
Berdiri terpaku menanti di depan rumah satu lantai berwarna hijau tosca dengan pagar besi putih setinggi bahu Ara. Ara dan keluarganya sudah sampai di Kota K menjelang tengah hari. Cuaca terik menyengat tidak mampu tersamarkan oleh hamparan sawah yang membentang luas. Jangan membayangkan Kota K dengan banyak gedung menjulang tinggi, deretan pertokoan dan kantor memang banyak, namun tidak sebanyak persawahan dan perkebunannya.
"Hai Mas bro.. Udah lama gak ketemu gini apa kabar Mas?" Sapa ramah pemilik rumah.
"Baik, sehat semua ini Rud. Keluarga mu apa kabar Rudi??" Ucap Papa Yudith sambil menyodorkan tangannya.
"Sehat lah.. Gak lihat ini aku juga tambah mancung??" Ucap sosok teman Papa Yudith yang bernama Om Rudi itu sembari menepuk pelan beberapa kali perut buncitnya dengan tangan kiri. Tangan kanannya membawa Papa Yudith memasuki pekarangan rumah miliknya.
"Buk.. Tamu jauh kita udah datang ini." Teriak kuat Om Rudi dengan riang.
"Ayo masuk Mbak.. Gak usah sungkan, anggap aja rumah sendiri." Senyum ramah istri Om Rudi mempersilahkan keluarga kecil Papa Yudith masuk. Mata Ara, Jona dan Rian seketika berbinar saat baru saja kaki mereka melangkah masuk ke ruang tamu. Sudah ada banyak cemilan dan es sirup jeruk yang tampaknya baru saja disiapkan mengisi meja ruang tamu.
"Maaf ya Mbak jadi ngerepotin.. Pulangnya dadakan juga soalnya." Ucap Mama Lauritz dengan rasa sungkan pada keluarga teman suaminya di Kota K.
"Gak apa-apa Mbak.. Wong aku yang nawarin Mas Yudith nginap di rumah waktu Mas Yudith bilang mau pulang." Ucap Om Rudi cepat kemudian menghilang bersama Papa Yudith entah kemana.
"Ini Ara ya?? Udah gadis ya sekarang.. Lupa ya sama Tante?? Ini Tante Yuni, kamu suka main sama Mbak Siska dulu waktu kecil kalau ke rumah." Ucap Tante Yuni membawa Ara duduk dalam rangkulan di sampingnya.
"Hehe.. Iya Tante." Ucap Ara canggung. Ingatan itu samar. Kenangan masa kecilnya sudah tercampur aduk tidak karuan, hanya tersisa jelas ingatan kelam yang sering menghantui Ara.
"Masih suka hafal kali-kali sembilan lagi nggak??" Tanya Tante Yuni tiba-tiba.
"Mulai kelas 4 udah belajar kali 12 dia Mbak Yun.. Suka banget sama matematika sampai di pilih cerdas cermat sama olimpiade matematika itu.." Bukan Ara yang menjawab, tapi Mama Lauritz.
"Ihh.. Pinter banget sih kamu Ra.. Coba anak Tante yang besar cowok, jadiin mantu kamu ini." Ucap Tante Yuni sambil mencubit pipi Ada gemas.
"Ambil aja Mbak.. Belum ada yang punya kok.. Dika udah kelas 3 SMA juga cuma beda 2,5 tahun sama Ara." Mama Lauritz menggoda Ara. Wajah kesal Ara terlihat lucu di mata kedua Ibu-ibu itu.
"Mama.." Rengek Ara dengan pipi merona.
"Sayang banget hari ini Dika tidur di rumah Mbah nya.. Besok Tante suruh pulang dulu ajak kamu sama Adik-adik mu jalan ya.." Senyum manis Ara suguhkan. Entah wajah masamnya bisa disembunyikan atau tidak.
"Buk.. Kasur tipis biru dimana?? Tadi Bapak taruh di depan TV kok ilang." Om Rudi tiba-tiba muncul sudah berganti kostum, yang tadinya hanya memakai sarung sekarang sudah menjadi setelan celana pendek dengan kaos ketat yang membungkus perut buncit miliknya.
"Emang mau tidur sekarang?" Mengernyit heran Tante Yuni pada Om Rudi.
"Mau nonton TV sambil selonjoran Buk. Hehe.." Jawab Om Rudi sembari mengusap perutnya.
"Bapak itu emang kayak ular sawah sukanya ngeruntel." Mendelik pada suaminya, Tante Yuni mulai sewot.
"Dimakan sama minum dulu yaa.. Nanti malam Mbak Liz sama Ara di kamar Siska aja ya tidurnya, biar anak-anak lanang di kamar Dika. Kalau Bapak-bapak biar tidur depan TV, lagian pasti sambil begadang." Ujar Tante Yuni panjang lebar dengan nada suara yang sudah berubah sangat lembut.
Papa Yudith memang tidak memboyong keluarganya kembali ke rumah utama keluarganya maupun keluarga Mama Lauritz. Kelimanya saat ini justru akan menumpang tidur di rumah teman masa kecil Papa Yudith. Begitulah nyatanya kehidupan keluarga Ara, dimana orang lain lebih baik dan menerima kehadiran keluarganya.
Tidak ada cacian, justru tangan yang terulur menyambut dengan senyum ramah. Tidak ada yang menginjak harga diri kedua orang tuanya, semua orang sangat menghormati Papa Yudith dan Mama Lauritz. Saudara? Bagi Ara hanya Jona dan Rian, bahkan Mas Ega sudah Ara singkirkan dari hatinya 5 tahun yang lalu. Meski membuang sosok Mas yang Ara sayang sangat sulit, namun ia membuktikan bahwa rasa itu berubah hambar, hampa dan tidak berbekas sedikitpun.
...----------------...
Sorot mata ketidaksukaan sangat terasa. Suasana tegang dan mencekam dapat Ara tangkap. Tidak ada para sepupu Ara, hanya Kakek Baren, Om Alex tanpa istrinya, Tante Bianca dan Om Deril suaminya. Sudah sejak 15 menit yang lalu Ara mengamati, namun belum tampak juga sosok Tante Laura dan Mas Ega.
Ara jadi ingat masa-masa pembagian harta keluarga Mama Lauritz yang mana anak-anak dilarang ikut campur. Namun saat ini ada Ara, Jona dan Rian dalam ruangan putih itu, jadi jelas tidak mungkin akan ada pembahasan harta lagi.
"Mama kangen sama kamu Liz.. Kenapa gak pulang??" Wanita renta yang terbaring lemah di atas brankar rumah sakit mengelus lembut punggung tangan anak perempuannya yang telah lama pergi.
'Bullshit!' Ucap Ara sinis dalam hati. Memutar bola matanya malas, Ara melipat kedua tangannya di depan dada.
"Maafin saudara-saudara mu ya nak.. Mereka salah nunjukin cara sayang mereka.. Kalau aja kamu gak bertahan sama Yudith, semua pasti masih baik-baik aja."
__ADS_1
'Pembohong.' Lagi-lagi Ara menimpali segala ucapan itu dalam hatinya.
"Sekarang Mama sembuh aja dulu ya.. Liz bakal temenin Mama di sini." Ucap Mama Lauritz dengan suara parau tidak menolak atau membenarkan ucapan Ibu kandungnya. Mata sendu Mama Lauritz tampak penuh kerinduan.
Terpisah sekian lama karena keadaan dengan Ibunya membuat Mama Lauritz ingin menumpahkan seluruh tangis kerinduannya. Meski kekecewaan masih jelas terasa jika mengingat bagaimana penolakan kedua orang tuanya pada suami dan anak-anaknya.
"Cah ganteng itu cucu Mama ya Liz??" Nenek Mira menatap Jona dan Rian bergantian. Sedangkan yang ditatap hanya memasang ekspresi dingin.
"Iya, Ma.. Ini namanya Jona, yang ini si Adik namanya Rian." Ucap Mama Lauritz sembari membawa Jona dan Rian yang setia dalam diamnya mendekat pada ranjang Neneknya.
"Ara, bawa adik-adik mu keluar." Suara dari sosok yang sudah memiliki banyak keriput mengejutkan Ara. Rasanya baru pertama kali namanya disebutkan sosok yang saat kecil terus ia kejar dan teriakan namanya sebagai 'kakek'.
"Ayo keluar!" Singkat. Ara malas bersuara.
Pintu yang seharusnya ditutup rapat itu Ara ganjal dengan bagian belakang sandal alas kakinya. Telinga Ara memasang radar sekuat mungkin untuk mendengar urusan orang-orang dewasa di dalam ruangan itu.
"Kenapa kamu di sini?? Keluar kamu. Ini urusan keluarga saya." Ucap Kakek Baren dengan tatapan menghunus Papa Yudith, namun justru anaknya, Mama Lauritz yang merasa sangat sakit. Sedangkan Ara yang masih setia mendengarkan sudah menghantamkan kepalan tangan pada dinding sandarannya.
Rahang Papa Yudith mengeras, ia hanya mampu menahan amarahnya. Pernikahannya sudah hampir 22 tahun dan masih saja kehadirannya tidak pernah dikehendaki selain sebagai penutup aib kelahiran bayi yang saat ini sudah beranjak dewasa dan tetap ia anggap sebagai putra kandungnya sendiri.
"Mas Yudith suami Liz Pa.. Mbak Bianca aja gak apa-apa ajak Mas Deril di dalam." Mama Lauritz menggenggam jari-jemari Papa Yudith. Memohon maaf atas sikap orang tuanya.
"Terserah kalau emang dia gak punya malu." Sinis. Tidak ada nada suara lembut sedikitpun.
"Suruh Ara pulang saat kuliahnya udah selesai. Papa gak mau cucu Papa ikut melarat kayak hidup kamu sekarang." Ucap Kakek Baren ketus.
"Pa.. Biar Ara tentuin pilihan masa depannya sendiri. Dulu Ara pernah bilang mau jadi konsultan lingkungan, jadi biar dia sekolah lagi untuk mewujudkan mimpinya." Mama Lauritz masih sangat sabar menghadapi kerasnya sikap Papa-nya.
"Gak masalah kalau Ara mau sekolah lagi. Papa sanggup kasih biaya.. Tapi suruh dia ambil bisnis dan jalanin bisnis yang jadi hak kamu." Melipat tangannya, Kakek Baren masih setia dengan sikap arogannya.
"Maaf Pa.. Lebih baik kita tanya Ara juga. Ara sekarang udah besar, dia punya pilihan sendiri." Ujar Papa Yudith mencoba menjelaskan bahwa Ara punya hak dalam menentukan pilihan hidupnya sendiri.
"Anak sama cucu saya hidup susah gara-gara kamu. Bahkan mobil yang kalian pakai itu cuma rongsokan yang terus di tambal. Kamu bikin Papa malu Liz!!"
"Gak ada yang salah sama mobil itu Pa.. Itu hasil usaha aku sama Mas Yudith. Papa jangan kayak gini dong.. Kita baru ketemu lagi, Mama juga lagi sakit ini." Menahan tangisnya, genggaman tangan Mama Lauritz menguat pada tangan Papa Yudith.
"Kita baru ketemu juga gara-gara kamu pilih hidup melarat sama laki-laki itu Liz." Kali ini Nenek Mira yang berucap. Sungguh tidak Mama Lauritz sangka bahwa penolakan itu masih mengakar hingga saat ini. Sikap keras kepala Papanya tidak melunak sedikitpun meski sudah ada kehadiran sang cucu. Bahkan Mamanya sebagai Ibu kandung juga ikut mendukung sikap Papa dan seluruh saudara dalam keluarganya.
"Dia udah gak berguna setelah Laura nikah sama Arya. Harusnya kamu juga ceraikan dia." Kakek Baren menunjuk Papa Yudith penuh amarah, "Demi uang keluarganya setuju kalian menikah. Dia itu suami yang dibeli. Demi uang juga pasti dia bisa ninggalin kamu."
"Jika hanya demi uang aku gak mungkin menjaga keluarga kecil ku dengan keringat dan air mata selama ini Pa." Ucap Papa Yudith masih dengan intonasi rendah, Ara tau jika Papa-nya masih menahan amarahnya dengan tetap bersikap hormat.
"Karena kamu tau warisan untuk Lauritz akan tetap jadi hak nya!!"
Brak
"CUKUP!! JANGAN HINA PAPA KU LAGI!!" Menghempaskan kasar pintu ruang pasien VIP, Ara berteriak histeris. Nenek Mira bahkan sempat merasa sakit sekilas pada dadanya, tepatnya jantungnya.
"Lihat Liz anak mu yang gak punya sopan santun!! Itu hasil kamu nikah sama laki-laki miskin itu." Mengarahkan telunjuknya pada Ara, tatapan Kakek Baren penuh kilat amarah pada Papa Yudith.
"Jangan jadi egois seperti Mama mu yang pergi demi laki-laki melarat." Ucap Kakek Baren pada Ara. Sorot mata renta itu mengiris organ dalam tubuh Ara. Kaki Ara yang menapak kuat sedari tadi hanya untuk membohongi sekujur urat yang berdenyut nyeri.
"Bukannya Kakek harusnya bangga aku egois?? Gen mu berhasil turun ke anak cucu. Hah!! Salah.. Gen egois dan arogan anda berhasil turun dalam darah daging saya. Suatu kebanggaan bukan?? Sampai saking bangganya baru sekali selama 21 tahun saya hidup anda sebut nama saya. Dan hebatnya lagi itu baru terjadi beberapa saat lalu di ruangan ini." Ucap Ara sinis. Seringai di bibirnya tercetak jelas, sejelas air mata yang luruh membasahi pipinya.
"Jona, Rian, kita pergi. CEPAT!!" Tangan terkepal itu sudah sangat marah. Ara tatap wajah Om dan Tantenya yang lebih pantas disebut si gila harta dibandingkan orang dewasa.
"Biar Papa yang bicara sama Ara. Mama di sini aja." Papa Yudith berusaha mengejar Ara yang penuh amarah membawa pergi kedua adiknya.
__ADS_1
"Senang kalian ketemu nenek kalian??" Ucap Ara ketus di parkiran rumah sakit. Tidak ada tujuan lain selain parkiran. Meski lahir di Kota K, tapi Ara sama sekali tidak paham segala arah dan tempat yang cocok untuk ia kabur bersama kedua adiknya.
"Gak!!" Jawab Jona dan Rian serempak.
"Kenapa??" Tanya Ara menaikan sisi sudut bibir kanannya.
"Gak kenal."
"Biasa aja." Jawab Rian dan Jona hampir bersamaan.
"Kita di sini aja dulu tunggu Mama Papa. Kakak gak tau jalan."
"Harusnya kita di rumah Om Rudi aja Kak." Celetuk Jona.
"Kalau bisa kita di Kota B aja, pasti sekarang Kakak lagi jadi roll cake di kamar." Ucap Ara sambil membayangkan selimut biru nya.
"Kakak chat sama siapa sih?? Seru banget." Ucap Jona sambil melirik isi ponsel Ara.
"Kata Mama Kakak mau punya pacar. Bener?? Jadi Kakak tungguin notif chat dari pacar ya??" Tanya Rian dengan polosnya.
"Ck!! Cuma mas paket yang notif chat nya suka Kakak tungguin."
"Ya udah.. Jadian aja sama Mas paket." Ucap Jona sekenanya.
"Beda cerita kalau kayak gitu. Bukan Mas paket lagi jadinya, rawan php kalau gitu. Skip aja."
Dari kejauhan Papa Yudith tersenyum melihat ketiga anaknya yang akur dan tidak ada drama raungan tangisan macan seperti dugaannya. Memilih kembali ke ruang rawat Ibu mertuanya, Papa Yudith harus memberikan kekuatan pada istrinya.
Baru juga ingin melangkah masuk, ucapan mertua laki-laki nya membuat Papa Yudith bertambah marah.
"Nikahkan Ara dengan Eric!! Papa gak masalah kasih bisnis keluarga ke Eric."
"Tapi Pa, Eric itu masih kerabat kita."
"Gak masalah. Keluarganya udah jelas. Eric itu anak dari Kakak ipar sepupu mu sendiri. Kita udah kenal seluruh keluarganya, bahkan cucu Papa gak akan hidup melarat kalau nikah sama Eric."
"Cukup Pa. Yudith dari tadi masih diam bukan berarti terima semua hinaan Papa. Gak masalah Papa hina Yudith, tapi jangan ganggu hidup anak-anak. Siapapun yang berani usik keluarga kecil Yudith gak akan pernah Yudith maafin, termasuk itu Papa." Menyorot tajam Kakek Baren, Papa Yudith melangkah membawa pergi Mama Lauritz.
"Oke. Kita lihat semampu apa kamu jaga keluarga mu. Jangan menyesal kalau akhirnya kamu kehilangan Ara."
"MAS!!" Bentak Mama Lauritz pada Om Alex. Sosok yang memilih diam mengamati tiba-tiba meremehkan Papa Yudith. Rupanya semua sudah diatur, termasuk pertemuan ini. Tidak perduli kondisi Nenek Mira yang benar-benar sakit. Sungguh dugaan Ara benar, hanya ingin menghilangkan rasa bersalah dan demi kepuasan orang-orang tamak itu kasih sayang tulus harus dikorbankan.
...****************...
*
*
*
Semoga makin suka sama kisah Ara dan gak bosan kasih dukungan ke Hana🥰
Buat yang baru masukin ke list favorit terima kasih ya😉
*
*
__ADS_1
Terima kasih yang udah setia pantau kisah Ara 🥰😘