Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Pedofil


__ADS_3

Waktu sudah lama berlalu, jam berganti hari, hari berganti minggu dan kini sudah hampir 1 bulan Ara bertapa di rumah. Ara sudah lulus sebagai pengacara, alias pengangguran banyak acara. Iya, acara makan, ngemil, streaming music video sampai reaksi orang pada acara dari stasiun televisi Korea, yaitu Kingdom: Legendary War di salah satu platform aplikasi streaming online. Tidak akan pernah Ara ketinggalan memantau program TV itu, apalagi ada sang Om-om tampan Lee Minhyuk BTOB.


Memanjakan diri dan melepas segala hiruk-pikuk dunia luar yang mengancam Ara kapan saja. Tidak ada beban yang benar-benar Ara pikirkan lagi, hingga kalender menunjukkan waktu pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT). Bukan memikirkan sulit pada pembiayaan, namun kenyataan bahwa sebentar lagi Ara harus memasang perisai serbuan pengagum Rava.


"Bu Dian itu ibarat upil baru yang gampang dibuang Ra.. Bentar lagi bakal ada gencatan serangan bebek yang udah terorganisir." Ucapan Ara tujukan pada pantulan wajahnya di cermin. Bergidik ngeri Ara sedang berandai-andai mendapat serangan kumpulan fans fanatik Rava.


"Lagian lebay banget sih cuma gara-gara 1 cowok jadi ribut. Kayak populasi cowok di dunia ini langka aja.. Menipis pun intinya juga masih ada cowok lain. Tinggal ambil aja itu si Rava juga ngapain ganggu aku?? Kalau mau ya deketin tuh Bapak, syukur kalau beruntung. Tapi kalau dapat coba lagi kan juga nasibnya. Kan aneh banget lakinya aja suka sama cewek lain, nah ceweknya yang diuber-uber gini. Kalau aku ini kegatelan lah wajar, ini suka aja nggak. Kenal juga baru, deket apalagi?? Huh!!" Lagi-lagi Ara berucap pada dirinya sendiri, namun kali ini dengan cukup kesal. Terbayang sudah senyum tanpa dosa Rava yang ingin Ara remas.


Hidup Ara sudah seperti bayangan saat matahari bersinar terik di atas kepalanya. Mencoba berdiam, tidak banyak tingkah dan fokus mengejar pendidikan, kini Ara jadi kesal karena usahanya sia-sia akibat ulah ceroboh Rava. Bahkan sengaja atau tidak, jika menelusuri galeri ponsel Ara akan ditemukan foto saat Rava menggenggam tangan Ara di kantin kampus. Entah bagaimana secuil foto kenangan itu bisa tersimpan di ponsel Ara. Hal ini sudah pasti juga tersimpan di ponsel Rava yang bahkan bukan hanya 1, namun puluhan foto dari berbagai sudut pengambilan.


Tok


Tok


Tok


"APA!??" Teriak Ara bernada tinggi. Efek kesalnya meluap tidak terkontrol.


Ceklek


"Kakak kenapa marah sama Rian??" Wajah cemberut yang tampak lumayan takut itu muncul dari balik pintu. Ara yang baru tersadar hanya mampu merutuki kelakuannya.


"Tadi teriak sambil kejepit kok.. Gak marah." Kilah Ara. Sungguh sangat merasa bersalah Ara pada Rian yang dibentak nya.


"Mama suruh turun Kak."


"Kenapa??" Tanya Ara yang sebenarnya sedang malas-malasnya untuk menuruni anak tangga.


Menggendikkan bahunya, Rian mengangkat kedua tangan tanda tidak tau. Meninggalkan Ara yang masih berusaha menyeret kakinya, Rian secepat kilat sudah sampai di kamarnya. Terpaksa meninggalkan game online yang sudah memanggilnya, Rian tidak bisa menolak perintah Mama Lauritz.


"Mamaaa.." Panggil Ara manja pada Mama Lauritz. Tangannya terentang lebar menginginkan pelukan.


"Kenapa Ma??"


Memicingkan matanya, Mama Lauritz bersekedap menggelengkan kepalanya. Ara yang ditatap aneh oleh Mama Lauritz hanya ikut memandangi dirinya sendiri dari ujung kaki hingga memegangi baju dan wajahnya seolah bertanya dimana letak kesalahannya.


"Ganti baju Kak.. Ada tamu."


"Siapa??" Tanya Ara. Kerutan di dahi Ara semakin bertambah, bibir Ara juga sudah ikut manyun.


"Pak Rava lagi??" Tanya Ara lagi, kali ini matanya melebar.


"Hmm.."


"Kenapa lagi Ma?"


"Ajak Jona suruh duduk main game agak jauh buat pantau sekalian kalau gak mau berdua sama Rava. Gak enak udah datang itu.. Niatnya kan juga baik.. Bukan ngajak Kakak pacaran, tapi mau serius kan? Hargai dulu usaha Rava itu Kak.."


"Kakak gak mau nikah!! Gak mau php!" Ucap Ara kesal, menghentakkan kaki kanan kuat sambil berlalu menuju kamarnya.


"IH!!! Ngeselin!!" Teriak Ara sekencangnya sampai menggema ke ruang tamu dan tertangkap pendengaran Rava. Ara sedang bersungut-sungut, bibirnya tambah manyun sepanjang jalan tol. Melempar celana pendeknya sembarangan, dalam kekesalannya Ara tetap berganti pakaian untuk menemui Rava.

__ADS_1


"Siang, Pak." Ucap Ara singkat sambil mendudukkan dirinya kasar di sofa ruang tamu.


"Saya udah dapat izin sama Papa dan Mama buat bawa kamu pergi." Celetuk Rava cepat tanpa basa-basi.


"What?? Apa?? Papa?? Mama?? Siapa??" Tanya Ara beruntun, kelopak mata yang melebar itu nyaris membuat bola mata Ara meloncat.


"Ya orang tua kamu lah Ara.. Papa Mama siapa lagi??"


"Kok Bapak panggilnya juga Papa Mama sih?? Kan saya hampir aja bingung!"


"Saya izin panggil kayak gitu orang tua kamu gak masalah kok."


"Bapak kapan dapat izin Papa bawa saya pergi?" Mengalihkan pembicaraan, Ara coba mengulur waktu dan mengulik alasan agar bisa menolak ajakan Rava. Apalagi Ara tau jika Papa Yudith sedang tidak ada di rumah, jadi sangat mustahil Rava mendapatkan izin membawa Ara sesuka hatinya.


"Saya tadi mampir ke bengkel Papa buat minta izin."


"Oh.. Memang mau bawa saya kemana?"


"Jalan-jalan aja. Kamu mau apa? Nonton?"


"Saya bisa download drakor sendiri dan nonton sendiri." Jawab Ara penuh penekanan yang membuat Rava menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Setelah sempat mensurvei kebiasaan pasangan anak muda di mall luar Kota kala perjalanan bisnisnya, Rava melihat banyak yang menghabiskan waktu bersama dengan nonton di bioskop. Tentunya hasil survei singkat itu menjadi tolak ukur kemungkinan kegiatan yang bisa Rava dan Ara nikmati bersama.


Bukannya Rava tidak pernah muda, jelas sebelum menjadi lelaki matang ia harus melewati fase itu. Namun, hidupnya terlalu monoton sebagai seseorang yang terbiasa menghindari kesenangan bagi pemuda seusianya. Kehidupan Rava lurus-lurus saja, bahkan untuk urusan perempuan tidak pernah seorangpun mampu menarik perhatian Rava.


Hingga kecelakaan naas merenggut nyawa kedua orang tuanya, Rava dituntut keluar dari zona nyamannya demi Dion dan mengurus seluruh peninggalan orang tuanya. Memegang kendali tuas perusahaan yang hampir runtuh sampai akhirnya bertahan hingga kini tentunya adalah tantangan terberat yang harus Rava hadapi. Meskipun tidak sedikit yang harus Rava korbankan demi menutup kerugian. Rava bahkan sempat stres dicurangi orang yang tadinya ia anggap berpihak padanya, hanya karena ia masih terlalu labil dan belum paham betul seluk-beluk dunia bisnis.


Disaat itu juga akhirnya Rava dipertemukan dengan Ara, gadis kecil tangguh yang tampak seperti peri bagi Rava. Mencoba tidak menyerah dan belajar berjuang demi apa yang ada di hadapannya, Rava diam-diam mengagumi sosok mungil Ara dengan pemikiran dewasa yang melebihi dirinya.


Sosok serius Ara kala memberi Rava sebuah donat penghibur kesedihan, namun tidak cuma-cuma alias tidak gratis membekas jelas hingga kini. Ara berkata Mama nya sudah bersusah payah membuat donat cantik nan lezat itu, jadi dunia harus merasakan kelezatan sang donat dengan usaha merogoh saku sebesar seribu sampai dua ribu rupiah. Benar saja, donat bertabur kacang tanah sangrai itu sangat lezat hingga membuat sepasang mata berbinar. Bukan mata Rava yang berbinar pada setiap gigitannya, namun mata Ara yang menatap antusias menanti pujian untuk donat buatan Mama Lauritz.


Dan di sinilah Ara, si gadis kecil tangguh Rava yang nyaris menyerah akan hidupnya. Melewati drama panjang perdebatan yang akhirnya membawa Ara justru mengikuti Rava meninjau proyek pembangunan deretan ruko 3 lantai yang masih dalam tahap awal. Sungguh tidak habis pikir Rava pada pikiran Ara. Sudah Rava tawarkan nonton di bioskop, makan di restoran mewah, hingga belanja barang yang mungkin Ara sukai, namun semuanya ditolak. Keduanya justru baru selesai makan soto ayam di warung kaki lima yang hanya beratap tenda dengan dinding terbuka, sederhana tapi nikmat. Bagaimana Rava tidak menjadi semakin kagum dengan Ara? Mengawasi Ara sejauh ini membuat Rava sadar bahwa bukan karena menghemat uang, tapi Ara memang lebih suka kesederhanaan.


"Bapak kok beda banget ya sama yang waktu kita ketemu awal?? Kayaknya ketus, judes, dingin banget.. Berasa susah didekati, tapi ini malah doyan banget mepet saya." Celetuk Ara sekenanya, pasalnya saat ini Rava seolah seperti magnet yang menempel lekat pada Ara. Alasannya jelas karena banyak pekerjanya yang masih muda bahkan jomblo tengah curi-curi pandang menatap Ara sekilas. Tidak tahu saja Ara bahwa mata Rava terus menyorot tajam para pekerja yang biasa ditatap ramah oleh Rava.


"Kalau dibuat ibarat itu kayak apa ya?" Gumam Ara tiba-tiba yang masih terdengar oleh Rava.


"Kayak buah durian, meski terlihat kasar dan sulit kamu dekati, tapi dalamnya saya sayang, penuh kasih dan malahan saya yang dekati kamu kan?" Ucap Rava sambil tersenyum cerah, lebih cerah dari sinar sang mentari yang perlahan bergerak turun di ufuk barat.


"Tapi bau." Celetuk Ara.


"Kan lagi bahas wujud durian ini Ra. Bukan baunya. Kamu nih.. Saya kesel nih.." Cemberut, memayunkan bibirnya, Rava bertingkah manja pada Ara seperti anak kecil yang membuat banyak pasang mata menatap takjub pada tingkah Rava, si Bos yang biasanya berwibawa.


"Bapak lagi gila ya??" Mengernyit heran Ara pada perubahan sikap Rava padanya.


"Kamu tau hal gila apa yang pernah saya lakuin?" Memicingkan matanya, Rava menatap Ara dengan serius.


"Apa?" Tanya Ara penasaran.


"Mencintai bocah yang lagi berusaha menghafal perkalian angka 13."


"Serius? Kapan?" Lagi-lagi pembahasan ini membuat Ara sangat tertarik untuk mendengarkannya.

__ADS_1


"10 Tahun yang lalu." Jawab Rava singkat.


"Tunggu.. Bapak umur berapa itu?"


"Sekitar 22 Tahun."


"Pedofil!! Sumpah Bapak pedo ini!!" Ucap Ara semangat, bahkan ia sempat menertawakan Rava. Rava? Jangan tanyakan bagaimana senangnya melihat tawa Ara, ia rela meski harus diejek terus-menerus oleh Ara asalkan tawa manis itu tidak hilang saat bersamanya.


"Ya ampun, masih hafal kali-kali 13 itu kalau saya waktu kelas 5. Bayangin aja sama kayak saya, kelas 5 itu saya umur 10 tahun. Jadi Bapak yang udah 22 tahun naksir bocah 10 tahun yang jelas masih di bawah umur. Hahaha.." Tawa Ara semakin kencang. Mengacak rambut Ara, Rava ikut merasakan kesenangan Ara yang bahkan melebihi tawa senang Ara.


'Bocah itu memang kamu Ra.. Kapan kamu ingat sama saya?' Ucap Rava dalam hati. Ia tidak ingin langsung mengungkapkan kisah masa lalu keduanya. Rava ingin Ara perlahan membuka hatinya pada sosok Rava masa kini, bukan jadi berbaik hati karena kisah pertemanan singkat di masa lalu.


Kali ini Rava merasa sudah 2 langkah lebih dekat dengan Ara. Iya, 2 langkah. Selangkah karena tawa Ara dan selangkah lagi kala mengingat pembicaraan sesama lelaki sebelum ia sampai di rumah orang tua Ara. Tidak akan mungkin Rava akan ikhlas dan merelakan begitu saja Ara dari dekapannya yang belum teraih sempurna. Bahkan jika Rava sudah memiliki hati Ara, ia akan terus memonopoli perasaan Ara agar tidak pernah berpaling darinya.


...****************...


*


*


*


Kencan di bioskop? ❌


Kencan di restoran mewah? ❌


Kencan di lokasi proyek? ✅


Bonus nih, ini siapa hayyoooo...😊



Jadi, gimana nih kira-kira kelanjutan hubungan Rava dan Ara?🙄


Coba tebak siapa laki-laki yang Rava maksud di paragraf terakhir 😁


Ada yang ingat sama Lee Minhyuk??😄


*


*


Hi.. Maaf Hana telat super UP nya🙏


Setelah jam 8 malam aku baru kelar mandi, bukannya sempat buka HP lagi.. Aku tepar..


Capek dan sakit banget badannya kebanting-banting di dalam mobil, padahal tadinya seru banget.. Gara-gara nakal pengen selonjoran di kursi belakang pas ngerasa jalan turunannya rata yang rupanya di depan sungguh sangat aduhai🤣


Kelar mandi langsung dah pada kerasa sakit-sakit 😌 Udah lama ini badan di bawa rebahan aja jadinya encok😅


Tepat 23:12 WIB ku kebangun dan mulai meraba buka naskah buat cek typo, meski mata masih setengah kebuka😂 Sekarang 0:08 WIB, gak tau deh bakal ke UP aplikasi jam berapa😬

__ADS_1


*


Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🥰


__ADS_2