
Pembicaraan seputar kode sandi hotspot rupanya mengalihkan keinginan Ara untuk berselancar di dunia maya. Dirinya masih sibuk menerka dari nama apa angka 39 itu terbentuk. Sesekali Ara merengek pada Rava untuk segera menyebutkan langsung, namun bak pemancing handal yang doyan tarik ulur senar joran, Rava justru senang menggoda Ara hingga semakin si cantik kesayangannya penasaran.
“Mas nih bikin penasaran aja. Cepetan kasih tau 39 nya itu apaan!?” Mengguncang lengan Rava sekuat tenaga, Ara sudah enggan untuk rebahan. Dirinya duduk dengan bibir cemberut, dahi mengerut dan alis nyaris tertaut bertingkah layaknya anak kecil merajuk tidak dibelikan balon karakter.
“Arti nama kita.” Jawab Rava lembut, menarik tubuh Ara agar kembali mendekat dalam pelukannya.
“Arti nama kita? Aara, Rava? Kalau Aara jelas Ara tau, kalau Rava apaan?” Menolak pelan, Ara masih tidak puas dengan jawaban Rava. Seakan sedang mengikuti kuis tebak-tebakan berhadiah.
“Kalau nama kamu artinya apa?”
“Elang, kan?” Ucap Ara yang tampaknya meragu. Jelas Ara tau bahwa ‘Aara’ dari namanya berarti elang. Akan tetapi untuk nama Rava jelas Ara tidak tau, atau lebih tepatnya belum pernah mencari tau.
“Kalau arti nama kamu elang, berarti nama Mas juga elang kan?” Jawab Rava seakan saling mengaitkan antara arti nama Ara dan namanya sendiri.
“Masa iya? Sebentar..” Ucap Ara masih dengan tidak percaya, kini koneksi sambungan data akhirnya berfungsi untuk Ara mencari arti nama Rava. Berselancar dengan lihai jari-jemari Ara mengetik dan menggulir beberapa website yang menyebutkan arti nama Rava yang ia cari.
“Bukan elang tuh. Mas bohong ya?” Protes Ara memicingkan matanya saat beberapa hasil pencarian ‘arti nama Rava’ tidak memunculkan penjelasan sesuai keinginannya.
“Coba cari satu per satu nama Mas yang lainnya.” Pinta Rava agar Ara kembali melakukan pencarian di internet untuk membuktikan ucapannya akan arti elang pada nama keduanya. Menanti dengan senyum mengembang, Rava hanya ingin memandang Ara sepuas hatinya. Berjanji di dalam hati akan memberikan semua kebahagiaan tanpa terlewat sedikitpun.
“Aquila itu elang??” Terperanjat dengan mulut melongo Ara terbelalak menatap Rava yang tertawa kecil. Mana pernah Ara sangka jika Aquila dari nama Rava diambil dari salah satu rasi bintang yang berarti elang. Jadi tanpa Ara sadari nama keduanya memiliki makna yang sama, benar-benar sangat menakjubkan.
“Jadi beneran 39 itu elang?” Tanya Ara dengan polosnya yang masih tidak percaya pada sebuah kebetulan yang tidak mungkin bisa setepat ini.
“Iya, Sayang..” Jawab Rava yang sudah gemas dengan menarik tubuh terduduk Ara hingga seprai kasur mereka ikut tertarik.
“Kok bisa sih samaan gini?” Ucap Ara heran, kembali membaca penjelasan rasi bintang Aquila yang masih terpampang nyata di layar ponsel yang menyala. Menggeleng pelan, Ara terkekeh menertawakan kebetulan yang terasa sangat manis.
“Berarti kita memang ditakdirkan untuk bersama, Sayang.. Kamu untuk Mas dan Mas untuk kamu.” Ucap Rava, memeluk posesif seakan Ara bisa melarikan diri jika terlepas dari dekapannya.
__ADS_1
“Aduh lebay nya..” Cibir Ara sambil menepuk pelan ke lengan Rava yang melingkar di atas perutnya secara asal. Entah malu atau gemas, yang pasti Ara sedang menyalurkan sesuatu yang menggelitik.
Perlu diketahui, bisa dibilang salah satu kebiasaan buruk Ara yang muncul saat ini adalah suka memukul Rava. Tapi jelas bukan pukulan khas kekerasan dalam rumah tangga, tangan Ara hanya terasa ringan.
Sejujurnya bukan hanya ingin memukul, namun juga menggigit gemas setiap kali Rava mulai menggodanya. Terkadang ketika Ara sadar tindakannya salah, maka ia akan berubah aneh saat diam-diam memarahi kedua telapak tangannya yang suka sembarangan bergerak seolah tanpa kendali.
“Mas bucin banget ya sama Ara? Hahaha..” Ejek Ara pada Rava dengan gelak tawa lepas. Sangat cantik di mata Rava.
“Bisa-bisanya kamu baru sadar..” Melepas rengkuhannya, Rava menggelitik Ara tanpa ampun. Euphoria kebahagiaan sangat terasa. Malam yang dingin pun menghangat di atas ranjang mereka dengan obrolan dan tawa yang membuat keduanya semakin lekat.
“Hahaha.. Geli.. Ammpuun Maaas.. Hahahahaa..” Menggelinjang dan meliukkan tubuh sampai berbaring menahan rasa geli, Ara berusaha melawan aksi gelitikan Rava yang sulit untuk dihindarinya.
“Sampai keluar air mata ini ketawanya.. Tega banget sih Mas..” Keluh Ara sambil menyeka bulir-bulir air mata yang meleleh ke sisi samping wajahnya. Seingat Ara dirinya tidak mudah merasa kegelian, namun entah mengapa jari-jemari Rava seakan memiliki kekuatan magis yang menghantarkan sengatan.
“Sampai nangis gini Sayang nya Mas..” Ucap Rava sembari ikut menyeka sudut mata Ara yang basah.
“Tau gak Mas, tadinya Ara kira 21 itu kebetulan umur saat Ara nikah sama Mas. Tapi kok dipikir-pikir lagi gak mungkin. Dulu waktu Jona pakai juga kodenya ini. Lagian kalau 21 umur Ara, gak mungkin juga 42 nya Mas.” Seloroh Ara sambil menatap langit-langit kamar. Menikmati usapan lembut dari telunjuk Rava yang sibuk menyusun setiap helai poni rambut Ara di dahi.
“Sayang?” Panggil Rava pada Ara yang sepertinya sedang berpikir keras. Sukses hal itu memancing kegugupan Rava, padahal jelas tanpa berandai-andai juga keduanya sudah menjadi pasangan suami istri.
“Nggak mau. Udah hampir seumuran Mama Papa kalau segitu. Sekarang aja umur Mas hampir dekat pertengahan 30 tahun, gak lama lagi juga masuk 40 tahun.” Ucap Ara menolak yang diakhiri kalimat menohok mengingatkan Rava pada usianya yang tidak lagi muda.
“Kelamaan nungguin kamu sih.” Celetuk Rava sambil memeluk perut Ara.
“Ngeri banget ya Mas doyannya sama bocah.”
“Hush..! Gak gitu ya, Sayang.. Mas benar-benar jatuh cinta saat umur kamu udah legal.”
“Lah itu apa yang katanya hampir gila nyariin Ara waktu masih ingusan?” Celetuk Ara menyanggah kalimat yang Rava ucapkan.
__ADS_1
“Kamu itu ibarat matahari pagi, gak perduli suasana hati Mas yang baik atau buruk, kamu tetap hadir menyemangati. Jadi saat kamu hilang, Mas seperti kehilangan semangat. Kamu itu lucu banget, cerewet juga. Tapi kenapa sekarang jadi pendiam, hm?”
“Masa iya? Gak tau, gak sadar juga.” Jawab Ara sekenanya. Sedetik kemudian kerjapan mata Ara memberat, tiba-tiba mengantuk dengan mulut yang menguap lebar. Tidak menunggu waktu lama Ara sudah nyaman memejamkan matanya. Apalagi usapan yang kembali Rava berikan di puncak kepalanya jelas terasa sangat nyaman.
“Tidur yang benar. Naik, pakai bantalnya.” Ucap Rava yang tanpa kata langsung dituruti Ara dengan mata terpejam rapat. Mendaratkan tubuh yang sempat diangkat untuk beringsut naik mencapai bantal.
“Sweet dreams and sleep tight, baby.” Bisikan lembut disertai kecupan singkat di dahi menjalarkan rasa cinta yang tidak perlu dijabarkan lebih luas lagi.
Memandang sang istri yang mulai terlelap, setiap detik waktu yang berputar Rava merasa semakin jatuh cinta pada Ara. Jika saja uang bisa muncul dari dedaunan kering yang rontok, Rava akan dengan senang hati mengurung diri bersama Ara.
Namun hidup di dunia ini harus realistis, mereka perlu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mempersiapkan segalanya menghadapi masa depan yang penuh misteri. Cukup berat bagi Rava beberapa hari kebelakang yang terus meninggalkan Ara seorang diri. Pasalnya asisten rumah tangga yang mulanya sengaja Rava siapkan Ara tolak secara halus.
...****************...
*
*
*
Sesungguhnya Hana ini penuh spoiler sejak awal kasih tau arti nama 'Aara' dan sengaja gak mau kasih tau arti nama lengkap Rava.😄
Misi selanjutnya, kira-kira kalau ArVa punya anak akan dikasih nama apa ya?😁
*
*
Untuk teman-teman yang ingin masuk ke grup chat tolong sebutkan 2 nama sahabat Ara saat klik izin masuk grup ya🥰 Bukan di kolom komentar, tapi setelah klik kotak grup chat😊
__ADS_1
Terima kasih sudah menanti kisah pasangan bucin ArVa🥰