
Malam semakin larut, suara jangkrik berdendang riang diantara semak belukar. Tidak ada orkestra para katak, malam itu cuaca cukup panas. Beruntung otak sepasang suami istri yang lelah dengan alur hidup keluarga masing-masing tidak sepanas cuaca malam itu.
Mama Lauritz dan Papa Yudith duduk bersandar pada kepala ranjang dengan saling merangkul. Keromantisan yang lebih baik jangan pernah sampai diketahui seseorang, siapa lagi kalau bukan Rava. Bisa-bisa Rava menggila akibat tidak bisa ikut pamer pelukan dengan sang anak gadis Mama Lauritz dan Papa Yudith.
"Gilang gimana Mas?" Suara membawa tanya Mama Lauritz mengisi suasana hangat kala itu.
"Masih ngelobi orang rumahnya Dek.. Paling lama di sana. Biarin aja lah dulu, biar kelar masalahnya." Jawab Papa Yudith sembari mengusap lengan istrinya.
"Iya tapi kan Gilang kuliahnya di sini malah udah mulai masuk duluan daripada Ara. Absennya numpuk, sayang banget Mas." Ucap Mama Lauritz dengan cukup sesal memikirkan pendidikan Gilang yang terbengkalai. Merasa jengah dengan sikap orang tua Gilang yang menurutnya tetap mengedepankan egonya sendiri.
"Mau gimana lagi kalau Gilang kabur-kaburan kayak gitu?" Hembusan nafas Papa Yudith terasa berat.
"Pelajaran buat kita Dek.. Jangan terlalu memaksakan kehendak ke anak-anak, selain gak bagus buat tumbuh kembang, ya takut jadinya kayak Gilang itu." Ucap Papa Yudith.
"Iya Mas.. Gak nyangka ya rupanya Gilang kabur dari rumahnya."
"Pinter juga Gilang nipu semua orang.. Apa kita aja yang gak sadar ya Dek?" Tanya Papa Yudith sambil menatap Mama Lauritz. "Dulu bilangnya sebatang kara, terus baru-baru ini bilang ada saudara.. Mas gak nanya saudara apalagi kan katanya sebatang kara, lupa. Ternyata kenyataannya si Gilang kabur dari rumah.."
"Kemarin katanya Gilang cerita sama Mas alasan kabur karena apa, ceritain sekarang Mas!" Desak Mama Lauritz tiba-tiba.
"Penasaran banget, kenapa?" Memicing matanya, Papa Yudith mendengus sebal.
Bugh.
"Gak usah sok gaya cemburu gitu. Udah tua, sadar diri Mas." Ucap Mama Lauritz setelah menghadiahkan pukulan kecil di perut Papa Yudith.
"Tua juga kamu cantik Dek, Mas mau gak cemburuan gimana?" Terkekeh Papa Yudith.
"Kamu ingat gak jaman Mas ngapelin kamu dulu?"
"Hahaha.. Ingat banget." Gelak Mama Lauritz mengenang masa muda keduanya.
"Ketawa lagi." Menggelengkan kepala, Papa Yudith kemudian mencubit lembut hidung Mama Lauritz.
"Orang mau ngapelin gebetan malah duduk dibelakang sama Alex. Kamu di ruang tamu udah berderet cowok yang ngapelin."
"Mas kan temenan sama Mas Alex. Biasa kemana-mana bareng kayak anak kembar juga." Ucap Mama Lauritz santai.
"Iya, padahal dulu Mas sama Mas mu Alex itu udah kayak truk gandeng. Tapi, tua-tua kok malah kayak musuhan gini ya?" Ada kesedihan yang tersirat dari kalimat Papa Yudith.
Rasa tamak dan iri hati menghancurkan hubungan pertemanan yang sudah lama terjalin. Puncaknya kala Kakek Baren hendak menyerahkan kebun kopi yang membentang luas pada Papa Yudith. Anggap saja itu wujud kompensasi menurut Kakek Baren, namun bagi Om Alex semua itu sebuah ketidakadilan yang terpaksa harus diterimanya.
Cucuran keringat pengorbanan sejak masa SMA membuat Om Alex merasa berhak memiliki kebun kopi itu kelak. Tidak sedikit waktu yang sudah Om Alex lalui agar perkebunan kopi milik Papa nya bisa lebih berkembang.
Jangan kira meski hanya sebuah kebun tidak perlu penanganan khusus, beberapa hal seperti kecurangan tetap dapat terjadi. Penyelundupan hasil panen, korupsi dana perawatan dan pemeliharaan kebun, efek gagal panen biji kopi, membludaknya biaya operasional dan masih banyak lainnya sudah pernah ditangani Om Alex. Banyaknya campur tangan itulah akhirnya menjadi alasan kuat Om Alex merasa kebun kopi itu lebih berhak jatuh ke tangannya.
Otak bisnis yang jenius pula yang kini membawa Om Alex pada level kesuksesan yang cukup tinggi, namun tetap saja semua kurang bila tidak ada rasa syukur sedikitpun. Keserakahan yang bergelayut bersama sifat egois dan iri hati menutup mata hati dan pada kebenaran di depan mata kepala Om Alex bahwa setitik saja tidak ada harta Kakek Baren yang diharapkan Mama Lauritz dan Papa Yudith.
"Udah lupain aja Mas, mending cerita sekarang tentang Gilang."
"Sabarlah.." Ucap Papa Yudith sembari menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Jadi Gilang itu kabur gara-gara gak mau dijodohin, sama siapa kita tau lah.. Kesel juga Mas sebenarnya, anak kita Ara itu kurang apa coba pakai ditolak segala?? Pinter iya, cantik pastilah anak kita, bibit unggul. Gak aneh-aneh juga, cuma suka heboh kalau ada cowok-cowok cantik itu."
"Sembarangan bilang cowok cantik, ganteng Mas. Diomelin anaknya lagi baru tau rasa."
"Kan gak tau sekarang.. Lanjut lagi nih ya.. Ara juga udah bisa masak, walaupun agak-agak kadang enak kadang nggak. Bisa-bisanya gak mau Gilang sama Ara.. Kebangetan!!"
"Disuruh cerita kok malah marah.." Menghela nafas kasar, Mama Lauritz heran pada Papa Yudith.
"Sebel Dek, jadi kebawa emosi. Hehe.."
"Terus lanjut cerita lagi.." Rengek Mama Lauritz.
"Jadi Gilang itu juga gak kuat sama kuliahnya di jurusan bisnis, soalnya semua itu juga diatur sama Mas Adam. Tambah jadi niat kaburnya.. Gak tau juga nasib kuliah lamanya gimana, tapi kalau dihitung sih harusnya udah di drop out."
Gilang, pemuda yang ditolong Papa Yudith kala terik matahari menyengat sekitar 3 tahun yang lalu. Pemuda yang tampak tidak pernah bekerja berat tapi luntang-lantung di jalan. Pemilik kulit putih pucat yang memerah dengan guyuran keringat membasahi kaos oblong berwarna hijau lumut yang dikenakannya.
__ADS_1
Tanpa banyak ongkos atau biaya hidup yang membuat Papa Yudith iba. Pernah merasa hidup melarat, tapi tidak lebih miris dari Gilang. Papa Yudith akhirnya memberikan Gilang pekerjaan di bengkel, nasib awalnya dulu juga seperti Rava yang kerjanya hanya memilah sesuai ukuran mur baut. Berlanjut naik level menjadi tukang cuci mobil konsumen, baik pada mobil saat akan diambil atau baru ingin dibongkar. Papa Yudith risih bila harus memberikan servis pada mobil yang baru saja masuk kubangan lumpur pemandian babi.
"Kalau Bima gimana Mas? Udah ada kabar dari Pak RT?" Tanya Mama Lauritz tiba-tiba yang hanya dijawab gelengan kecil oleh Papa Yudith.
"Masa gak ada laporan?? Di kelurahan gak ada juga??" Tanya Mama Lauritz lagi.
"Apa-apa itu semua dari dasar Dek. Kalau RT aja gak tau kabar warganya, gimana RW apalagi pihak kelurahan?? Mau siapa yang lapor kalau bukan Pak RT?" Berbalik Papa Yudith bertanya pada Mama Lauritz sembari memberikan sedikit pemahaman.
"Mungkin ada orang lain.." Jawab Mama Lauritz sekenanya.
"Mana bisa gitu.. Kalau ada warga kita atau warga asing yang buat laporannya, nanti balik lagi pihak desa pasti yang ditanya ya Pak RT nya."
"Oh gitu.. Ya udah kalau gitu sekarang tidur aja.. Besok Adek harus bangun pagi masak sarapan. Anak-anak pada sekolah semua." Melepas tangan yang memeluk pinggang Papa Yudith, Mama Lauritz sudah melorotkan tubuhnya dan menarik selimut sebatas dada.
"Ya udah, ayo tidur." Papa Yudith akhirnya mengikuti Mama Lauritz membenamkan tubuhnya di balik selimut, meraup tubuh istrinya kembali dalam dekapan.
"Mas bantu nyuci baju ya besok pagi-pagi!?" Ucap Mama Lauritz dengan mata yang sudah terpejam. Permintaan yang sarat akan perintah itu terlontar bebas.
"Iya.." Jawab Papa Yudith singkat yang masih menatap lekat wajah Mama Lauritz.
Terlelap dalam keharmonisan, ocehan kedua manusia yang sudah mengarungi susah senang bersama itu berganti dengan dengkuran halus. Seolah sedikit beban sudah terangkat, keduanya sama-sama tidak berlayar ke pulau mimpi. Hanya ada ketenangan tanpa mimpi buruk, aneh apalagi ambigu.
Hingga dingin pagi menyapa, matahari bahkan belum muncul dan langit masih gelap, Mama Lauritz sudah terlebih dahulu bangun. Berperang bersama pisau, talenan, panci dan kuali dengan riuhnya di dapur. Meski begitu berisik, namun hebatnya tidak ada suara yang sampai ke telinga penghuni rumah 2 lantai yang asik terlelap. Entah Mama Lauritz yang jago meredam suara atau telinga orang-orang itu tersumbat tangki minyak SPBU.
"Mamas.. Adek.. Ayo bangun!!" Teriak Mama Lauritz yang sudah berada di kamar kedua jagoannya.
"BANGUN!!!" Teriak kencang Mama Lauritz yang hanya sedikit mengusik, terbukti dari Rian yang menarik selimut menutup wajahnya.
"Mama siram kalau hitungan ketiga gak bangun!!" Ancam Mama Lauritz.
"Saattuuuu..!!" Menghitung dengan ujaran panjang nan kencang, Mama Lauritz sudah siap dengan semprotan bunga berisi air es.
"Duuuuuaaaaa..!!" Lagi-lagi tidak ada pergerakan.
"Tiiiiii.."
Gubrak.
Splash..!!
"Aaaa..!! Hah..!! Aaaaah..!!" Jerit Jona diiringi rengekan sambil menghalau guyuran halus di wajahnya. Bangun dengan gelagapan, wajah basah Jona membuat mata Rian tertutup rapat akibat tertawa lebar. Pemandangan pagi yang sudah sangat biasa.
"Papa..!! Kakak..!!" Kali ini berganti sudah pemicu jeritan maut Mama Lauritz.
"Aaakk.." Suara Jona terdengar seraya membuka lebar mulutnya.
Telah habis drama pengeras suara dari Mama Lauritz, kini meja makan sudah diisi kelima penghuni rumah. Berganti drama suap menyuap yang dilakukan Jona dan Rian untuk sang Kakak. Bukan tidak bisa Ara makan sendiri, namun gerak lambatnya membuat Jona dan Rian gemas. Menyerah pada pemandangan bak atraksi bekicot makan, Jona meraih sendok dari tangan Ara. Sedangkan Rian tetaplah menjadi asisten seperti saat ini.
"Kakak mau minum? Susu?" Tanya Rian pada Ara.
"Gak, mau itu aja air putih dulu." Tunjuk Ara pada setengah gelas air putih di gelas bekas Rian.
"Ini.." Tanya Rian memastikan yang dijawab anggukan oleh Ara.
"Pelan-pelan Kak.." Ucap Rian cemas sambil mendorong pelan gelas berisi air di bibir Ara yang menyeruput ganas.
"Susunya diminum kapan??" Tanya Rian yang masih fokus pada segelas susu coklat hangat yang belum tersentuh sedikitpun. Ada rasa tidak rela jika sampai susu itu mendingin.
"Makannya tinggal dikit lagi ini Kak.. Habisin!" Ucap Jona tegas sambil menyodorkan sesendok penuh nasi di hadapan bibir Ara.
"Jona udah.. Perut Kakak rasanya mau meletup. Banyak banget ambil makanannya." Mengelak mundur, perut Ara sudah sangat penuh hingga mengeras. Belum lagi nanti harus dipaksa isi dengan segelas susu, bisa meluap bisa terguncang sedikit saja.
"Biasa juga Kakak suruh Jona makan banyak kalau sakit." Cibir Jona pada Ara.
"Ya tapikan Kakak selera makannya gak turun, cuma tangan aja yang sakit."
"Sama aja kan sakit." Jawab Jona tidak mau kalah berdebat.
__ADS_1
"Ya beda. Itu kalau sakitnya lain, gak luka gini aja. Lagian kalau kamu sakit makan jadi dikit, perlu dipaksain biar gak kelaparan."
"Sama aja Kak.. Kakak juga nanti bisa kelaparan kalau sekarang gak banyak-banyak makan. Di kampus siapa yang mau suap Kakak?? Kak Yuki? Bang Dimas? Nanti Jona kasih tau aja biar gak usah ditolong Kakak ini.. Ngeyelan sih." Ucap Jona panjang, bibir miliknya itu meliuk-liuk bak belut yang baru dilempar ke dalam ember berisi air garam.
"Suka-suka mu lah Mas.. Yang penting udah Kakak makannya, kenyang banget."
"Sedikit ini aja lagi.. Biar Kakak gak gampang nyungsep lagi." Pinta Jona dengan mata berbinar.
Iya, Jona dan Rian tidak mengetahui kondisi Ara sebenarnya. Keduanya hanya diberitahukan bahwa Ara jatuh nyungsep tersangkut ranting akibat dikejar kucing. Tidak ada kecurigaan sama sekali dari kedua adik-adik Ara itu. Meski banyak kalimat mencerca Ara, dengan sigapnya Mama Lauritz menjawab semua pertanyaan layaknya juru bicara.
"Coba Mamas udah punya SIM, Kakak bisa aku antar berangkat ke kampusnya. Tangan gak bisa buat ngegas gitu.. Ckckck!" Ucap Jona sambil melirik sekilas ke arah telapak tangan Ara yang penuh goresan. Sengaja tidak diperban agar tidak mudah lembab dan memperlambat luka mengering.
"Gak punya SIM juga bisa bawa motor gitu apa bedanya?" Memutar bola matanya malas, Ara mulai beranjak dari duduknya. Kedua orang tua dari 3 anak manusia yang sejak tadi heboh hanya tersenyum memandang interaksi ketiganya.
"Mau adik mu yang tampan ini viral di sosmed gara-gara di tilang?" Berkacak pinggang, Jona mencebikkan bibirnya.
"Heleh.. Udah ya.. Ma, Pa, Kakak mau ke atas dulu ambil tas." Berlalu meninggalkan ruang makan, kaki Ara melangkah menaiki anak tangga.
"Jadi Kakak mau ke kampus naik ojek atau diantar sama Papa?" Teriak Jona di ujung dasar anak tangga, mendongak menatap punggung Ara yang terus menjauhinya.
"Dijemput." Jawab Ara singkat.
"Dijemput? Siapa? Ojek?" Bukan Jona, kali ini Rian yang berteriak.
"Ada, nanti tau sendiri." Ucap Ara dengan suara meninggi, pasalnya ia sudah hampir sampai di ambang pintu kamarnya.
"Rian ayo berangkat.. Nanti terlambat lagi." Merangkul bahu Rian, Papa Yudith membawa anak bungsunya ke arah rak sepatu. Kaki yang masih telanjang itu harus cepat-cepat dibungkus kaos kaki dan sepatu.
"Kakak gimana?" Tanya Rian sambil memasang sepatunya.
"Udah biarin aja Kakak ada temennya."
"Ya udah kalau gitu Rian tunggu di luar ya.."
Berlari kecil ke halaman rumah, mata Rian menyipit kala menangkap laki-laki dewasa yang jadi sering berkunjung ke rumahnya. Rambut rapi ditambah tubuh atletis dalam balutan setelan jas hitam, Rava tampak gagah. Sayangnya tidak akan membuat Rian terpesona.
"Om mau ngapain ke sini?" Tanya Rian cukup ketus, dahi berkerut menelisik Rava dari atas ke bawah dan sebaliknya. Seolah sedang mendeteksi apakah ada logam berbahaya yang Rava bawa ke rumahnya.
Mendapat pertanyaan penuh rasa ketidaksukaan membuat Rava gugup, rupanya lebih sulit menghadapi si kecil Rian dibandingkan Papa Yudith. Belum lagi panggilan Om yang tersemat ingin cepat-cepat Rava buang. Mencoba nekat membelokkan, Rava sedang memantapkan lidah menyebut dirinya 'Mas' pada Rian.
"Kakak Ara ada?? Mas mau jemput biar ke kampusnya barengan." Ucap Rava dengan tatapan teduh namun sangat gugup yang disambut kilatan petir oleh Rian.
"Ada." Jawab Rian singkat menambah suasana canggung.
...****************...
*
*
*
Apakah Gilang bisa kembali ke Kota B?š¤
Bagaimana trik pendekatan Rava pada Rian nantinya?š¤
*
*
Kira-kira Ara bakal bisa manis-manis kayak orang tuanya gak ya kalau udah punya pasangan?š
(Udah deket dan dibuat pendekatan sama Rava, tapi bakalan beneran sama Rava gak ya Ara nantiš¤)
Udah lama nih 2 temen rempong Ara gak muncul, kangen gak sama Dimas dan Yuki?š
__ADS_1
*
Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hanaš„°