku.” Keluh Ara sambil mencengkeram pergelangan tangan Yuki.
Menghela nafas perlahan, Ara menatap bingung pada Yuki yang tersenyum penuh makna. “Kenapa?” Mengernyit heran, Ara bertanya sambil memiringkan kepalanya.
“Liat itu!” Ucap Yuki lirih, suaranya rendah tertahan. Dengan sedikit gerakan Yuki mengedikkan dagunya ke kanan, namun matanya tetap menatap lekat pada sepasang pupil mata Ara.
“Apaan sih?” Ucap Ara sambil menggeleng tidak perduli, mengabaikan kode keras Yuki dan kembali terfokus pada lembaran di pangkuannya. Otak Ara terlalu penuh dengan banyak hal yang sudah dirancang untuk masa depan.
“Lama!” Tiba-tiba Dimas berucap cepat, dengan tidak sabarannya ia memegangi kepala Ara, memutar wajah terkejut Ara menatap seseorang yang juga terbelalak kaget atas perlakuan Dimas pada Ara.
“Mas Rava?” Ucap Ara penuh tanya, ia segera menepis tangan Dimas dan beranjak dari duduknya. Seketika wajah muram yang memberi sorot mata dingin pada Dimas itu berubah ceria.
Merentangkan tangan lebar-lebar, Rava bukannya mendapat pelukan seperti bayangannya. Dapat dipastikan Ara justru memukul kecil lengan bawah bagian kanan Rava. Gemas dan geram rupanya bisa terasa beda tipis, terbukti itulah yang Ara rasakan saat ini.
“Gak usah aneh-aneh!” Ucap Ara ketus dengan mata melotot tajam. Sekilas Ara melirik ke sekelilingnya yang tertawa kecil, melipat bibir menahan kedutan yang terpaksa ditahan karena lirikan garang mata Ara.
“Jangan cemberut gitu, Sayang..” Ucap Rava memecahkan keterdiaman mereka berdua.
Tersenyum tanpa menjawab, Rava menyodorkan buket bunga yang sudah sedari tadi ada di tangannya. “Selamat ya, Sayang.. Kamu berhasil.” Ucap Rava sama bangganya pada perjuangan Ara yang tinggal sedikit lagi bisa menyelesaikan tugas akhir kuliah dan meraih gelar Sarjana.
“Sayang nya Mas hebat banget sih..” Ucap Rava lagi, mengulurkan sebelah tangannya yang kosong mengusap puncak kepala Ara. Sangat kentara kasih sayang dan cinta Rava untuk Ara hingga membuat beberapa pasang mata yang melihatnya iri, termasuk Yuki yang seketika ingin menangis membayangkan kisah cintanya yang miris.
“Terima kasih, Mas.” Ucap Ara lembut, meraih uluran bunga dari tangan Rava yang aromanya sudah menggelitik rongga hidung Ara. Beruntung aroma wangi itu tidak semenyengat parfum Jona, jika tidak, mungkin Ara sudah bersin-bersin tidak bisa menahan rasa geli di hidungnya.
“Seharusnya gak usah bawa kayak ginian, Mas.” Ucap Ara sambil menatap lesu pada rangkaian bunga segar yang sudah berpindah ke tangannya.
__ADS_1
“Gak apa-apa, Sayang. Cuma bunga aja, kamu minta yang lain juga Mas kasih.” Ucap Rava sambil meraih salah satu tangan Ara, menggenggam santai tanpa perduli tatapan mata iri dan baper dari setiap orang yang memandang.
“Bukan gitu. Sayang aja bunganya ini bakalan mati juga.” Celetuk Ara sesal, memandang sendu bunga segar yang sebentar lagi ia yakini akan segera layu.
“Nanti kita beli vas bunga yang cantik. Kita taruh di vas bunga yang ada airnya.” Ucap Rava menenangkan. Memang Rava sempat bimbang untuk membelikan Ara buket bunga atau tidak, meski di dalam mobil sudah ada satu buket berisi lembaran merah yang pasti akan Ara sukai.
“Tetap aja nanti bunga ini mati, Mas. Dikasih air hanya memperlambat sedikit kematian bunga ini.” Seloroh Ara sambil meneliti buket cantik di tangannya. Sepersekian detik kemudian Ara kembali tersenyum, menatap Rava memamerkan deretan gigi dari kedua sisi bibir yang tertarik ke atas hingga pipi gembul nya menyembul.
“Cantik banget buket nya.” Ucap Ara sembari menundukkan kepala, berniat mencium kelopak bunga berwarna putih yang menarik perhatiannya. Namun tinggal berjarak dua ruas jari saja dari hidung Ara menyentuh kelopak bunga itu, rasa gatal tanpa permisi di hidungnya langsung mendobrak dengan brutal.
“Hatchiih..!!” Menutup hidung dan mulutnya dengan punggung tangan, Ara tidak berhasil melepaskan tangan kanannya dari genggaman Rava.
Sroott..
Menarik cairan yang terasa hampir terjatuh, hidung Ara sudah memerah. Berulang kali Ara bersin-bersin akibat tidak tahan dengan bau wangi alami yang ternyata cukup kuat jika dihirup dalam jarak dekat.
...****************...
*
*
*
Novel ini ganti cover lagi?🧐
__ADS_1
IYA, GANTI.. KALI INI DIBUATIN NOVELTOON. AKU CUKUP SUKA JUGA SAMA COVER BARUNYA😆
Kalau teman-teman yang baca gimana?😁