
Beberapa orang yang bergerombol sudah menyingkir. Seorang pengguna jalan yang kebetulan lewat menginstruksikan untuk membawa Bima dan Ara ke dalam mobilnya. Keduanya sudah tidak sadarkan diri. Diawali dengan Bima yang menutup matanya perlahan dan diikuti Ara yang pingsan karena syok. Berkelebat kenangan ditinggalkan sang Eyang, Ara takut Bima juga akan meninggalkannya untuk selamanya.
"Tolong!! Korban kecelakaan!!" Terengah-engah sambil mengucapkan kalimat sarat akan permintaan pertolongan.
"Bawa brankar!" Ucap cepat seorang perawat jaga pada Instalasi Gawat Darurat atau IGD.
"Dimana korbannya Bang?"
"Di mobil saya, di depan pintu masuk."
Drap
Drap
Drap
"Berapa orang?" Suara langkah kaki yang diikuti sebuah brankar bertanya pada seorang pemuda yang membawa Bima dan Ara di mobilnya.
"Ada 2 orang Bang." Jawabnya pada perawat laki-laki yang mengikuti langkah cepatnya.
"Maaf, tolong menyingkirkan sebentar ya." Ucap perawat itu pada seorang pemuda dan laki-laki paruh baya.
"Bapak keluarga korban?" Tanya salah seorang perawat pada laki-laki paruh baya yang masih setia memandang setiap gerak-gerik evakuasi Bima dan Ara ke atas brankar.
"Bukan. Kami hanya orang yang kebetulan lewat." Jawab laki-laki paruh baya itu.
"Saya kenal salah satu korbannya." Jawab si pemuda itu tiba-tiba dengan cepat. Sejak mengetahui sosok yang ditolongnya, ia tentu sangat tau bahkan hafal dengan sakitnya bogeman mentah yang dilayangkan.
"Kalau begitu tolong hubungi keluarga korban ya Bang. Sebelumnya Abang tolong mengisi data penjamin perwakilan terlebih dahulu di bagian administrasi agar korban lebih cepat ditangani jika kondisinya memburuk."
"Iya, terima kasih." Ucap sang pemuda tersebut.
"Kamu kenal mereka Gama?"
"Saya kenal Mas dan pacar dari korban perempuan itu Pak."
"Ya sudah kamu hubungi saja keluarganya, biar administrasi Bapak yang mengurus."
"Iya, Pak. Kalau begitu saya tunggu di dekat ruang penanganan korban."
Berjalan cepat mengobrak-abrik isi ponselnya, Gama menghela nafas kasar. Tidak ada nomor kontak Ega dan Rava yang sedang ia cari, lupa kedua nomor itu sudah lama dihapusnya. Melirik tas Ara yang berada di tangan kirinya, Gama sejenak berpikir.
"Cari nomor Bos Ega dulu terus Pak Rava." Ucap Gama kala ponsel Ara sudah dalam genggamannya. Namun jarinya terhenti kala sebuah nama dalam daftar riwayat panggilan terakhir.
"Kalau Pak Rava gak mungkin aku telepon pakai nomor ku. Bisa-bisa gak diangkat. Apa dia juga bakal marah dan ngelakuin hal sesuai ancaman dia terakhir kali ya?? Argh!! Bodoh amatlah!! Ini juga gak sengaja ketemu lagi dan aku justru tolongin Ara." Ada ketakutan dan kebimbangan yang melanda. Lalu siapakah sosok Gama sebenarnya?
Mari mengenang kembali kejadian beberapa tahun dan bulan silam kala Ara dengan bar-bar menyerang sosok 'Gus'. Iya, Gama adalah Gus. Lebih tepatnya lagi, Gama Rusdian adalah sosok hitam manis yang pernah Ara sakiti asetnya dan rontokan rambutnya dalam cengkeraman Ara.
Gama Rusdian (N ViXX a.k.a Cha Hak Yeon)
Memang benar bahwa tindakan Gama cukup kurang sopan, namun hal ini sangat perlu dilakukan agar keluarga korban segera mendapatkan informasi. Lalu bagaimana dengan ponsel Bima? Iya, ponsel yang bersemayam di saku celana Bima hancur kala ikut terhempas kasar bersamaan dengan tubuh Bima.
"Yaah!! Kok terpencet!!??" Ucap Gama panik, panggilan keluar pada nomor Rava sedang berlangsung. Menghembuskan nafas mengontrol kepanikan nya, Gama siap tidak siap akan menyampaikan informasi pada Rava. Ia akan pura-pura tidak mengenal Rava dan menyebutkan nama sang majikan yang sibuk mengurus administrasi.
"Maaf, dengan keluarga Ara?" Ucap Gama gemetaran. Ancaman Rava yang akan membuat hidupnya lebih menderita sangat membekas. Cukup Ega saja yang sudah memanfaatkan kesalahannya pada Ara untuk menghancurkan hubungan Dewa dan Dinda. Bahkan secara tidak langsung Gama juga terlibat dalam pengungkapan kasus korupsi Ayah Dinda yang dilakukan Rava, bagaimana bisa?
Tentu saja bisa, Rava adalah salah satu pemilik perusahaan pengerukan dan penimbunan dalam proyek reklamasi yang sebelumnya pernah bergabung, namun mengundurkan diri bahkan belum seperempat pembangunan berlangsung. Meskipun jabatannya di perusahaan hanya sebagai CFO alias direktur keuangan, bukan seorang direktur utama yang lebih dikenal dengan sebutan CEO.
Jabatan direktur utama diserahkan pada mantan sekretaris Ayah Rava yang tetap setia menemani dan membimbing Rava bahkan sebelum kematian kedua orang tuanya. Ayah Rava yang merintis dari titik terendah ditambah kepemilikan saham Rava yang kini sebesar 67% membuat Rava mutlak menjadi pemilik PT ELANG AKIRA. Tidak asing bukan nama PT yang Rava kendalikan?
[Ini siapa?? Dimana pemilik ponselnya!!??] Terperanjat Rava kala bukan suara Ara yang ia dengar. Hati yang sempat berbunga-bunga itu diselimuti kilatan petir di tengah awan hitam. Cemas, khawatir dan tentunya cemburu. Pikiran-pikiran buruk yang mengatakan sang pujaan hati dalam masalah besar menggerogoti Rava.
"Hah!!" Mendesah secara kasar, sudah nyaris lebih dari satu jam yang lalu Rava berkendara. Kondisi panik membuat Rava lupa melakukan sesuatu yang penting.
"ARGH!! GILA!! KENAPA AKU SAMPAI LUPA!!??" Teriak Rava kuat di balik kemudinya. Kesalahan fatal ia melupakan untuk menghubungi keluarga Ara.
Tuutt.. Tuutt..
Suara nada penghubung sambungan telepon terdengar nyaring. Ada nama Papa Yudith yang tertera dalam panggilan keluar itu. Mata yang sesekali melirik ke arah ponsel dan jalanan terlihat gusar. Rava berulang kali memohon agar panggilannya segera diangkat oleh Papa Yudith.
"Halo Pa?" Secepat kilat Rava berucap. Suara menyambar bak kilat itu terdengar gemetar.
"Pa dengerin Rava baik-baik dulu, Papa jangan panik." Ucap Rava cepat sembari menetralkan nafasnya. Rava tidak sadar bahwa yang sebenarnya sedang panik adalah dirinya sendiri.
[Ada apa Rav?] Tanya Papa Yudith bingung di seberang sambungan telepon.
"Papa sekarang tolong ke rumah sakit yang dekat daerah taman kota. Tolong hati-hati diperjalanan." Mengernyit heran, ucapan Rava semakin membuat Papa Yudith pusing. Pekerjaan membongkar mesin mobil yang gagal membuatnya lapar, ditambah ucapan berbelit Rava yang meningkatkan keinginan untuk melahap sepiring nasi hangat ditemani telur dadar penuh irisan cabe.
[Langsung aja Rav, ada apa ini??] Ucap Papa Yudith mulai jengah.
__ADS_1
"Rava dapat telepon dari nomor Ara tadi Pa. Tapi yang telepon itu orang lain yang bawa korban kecelakaan Pa." Ucap Rava dengan nafas yang mulai sesak, banyak pikiran buruk di kepalanya. Jika tidak menahan kekalutan nya, Rava akan menumpahkan tangisnya. Ingatan kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan menakut-nakuti Rava, ia tidak ingin Ara meninggalkannya dengan cara yang sama.
Deg!
Mematung Papa Yudith, otaknya sudah dapat memproses inti dari pembicaraan Rava.
[Dimana tadi?]
"Rumah sakit di dekat taman Kota Pa."
[Ya sudah, Papa tutup langsung ke sana.] Tanpa basa-basi lagi Papa Yudith menutup panggilan itu sepihak. Bergegas meraih kunci motor matic dan helm yang biasa Ara kenakan.
"Andi!!" Teriak Papa Yudith sekuat tenaga.
"Iya..!! Kenapa Om Bos??" Tergopoh-gopoh sosok yang dipanggil Andi itu. Pasalnya ia baru saja menyelesaikan misi buang hajatnya.
"Jaga bengkel. Nanti kalau Om gak balik kamu tutup aja kayak biasanya. Yang itu.." Tunjuk Papa Yudith pada sebuah mobil yang sempat membuatnya marah dan lapar dalam satu waktu. "Kemas aja barang-barangnya! Besok baru Om kerjakan lagi."
"Siap, Om Bos laksanakan!!" Ucap Andi mantap sembari berpose layaknya abdi negara, namun abal-abal.
...----------------...
"Eugh!" Lenguhan Ara menandai awal kesadarannya. Mata menyipit dan kedua alis nyaris bertaut, cahaya silau menyakiti penglihatan Ara.
Seakan jiwanya masih melayang-layang, Ara linglung dengan kondisinya. Mengangkat tangan kiri yang tersemat jarum infus, dahi berkerut Ara sedang memproses sesuatu.
"B-Baang.. Bimmaa.." Ucap Ara lirih terbata-bata. Air mata mengalir seketika. Mendudukkan diri secara cepat, Ara mendapati kepalanya berdenyut dan mata menggelap. Menunduk berusaha mengusir kegelapan dimatanya, Ara pejamkan matanya diiringi dahi yang berkerut.
Mencengkeram erat tiang kantung ingusnya, Ara dorong perlahan sekaligus bertumpu. Jangan kira akan ada adegan mencopot paksa jarum infus layaknya sinetron atau film layar lebar, Ara masih sadar diri akan rasa sakit yang mungkin akan ia alami. Selain itu juga Ara sadar memerlukan asupan dari cairan infus dan tentunya tidak ada keberanian alias nyali Ara menciut.
Berjalan tidak tentu arah, pikirannya hanya ingin segera menghampiri loket pendaftaran. Banyak pasang mata memerhatikan Ara yang menyedihkan di lorong bangsal umum, berjalan menahan air mata yang justru terus menetes.
"Barusan denger gak ada yang kecelakaan?" Ucap seorang perempuan muda yang Ara perkirakan sepantaran dirinya. Menghentikan langkah kakinya, Ara menahan kepala yang masih berdenyut.
"Yang barusan datang itu?"
"Iya. Katanya meninggal."
Deg!
Langkah kaki yang masih mengambang itu membeku. Pendengaran Ara berdenging. Berharap bukan Bima yang dimaksudkan.
"Seriusan?? Kok bisa?"
"Kasihan ya.. Mana katanya masih muda lagi."
"Kalau udah tua juga kasihan kali Buk!" Sarkas salah satu dari kedua perempuan muda itu.
"Bukan gitu, tapi kalau udah tua kan pernah ngerasa masa muda. Kalau meninggal muda gini mau ngerasa masa tua mana bisa lagi kan?" Jelasnya yang kemudian keduanya berlalu meninggalkan Ara yang masih diam mematung.
Ara mencengkram erat tiang infus yang di dorong kasar hingga berbunyi nyaring. Sakit kepalanya bukan lagi karena efek pingsan, namun akibat rasa tertekan. Derap langkah yang hampir menyerupai lari cepat itu mengusik banyak orang di lorong tunggu.
"Pasien kecelakaan terbaru.. Apa ada pasien kecelakaan yang baru-baru ini? Saya datang sama pasien yang kecelakaan muntah darah. Apa ada??" Tanya Ara kalut. Jemari tangan kanannya terus mengetuk tidak beraturan di pembatas berupa meja kayu.
"Pasien kecelakaan yang terbaru ada Kak, tapi dari laporan terakhir jenazahnya sudah dibawa pulang pihak keluarga. Tapi untuk.. Kak?? Halo, Kak?? Kakak baik-baik saja??" Ujaran sang perawat terhenti kala matanya menangkap sosok Ara yang nyaris jatuh terduduk bila tidak berpegang pada pinggiran meja sekat loket setinggi di bawah dada Ara.
Melambungkan lamunan kosong, Ara menatap lurus ke depan. Telinganya sudah tidak mampu lagi menangkap suara apapun, seolah deru nafas miliknya juga tidak dapat Ara rasakan.
Tulang-tulang tubuh Ara saat ini seakan terlepas. Semuanya terasa ringan melayang tertiup angin, hanya tenggorokannya yang tercekat melilit. Pandangan mata Ara kosong, meski kilasan Bima muntah darah terputar jelas di pelupuk matanya.
Langkah kaki yang dibawa ke sudut kosong rumah sakit sudah terhenti. Mendudukkan dirinya di lantai dingin memeluk kedua lutut, wajah datar Ara tampak menyeramkan. Tidak ada ekspresi atau tingkah histeris sedikitpun. Terdiam cukup lama dengan kelopak mata berkedip perlahan, air mata yang terbendung kuat belum juga jatuh.
Tes.
Tes.
Tes.
Bukan air mata, melainkan darah yang mengucur perlahan dari bekas jarum infus yang terlepas kasar kala Ara terduduk di lantai memeluk lututnya. Selang infus yang tidak sampai itu tersentak hingga menarik kasar sebuah jarum yang menancap pada punggung tangan Ara. Tidak ada rasa sakit seperti yang sebelumnya Ara bayangkan, atau mungkin Ara sudah tidak mampu lagi merasakan kesakitan itu.
Cukup lama Ara terduduk dalam keheningan, suara derap langkah kaki semakin mendekat. Papa Yudith menatap pilu gadis kecil kesayangannya. Sekitar 30 menit yang lalu sebelum kesadaran Ara kembali, Papa Yudith sibuk mengurus keberadaan Bima yang seolah lenyap. Meskipun Papa Yudith terlambat datang hampir 1,5 jam, tapi yang dituju tentunya Ara. Sedangkan Bima yang Papa Yudith yakini tengah diberikan perawatan berdasarkan informasi terakhir justru saat ini sudah tidak berada di rumah sakit.
"Kakak.." Ucap Papa Yudith lirih.
"Ayo.." Tersenyum menyembunyikan kesedihan, Papa Yudith tau pasti apa yang Ara rasakan. Papa Yudith sempat bertanya pada petugas jaga yang mengatakan Ara sempat menanyakan tentang pasien korban kecelakaan belum lama itu.
"Sini." Menggendong ala koala, Ara hanya terdiam tidak bereaksi apapun. Menepuk pelan punggung anaknya, tangan kiri Papa Yudith sudah beralih membawa serta tiang infus dengan dorongan kecil.
"Tolong beri tindakan untuk anak saya." Ucap Papa Yudith pada seorang dokter yang sudah siap sedia di samping brankar Ara.
"Pasien punya riwayat perawatan kejiwaan ya Pak?" Tanya sang dokter memastikan kembali berdasarkan lembaran laporan kesehatan yang sudah ada di tangannya.
__ADS_1
"Fisiknya tidak ada masalah, semua baik-baik saja. Hanya perlu menghabiskan satu kantung infus ini. Tapi mohon maaf Pak, kesehatan jiwa anak bapak sedang terguncang. Jadi saya sarankan untuk di rawat inap memantau kondisinya oleh Dokter kejiwaan dari rumah sakit ini."
"Saya akan berdiskusi dulu dengan keluarga. Terima kasih Dok." Jawab Papa Yudith, pikirannya kembali kacau. Kali ini Ara benar-benar seperti mayat hidup, hanya kelopak mata yang mengerjap perlahan sesekali.
"Sayangnya Papa.. Bima gak apa-apa." Entah apa yang sedang Papa Yudith lakukan, ia justru menyebutkan nama Bima.
"Bang Bima pergi." Ucap Ara lirih tiba-tiba.
Mengusap pipi anak gadisnya, Papa Yudith tau Ara akan bersuara mendengar nama Bima. Meski bingung apa yang harus dijelaskan. Kecelakaan yang terjadi juga benar-benar guncangan kuat bagi Papa Yudith. Sudah mencoba memohon diberitahukan mengenai informasi Bima, namun nihil. Semua terkunci rapat meski Ara juga datang bersamaan dengan Bima.
Iya, terdapat dua pasien korban kecelakaan yang salah satunya Bima. Kabarnya lenyap dan tersisa hanya sudah dibawa pihak keluarga, sedangkan korban yang sempat Ara dengar meninggal sebenarnya bukan Bima. Namun kemanakah Bima belum ada titik terang. Kepala RT lingkungan rumahnya dan rumah Bima yang kebetulan berbeda juga sudah Papa Yudith hubungi, namun lagi-lagi tidak ada informasi apapun.
"AAAARRRRGGGGHHHHH!!!!!" Jerit Ara kencang dan nyaring tiba-tiba. Kedua jemari tangan Ara meremas kasar rambutnya. Kaki yang tertekuk itu hampir menyentuhkan lutut pada dahi Ara.
"Menangislah.." Ucap Papa Yudith lembut sembari memeluk Ara. Hatinya hancur melihat Ara yang sangat menyedihkan. Belum lagi jika istrinya yang sengaja tidak diberitahukan melihat kondisi Ara, Papa Yudith sudah dapat membayangkan sebanyak apa air mata yang akan mengucur dari mata indah Mama Lauritz.
...****************...
IGD : Instalasi Gawat Darurat/ Instalasi Emergensi adalah salah satu bagian di dalam sebuah rumah sakit yang menyediakan penanganan awal dan pelayanan medis yang sifatnya gawat dan darurat selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Dimana pada IGD terdapat dokter dari berbagai spesialisasi bersama sejumlah perawat dan dokter jaga.
Apa yang dimaksud dengan gawat dan darurat?
Gawat : Keadaan yang berkenaan dengan suatu penyakit atau kondisi lainnya yang mengancam jiwa.
Darurat : Keadaan yang terjadi tiba-tiba dan tidak diperkirakan sebelumnya, suatu kecelakaan, kebutuhan yang segera atau mendesak.
Jadi, IGD dan UGD itu sama? TIDAK.
Meskipun IGD dan UGD sama-sama memiliki fungsi penanganan yang sifatnya gawat dan darurat, namun IGD dan UGD adalah 2 hal yang berbeda.
Perbedaan IGD dan UGD :
Ruang lingkup IGD umumnya pada rumah sakit yang lebih besar.
UGD biasanya yang berjaga hanya dokter umum saja, sedangkan di IGD juga melibatkan dokter spesialis.
Dalam segi peralatan, IGD lebih lengkap dibandingkan UGD yang memiliki jenis alat yang relatif terbatas.
Penjelasan CFO, CEO dan kawan-kawannya akan ada di bab lain. FYI, Hana udah sempat bongkar segala Peraturan Perundang-undangan Indonesia, salah satunya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas dan calon yang akan Hana pelajari Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 40 Tahun 2012 Tentang Jabatan-jabatan Tertentu yang Dilarang Diduduki Tenaga Kerja Asing.
Tujuan baca Kepmenakertrans yang super panjang itu cuma satu, pencarian jabatan CEO yang dalam UU RI NO. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas itu yang secara tersirat 'GAK ADA JABATAN CEO DI UNDANG-UNDANG'. Mungkin para Kakak-kakak bisa baca terlebih dahulu terus kasih contekan ke Hanaš
(Sebenarnya gak dicari juga gak apa-apa kan?š¤ Tapi sayangnya jiwa kepo Hana ini kurang puasā)
*
*
*
Apa Bima beneran meninggal atau Hana cuma prank?
Lagi-lagi, bagaimana kondisi Ara selanjutnya?
Rencana lamaran keluarga Eric jatuh dihari yang sama dengan kecelakaan Bima loh.. Ada yang sadar?š
*
*
Sadar gak sih beberapa bab akhir-akhir ini sering sebutin jenis makanan?š
Sebenarnya sengaja disebut karena Hana lagi pengen makan itu tapi gak kesampaian.š
By the way, Hana beberapa waktu sebenarnya badmood dan galau maksimal di samping kesibukan yang mulai padat. Jadi maaf ya kalau ikut buat novel terbengkalai.
Tapi kok sering lihat Hana aktif banget di grup chat??
Nah buat yang ada pikiran gitu, sejujurnya rempong dan bawelnya Hana di grup chat adalah pengalihan isu suasana hati. Maafkan curahan hati remeh yang akan rutin nongol di akhir setiap bab yaš Cuma di sini Hana merasa bebas bisa berbagi cerita, meski kita gak semuanya saling kenal dekat. š
FYI, cerita tentang Bima adalah kisah nyata. Bedanya bukan kecelakaan, Bima di dunia nyata gak bisa tetap berjuang di meja operasi. Tuhan benar-benar lebih sayang sama 'dia'.
Karakter Bima adalah gambaran sempurna dari sosok nyatanya, baik kehidupan keluarga sampai perjuangannya meraih beasiswa, meski bukan kedokteran ya.. Sekarang Neneknya hidup seorang diri setelah ditinggal cucu satu-satunya.
Kisah Ara dengan Bima di naskah pertama sebenarnya lebih manis dari yang udah Hana publish. Sayangnya waktu revisi ulang, hatiku gak sanggup membagi kisah nyata itu. Mungkin inilah yang akhirnya malah menyebabkan gak ada kubu Bima. Kalau ada pasti bakal nyesek pol deh.š¤
*
__ADS_1
Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hanaš„°