
...PERINGATAN!!...
...BEBERAPA ADEGAN TIDAK PANTAS UNTUK DITIRU!!...
...⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠...
...****************...
Pandangan lurus mengarah pada lukisan anak panah berhias bulu burung Elang berwarna emas, Ara ingin sekali menertawakan hidupnya. Seperti panah apanya bila ia sudah serapuh itu.
Teringat dahulu dengan bangga Ara gores cat minyak di atas kanvas sambil membayangkan panah itu dirinya. Ara pikir bisa sekokoh anak panah yang mampu melesat dikeheningan malam melumpuhkan mangsanya.
...----------------...
Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
...
(Kahlil Gibran - Sang Nabi)
Mengacu pada salah satu kutipan dalam buku Sang Nabi karya Kahlil Gibran, Ara percaya telah menjadi anak panah itu sendiri. Sampai detik ini pun Ara masihlah menjadi panah itu, namun sesuatu yang terus menggerogoti jiwa dari sang panah melumpuhkan dirinya dalam luka.
Iya, Ara sudah tidak sekokoh panah lagi. Panah itu sudah hancur menjadi debu. Tapi bukankah debu masih mampu menyakiti? Ketahuilah, debu kecil yang terbuang mampu menyakiti bak belati yang menggores bola mata.
Lalu, akankah rasa sakit dan kehancuran yang ditumpukkan mampu membalaskan kesakitan itu sendiri? Ataukah malah hilang tidak berbekas kala angin bertiup layaknya yang terjadi pada debu nyata? Tidak ada yang mampu menjawab kegundahan Ara.
...----------------...
Dear Senja
Senja
Keindahan yang kau berikan sangat memikat
Ketenangan yang kau torehkan sangat menghangatkan
Namun mengapa hanya sekejap?
Kenapa di bawah gelap malam bertabur bintang kau biarkan aku sendiri?
Tak ada bintang yang ingin menyapa ku
Bahkan bulan tak ingin berpaling kepada ku
Aku sendiri
Sendiri menanti senja di esok hari
Berharap akan ada senja yang ingin menyapa ku lagi
Senja
Jangan menghilang lagi.
Tes.
__ADS_1
Tes.
Goresan tinta hitam itu berakhir diiringi linangan air mata. Menatap senja dari jendela kamar, Ara kesepian. Tawa dari ruang tengah rumahnya tidak mampu mengisi kehampaan hatinya.
Kecewa?
Marah?
Tidak. Hanya hampa. Kekosongan di hati melukai sesuatu di dalam jiwanya.
Kali ini Ara meraih tali skipping berwarna biru gelap. Ditatap lamat-lamat benda hadiah dari Hans itu layaknya sedang menyelami pikiran benda mati itu. Ada canda tawa, kemarahan, kekecewaan dan kebahagiaan yang sangat Ara idamkan.
......Pakai aku......
......Pakai aku......
......Ayo......
......Ara pakai aku......
......Kita akan bahagia......
......Bahagia......
......Pakai aku......
Ara tarik kursi meja belajarnya ke balkon kamar di bawah pipa besi. Ditatapnya pipa itu seolah meminta izin sebelum diikat nya tali skipping itu. Ara lemas kan sekujur tubuhnya mendorong kursi penyangga tubuhnya itu agar menggantung.
Brak.
"ADDUUUHH!!" Teriakan memekik Ara lontarkan.
Gagal. Ikatan tali itu melesat terlepas. Ara menengadahkan kepalanya, ditatapnya lekat pipa dan pegangan tali skipping yang masih tersangkut salah satu sisinya. Tubuhnya bergetar hebat pada posisi terduduk dengan salah satu tangan menyanggah dan satu lagi menutup wajahnya.
"HA HA HA.. HAHAHA.. HAHAHAHA.." Matanya berkaca-kaca. Tawa Ara tidak terdengar bahagia, namun sangat mengerikan.
"Aku masih belum boleh pergi??" Tanya Ara lirih entah pada siapa, "Kenapa??" Tidak ada jawaban, hanya nada penuh luka yang kembali muncul dari bibir Ara.
Tok.
Tok.
Tok.
"Kakak??" Suara Jona terdengar dibalik pintu.
Brak.
Brak.
Brak.
"Wooiii.. KAKAAAKKK??" Teriakan melengking Jona melanjutkan gedoran kasar di sebalik pintu.
"Punya kakak satu kok budeg yaa?? Oiii KAKAAKKK?? Ada badak jatuh ya di atas??" Melotot lebar bola mata Ara nyaris meloncat. Dasar mulut cabe kurang ajar milik Jona.
__ADS_1
Hilang sudah gundah gulana Ara di balkon berganti helaan nafas kasar kesal dan gemas menyatu. Kondisi hati Ara mudah berubah, sangat baik pada saat tertentu misalnya saat ini. Tapi tidak selamanya akan baik-baik saja. Terkadang malah sangat mudah untuk terpengaruhi hal-hal yang melukai dirinya.
Ceklek.
"Duh uuuhhh.. Ampun Kaakkk.. Jangan di jewer nanti merah. Argh!! Kakak!!" Jona memegangi pergelangan tangan Ara yang sedang aktif menempelkan jari jemari penuh kasih sayang itu hingga tidak ingin lepas dari telinga Jona.
"Mulutnya mau ganti diciumin ke SE-LO-KAN?" Ancam Ara penuh nada penekanan.
Tubuh Jona menegang, "Ampun Kak. Gak lagi deh aku ngomong kayak tadi. Janji. Janji kak, udah dong kak lepasin." Jari telunjuk dan tengah mengacung tanda meminta perdamaian. Mata memelas Jona juga dijadikan alat memohon perdamaian.
Jona tidak mau berurusan dengan selokan seperti yang Ara sebut. Masih berbekas jelas tingkah nakalnya yang mengabaikan peringatan dan ancaman Ara yang berakhir pada tempatnya, dilempar ke selokan. Sangat mengerikan bila kakaknya itu sudah tampak serius mengancam dengan mata tajam mengintimidasi, pasti akan dilakukan.
"Kenapa heboh banget? Mau minta pulsa?" Sembari melepas jewerannya Ara menaikan alis kanannya bertanya.
"Adik mu yang ganteng ini bukan tukang tipu pesan minta pulsa. Ganteng-ganteng gini rugi kalau cuma minta pulsa. Tuh di bawah ada yang mau ketemu. Lagian tadi kayak ada badak jatuh. Ups! Sorry kakak ku yang cantik." Senyum tengil Jona tercetak sangat jelas, ancang-ancang sudah diambil tampak untuk berlari sekencang mungkin, "Cantik kayak dugong terdampar. Hahaha.."
"CK!!" Berdecak sebal sembari gelengan kepala beberapa kali muncul, hampir saja Ara percaya pada adiknya yang selalu ingin dipanggil prince Jona itu berkata manis.
Berjalan ke ruang tengah rumahnya Ara melirik ke ruang tamu yang kosong dan pintu tertutup. Tidak mau ambil pusing Ara menghampiri Papa Yudith yang asik dengan kopi dan remote televisi menaikan volume siaran MotoGP.
"Pa.. Katanya ada yang mau ketemu kakak?"
"Ada di taman belakang. Ke sana gih, Kakak pasti suka." Ara mengernyit heran, Jawaban Papa Yudith justru membuatnya bingung. Dalam benak Ara kenapa juga Ara harus suka jika pasti temannya yang datang.
Belum juga beranjak dari hadapan Papa Yudith, Ara sudah dihadapkan pada Mama Lauritz yang keningnya sudah mengkerut.
“Tangan kakak kenapa luka kayak begitu?”
“Kena cakar kucing di kampus.”
“Sini lihat dulu! Kok cakarannya aneh gitu? Periksakan ke dokter dulu kak, nanti kalau tetanus atau rabies gimana?”
“Ini gak apa-apa. Kuku kucingnya beda aja.” Ucap Ara sambil menurunkan lengan bajunya.
'Iya beda, kuku kucingnya limited edition dari besi tipis yang bisa buat tusuk-tusuk.' Imbuh Ara dalam hati.
Ara berlalu meninggalkan kedua orang tuanya sebelum banyak pertanyaan menjebak keluar dari bibir Mama Lauritz. Ara masih berpikir siapa yang datang hingga ia harus suka dan tidak biasanya langsung bertemu di taman belakang.
Deg!
Punggung kokoh dari sosok berpostur tinggi dan tegap menjadi pemandangan pertama Ara saat ia tiba di pintu penghubung taman. Kepalan tangan Ara menjawab bagaimana perasaan Ara melihat sosok itu, padahal mereka belum berhadapan saja Ara sudah penuh amarah.
Ingin Ara berlalu meninggalkan tempat itu tanpa melihat sosok itu berbalik. Tapi Ara tidak bergeming, amarah dan ego nya menyatu seolah mengatakan jangan kalah dan hadapi saja. Ara tidak akan kalah, terbukti ia masih mampu berhadapan dengan Hans. Ara yakin pasti juga mampu mengatasi rasa sakit terhadap sosok yang mulai berbalik menatap lekat Ara di depannya.
...****************...
*
*
*
Terima kasih untuk semuanya yang sudah memantau kisah Ara dan memberikan dukungan untuk Hana🥰
__ADS_1