Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Panggil Aku Mas!


__ADS_3

"Devga.." Mengatupkan gigi serapat mungkin, sorot mata tajam dan rahang mengeras, geraman suara Ara terdengar sangat menakutkan.


"Divta Mahendra." Ucapan Ara berlanjut seiring langkah kaki pemilik nama yang disebut Ara mendekatinya.


"Gak sopan. Panggil aku Mas!! Aku lebih tua." Perintah sosok bernama Devga atau yang biasa dulu Ara panggil Mas Ega.


"Lebih tua karena terpaksa lahir duluan." Tatapan meremehkan Ara menusuk dada Ega.


"Kamu berubah ya Dek?" Menatap nyalang, Ara menyorot sosok yang lebih tinggi 25 cm darinya itu. Tatapan remeh dari mata Ara hilang tergantikan sorot mata penuh amarah, luka, kesedihan dan kekecewaan.


'Dek?' Ucap Ara miris dalam hati.


Bila dulu panggilan 'dek' menjadi hal yang paling ingin Ara dengar. Berbeda saat ini yang sungguh muak Ara dengan panggilan itu bila diucapkan oleh mas Ega.


"Hak apa anda berani panggil saya 'dek'?" Bersedekap memalingkan muka Ara malas berlama-lama bersama Ega.


"Kamu Adik ku, jelas aku ada hak panggil itu."


"Anda itu cuma anak adik Mama saya. Saya yang lebih berhak di panggil mbak di sini, karena saya anak dari kakak Ibu anda. Anak dari TAN-TE anda sendiri." Ara sengaja menekan kata ’tante' untuk meluapkan rasa kesalnya. Bukannya Ara tidak terluka saat mengucapkan kalimat itu. Kata-kata tajamnya ikut menorehkan luka pada hatinya.


Deg!


Kali ini jantung Ega rasanya seperti di tusuk dan di remas-remas. Ara tidak peduli atau lebih tepatnya Ara tidak tahu jika celetuk ringannya mampu menyakiti orang yang sangat ia sayangi hingga kini.


"Segitunya dek kamu marah sama mas??" Nada suara Ega melemah. Menatap Ara sendu, Ega berusaha meraih tangan Ara.


"JANGAN PERNAH SENTUH AKU!! PERGI!! PERGI!!!" Menahan tangan bergetar terkepal di depan dada Ara berteriak histeris. Ketakutan akan sentuhan kembali menghantui pikiran Ara.


"ARA!!!" Bukan suara Ega yang membentak, tapi suara di belakang punggung yang Ara yakini milik Papa Yudith.


"APA-APAAN KAMU SAMA MAS MU KAYAK GITU!??" Lanjut Papa Yudith penuh emosi. Sikap Ara jelas tampak tidak sopan terhadap Ega yang dianggap sebagai anak sulung.


"Minta maaf sama Mas mu itu, Ra. Ayo!! Gak sopan sama Mas nya baru ketemu lagi kok bentak-bentak gak kangen-kangenan gitu.." Ucapan lembut Mama Lauritz sarat akan perintah pada Ara.


Mengabaikan perintah Mama Lauritz, Ara tatap wajah Papa-nya lekat, "Papa udah 2 kali loh bentak kakak. Ingatkan Pa yang pertama kapan? Demi DIA sekarang Papa bentak Ara lagi??" Menatap nanar Papa Yudith, telunjuk Ara mengarah tepat pada wajah Ega.


Keterkejutan tergambar jelas di wajah Papa Yudith mengingat akan hal apa yang Ara maksud. Rasa bersalah langsung menyelimuti relung hati Papa Yudith atas kejadian 5 tahun yang lalu.


"Sayang, bukan gitu maksud Papa nak. Papa cuma gak mau kamu meninggikan suara sama Mas mu sendiri. Gak sopan, nak." Jelas Papa Yudith.


Berlalu meninggalkan Papa Yudith, Mama Lauritz dan Ega tanpa berucap apapun lagi Ara berlari menuju kamarnya. Diraihnya tas selempang etnik dari kulit pohon yang sudah berisi ponsel, kartu Identitas dan beberapa lembar uang untuk naik angkutan umum. Ara tidak ingin mengendarai motornya karena gerak-geriknya akan mudah diketahui dari laporan teman-teman Papa Yudith yang sudah ada dimana-mana. Sangat mudah mengetahui keberadaan Ara menggunakan koneksi anggota perkumpulan motor Papa Yudith.

__ADS_1


"ARA!??" Panggilan meninggi Papa Yudith dan Mama Lauritz menggema bersamaan, namun kembali Ara abaikan. Ara sudah berlari menjauhi rumahnya sambil mencari keberadaan angkot, ojek bahkan taxi.


...----------------...


Disinilah saat ini Ara berada, taman di tepi sungai besar di bawah gemerlap lampu warna-warni yang tersorot dari atas jembatan Ara terdiam. Setelan bahan kain polos tipis abu-abu yang Ara kenakan, muka bantal efek baru bangun tidur sore tadi dan menangis menambah kemirisan kondisi Ara.


Hati Ara masih gundah memikirkan Ega. Bukannya Ega sudah tidak ingin mempunyai dan mengakui adik seperti Ara. Ega sendiri dengan lantang memutus hubungan adik-kakak itu, lalu dengan tidak tahu malunya masih bertanya apa Ara marah. Jelas saja tidak hanya kemarahan, namun juga kekecewaan dan kesedihan berat Ara rasakan.


Ara masih terus diam melamun, ia juga tidak ingin pulang ke rumahnya jika harus bertemu dengan Ega. Bisa Ara pastikan bahwa malam ini manusia itu pasti menginap, Mama Lauritz dan Papa Yudith tidak mungkin mengizinkan Ega pergi.


“Huh!!” Mendongakkan kepala ke arah jembatan, tatapan Ara menyipit. Bukan karena cahaya lampu yang menghiasi jembatan, namun 2 sosok manusia berlainan jenis yang sangat Ara kenali dan benci masih saling bertukar canda tawa bersama.


“Gak mungkin. Gak mungkin itu mereka.” Gumam Ara lirih sembari menggigit kuku ibu jari kirinya. Menggigit kuku jari tangan adalah salah satu kebiasaan buruk Ara yang sudah 4 tahun ini Ara alami bila ketakutan dan kekhawatiran melanda bersamaan. Meskipun sudah setahun belakangan intensitasnya berkurang akibat bantuan terapi oleh Dokter Dion.


Beranjak dari duduknya dengan kaki yang mulai melemah. Lututnya terasa lemas dan bergetar, nyeri dan ngilu ikut menyerang tulang kaki dan pergelangan tangan Ara. Pipi Ara terasa panas, sakit dan nyeri seperti habis ditampar. Ingatan masa lalu kembali muncul menyeruak menyesakan pernafasannya. Rasa tamparan di pipinya pada masa lalu juga kembali terasa jelas.


Langkah cepat dan berat Ara lama-kelamaan melambat, kepalanya kembali berdenyut, matanya sudah berkabut. Nafas yang memburu tersengal, Ara tetap memaksa menghirup seluruh oksigen yang ada di ruang terbuka namun terasa sempit.


Setiap pasang mata yang melihat Ara bingung dan bertanya-tanya pada sosok Ara yang tampak kacau itu. Akan tetapi berbeda bagi Ara yang melihat tatapan mata itu bagai belati yang menghunus menyekat rongga dadanya.


“AAARRGGGHHH!!!!” Dalam satu tarikan nafas Ara keluarkan teriakan histeris keputusasaan.


Byuurr..!!


Flashback On


“Eugh.” Mengerjap perlahan mata Ara mulai menyesuaikan penglihatannya. Tengkuk dan bahunya terasa sakit seperti habis terkena pukulan benda keras. Belum juga Ara benar-benar tersadar, ia dikejutkan oleh suara 3 sosok laki-laki di dekatnya.


“Adik manis udah bangun?” Ucap salah satu laki-laki berbadan gembul.


“Ayo main sama abang-abang sini sayang.” Suara lain muncul dari sosok hitam manis di sebelah kiri Ara.


“Hahaha.. Coba lihat deh mukanya pucat gitu. Kasihan Bro kalau lama-lama, sikat aja.” Kali ini laki-laki berwajah imut dengan lesung pipi, namun bisa Ara lihat bahwa mereka jauh lebih dewasa dari Ara.


“Gaya banget bilang kasihan. Bilang aja udah ngebet!” Celetuk laki-laki gembul.


“Ka-kalian siapa??” Suara bergetar Ara keluarkan saat sepenuhnya sadar. Radar tanda bahaya juga sudah Ara pasang, namun ia harus hati-hati. Beruntungnya hanya tengkuk dan bahu yang terasa sakit, tidak ada tanda-tanda kekerasan lain apalagi kondisi ikat-mengikat seperti pada adegan penculikan di film yang pernah Ara tonton.


“Duh dek manis banget sih kamu, mana polos lagi.”


“Ini sih si Dinda yang emang sirik sama ni bocah kalau kayak gini.”

__ADS_1


“Kayak gak hafal Dinda aja, munafik sirikan. Lagian kena enak juga kita.”


“Enak banget Bro.. Dapat duit, dapat yang bening polos juga. Hahaha..”


Ara masih mencoba mencerna arah pembicaraan ketiga laki-laki asing itu hingga sentuhan di paha menyadarkannya. Mata Ara membulat kala rok seragam sekolahnya disingkap oleh tangan dari sosok hitam manis yang seenaknya menyentuh paha polosnya.


Menepis kasar tangan laki-laki itu, “Jangan kurang ajar ya!!” Suara meninggi Ara mengisi seluruh ruangan terbengkalai.


Baru Ara sadari bahwa ia berada dalam bangunan tua dan tidak terurus. Ara berada pada ruangan tanpa pintu, kaca jendela yang pecah, jangan lupakan cat dinding terkelupas yang mungkin mulanya berwarna kuning, namun lantai tempat Ara duduk tadi lumayan bersih.


“Galak juga geng ni bocah. Hahaha.. jadi makin seru.”


“Udah sikat aja langsung.”


“Apa-apaan kalian?? PERGI!! JANGAN DEKAT!!” Beringsut mundur Ara menepis tangan laki-laki gembul yang menahan pergelangan tangannya. Otaknya sudah benar-benar mencerna situasi yang terjadi, ia pasti akan dilecehkan.


Srett.


Sreekk.


Bugh!!!


...****************...


*


*


*


Apa akan terjadi baku hantam sengit?🤔


*


*


Semua yang akan terjadi hanya imajinasi abal-abal Hana, harap dimaklumi bila masih kurang menegangkan 🤭


*


Terima kasih untuk yang sudah memantau kisah Ara dan memberikan dukungannya untuk Hana🥰

__ADS_1


__ADS_2