
"Selamat siang Pak Kim.. Sudah lama kita tidak bertemu." Dian tersenyum manis dengan tangan terulur.
"Iya, siang." Jawab Rava dingin mengabaikan tangan Dian menggantung penuh harap. Bahkan mata Rava hanya menatap Dian sekilas. Menopang kepala, Rava tersenyum pada Ara yang membuang pandangannya keluar. Seolah terdapat 2 kepribadian berbeda, Rava bisa secepat kilat merubah ekspresi wajahnya.
"Apa kabar Bu? Sudah lama juga kita gak ketemu selama liburan.." Menyapa Dian dengan berkata canggung, selama ini tidak biasanya Ara berbicara dalam suasana kaku dengan Dian.
"Saya dengar Bapak semester depan tidak lanjut mengajar lagi, benar ya Pak?" Seolah Ara seekor Jerapah dengan suara infrasonik yang sulit ditangkap telinga manusia, Dian tidak menggubris pertanyaan Ara. Memang hanya basa-basi, namun kesal tetap Ara rasakan.
"Hmm." Singkat. Jawaban ambigu yang mungkin berarti 'iya'.
"Kenapa Pak? Apa terlalu bentrok dengan pekerjaan utama ya Pak?" Masih dengan semangat juang tinggi Dian kembali menghidupkan perbincangannya.
"Hmm." Kandas sudah angan-angan menjulang Dian, bahkan bibir Rava tidak terbuka sedikitpun. Kesal? Jelas menghantam keras, tanpa ditanya juga semuanya tau.
"Ditanya panjang lebar cuma dijawab hm aja. Sok beku! Cih!!" Berdecih diakhir gumamnya, Ara justru ikut-ikutan sebal. Suara lirih layaknya cicitan cindil alias anak tikus masih mampu Rava tangkap. Bukannya marah, Rava malah gemas. Tangan terulur membawa jari-jarinya bertingkah nakal ke sisi kanan pipi Ara.
"Awh!!" Kelopak mata yang terbuka lebar namun dengan alis yang nyaris bertautan, Ara pandang kesal Rava. Cubitan di pipinya tidak sakit, tapi cukup mengejutkan. Sama mengejutkannya bagi Dian yang menyaksikan interaksi Ara dan Rava.
Bugh
Pukulan telak sebagai balasan. Pipi yang memerah karena gosokan telapak tangan Ara seolah menjadi saksi palsu cubitan Rava. Menahan tawanya, Rava usap perlahan bekas pukulan Ara. Bukan sakit, hanya tidak ingin rasa yang tersisa itu menguap begitu saja. Huh! Sungguh berlebihan.
Melupakan Dian yang masih melotot tidak percaya, Rava merogoh ponselnya. Gerakan santai namun penuh pertimbangan. Ada kumbang tahi yang harus ia singkirkan. Cukup menyesal Rava mengikuti saran tempat kekinian dari salah seorang pegawai di kantornya. Semoga tidak terjadi hal buruk wahai siapapun yang sudah memberikan rekomendasi.
"Halo Pa?"
[...]
"Sebentar ya Pa, biar Ara yang bicara."
"Papa nih, kamu ngobrol di luar dulu aja biar bisa bebas bicaranya." Ucap Rava lirih pada Ara. Menyerahkan ponselnya sambil tersenyum, sayangnya mata meneduhkan milik Rava tidak terlihat oleh Ara.
'Papa?' Mengernyitkan dahinya, Ara kesulitan memuat sesuatu yang ingin ia pikirkan.
'Ah.. Mungkin Mama yang kasih tau.' Lega dan bangga saat akhirnya apa yang Ara coba sambungkan menemukan titik pusatnya. Meraih ponsel dan beranjak dari duduknya, Ara tidak lupa membawa tas selempang yang sempat ia lepas.
"Halo?" Sapa Ara sembari berjalan keluar kafe.
"Papa? Kenapa? Mau uangnya sekarang ya?" Melangkah keluar, Ara sudah berdiri menyandarkan tubuhnya pada pagar kecil yang menghias sisi luar kafe. Mata Ara masih mengarah pada 2 sosok yang ia tinggalkan, tampak keduanya sedang bersitegang. Entah apa yang keduanya bahas, telinga Ara hanya mampu ditembus suara Papa Yudith dari seberang telepon. Jika bukan karena separuh dinding dari material kaca tebal, Ara tidak akan disuguhkan suasana drama menegangkan.
[Udah ambil Kak?] Tanya Papa Yudith, melupakan kebingungan yang sempat melanda pikirannya.
"Iya, ini udah di dalam tas."
[Pulsa Kakak habis ya? Terus kok bisa sama Rava?] Lagi-lagi Papa Yudith bertanya, ia masih merasa aneh dengan hal apa yang terjadi pada anak gadisnya.
"Masih kok pulsanya. Tadi di rumah gak ada motor, jadi diantar sama itu.. Mmm.. Pak Rava." Ucap Ara canggung menyebut 'Mas Rava' pada Papa Yudith. Alhasil lidahnya lebih memilih 'Pak' dibandingkan 'Mas'.
[Jadi ini telepon Papa mau kasih tau uangnya udah diambil aja? Ngapain coba sampai pinjam ponsel orang, kayak gak modal aja jadi anak Papa.]
"Lah kan Papa yang telepon.. Jangan aneh-aneh deh Pa.. Kumat lagi itu pikunnya.." Ekspresi muka malas Ara terlihat lucu, sepasang mata yang nyaris membentuk garis dan bibir dengan senyum malas hanya tertarik ke sisi kanan kiri membuat pipi Ara tampak menyembul.
[Mana ada.. Jelas-jelas Papa ini yang di telepon.. Ya udah simpan aja dulu uangnya. Kasih Mama, tukang las nya udah pulang duluan tadi. Besok aja Papa bayar.]
"Iya.. Ya udah Kakak tutup nih Pa. Hati-hati pulangnya nanti Pa.."
[Iya Kakak juga jangan kelayapan sama laki-laki gitu.. Habis ini langsung pulang!]
"Iyaa Papa ku sayang.."
Mengakhiri panggilan yang Ara rasa sebuah kesengajaan Rava, kini langkah kaki Ara terhenti tiba-tiba. Senyum mengejek tersungging jelas di wajah Ara. Memilih diam mengamati dan mendengarkan atau lebih tepatnya menguping, Ara menyilangkan tangannya.
"Orang asing kayak anda tidak punya hak ikut campur urusan saya dan Ara." Suara tegas Rava benar-benar terdengar jelas. Aura mencekam tampak menguar dari sosok yang sedang memunggungi Ara.
__ADS_1
"Saya tau gimana Ara, dia gak sebaik yang Bapak kira. Udah cukup lama dia jadi asisten saya, semua tingkahnya sudah banyak saya hafal. Bapak itu laki-laki kesekian yang didekati. Saya di sini cuma gak mau Ara kembali mengulang kesalahan dan Bapak terjerumus pada jalan yang salah." Suara Dian lembut, menampakkan sosok yang penuh perhatian jika hanya didengar sekilas. Tidak taunya kalimat perhatian Dian lebih ditujukan untuk menjatuhkan Ara.
Layaknya sedang kontes adu mata, sorot mata keduanya sama-sama tajam. Berperang saling melontarkan serangan dengan tujuan yang berbeda, baik Rava dan Dian tidak menyadari Ara sudah selangkah lebih dekat.
"Saya sudah kenal dengan Ara lebih dari 10 tahun. Jika anda tidak suka, menjauh. Sekali lagi saya dengar omongan jelek tentang Ara, saya pastikan mulut yang anda pakai bicara itu bungkam selamanya!!" Ancaman Rava membuat Dian diam terpaku. Namun bukannya ketakutan, Dian merasa semakin semangat membuat Rava menjadi miliknya. Membayangkan bila Rava akan bersikap posesif terhadapnya sungguh memuaskan.
'Serem juga kalau lagi garang gitu..' Membatin Ara mengusap lengannya yang terasa merinding.
'Tapi tadi dibilang kenal 10 tahun?? Gila ini orang bisa aja bikin cerita..' Ucap Ara dalam hati. Tidak tau apa yang terjadi pada Ara hingga kenangan bersama Rava, bahkan wajah Rava juga tampak tidak bersisa diingatan Ara.
"Misi Pak, Bu.." Lebih baik menengahi suasana tegang yang ada. Ara menerima takdirnya yang lagi-lagi menjadi penengah, meski tidak duduk di tengah. Bukan untuk Dimas dan Yuki, tapi Dian dan Rava.
"Ara!?" Menyipitkan matanya, Ara heran pada Rava yang memasang wajah kesal. Belum sadar bila bibirnya kembali meloloskan panggilan 'Pak' untuk Rava.
Memilih membuka buku menu yang entah sejak kapan sudah ada di mejanya, Ara menatap takjub berbagai gambar hidangan yang menarik matanya. Namun kekaguman Ara berlangsung singkat berganti mendesah sebal pada harga yang lumayan menguras kantong, Ara jadi teringat pada Dimas lagi. Ara yakin Dimas akan langsung mengajaknya kabur bila melihat harga segelas minuman yang sebanding dengan sebungkus nasi Padang lauk rendang dan segelas es teh manis.
"Pak.. Pindah aja yuk.. Mahal." Bisik Ara pada Rava, masih tidak sadar dengan ucapannya. Bukannya menjawab, Rava justru mendengus sebal. Dian mengepalkan tangan kanannya, jika tidak ditahan akal sehatnya pasti sudah retak meja itu digebrak Dian.
"Diem aja sih.." Ujung kaki Ara menendang tumit kiri Rava. Kaos hitam Rava kembali Ara cubit dan tarik.
"Gak mau ngomong. Kamu panggil saya Pak lagi." Suara ketus yang baru pertama kali Ara dengar tidak mampu mengejutkan gendang telinganya. Alih-alih merasa bersalah, Ara justru jengah. Padahal sosok Rava di dalam cangkang beku itu sudah lumer luluh lantah akibat tendangan manja Ara.
"Heleh.. Barusan cicak yang ngomong??" Mencibir omongan Rava, menggerutu lirih Ara memutar bola matanya malas.
Tak
Serangan jari yang menyentil dahi membolakan mata Ara. Seolah terkena peluru penembak jitu, kepala Ara sempat tersentak. Bibir yang melengkung ke bawah bergetar layaknya menahan tangis, Ara menatap Rava sinis.
Menutup sebelah mata kanan dengan punggung tangan, Ara terisak tanpa tangis. Jelas kebohongan terbesar sepanjang masa. Ara si tukang pukul kalah dengan sentilan kecil? Bahkan hanya orang bodoh yang akan percaya Ara menangis kesakitan saat ini.
Terbukti pula salah satu orang bodoh itu tentunya Rava. Panik bukan main Rava melihat Ara menangis menurutnya. Menegakkan tubuhnya, posisi duduk Rava sudah menyerong menghadap Ara.
"Udah.. Udah.. Nangisnya sini.. Maaf ya.." Menangkup kepala Ara dengan kedua telapak tangan, Rava meniup perlahan titik sentilan yang samar-samar bersemu merah. Berbeda dengan Rava yang sudah terlanjur menjadi budak cinta, Dian mengeraskan rahangnya pada suguhan adegan layaknya konten settingan.
'Nah kan kapok!! Emang enak aku kerjain!!' Ara seolah-olah menahan sakit yang luar biasa. Sesegukan menyedot ingus gaib tidak kasat mata, sampai-sampai semilir angin masuk bebas ke lubang hidung Ara.
"Lebih baik anda pergi sekarang!!" Usir Rava kasar pada Dian. Membungkam bibirnya, Dian malah memilih tetap diam tidak beranjak sedikitpun. Sudah putus urat malu perempuan berkelas seperti Dian.
Sedangkan di meja sudut, perbincangan singkat dalam telepon dilakukan secara hati-hati. Berkamuflase layaknya penikmat nasi goreng spesial bertabur suwiran ayam dan telur ceplok tanpa garam, ia menyeringai disela-sela kunyahan nya.
"Halo Pak Rava?" Sapa seorang laki-laki yang sangat Ara kenali.
"Hi.." Senyum canggung namun menawan disuguhkan untuk Ara.
"Uhuk!! Uhuk!!" Sepotong sotong saus lada hitam tertelan begitu saja. Kaget mendapat sapaan hangat yang baru pertama kali ditujukan padanya. Menepuk perlahan punggung Ara, segelas lemon tea dingin disodorkan Rava.
"Pelan-pelan.." Ucapan lirih itu tidak sebanding dengan luapan cemburu yang sudah membuncah. Rava jelas tau betul siapa Dewa dalam hidup Ara. Meski Rava merasa sedikit keheranan dengan perubahan sikap Dewa yang rupanya juga sedang Ara rasakan.
"Ada apa??" Tanya Rava sinis pada Dewa. Kejadian terakhir kali di parkiran kampus membuatnya waspada pada kehadiran Dewa. Ingin Rava potong tangan yang lancang menyentuh kasar kedua bahu Ara.
"Oh gak ada kok Pak.. Saya kebetulan mau bertemu teman di sini."
"Hmm."
"Jadi kapan Pak rencana pernikahannya?" Tanya Dewa tiba-tiba. Sebenarnya Dewa lumayan malu tetap berdiri dihadapan Ara, bahkan lumayan canggung karena Rava adalah atasannya di kantor. Beruntung Rava tidak mencampur adukkan urusan pribadi dan pekerjaan, begitu pikir Dewa.
"Pernikahan? Siapa yang mau menikah?" Gumam Dian sembari mengerutkan dahinya. Pikirannya sudah merangkai berbagai macam kemungkinan.
"Bukannya kamu harus menemui teman mu? Sudah dimana?" Mengalihkan pembicaraan, Rava sengaja tidak ingin membuat Ara semakin tidak nyaman.
"I-Iya Pak.. Kalau gitu saya permisi." Menangkap kode pengusiran, mata Dewa berkeliling mencari sosok yang ingin ditemuinya.
Drak
__ADS_1
"Siapa tadi?" Tanpa basa-basi, sebuah pertanyaan langsung menyergap Dewa yang baru mendudukkan dirinya.
"Oh.. Itu atasan ku Kak.."
"Yang laki-laki itu?"
"Iya, Kak."
"Yang perempuan itu siapa??"
"Kalau yang pakai kaos hitam itu adik kelas Dewa waktu SMA. Kalau yang satu lagi gak tau. Kenapa Kak??"
"Gak apa-apa. Cewek yang masih muda itu bukan pelakor kan?" Menelisik mencari sebuah fakta, pertanyaan itu tampak seperti tuduhan.
"Ada-ada aja Kakak ini.. Justru dia itu calon istri atasan Dewa.."
"Serius kamu Wa?? Bisa jadi dia calon istri kedua kan??" Melebarkan kelopak matanya, pupil yang membesar menyiratkan ketidakpercayaan.
"Iya memang gitu yang pernah dibilang ke Dewa. Lagian atasan Dewa itu masih single Kak."
'Rupanya cewek sialan itu udah punya calon suami.. Baguslah.. Foto-foto ini akan aku simpan aja, kali aja suatu saat butuh.' Berucap dalam hati penuh kepuasan.
"Kak??" Panggil Dewa pada sosok wanita dihadapannya yang justru melamun dan tertawa tanpa sebab yang jelas.
...----------------...
Membaringkan tubuh lelahnya, pencernaan Ara sudah hampir seminggu ini terasa bermasalah. Bermula dari terpaksa mengunyah di bawah intimidasi sorot mata Dian, tanpa nikmat perut Ara terus terisi banyak makanan hingga syok. Bisa-bisanya Dian dengan teganya tetap makan sambil melotot pada Ara meski sudah diusir Rava berkali-kali.
"Udah hampir sebulan, kok gak ada kabar dari orang tua itu ya?" Bukan mengharapkan perjodohan tetap berlanjut, Ara hanya merasa takut dengan kejutan buruk di masa depannya.
"Apa aku terima aja ya?? Terus pas mau tunangan di hari H aku kabur.. Biar malu itu semua orang.. Hahaha.." Tawa Ara pecah, terlintas ide aneh untuk membalas keluarga Mama nya.
"Tapi kalau acara aku sendiri pasti Mama Papa hadir.. Bisa-bisa aku jatuhin harga diri Mama Papa juga kalau gitu." Mendengus sebal Ara pada kenyataan yang ada.
...****************...
Infrasonik : Suara dengan frekuensi kurang dari 20 Hz dan terlalu rendah untuk dapat didengar oleh telinga manusia. Infrasonik berada dalam rentang 17 Hz sampai 0,001 Hz.
Tau gak kalau Jerapah itu hewan pendiam alias gak banyak bersuara??
Jadi Jerapah itu berkomunikasi dengan suara infrasonik yang sulit didengar telinga manusia, meskipun begitu Jerapah tetap punya pita suara. Alasan 'sulit didengar' karena terlalu pelan dan rendahnya frekuensi suara Jerapah.
Jerapah akan mendengus dan mengerang saat merasa terancam. Selain itu, Jerapah juga biasa berkomunikasi melalui sentuhan dan tatapan mata.
*
*
*
Siapa sosok yang Dewa panggil 'Kak' itu??š³
Kira-kira apa yang akan Ara lakukan tentang perjodohan gak jelasnya??š¤
*
*
Nah.. Udah kebuka siapa targetnya kan?š
Yang nebak suruhan Kakek Baren pada salah nihš
Maafkan Hana juga ya yang udah 2 kali ini gak UP setiap hari, justru jadi UP 1 BAB/2 HARIš
__ADS_1
*
Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hanaš„°