
Bruk
Srak
"Aduh!! Maaf ya Pak.. Saya gak sengaja." Suara gaduh tidak jauh dari Ara tiba-tiba mengejutkan. Tampak 2 orang yang sibuk membereskan kertas-kertas yang berserakan di lantai.
"Cih!! Modus itu." Ucap Yuki setengah santai dan mencibir.
"Maksudnya??" Tanya Ara pada Yuki, sedangkan Dimas masih asik pada dunia keripik singkongnya.
"Bu Dian naksir Pak Kim tau Ra." Ucap Yuki menatap Ara.
"Oh itu yang namanya Pak Kim." Ucap Ara sambil mengangguk-angguk beberapa kali.
"Jangan bilang gak tau lagi Ra siapa Pak Kim?" Tanya Yuki penuh penekanan.
"Emang." Ucap Ara santai.
"Ampun dah. Jadi dulu aku sempet nyebut Pak Kim itu masih gak tau juga??" Tanya Yuki penuh tanda tanya yang hanya dijawab anggukan kecil oleh Ara.
"Sekarang pakai itu mata Ra. Itu Pak Kim.." Ucap Yuki sambil menggunakan kedua jari telunjuknya di pelipis Ara untuk mengarahkan pandangan Ara pada sosok 'Pak Kim' yang dimaksudnya.
"Mataharinya lagi seneng banget Yuki, yang kelihatan di mataku muka orang jadi gelombang-gelombang sama gelap." Ucap Ara diiringi helaan nafas pasrah.
"Aduh!!" Yuki memukul pelan dahinya.
"Ingat gak orang yang dirimu bilang merhatiin kita di warung bakso?" Tanya Yuki pada Ara yang lagi-lagi hanya dijawab dengan anggukan. Mulut Ara terlalu sibuk mengunyah keripik yang dicomot paksa dari Dimas.
"Nah itu Pak Kim juga Ra. Dosen panggilan kampus kita yang single, tajir, ganteng dan pastinya pinter Ra.. Kalau dari grup gosip itu Pak Kim kerjaan aslinya direktur apa gitu deh, cuma gak tau kenapa dia mau ambil tawaran kampus buat ngajar. Sayangnya dia cuma ngajar di Fakultas Ekonomi. Huh.." Ucap Yuki panjang kali lebar yang diakhiri helaan nafas penuh kekecewaan.
"By the way, kita pernah loh ikut seminar yang pembicara tamunya dia sekali Ra. Itu loh yang mau gak mau harus datang pas semester tiga demi absen mata kuliah dasar-dasar manajemen." Ujar Yuki dengan semangat yang belum padam, berharap Ara bisa langsung menyambungkan kabel otaknya yang nyaris putus.
"Kapan?? Gak ingat aku." Mengeryit bingung Ara coba mengingat seminar yang dimaksud Yuki.
"Kakak rambut ombre nyenggol gelas kaca sampai pecah terus kamu bongkar tas obat itu." Ucap Yuki lagi belum putus asa seolah memberi clue pada Ara.
"Oh, pas itu toh." Ucap Dimas tiba-tiba. Sedangkan Ara masih mencoba merangkai ingatannya.
"Eh udah diem geng.. Itu Dosen arah mau ke sini." Ucap Dimas tiba-tiba, ekor matanya menunjuk arah 2 orang berlainan jenis yang sedang berjalan kearah mereka bertiga.
"Senyum Ra! Jangan kayak batu karang gitu Ra mukanya!" Bisik Yuki lirih pada Ara.
"Siang Bu, Pak." Ucap Yuki, Dimas dan Ara tentunya.
"Siang juga.. Kalian ini lengket mulu ya bertiga, pakai lem apa?" Jika kerupuk yang garing itu masih bisa kriuk-kriuk atau krenyes-krenyes tapi tetap enak, beda dengan candaan Bu Dian ini yang sungguh melempem bagi Ara, Yuki dan Dimas.
"He he he he.." Tawa yang tidak kalah melempem dari tiga kembang serangkai lontarkan. Kalau bukan Dosennya mungkin sudah diabaikan atau diejek habis oleh Dimas. Tapi jelas mereka tidak bisa apa-apa jika sudah Dosen Maha Benar yang sedang dihadapi.
"Oya, Ra. Minggu depan udah jadwal kita presentasi hasil penelitian.. Kemarin Pak Damar kasih tau Ibu kalau acaranya di kampusnya hari Rabu pagi. Tapi kita bakalan ada di sana sekitar 3 hari sekalian kalau ada revisi bareng lagi. Jadi kamu jangan lupa izin sama orang rumah ya, kalau izin kampus nanti dibuatin surat dispensasi. Selasa siang kita berangkat nanti ikut mobil Pak Kim." Ucap Bu Dian panjang lebar.
"Sekitar jam 2 siang ya Pak kita perginya?" Lanjut Bu Dian sambil menoleh pada sosok di sampingnya.
Ara jadi percaya kata-kata Yuki tentang Bu Dian yang naksir sosok yang katanya Pak Kim itu. Akan tetapi dapat Ara tangkap juga Pak Kim yang tidak menganggap lebih pada Bu Dian, malah mata Ara saat ini yang bertemu mata milik Pak Kim itu.
__ADS_1
Pertemuan mata sekilas yang tentunya tetap membuat Ara canggung bukan main. Tidak bisa dibayangkan bila nanti harus berbagi atap, udara dan pengharum mobil yang sama.
"Hem." Ingin Ara, Yuki dan Dimas rasanya tertawa dengan jawaban singkat Pak Kim itu. Jika Ara yang jadi Bu Dian pasti sudah kesal sampai ubun-ubun.
"Foto-foto kegiatan yang kita siapin itu jadi dipakai Bu?? Kalau iya, nanti foto pas kunjungan pihak sana Ara tambahin lagi di power point." Ucap Ara mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tambahin aja Ra.. Jadi kelihatan kita simpan semua dokumentasi kegiatannya." Ujar Bu Dian.
"Oke Bu, nanti kalau udah siap saya kirim ulang ke Ibu. Oya Bu, kalau perginya bareng, saya harus tunggu dimana ya Bu?" Tanya Ara sedikit khawatir.
"Kamu tunggu di rumah aja Ra. Kita perginya bakal lewatin jalan depan rumah mu. Rumahnya masih yang sama kayak dulu itu kan?" Tanya Bu Dian pada Ara.
"Masih Bu.. Saya masih setia numpang di rumah Mama Papa." Balas Ara sembari mengulas senyum manisnya. Sebenarnya Ara merasa ada beban berat di sekitar sisi kanan tubuhnya, sorot mata tajam yang seperti hendak memakan habis Ara itu mau tidak mau pasti Ara sadari.
"Ya udah kalau gitu Ibu sama Pak Kim duluan ya.." Pamit Bu Dian pada Ara, Yuki dan Dimas.
Belum genap dua langkah Bu Dian berhenti dan memandang Pak Kim, "Pak?" Ucap Bu Dian pada Pak Kim yang tampaknya seperti punya dunia sendiri itu.
"Ehh.. Iya. Mari." Ucap Pak Kim yang nampaknya sedikit terkejut sambil berlalu meninggalkan semuanya, termasuk Bu Dian. Benar-benar tipe orang menyebalkan.
"Itu Dosen banyak yang suka ya Yuki?" Tanya Ara pada Yuki sembari memandang punggung sosok yang disebut mulai menghilang dari pandangannya.
"Iya, keren kan Ra?" Tanya Yuki.
"Keren apaan? Kaku gitu. Mana gak ada senyum-senyumnya. Ketus juga kayaknya. Lihatkan tadi pas Bu Dian udah kayak truk gandeng ngomongnya tapi dijawab 'hem' aja?? Sekali panjang dikit cuma 'eh iya mari'. Idih.." Jawab Ara yang tidak tau kenapa jadi kesal sendiri.
Tidak ada balasan jawaban dari Yuki maupun Dimas yang akhirnya membuat Ara memandang heran kedua temannya yang sedang memandang prihatin pada Ara.
"Kenapa?" Tanya Ara bingung.
"Gimana rasanya bercermin sama tingkah sendiri Ra?" Tanya Yuki dengan senyum mengejek.
"Apaan sih kalian ini??" Tanya Ara geram dan penuh kebingungan.
"Apa yang kita rasain waktu pertama ketemu dirimu itu ya sama kayak curahan hatimu barusan lihat Pak Kim." Celetuk Dimas santai.
"Dulu aku sempet takut tau sama Ara. Hahahaha.." Ucap Yuki tidak kalah santainya, "Ingatkan waktu kita seleksi organisasi?? Dia pas masuk ruang itu tiba-tiba senyum, lah pas keluar langsung datar lagi. Mukanya berubah di pintu masuk aja geng.. Asal tau aja ya Ra, pas dirimu lagi di interview itu kami yang di luar pada ghibah ekspresi mu. Pro banget sumpah jadi orang munafik." Cerocos Yuki sekenanya. Memang begini rasanya jika berteman layaknya sudah mendarah daging, segala macam ucapan tajam berubah menjadi jelly.
...----------------...
Setengah dua siang kala itu, Ara sudah siap dengan segala bawaannya di tas ransel hitam. Jangan pikir Ara akan repot membawa koper mininya. Sangat mustahil. Lebih baik Ara repot mencuci atau mengantar ke laundry daripada harus berat-berat membawa banyak baju. Apalagi jika diingat bahwa 4 bocah laknatnya sudah banyak meminta dan mengiriminya pesan ingin ini dan itu, siapa lagi jika bukan si ganteng Jona, si imut Rian, si bawel Yuki dan si yang entahlah harus disebut apa Dimas itu.
"Kayaknya itu deh." Ucap Ara saat melihat mobil berwarna hitam dari kejauhan yang mulai menepi.
Drrt.. Drrtt.. Drrt..
I'm lovin' myself naega joa eotteokae
Tto nareunhaejyeo heuteureojyeo Get away
Simjangi jjarithan neukkim geureon geon sileo Oh
Pyeonhage swigo sipeo nan
__ADS_1
Stop tellin' me what I should do
Nan nae mamdaero hal geonikka
Get away, get away
Maeil nan Holiday
...
(Secret Number - Holliday)
Jangan pernah heran jika nada dering ponsel Ara akan terus berganti. Semua itu tidak akan lepas dari lagu yang Ara suka dengarkan baru-baru ini.
"Halo Bu?"
[Ra, Ibu udah sampai ini di dekat rumah mu.]
"Mobil Chevrolet Trailblazer hitam ya Bu?" Tanya Ara mendeskripsikan mobil yang jelas Ara ketahui merek dagangnya itu. Mobil sejenis Chevrolet yang pernah nangkring di bengkel milik Papa Yudith.
[Eh..] Ucapan orang diseberang sambungan telpon tersebut terputus bersamaan dengan seorang laki-laki keluar dari mobil memakai setelan kemeja putih serta celana levis dan sepatu kets hitamnya.
"Orang tua kamu mana?" Tanya sosok dingin itu tiba-tiba saat sudah di depan Ara.
"Di dalam Pak. Sebentar." Tanpa basa-basi Ara melenggang masuk ke dalam rumah sambil berteriak-teriak memanggil Mama dan Papa-nya.
"Siang Om, Tante." Mengeryit heran Ara mencari dimana sosok yang tadi tampak dingin itu. Di hadapan orang tua Ara, Pak Kim berubah menjadi hangat, ramah bahkan menyalami orang tua Ara bak anak kecil. Hampir saja ia menganga jika tidak bisa mengontrol keterkejutannya.
"Begini Om, karena ada kegiatan kampus jadi Ara harus ikut kami ke Kota Y sekitar 4 hari terhitung dari hari ini Om. Jadi saya di sini perwakilan Dosen di kampus ingin meminta izin langsung pada orang tua Ara, yaitu Om dan Tante." Ucap Pak Kim.
"Pa.. Ini Pak Kim, terus ini Bu Dian. Dosen Ara." Sela Ara berusaha mengenalkan 2 orang di hadapan orang tuanya itu.
"Ara udah izin kok Pak, Buk. Kalau nyusahin kirim pulang aja gak apa-apa kok." Celetuk Mama Lauritz seenaknya.
"Iya Pak, Buk. Ara udah izin kok. Silakan saja dibawa karena memang tugas penelitiannya juga.. Saya malah sebagai Papa Ara bangga kalau Ara bisa ikut serta ambil bagian di program kampus. Apalagi kegiatannya ini bisa mengasah kemampuan Ara juga." Jelas Papa Yudith.
"Makasih ya Pak.. Saya sebagai Dosen yang membawa Ara juga senang kok Pak. Ara kerjanya rapi, cepat, cekatan juga sangat teliti. Bahkan beberapa materi sebelum saya suruh sudah dirancang Ara, jadi saya tinggal perbaikan atau penambahan saja." Ujar Bu Dian membanggakan yang jelas menambah balon udara kebanggaan Papa Yudith yang ingin terbang.
Meninggalkan suasana hangat di teras rumah Ara, saat ini mobil hitam itu melaju dengan kecepatan sedang. Hanya ada satu suara yang mendominasi, yaitu milik Bu Dian. Sedangkan Ara ingin tidur tapi tidak enak hati, ingin mengobrol tapi sedari tadi Bu Dian hanya berusaha memancing suara Pak Kim. Alhasil Ara harus menahan kantuk dan polusi suara yang ingin ia bungkam, karena percuma saja bila satu katapun tidak direspon oleh Pak Kim.
"Kita bakal ketemu lagi Hans." Menoleh ke arah luar kaca mobil, Ara mulai menyiapkan mentalnya untuk bertemu kembali dengan Hans. Memang Ara sudah terbiasa membaca pesan Hans yang hampir setiap malam menghiasi layar ponselnya, namun tidak tau jika harus bertemu lagi apa Ara akan benar-benar sudah terbiasa.
Sebenarnya ingin Ara blokir saja nomor Hans itu. Jika bukan masih perlu untuk urusan penelitian pasti sudah Ara blokir segala bentuk kontak dengan Hans, termasuk pertemuan kali ini.
...****************...
*
*
*
Terima kasih ya udah setia baca sampai bab ini🥰😘
__ADS_1
Ini bab terpanjang yang aku buat.. Sebenarnya pengen lebih panjang lagi, tapi takut waktu idenya mampet terus aku buat tulisan pendek malah bikin kecewa.. jadi asupan kita yang biasa-biasa aja ya😄
Semoga masih pada semangat buat tau kelanjutan kisah Ara, karena perjalanannya masih panjang.