
Tak
Tak
Tak
Jari-jari lentik tangan kiri Ara mengetuk meja kayu perlahan sembari pikirannya menerawang jauh pada berbagai macam kemungkinan. Selembar kertas di hadapan Ara yang semulanya putih bersih sudah penuh dengan coretan abstraknya.
"Rava itu Abangnya Dokter Dion, orang yang udah 2 kali bawa aku ke rumah sakit. Aku dapat surat waktu di klinik Dokter Dion. Dia juga ada di sana terus tau aku. Apa feeling ku bener ya ada yang ngikutin? Apa Rava ini pelakunya??" Ara berucap lirih sembari setiap ucapannya diikuti gerakan membentuk garis penghubung di atas kertas.
"Tapi gimana caranya?? Aku bahkan juga ngerasa di ikutin waktu di kampus? Terus suara itu.. Suaranya mirip banget sama.." Ara kembali menduga-duga, "Arg!! Gak mungkin!! Harus aku pastiin dulu. Jangan gegabah Ara."
"Hidung, bekerjasama baik-baik ya sama aku mulai besok buat mengendus segala macam bau parfum. Jangan suka bersin duluan." Ibu jari dan telunjuk Ara sudah berada tepat di depan bibirnya, tampaknya kebiasaan Ara masih sulit untuk dihilangkan.
Flashback On
Setelah menempuh perjalanan udara selama lebih kurang satu setengah jam, Ara akhirnya tiba di Kota B bersama Dokter Dion. Tidak ada drama penjemputan, cukup pulang dengan Dokter Dion saja. Ara sengaja tidak mengabari keluarganya.
Duduk di kursi tunggu, Ara mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Matanya sempat beradu pandang dengan sosok familiar yang mengenakan kostum serba hitam, wajahnya tertutup topi, masker, dan tudung hoodie yang dikenakan.
Ara sempat ingin tertawa jika mengingat itu juga style kesukaannya. Bahkan di kampus, Ara pernah disebut sebagai salah satu anggota kelompok teror karena selalu mengenakan warna full hitam. Padahal setiap orang tentu punya seleranya masing-masing.
Memilih mengalihkan wajahnya, Ara bersiasat mengamati lewat pantulan ponsel dan cermin kecil miliknya. Benar saja, sosok itu saat ini sedang terang-terangan mengamati Ara.
Tap
Tap
Tap
Brak
Brugh
Bugh
"Arg!!" Pekikan kecil dari suara berat dan serak itu terdengar. Menyeringai Ara dalam posisi terduduk dan menunduk.
"Maaf ya Bang." Ara menangkupkan kedua telapak tangan, "Saya gak sengaja. Tadi kaki saya tiba-tiba terkilir." Ucap bohong Ara sambil berpura-pura ingin menangis dan kesusahan menggerakkan kaki kanannya.
Ara sengaja menghentakkan kakinya kasar untuk menginjak kaki sosok misterius itu. Lututnya juga menabrak keras pada tulang kering dan jangan lupa dengan sikunya yang menghantam keras paha berotot yang tidak kalah kerasnya. Meskipun mau tidak mau lututnya jelas akan ikut memar dan lengannya sakit, tapi Ara tidak perduli.
Flashback Off
...----------------...
"Mas Ega!!!" Suara melengking Ara mengawali sapaan panggilan.
[Aduuhh!! Sakit Dek telinga Mas. Coba sapa dulu lembut gitu. Kamu cewek loh Dek. Tertipu semua orang luar yang taunya kamu pendiam.] Menjauhkan ponsel, Mas Ega mengusap telinganya perlahan.
__ADS_1
"Masa bodoh! Jadi gimana sama si Dewa??"
[Sekarang gak Abang lagi nih manggilnya?? Hahahaha..] Ejek Mas Ega pada Ara.
"Buruan deh gak usah basa-basi!!"
[Kamu gak usah perduli sama urusan dia. Biar Mas yang bikin perhitungan. Kamu ingatkan video yang di kafe itu?]
"Jangan bilang yang video banteng lagi main serudukan sama kambing??"
[Hahahha.. Ya yang itu. Cukup kasih itu ke Dewa juga dia bakal nyesal udah setia sama Dinda. Belum lagi foto-foto dia gonta-ganti cowok.]
"Gak bisa!! Bukannya Mas sendiri yang bilang aku harus hadapi dia?? Kenapa harus cuma segitu aja??" Sergah Ara dengan kesal.
[Kalau kamu bisa magang di perusahaan tempat dia, mungkin Mas gak pusing. Kamu gak bisa magang di situ Dek. Kita susah ciptain kesempatan buat lebih dekat sama dia. Mau alasan apa kamu tiba-tiba deketin dia??] Diam-diam Ara menyetujui perkataan Mas Ega. Mas Ega memang berkuasa karena uang keluarga yang terus mengalir, namun jelas program studi Ara tidak sejalan jika masa magangnya diambil pada bagian kantor.
[Maafin Mas juga ya Ra. Akhir-akhir ini Mas sibuk banget ngurus masalah Ibu. Sebenarnya Mas udah gak mau berurusan, tapi dia tetap Ibu kandung Mas.] Ucap Mas Ega dengan suara yang tiba-tiba bernada sendu.
"Kenapa Mas??"
[Ibu kena tipu. Uangnya udah habis dan masih banyak hutang bahkan penalti kontrak pembangunan. Belum lagi Ibu keseret masalah hukum. Pusing banget Ra.] Keluh Mas Ega pada Ara.
"Bukannya aset Tante Laura banyak?? Katanya Ayah tiri Mas kaya.. Belum lagi pembagian harta dari Kakek banyak." Pertanyaan mengandung sindiran Ara lontarkan.
[Ibu udah cerai lagi.. Mereka nikah siri, jadi ya gak serepot itu perpisahannya. Mantan suaminya itu ternyata miskin, alasannya sama kayak dulu Ibu ninggalin Ayah Arya waktu jatuh. Seandainya bisa, Mas berharap lahir dari rahim Mama Lauritz.]
"Tinggal 1 semester lagi aku bakal KUKERTA.. Aku mau sebelum itu semua masalah ku sama orang luar selesai. Memang lebih baik aku lupain aja kalau gak mau berurusan, tapi nyatanya aku harus hadapi mereka biar gak ada lagi yang mengganjal." Lanjut Ara berujar penuh keputusasaan mengakhiri panggilan itu.
"Kenapa sih harus kayak gini?? Aku cuma pengen hidup tenang, kalau bisa balas dendam ya lancar-lancar aja, terus bisa tidur nyenyak. Kenapa harus tambah muncul sih orang-orang gak jelas?? Kalau mau nyakitin datang langsung aja kenapa? Atau kalau aku punya hutang, tinggal tagih aja juga. HAH!! Bikin pusing!!" Menelungkupkan kepalanya pada kedua lengan terlipat di atas meja, Ara menggerutu sebal.
Pikiran Ara sudah berkelana jauh merancang segala macam hal, ia harus mulai membuat daftar apa saja yang harus dilakukan. Meninggalkan sejenak keinginan menemui Bang Dewa, Ara lebih ingin mencari tau tentang sosok 'Rava' dan si penguntit yang menurutnya adalah orang yang sama.
Tidak lama kemudian terdengar suara tawa penuh kepuasan keluar dari mulut Ara. Air matanya bahkan sampai keluar saking kuatnya ia tertawa. Mengingat percakapannya dengan Mas Ega membuatnya lumayan terhibur. Rencana menjatuhkan Tante Laura lewat hartanya berhasil total.
"Aku gak sabar dengar dia ngemis harta lagi sama Kakek. Tante Bianca sama Om Alex pasti gak bakal tinggal diam." Masih dengan tergelak tawa, Ara memegangi perutnya yang mengeras.
"Pasti bakal seru banget." Ara menyeringai, "Perlahan kalian bakal saling menghancurkan. Keserakahan kalian gak akan pernah mampu buat lepas apapun walau sebutir beras."
"Kayaknya sebentar lagi aku bakal ketahuan jadi si tukang tipu kalau Mas Ega turun tangan. Lagian suatu saat juga dia bakalan tau lewat uang yang masih aku simpan." Lanjut Ara lagi yang masih setia berdialog seorang diri. Senyum di wajah Ara mengembang.
...----------------...
Di sebuah kafe yang berada di depan gedung perkantoran, Ara mantap melangkahkan kakinya. Matanya mengarah pada meja panjang yang biasanya banyak orang-orang menyendiri suka menghabiskan waktu siangnya di kafe sembari membaca buku atau memainkan ponselnya.
"Bener. Ini parfumnya. Badannya juga sama." Batin Ara dibelakang sosok yang sibuk membaca buku mengenai proyek kontruksi.
"Rava?" Panggil Ara pada sosok dihadapannya yang masih membelakangi.
"Rava kan?" Kali ini tubuh sosok laki-laki yang merasa dipanggil 'Rava' itu menegang.
__ADS_1
"Kamu Rava kan?" Sedikit membungkuk Ara mendekatkan kepalanya pada sisi kanan bahu sosok itu, tapi Ara tidak memandangnya melainkan orang lain di kursi sampingnya.
"Ara ya?" Tanya orang yang Ara panggil 'Rava' itu.
"Iya, kamu Rava kan? Anak teknik lingkungan semester 7 yang mau uji coba alat di lab budidaya?" Tanya Ara untuk mengkonfirmasi.
"Bukan. Kenalin, aku Andre." Ucap sosok itu ramah sambil memperkenalkan namanya pada Ara.
"Ups! Maaf ya. Kirain namanya Rava. Hehe.." Ujar Ara seolah ia salah nama. Kenyataan sebenarnya adalah ia sangat sengaja, bahkan lokasi pertemuan dengan seniornya Andre itu juga Ara yang menentukan.
Sedangkan sosok yang sempat menegang itu seolah tidak terusik sedikitpun oleh kejadian di dekatnya barusan. Ia memilih tetap asik dengan bukunya walaupun sudah tidak fokus lagi pada bacaannya.
"Teruslah berpura-pura gak tau dan gak kenal aku. Kita lihat apa bisa kamu terus sembunyi di balik kertas cintamu." Batin Ara, ujung ekor matanya menatap sekilas tingkah gelisah sesaat sosok 'Rava' yang sesungguhnya.
Ara sengaja tidak langsung menghampiri sosok yang terduga itu, bisa saja akan ada banyak alasan yang digunakan untuk mengelak. Selain itu, ia harus yakin betul apa motif sebenarnya dari perlakuan dan segala perhatian yang diberikan kepadanya. Bahkan jika bisa Ara juga akan memberikan pelajaran pada 'Rava' dengan cara yang sama, diam-diam menjadi penguntitnya.
Sampai saat ini juga Ara masih bingung harus menyebut 'Rava' sebagai abang, om atau bapak. Mengingat Bang Bima pernah menyebutkan usianya awal 30 tahun dan perbedaan usia Ara dan Dokter Dion saja sudah sejauh 8 tahun, tentu akan lebih banyak perbedaan usia dengan Abang dari Dokter Dion itu.
...****************...
KUKERTA : Kuliah Kerja Nyata merupakan bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa dengan pendekatan lintas keilmuan dan sektoral pada waktu dan daerah tertentu di Indonesia yang lebih dikenal dengan singkatan lain sebagai KKN.
*
*
*
Gimana nih pendapatnya, pada setuju enggak tentang cara Ara dekatin Rava??š
Maaf ya kalau Bab kali ini kurang greget karena banyak ungkit kejadian lama dan gak langsung kasih sesuatu yang bikin gemes.. Tapi mau gak mau itu harus sihš
Oya, di bawah ini ada 4 visual tokoh novel iniš 3 dari 4 pasti udah pada tau lah.. Bisa nebak gak kira-kira yang 1 lagi itu siapa??š¤
FYI, yang terakhir calon suami author jangan ada yang ambil yaašš
Makasih ya udah sempatin waktunya buat baca sejauh iniš„°š
Oya satu lagi.. makasih yang udah kasih dukungan.. buat yang komen maaf kalau gak ada tanggapanšš buat author yang lain maaf kalau belum bisa kasih Feedback šš Ada masalah sinyal jaringan di daerah ku.. lebih banyak hilangnya daripada timbulš
loading berkepanjangan tiada kira.. semoga gak berlanjut sampai besokš£
__ADS_1