
“Kakak yakin ikut Gilang pulangnya?” Ucap Mama Lauritz dengan berat hati. Sejujurnya Mama Lauritz ingin menahan kepulangan Ara, namun dirinya juga sadar bahwa pendidikan Ara lebih utama. Meski begitu Mama Lauritz terpaksa meminta izin absen ke sekolah Jona dan Rian.
“Iya, Ma. Bang Gilang juga bilang nggak apa-apa kok. Lagian bisa jadi teman ngobrol di jalan.” Jawab Ara dengan mata tetap terfokus pada barisan untaian kalimat dari layar laptop yang menyala.
“Terus ujian kamu gimana Kak? Bukannya belum selesai?”
“Tinggal dikasih halaman, terus nyusun daftar isi sama Ara baca ulang aja. Paling setengah jam selesai.” Tutur Ara santai. Makalah berisi 23 lembar itu sudah berisi tinjauan pustaka beserta pembahasan rancangan pengembangan wilayah pesisir impiannya.
Dalam waktu singkat Ara berhasil merangkai alur kegiatan dari survei lapangan hingga langkah proyek pengembangan. Meski jelas masih jauh dari kata sempurna.
Setidaknya Ara percaya diri masih mampu mengejar nilai jomblo B, jangan memiliki gandengan seperti B-, apalagi C-. Mungkin lain halnya jika pasangan - (minus) itu bernilai A. Sangat ikhlas Ara menerimanya, bahkan lebih baik lagi jika nilai jomblo A yang ia dapatkan. Arg.. Jomblo meresahkan.
“Baju Kakak udah dikemas semua?” Tanya Mama Lauritz sembari mengedarkan pandangannya.
“Udah, Ma. Tadi pagi Ara langsung cuci baju yang kotor terus masuk ke pengering, jadi nggak ada acara pisah baju kotor dan bersih. Lagi pula cuma perlu bawa tas ransel itu aja.” Ucap Ara sembari menunjuk pada tas ransel yang diletakkan di atas ranjang. “Kaos yang Kakak pakai ini tinggal ditutup kemeja aja. Jadi gak ada lagi baju yang perlu Kakak kemas.”
“Laptop yang kamu pakai ini?”
“Kakak bawa pulang juga?” Tanya Ara ragu.
“Kakek udah kasih ke Kakak, jadi ya ini punya Kakak.”
“Gak apa-apa, Ma?” Lagi-lagi ada nada penuh keraguan dalam pertanyaan Ara.
“Kalau kamu kembalikan malah bikin Kakek mu berkecil hati. Lebih baik Kakak sekali lagi bilang terima kasih.” Jawab Mama Lauritz sambil tersenyum simpul.
“Kerjakan ujian kamu yang teliti. Nanti udah dikirim terus teringat ada yang kurang.” Ucap Mama Lauritz lagi yang membuat tatapan Ara yang sempat teralih kembali fokus pada makalahnya.
“Iya, Mama..”
“Gilang bilang jam berapa sampai di sini?”
“Jam 4 sore nanti Ma.”
“Masih sejam seperempat lagi. Makan dulu ya sebelum pergi, nanti Kakak kelaparan.”
“Siap, Ma..”
Menyantap sepiring nasi putih hangat dengan orak-arik telur sosis pedas, Ara menandaskan es jeruk untuk membasuh kerongkongannya. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 4 kurang 20 menit. Sudah sekitar 20 menit berlalu dari terakhir kali Gilang mengabari dirinya on the way.
“Kamu nggak makan udang asam pedas buatan Bibi? Atau mau dibuatkan tumis? Masakan Bibi dapur enak, Kak.” Ucap Kakek Baren yang duduk di kursi seberang Ara.
“Udah ini aja Kek. Udah kangen masakan Mama.” Jawab Ara setelah menelan nasi yang ia kunyah. Meski hanya orak-arik telur sosis, namun itu masakan tanpa campur tangan orang lain. Menu sederhana yang biasa Mama Lauritz buat saat terdesak tapi lapar melanda.
Cukup masakan Mama nya saja yang menjadi pendamping nasi di piring Ara. Apalagi udang asam pedas, ingin pun Ara tidak akan menyentuhnya. Ia alergi dan tentu saja Kakek Baren tidak mengetahuinya.
“Kakak..” Seru Mama Lauritz dengan langkah memburu. “Masih makan?”
__ADS_1
“Sebentar lagi selesai. Kenapa Ma?” Jawab Ara yang sejujurnya hanya perlu diangguki, karena Mama Lauritz tentu sudah menyaksikan langsung Ara yang membuka lebar mulutnya siap menampung beberapa suapan terakhir.
“Gilang udah di depan sama Papa.”
“Udah datang dia? Kirain masih lama lagi.” Ucap Ara sembari mempercepat kunyahan nya. Bahkan nasi yang belum sempat dihancurkan Ara telan paksa.
“Kakak makan pelan-pelan aja. Biar Kakek sama Papa mu yang temani Gilang di depan.” Menggeser mundur kursinya, Kakek Baren berlalu ke arah ruang tamu.
“Bi, nanti tolong bersihkan bekas makan Ara ya..” Pinta Mama Lauritz tiba-tiba pada seorang pengurus dapur yang baru saja meletakkan nampan berisi camilan.
“Iya, Nyah. Saya permisi antar camilan ke depan dulu, permisi Nyah, Mbak Ara.” Ucapnya sopan sambil menundukkan kepala sekilas pada Mama Lauritz dan Ara.
“Udah Kakak tinggal aja piringnya. Turunin nasi sambil duduk gabung di depan.” Ucap Mama Lauritz sambil memberikan air putih pada Ara. Pasalnya segelas es jeruk yang menemani Ara makan sudah habis terlebih dahulu.
“Kalian yakin mau motoran pulang ke Kota B? Bawa mobil di rumah aja Lang.” Ucap Kakek Baren sembari menepuk pelan bahu Gilang.
“Kalau bawa mobil, motor Gilang gimana Kek?” Tanya Gilang bingung.
“Nanti biar Kakek suruh orang kirim motor kamu. Atau kalau kamu mau bisa beli motor baru di sana, biar Kakek transfer uangnya. Sekalian sama Ara langsung beli barengan.” Jawab Kakek Baren santai, seolah motor Gilang hanya sebesar ketombe yang tersangkut di sela kuku jari.
“Ara lebih suka naik motor Kek. Kena angin langsung bikin gak cepat mabuk perjalanan. Lagian motor di rumah masih bisa dipakai.”
“Iya, Kek. Gak apa-apa, lagian Gilang sayang banget sama si Gajih.” Ucap Gilang sambil menatap motor yang dominan berwarna putih.
“Gajih?” Gumam Ara sembari mengernyitkan dahinya.
“Iya, gagah canggih.” Jelas Gilang sambil membusungkan dadanya bangga. Sedangkan seluruh orang di sana hanya mampu menggeleng pelan.
Semuanya memberikan petuah, doa dan amanah agar selalu berhati-hati. Dekapan sayang dan lambaian penuh kasih mengiringi keberangkatan Ara dan Gilang. Namun jelas ada satu sosok manusia yang berdiri enggan dengan tatapan sinis sebagai salam perpisahannya pada Ara, siapa lagi jika bukan Tante Laura.
Bukannya mengabaikan manusia yang terus mengedepankan ego dan sifat sombongnya, Ara justru diam-diam menjulurkan lidahnya mengejek. Jangan ditiru, itu tidak sopan, Ara hanya reflek. Mungkin lidah Ara perlu refreshing, bertemu indahnya dunia karena selalu terkurung dalam kegelapan mulut berpagar gigi yang tidak rata sempurna.
...----------------...
“Mau ngapain?” Tanya Ara pada Gilang saat motor yang ditunggangi berhenti di sebuah warung kecil pinggir jalan.
“Beli air botol dulu Ra.” Ucap Gilang sambil mengeluarkan dompetnya.
“Ambil yang besar 1 aja cukup?”
“Ambil yang kecil aja 2.”
“Kan lebih murah yang besar.” Protes Ara.
“Susah kalau nanti tiba-tiba kamu mau minum. Bisa-bisa kita mandi bareng di atas motor. Yang ukuran 600 ml itu aja 2.” Tunjuk Gilang pada air kemasan botol yang masih bersegel tutupnya.
Drrt.. Drrt..
__ADS_1
Don’t fight the feeling
Bonneung daero ga Babe
Don’t fight the feeling
Neoreul meomchujido ma
Yeah, don’t fight the feeling, yeah
Don’t fight the feeling, yeah
…
(EXO – Don’t Fight the Feeling)
“Sebentar Bang..” Ucap Ara sambil merogoh ponsel dengan layar menyala yang tertera nama Rava.
“Halo Mas?”
[Sayang.. Kamu baik-baik aja kan? Maafin Mas ya, baru ada sinyal.] Menatap deburan ombak pantai yang lama-lama semakin menjauh, Rava sudah lebih dari puluhan menit mencari sinyal. Seolah mengejar air laut surut, nyatanya Rava cemas dalam keputusasaan susah sinyal.
“Bang Rava?” Ucap Gilang lirih, namun ajaibnya suara itu samar-samar tertangkap radar peringatan bahaya milik Rava.
[Sayang, kamu sama siapa?] Tanya Rava datar pada Ara.
Suara yang tidak asing mengusik pikiran Rava. Tampaknya hubungan LDR alias Long Distance Relationship benar-benar tidak cocok untuknya, begitu pikir Rava. Bukannya tidak percaya pada Ara, hanya saja Rava merasa terlalu cemburu meski hanya memikirkan Ara bersama laki-laki lain.
“Oh.. Itu..”
...****************...
*
*
*
Akankah Gilang dengan semangat juang tinggi menjahili Rava yang jauh di sana?🤔
*
*
Alurnya melambat kan? Maaf, Hana sengaja 🤭
By the way, 3 Bab menuju pesta.😆🥳
__ADS_1
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰