Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Tiada Bahagia Di Atas Luka Lain


__ADS_3

"Ara.. Kamu kenapa lagi sayang??" Gumam Rava sambil menembus dinginnya angin malam.


Tin!!!!!


Tin!!!!!


Bunyi klakson motor Rava memekakkan telinga pengemudi lain. Deru motor tidak sabaran menyelip kanan dan kiri layaknya pertunjukan goyang pinggul. Tidak ada lagi Rava yang mampu disalip kura-kura berjalan.


"Sial!!" Umpat Rava saat rem mendadak harus ditarik, dihadapannya memang ada banyak pengendara ibu-ibu, namun bukan karena itu Rava tertahan. Pergantian angka berkepala 2 hingga satuan tepat pada angka 9 membuat Rava gemas. Lampu merah menyala yang ingin Rava pecahkan belum juga berganti kuning apalagi hijau.


"Maaf, permisi Bu.." Ucap Rava disisa detik-detik terakhir dengan memajukan motornya. Motor lain yang nyaris menempel itu mau tidak mau sedikit bergeser.


"Sabar dulu Mas! Ngalah sama yang udah di depan duluan" Ucap ketus dari wajah yang menatap Rava sengit.


"Istri saya mau melahirkan Bu!!" Entah apa yang baru terlintas di kepala Rava, namun nada tinggi dari suara mengeras Rava menarik perhatian pengemudi lain. Malam ramai kala itu tidak menyamarkan suara Rava. Tersenyum kikuk sambil menunduk meminta maaf, Rava sudah bersiap dalam pacuan dihadapannya.


"Ayo cepat angkat Ra..!!" Rava berlarian di taman Kota yang bukan hanya cukup, namun sangat luas. Ponsel terus menempel di daun telinga dengan kerah baju yang sudah basah keringat padahal udara dingin menusuk kulitnya.


"Kamu dimana sayang!!???" Dengan suara bergetar Rava mencoba menghubungi nomor ponsel Ara lagi. Kesal ia sempat menganggap nomor ponsel teman Ara tidak penting. Situasi saat ini benar-benar membuat Rava gila.


Melangkah dan terus melangkah, kaki Rava menyusuri bagian paling sepi di sisi taman. Entah ada atau tidak, yang pasti adalah langkah lebar itu tidak akan putus asa.


[Halo?] Akhirnya sambungan yang berulangkali Rava lakukan terhubung. Sayangnya, lagi-lagi bukan suara Ara yang menyambut. Yuki sedang sibuk menutup mulut Ara dengan tangan kanan dan menempelkan ponsel ke telinga dengan tangan kiri.


[Bapak dimana??? Tolong cepat!!] Tertawa Yuki di dalam hati setalah berhasil mengucapkan kata perintah itu. Fantasinya menjadi mahasiswi yang lebih berkuasa dari sang Dosen terbayar lunas oleh Rava. Jelas saja bila berhubungan dengan Ara semua akan lancar. Meskipun mengetahui niat terselubung Yuki, Rava bahkan akan tetap sukarela menyerahkan seluruh hidupnya untuk Ara.


"Kalian di bagian mana!!???" Tanya Rava tegas.

__ADS_1


[Di bagian dalam jauh dari jalanan.] Jawab Yuki singkat.


Melanjutkan langkahnya, hembusan nafas lega keluar dari lubang hidung Rava. Meskipun belum sepenuhnya lega karena penampilan Ara yang acak-acakan memenuhi lensa matanya. Rava juga sempat menatap Yuki sekilas yang tidak bisa dikategorikan baik-baik saja.



"Ara.." Panggil Rava lembut, sambungan telepon itu langsung ia matikan. Memasukan ponselnya kedalam saku celana, Rava berlari menghamburkan diri pada Ara.


Di sinilah Rava saat ini, duduk berjongkok di hadapan Ara yang sengaja disuruh duduk pada bangku yang masih terhidang jamur krispi yang tidak lagi krispi. Rahang mengeras menahan gejolak amarah pada cerita Yuki yang tentu sudah dibumbui racun berbahaya. Sedangkan Ara hanya mampu mendengus sebal karena setiap akan menceritakan yang sebenarnya justru Yuki membekap bibirnya.


"Saya akan balas rasa sakit yang kamu rasakan, asal kamu setuju saya akan langsung hancurkan mereka." Ucap Rava menggebu-gebu. Sejujurnya ia ingin langsung melenyapkan Dinda, namun sadar saat ini dirinya harus membagi pemikirannya bersama Ara. Tekadnya bersatu dengan Ara harus dibarengi dengan saling terbuka.


Suara marah Ara di dalam mobil Rava masih terngiang jelas. Luapan emosi yang sepanjang jalan Ara tutupi langsung melibas habis Rava layaknya banjir rob.


'Mas Rava beneran mau serius sama Ara atau nggak? Kalau serius, jangan seolah mengabaikan Ara kayak udah gak selera lagi sama makanan yang baru bisa dijilat!! Daripada sok suka, mending dilepehin aja sekalian!! Buang dan cari yang lain!!'


Begitulah kalimat yang Ara ucapkan dengan jelas, mantap dan tentu tanpa ragu. Ara memang tidak suka bertele-tele, tidak ada gunanya berkelit pada sesuatu yang perlu diluruskan.


Ah.. Mengingat itu membuat Rava sangat malu. Ia layaknya anak kecil yang merajuk, walaupun nyatanya Rava tidak merajuk, hanya tidak bisa menahan pemicu rona pipinya. Belum lagi sorot mata Ara kala itu benar-benar sedang dipenuhi api amarah dan kekecewaan yang membuat Rava sangat merutuki kebodohannya.


Sebenarnya Ara sendiri saat itu tidak tau mengapa bisa sangat marah pada Rava, mungkin rasa sayang yang menjurus ke cinta sudah menguasai akal sehat Ara hingga kekecewaannya bertambah dahsyat. Tujuannya pagi itu menunjukkan kalung yang pernah Rava berikan sebagai simbol terbukanya perasaan Ara pada Rava gagal total. Apalagi kalau bukan karena sikap Rava yang menyebalkan.


"Kasih tau saya Ra, harus saya apakan mereka?" Rahang mengetat Rava mulai mengendur. Menyingkir sedikit lebih jauh, Yuki berharap masa-masa menjadi setan jomblo cepat berlalu. Tidak tahan melihat tatapan memuja Rava pada Ara, menghembuskan nafas kasar, Yuki mengingat si dia yang tidak pernah memikirkannya.


"Setiap orang bisa menjadi orang brengsek untuk hidup orang lain. Sama seperti mereka yang menganggap aku brengsek, buat aku mereka juga tokoh antagonis dalam hidup aku. Mencoba ikhlas dan berusaha terlepas dari trauma aku belajar kita harus berpikir lebih logis. Gak semua akan berjalan sesuai yang kita mau. Tidak semua yang kita anggap baik akan menjadi baik untuk orang lain." Mengusap lengan Rava, Ara tau percuma jika ingin membalas perbuatan Dinda. Hanya akan ada


"Saat Mas Rava membalas perbuatan Kak Dinda hingga hancur lebur, apa Ara akan bahagia??" Tatapan teduh Ara menghangatkan hati Rava yang sedang panas-panasnya.

__ADS_1


"Iya.. Ara akan bahagia dan puas. Tapi itu cuma sementara. Di saat Ara mencoba memposisikan diri sebagai Kak Dinda, Ara juga ikut sakit. Jadi tidak ada menyakiti yang membahagiakan, kecuali Ara dan Mas Rava psikopat."


Bangga, itulah rasa yang Rava rasakan saat ini. Bahkan Rava cukup malu pada pemikiran Ara yang lebih dewasa dibandingkan dirinya. Selain itu juga ada getar takut dalam diri Rava bila Ara mengetahui sudah sebanyak apa hal yang ia lakukan, meski semua mengatasnamakan kebaikan. Rava yakin Ara akan kecewa saat mengetahui dirinya pernah melakukan suatu hal yang licik, bahkan baru saja terlintas untuk menghabisi Dinda dan semua orang suruhan yang menyakiti Ara.


Sedangkan Ara yang masih acak-acakan itu bersyukur pada dirinya sendiri. Meskipun pergulatan tidak dapat dihindarkan, beruntung dirinya tidak kalap dan menggila. Sungguh Ara tidak sadar diri, padahal dimata orang lain dirinya tadi sudah sangat beringas.


'Pembalasan dendam ke Tante Laura mengajarkan aku bahwa kesakitan ku gak harus dibalas dengan kesakitan yang diterima orang lain, karena belum tentu aku akan bahagia melihat dia terluka.' Membatin Ara berkata pada dirinya sendiri.


...****************...


*


*


*


Apa sudah cukup tepat yang menjadi keputusan Ara?🤔


*


*


Tenang aja ya semuanya, Rava akan langsung berubah jadi superhero kalau ada yang macam-macam ke Ara.🤭



*

__ADS_1


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2