
Bersandar pada kursi kemudi, Rava memejamkan matanya. Usapan lembut Ara sukses meredakan kobaran amarah yang berangsur menipis.
Melemaskan punggungnya, nafas Rava mulai terdengar stabil. Memejamkan rapat sepasang kelopak matanya, sepersekian detik kemudian Rava mengerjap perlahan, menatap Ara dengan perasaan bersalah yang semakin kuat.
“Udah ya Mas..” Ucap Ara lirih, berusaha tidak ikut tersulut emosi meski ia sangat ingin menjambak Feby.
Lama-lama Ara ikut kesal saat mengingat bagaimana dirinya dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Walaupun awalnya Ara tidak sadar, namun lambat laun karena Yuki yang sering memarahi siapapun yang terdengar mencibir Ara, jelas membuat Ara tersadar bahwa dirinya sedang dijadikan objek ghibah.
“Maafin, Mas.” Ucap Rava memohon maaf pada Ara. Bagi Rava semua itu tidak akan terjadi jika Rava bisa menjaga Ara dengan lebih baik lagi dan tentunya tidak menempatkan ular tak berbisa namun menggigit di dekat Ara.
“Mas gak salah. Lagi pula siapa yang tau kalau Feby bisa bertindak sejauh itu. Tapi tetap aja, Ara gak suka sama sikap Mas yang langsung datang marah-marah tadi. Malu Mas udah tua gini bikin ribut di tempat orang.” Ucap Ara, mencondongkan tubuhnya mendekap Rava yang tampak lebih kacau dari pada dirinya. Perlahan tangan Ara terulur mengusap punggung kokoh Rava.
Ara bahkan bingung, seharusnya dirinya yang ditenangkan karena mendapati fakta penyebar gosip murahan rupanya orang yang selama ini bersikap baik padanya. Bukannya justru layaknya orang yang mengambil peran sebagai penengah masalah.
Sedangkan Rava jelas merasa bersalah di banyak hal, belum lagi cekcok yang sempat merenggangkan hubungannya dengan Ara bermula dari rentetan foto yang Feby kirimkan padanya. Meski begitu, Rava tetap tidak suka dengan kedekatan Zen dan Ara.
“Oh ya, Mas dapat dari mana rekaman itu?” Tanya Ara tiba-tiba, menjauhkan diri dari Rava yang nyatanya gagal karena langsung ditahan oleh lengan posesif Rava.
“Mas ceritain, tapi jangan menjauh. Mau peluk.” Rengek Rava yang enggan melepas rengkuhannya dari bahu Ara.
“Tapi Ara pegal pinggangnya, Mas. Encok tau!” Keluh Ara pada Rava yang langsung membuat Rava menegakkan punggungnya. Spontan tangan Rava berpindah menyentuh pinggang Ara, menekan pelan seolah sedang memijat, namun secepat kilat langsung ditepis oleh Ara. Beringsut sedikit menjauh, Ara mencari posisi yang enak dalam duduknya.
“Kita pergi dulu dari sini, Mas. Sambil di jalan aja ceritanya.” Usul Ara pada Rava, percuma jika mereka berpamitan pulang jika nyatanya justru bertapa dalam mobil di pelataran Kafe.
Menuruti permintaan Ara, Rava melajukan mobilnya. Perlahan tapi pasti Rava mulai bercerita, mengalir tanpa hambatan karena Ara tetap setia mendengar tanpa menyela. Hanya beberapa kali Ara memekik dan spontan memukul Rava. Tidak dapat dihindari fakta Rava memata-matai setiap pergerakkan sukses membuat Ara bergidik ngeri dan merinding disko.
Namun semua itu tidak menutup perasaan haru, syukur dan bahagia yang menyerang secara bersamaan. Ara tidak pernah menyangka bahwa Rava sesayang itu pada dirinya. Dari kompres demam, kotak makan siang gratisan hingga orang yang tiba-tiba menolong saat motor Ara mati di jalanan yang terbilang cukup sepi lalu-lalang dan tentunya masih banyak lagi hal baik yang Ara terima.
__ADS_1
Tapi sayangnya Rava masih menutupi fakta dirinya terlibat bersama Ega menjebak Dinda dan orang tua Dinda, salah satunya dengan memanfaatkan rasa bersalah seorang Gama Rusdian yang Ara kenal dengan nama Gus. Biarlah itu menjadi rahasia. Jika memang terungkap, maka Rava akan menjelaskan secara perlahan dan memberikan pengertian pada Ara.
“Rupanya Lea yang kirim ini semua. Memang sih beberapa waktu sebelum pulang dari Desa L mereka sempat cekcok. Ara gak pernah menyangka kalau mereka kayak gitu gara-gara Ara.” Ucap Ara sesal. Karenanya kini Lea juga ikut terlibat dalam masalah yang menyangkut dirinya.
“Jadi Mas dari kemarin uring-uringan karena foto-foto yang Feby kirim?” Tanya Ara dengan tatapan yang menyiratkan kekecewaan. Tanpa dijelaskan juga sikap Rava seolah meragukan cinta Ara, serta membenarkan bahwa Ara hampir berpaling atau bahkan mengkhianati cinta Rava, begitu pikir Ara.
Mengangguk lesu, Rava mengeratkan genggamannya. Perasaannya yang masih kacau, justru bertambah buruk karena bayangan hasil jepretan Feby langsung melintas di pelupuk matanya.
“Sini ponsel kamu, Mas. Ara mau lihat foto kayak gimana yang Feby kasih ke Mas.” Pinta Ara tanpa melepas genggaman Rava, tubuh Ara menyondong dengan dada sedikit membusung, tangan kirinya terulur meraih ponsel Rava di dashboard mobil.
Ara memang meminta, tapi tanpa diberi ia sudah mengambil alih ponsel Rava. Menyodorkan ponsel itu pada Rava agar sang pemilik membuka layar kunci ponsel.
“21426339.” Ucap Rava menyebutkan angka kode kunci layar ponsel miliknya. Sejenak Ara merasa familiar dengan angka yang Rava sebutkan. Ara seakan pernah mendengar deretan angka yang Rava ucapkan, namun ingatannya buntu tidak dapat menemukan dimana dan kapan pernah mendengar angka itu disebutkan.
“Ulangi Mas.” Pinta Ara lagi yang baru berhasil menekan 4 angka dari 8 angka yang harus ia masukan agar kunci layar ponsel Rava terbuka.
“Ara buka ya, Mas?” Ucap Ara yang seolah bertanya, nyatanya jari-jari lentik tangan kiri Ara sudah berselancar dalam kotak pesan di ponsel milik Rava. Mengendalikan ponsel dengan satu tangan, Ara sedikit kesulitan. Namun mau bagaimana lagi jika Rava tidak rela melepas genggaman tangan kanan Ara.
Memasuki kotak pesan bernama ‘Laporan’ yang rupanya adalah Feby, membuat Ara menggeleng tidak percaya pada Rava yang bisa-bisanya memberi nama kontak Feby di ponselnya seperti itu. Tentu saja Ara bisa mengetahui nama ‘laporan’ adalah Feby langsung dari Rava, karena Ara sempat mencari nama Feby yang tidak kunjung ditemukan.
Sedetik kemudian Ara terbelalak tidak habis pikir pada beberapa foto yang tertangkap indera penglihatannya. Bahkan dari banyaknya foto yang ada, Ara hanya tau betul pada sebuah foto yang memang sengaja diambil ketika mereka sedang liburan di Desa L. Tujuan mereka saat itu jelas untuk mengesampingkan sejenak agenda bakti Desa guna menyegarkan pikiran sesaat.
Memang di foto itu hanya ada Zen dan Ara, namun bukan berarti mereka hanya berdua, karena Lea lah yang mengambil foto itu atas permintaan Zen. Bahkan di hadapan Ara terdapat Arini dan Lea, sedangkan anak-anak lain serta Feby sibuk berkelana, bermain sepuasnya dan hanya berjanji untuk berkumpul kembali setelah puas bermain sendiri selama satu jam penuh.
“Ara gak nyangka loh Mas kalau Feby bisa setega itu. Selama ini Ara jarang interaksi sama dia. Dekat juga baru-baru ini aja. Tapi kenapa dia setega itu?” Ucap Ara dengan tanya yang sarat akan kekecewaan.
__ADS_1
“Mas juga gak tau Yang. Awalnya Mas kira dia anak baik-baik. Apa lagi Mas memang kenal sama Ayah nya yang kerja sekantor sama Mas.” Ucap Rava menjawab pertanyaan Ara. Ia juga tidak tau pada motif sebenarnya atas sikap Feby yang membuatnya panas mendidih.
“Udah ya Sayang, Mas minta maaf udah nyakitin kamu dari kemarin. Marah-marah gak jelas yang bikin kamu kesal.” Ucap Rava lembut sembari menarik tangan Ara dalam genggamannya, mengecup sekilas punggung tangan gadis kesayangannya.
“Kamu lupakan aja dia. Kalau terus-terusan kamu pikirin gini hanya buang-buang waktu dan bikin kamu pusing.” Lanjut Rava berucap agar Ara tidak terlalu memikirkan ulah menyebalkan seorang Feby.
...****************...
*
*
*
Apa arti dari angka '21426339' bagi Rava?🤔
Clue :
21 \= Nama Ara (Aara)
39 \= Arti nama Ara dan Rava
Fyi, kalau tau arti nama Ara, pasti bisa lebih mudah tebak arti nama Rava yang Hana maksud😎
Buat yang udah sadar dari awal sama salah satu arti nama Rava dan Ara, pasti udah bisa nebak kalau dari awal memang couple ArVa ini udah Hana jodohkan😄
Jadi pengen buat tag terus diskusi bersama memecahkan misteri angka😆
__ADS_1