
...PERINGATAN UNTUK PARA DEDEK HARAP DI SKIP!!!...
...ADEGAN BERBAHAYA DI PERTENGAHAN CERITA!!!...
...⚠AREA 21+⚠...
“Sayang, mau kemana?” Tanya Rava yang duduk di tepi ranjang tidur dengan kaki menggantung. Jemari yang saling meremas gugup sembari memerhatikan Ara di depan meja rias kini sudah menghentikan aktivitasnya.
“Mau cuci muka dulu, Mas. Habis pakai cleanser terus mau cuci muka pakai facial foam.” Ucap Ara di ambang pintu dengan tangan yang menahan agar daun pintu tidak terbuka lebar.
“Ikut.” Ucap Rava singkat, membawa tubuhnya dalam langkah lebar menghampiri Ara.
Keduanya menuruni satu per satu anak tangga bergantian yang tidak luput dari mata Papa Yudith dan Mama Lauritz yang masih betah menikmati tayangan berita malam. Baik Papa Yudith maupun Mama Lauritz masih tidak menyangka jika anak gadisnya itu bukan sepenuhnya milik mereka lagi. Status Ara bertambah dan lebih condong menitik berat pada label seorang istri, bukan sekedar anak gadis satu-satunya atau Kakak untuk Jona dan Rian lagi.
“Liat itu, Ma!” Ucap Papa Yudith sambil mengedikkan dagunya ke arah Rava yang mengekori Ara dengan langkah gusar seolah takut tertinggal. “Udah ngalahin anak itik ngejar induknya.”
“Kayak Papa dulu gak gitu aja. Itu belum seberapa, lihat aja nanti, lama-lama Papa juga pasti berasa ngaca.” Ucap Mama Lauritz menimpali komentar Papa Yudith atas tingkah sepasang pengantin baru yang bak lem lalat berhasil menjerat mangsanya.
Layaknya sebuah dejavu, Mama Lauritz seolah melihat bayangan dirinya saat awal pernikahan dengan Papa Yudith. Hanya saja bedanya kala itu Papa Yudith mengekori Mama Lauritz yang sibuk menenangkan tangis Ega di malam pertama pernikahan mereka.
Sedangkan Rava yang kini memerhatikan Ara di kamar mandi hanya tersenyum tipis, berusaha menahan sudut bibirnya yang terus tertarik ke atas. Menyandarkan tubuh bagian atasnya di ambang pintu kamar mandi yang sengaja terbuka, Rava berdiri agak menjauh sambil memegang dua lembar tisu untuk Ara gunakan mengeringkan tetesan air di wajahnya. Menanti setia dengan ketidaksabaran yang terpaksa harus dipendam.
“Sayang, nyicil ya malam ini.”
Byuur..
Celetukkan lirih nyaris seperti bisikan dari bibir Rava sukses membuat Ara terperanjat serta merinding gugup. Ara yang hendak membasuh dengan siraman pelan pada wajahnya justru berakhir mengguyur dan membasahi seluruh baju bagian depannya, mencetak jelas bentuk dalaman atas yang Ara kenakan.
“Ya ampun, Yang. Hati-hati..” Ucap Rava panik, melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan secara ragu-ragu menempelkan tisu yang digenggam ke atas baju Ara yang basah.
“Mas sih bikin kaget! Kan jadi kesiram bajunya.” Gerutu Ara kesal, menarik ujung bajunya agar tidak menempel di badan. Jelas Ara sadar bahwa sesuatu yang lebih gembul dari pipinya itu sudah tercetak dengan jelas.
“Ganti baju, Sayang. Mas ambilin ke atas dulu ya?”
__ADS_1
“Pakai baju Mas aja dulu. Nanti di kamar ganti lagi.” Ucap Ara tiba-tiba, entah ia yang malas menunggu atau tidak ingin Rava bolak-balik, yang pasti di kepalanya langsung terpikir ide itu.
Meski sempat terpaku, Rava akhirnya melepas kaos berwarna hitam yang ia kenakan. Menyodorkan pada Ara yang langsung mengusir dirinya agar bisa menutup pintu kamar mandi rapat-rapat. Jelas saja Rava hanya menurut dan kembali menanti Ara berganti baju miliknya.
“Loh, habis dari kamar mandi kok ada yang berubah? Jangan diajak main di kamar mandi loh, Rav.” Ucap Mama Laurit spontan sambil terkekeh memerhatikan Ara yang mengenakan kaos milik Rava. Sedangkan Rava yang mengenakan atasan singlet putih saja dan masih tetap berjalan mengekori Ara hanya mampu mengusap tengkuknya malu-malu.
“Apaan sih, Ma!” Tukas Ara seolah kesal, namun sebagian otaknya sudah terbayang adegan luar biasa panas. Anggap saja aksi kerokan dengan balsam karena masuk angin, panas kan?
“Astaga anak Mama bisa malu-malu juga..” Suara Mama Lauritz masih menyeruak pendengaran Ara, padahal dirinya sudah berlari secepat kilat menaiki anak tangga untuk segera menghindar dan masuk ke kamarnya.
Bruk.
Menjatuhkan bobot tubuhnya dengan posisi telungkup, Ara menenggelamkan wajahnya yang memerah di atas bantal. Pemandangan itu langsung disaksikan Rava yang menutup pintu dengan pelan dan menguncinya. Perlahan Rava mendekati Ara dengan senyum yang tidak juga menghilang.
Mengenai kamar Ara, tentu saja sudah dihias layaknya kamar pengantin baru. Hanya saja tidak dengan aroma parfum tambahan yang wangi semerbak. Bisa menjadi komedi jika akhirnya malam pertama keduanya berakhir dengan Ara yang bersin tidak ada habisnya.
“Ngantuk?” Tanya Rava sambil menyibak rambut yang menutupi wajah Ara. Dirinya sudah berbaring dalam posisi miring.
“Aaa..!!” Pekik Ara saat Rava menarik tubuh telungkup nya hingga kini berbaring telentang dengan Rava yang mengungkung. Mata yang bersirobok itu telak membuat Ara semakin gugup.
Menelan air liurnya dengan suara yang terdengar nyaring, wajah Ara seketika pucat pasi. Berbeda dengan Rava yang diam-diam ingin tertawa dibalik sikap tenang sambil memerhatikan setiap garis wajah istrinya. Mengelus lembut dengan punggung tangannya, wajah Rava seketika bergerak turun semakin mendekat.
“Ma-Mau ap-ppa, Mas?” Tanya Ara dengan terbata-bata, kedua tangannya sudah meremas seprai kasur yang pasti akan meninggalkan jejak kusut.
...SEKALI LAGI PERINGATAN UNTUK PARA DEDEK KU SAYANG HARAP DI SKIP!!!...
...ADEGAN BERBAHAYA AKAN DI MULAI!!!...
Cup.
Mengecup singkat dahi Ara yang sedikit tertutupi poni rambut, Rava kembali menatap lekat sepasang bola mata Ara. “Terima kasih udah hadir di hidup, Mas. Terima kasih udah mau menerima dan menjadi milik Mas.” Ucap Rava tulus yang diakhiri dengan kembali memberikan kecupan singkat. Namun kali ini tidak di dahi lagi, bukan pula di pipi, namun sudah mendarat sempurna di bibir tipis Ara hingga pemiliknya terbelalak kaget.
Merebahkan tubuhnya di samping Ara, kini Rava menarik Ara yang masih terpaku ke dalam dekapannya. “Terkadang Mas merasa tidak pantas untuk mendapatkan kamu. Tapi sisi egois Mas tidak akan pernah rela melihat kamu membagi tawa dengan yang lain. Sekali lagi, bolehkah Mas bersikap egois agar kamu juga memiliki keegoisan hanya menginginkan Mas seorang?” Tanya Rava sambil mengangkat dagu Ara dengan ujung jari telunjuk yang mengapit dengan ibu jarinya.
__ADS_1
“Kenapa bikin baper sih, udah tau Ara juga maunya sama Mas, bukan yang lain.” Rengek Ara yang langsung memeluk erat Rava dalam posisi berbaring miring saling berhadapan.
“Laki-laki kayak Mas ini bisa dapat perempuan yang lebih baik dari Ara. Harusnya Ara yang bersyukur Mas mau sama Ara yang pernah gila. Eh, gak gila sih, nyaris gila aja.” Ucap Ara dengan tenggorokan tercekat, bukan karena sedih, namun Ara benar-benar terharu.
“Sstt.. Jangan ngomong gitu.” Ucap Rava sambil mengusap bibir yang baru saja berkata itu dengan ibu jari kirinya.
“Tapi bener, Mas. Awalnya Ara pikir gak ada lagi yang sayang sama Ara, cuma Mama, Papa, Jona, Rian yang akan jadi rumah untuk Ara selamanya. Sampai akhirnya Mas datang dan memberi kasih sayang asing yang awalnya memang Ara sangkal. Tapi terima kasih banget Mas gak pernah menyerah dengan semua sikap Ara selama ini.” Mendadak Ara menangis tersedu-sedu meski sudah berusaha keras menahannya. Hidung Ara sudah terasa tersumbat cairan kental. Bulir-bulir air mata sudah merembes dari sudut mata Ara.
“Seandainya Mas menye-..” Ucap Ara terputus, terbungkam oleh bibir Rava yang memberikan kecupan singkat berulang kali.
Tanpa keduanya sadari kecupan yang awalnya Rava lakukan dengan singkat itu telah berubah menjadi l u m a t a n. Menyesap bibir Ara yang terasa manis memuaskan sisi rakus yang bangkit. Sesekali gigitan dan belitan lidah tanpa perlawanan Rava lancarkan.
Decapan bibir basah yang hanya didominasi oleh Rava terus berlanjut seolah tidak perduli dengan Ara yang masih sangat syok. Bermodal nekat dengan dada berdebar kencang Rava mengintip sedikit mata Ara yang akhirnya terpejam.
Menggerakkan bibirnya mengimbangi Rava yang juga sama kakunya, Ara terbuai dengan usapan lembut telapak tangan Rava di balik punggungnya yang perlahan bergerak naik. Suasana intim itu terus berlanjut dengan Rava yang semakin liar menuntut ciuman pertama mereka yang panas menggelora. Hingga sebuah tendangan kasar menggulingkan Rava tersungkur ke atas lantai dingin akibat tangan nakal yang tiba-tiba meremas bagian kenyal di depan dada Ara.
“UGH!!”
“Maass.. Maaaff..!!”
...****************...
*
*
*
(AAAAAAAAAA...!!🤣 Semoga bebas dari sensor😋)
Terima kasih sudah menanti sekali lagi bab gagal MP🤭 Jangan bosan untuk terus memantau kisah Rava Si Bucin Akut dan Ara Si Bar-Bar Kurang Peka.🥰
Buat yang sudah add di FB tapi belum di konfirmasi maaf ya, kemarin waktu Hana asal konfirmasi semua permintaan pertemanan malah ada kejadian kurang mengenakan, jadi kali ini tambah temannya pelan-pelan.🙏
__ADS_1