Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Bocah Bar-Bar Ganas


__ADS_3

Kretak..


Suara abstrak itu berasal dari pergesekan tulang sendi Ara. Meregangkan tubuh lelah yang lebih dari 10 jam nyaris setia pada posisi duduk. Menguras tenaga dan otak demi sebuah nilai jomblo tanpa gandengan – (minus) yang menyertai.


“Capek?” Suara rendah menyapa secara tiba-tiba.


“Eh? I-Iya Kek..” Terperanjat dengan kedua tangan tetap terangkat, beruntung tidak ada bau aneh yang menguar. Wajah yang sudah berseri itu tetap tidak bisa berbohong bahwa Ara belum juga mandi, meski matahari terus bergerak meninggi.


Pagi itu, dengan percaya diri Ara menyapa pagi di teras rumah tanpa berdandan. Sekilas jika diperhatikan penampilan Ara tidak tampak seperti cucu pemilik rumah megah yang sudah rapi dalam balutan setelan mahalnya.


Penampilan Ara sangat santai dengan kaos oblong hijau yang tampak melar kerahnya karena sering Ara tarik untuk mengusap keringat di bagian atas bibir atau menutup mulutnya kala menguap menahan kantuk. Begitu pula dengan celana pendek hitam bahan kain yang dipakainya, benar-benar perpaduan yang sempurna di pagi beranjak siang yang cerah itu.


“Udah sarapan?”


“Udah, tadi dibawakan ke kamar.” Jawab Ara cepat dengan senyum kikuk. Sejenak ia sadar sudah tidak sopan makan di dalam kamar, padahal tuan rumah ada di rumah itu. Namun mau dikatakan apa lagi jika tadi otaknya tidak sampai berpikir lebih bijak.


“Sesuai tidak sama selera kamu?”


“Iya, Kek, sesuai.” Jawab Ara singkat sambil bergerak kikuk. Ia kembali meregangkan tubuhnya. Berpura-pura sibuk dengan kegiatan yang tidak jelas. Berharap sosok paruh baya di sampingnya cepat berlalu, karena Ara merasa segan untuk meninggalkan Kakek Baren terlebih dahulu.


Tin.. Tin..


Suara klakson motor terdengar nyaring dari balik gerbang yang menjulang tinggi. Sekilas dapat Ara lihat Kakek Baren mengangguk pada isyarat yang diberikan oleh penjaga gerbang. Sepertinya tamu yang datang sudah cukup dikenal oleh para penjaga.


Dan benar saja, saat sebuah motor melesat masuk dapat Ara lihat dirinya juga mengenal siapa yang baru saja datang. Mengamati seksama tanpa melepas pandangannya, Ara mengernyit heran.


Tap.


Tap.


Tap.


Langkah kaki itu semakin mendekat. Membawa senyum yang semakin merekah di setiap langkahnya. Tampan, namun tidak menggetarkan hati Ara. Lebih tepatnya lagi bukan tipe Ara.


“Ngapain Abang ke sini?” Tanya Ara ketus. Sebenarnya Ara tidak sengaja berujar sengit, namun kalimat yang terucap spontan dari bibirnya seolah menyemburkan semprotan merica.


“Jahat banget sama tamu kayak gitu.” Mendengus sebal sambil melirik sinis, Ara jelas tampak menyebalkan di matanya.

__ADS_1


‘Di sini aku juga tamu kali.’ Ujar Ara sewot dalam hati. Bibirnya hampir menyahuti langsung bila tidak dicegah akal sehatnya. Ada Kakek Baren di dekatnya, sosok renta yang Ara sadari sedang berjuang mendekatkan diri padanya.


Ara paham kalimatnya secara tidak langsung bisa saja menyentil hati nurani sang Kakek. Sayangnya meski saling berusaha memahami, sekian lama tanpa interaksi membuat keduanya hening dalam kecanggungan.


“Oh iya, ini ada titipan dari Papi, Kek.. Katanya ini minuman herbal bagus buat pegal linu.”


“Repot-repot aja Papi mu Ric.. Terima kasih ya.” Ucap Kakek Baren sembari meraih bungkusan yang tidak terlalu besar dari tangan Gilang.


“Iya, Kek, sama-sama.” Ucap Gilang lembut diiringi anggukan kecil.


“Abang gak pulang ke Kota B? Gak ambil cuti kan semester ini?” Tanya Ara yang penasaran mengapa Gilang cukup lama masih berada di Kota K.


“Sore nanti Abang pulang. Hari ini nggak ada kelas, terus besok juga kelasnya sore.” Ucap Gilang menjelaskan.


“Kakek tinggal ke dalam dulu ya.. Kamu ajak Eric masuk juga Ra, atau bisa duduk di bangku samping sana.” Tunjuk Kakek Baren pada sebuah meja dan kursi berpayung minimalis di tengah taman bunga. “Nanti biar Kakek minta Bibi dapur antar minuman ke kalian.”


“Iya, Kek. Ara sama Bang Gilang ngobrol di luar aja.” Ucap Ara sambil menatap Kakek Baren sekilas, kemudian sorot matanya jatuh pada Gilang yang berdiri diam dengan senyuman membingkai.


Meninggalkan kedua anak muda yang juga berlalu ke arah kursi di taman, Kakek Baren memerintah Bibi pengurus dapur untuk membawakan minuman dan camilan untuk Ara dan Gilang.


“Ara ikut Abang pulang ya?”


“Ara ikut Abang ya?” Ucap Ara dengan merengek sambil memasang wajah sok manis dan imutnya. Tingkah berbahaya yang bisa menembak tepat di hati, meledakkan dan meluluh-lantahkan pertahanan Rava. Beruntung sosok di hadapan Ara saat ini Gilang yang tidak memandang Ara sebagai ‘wanita’, tapi bocah bar-bar ganas.


“Ikut kemana?”


“Ikut kemana Kak?”


Pertanyaan yang terucap bersamaan menyerang dari arah depan dan belakang. Memilih memutar tubuhnya, Ara mendapati Papa Yudith mendekat tanpa alas kaki. Sepertinya Papa Yudith baru saja menikmati pijat alami dari bebatuan kecil yang tersusun di sekitar taman.


“Pa, Kakak pulang sama Bang Gilang ya? Mamas sama Ndut gampang izinnya, kalau Kakak kan ribet. Apalagi ini minggu ujian.” Bujuk Ara sembari memanyunkan bibirnya.


“Tadinya Papa udah diskusi sama Mama, kita pulang pagi ini. Tapi Kakek mu kode minta sehari lagi di sini. Jadi ya besok kita baru pulang ikut travel, perjalanan darat aja ya. Kalau harus naik pesawat berlima lagi bikin Papa kurus dadakan.”


“Stres aja bisa habisin nasi satu rice cooker, gimana mau kurus?” Gerutu Ara tanpa merendahkan suaranya.


“Tau gitu mending Kakak pulang duluan Pa. Terminal juga nggak jauh dari sini, naik angkutan umum kelar deh.” Lanjut Ara dalam gerutuannya.

__ADS_1


“Papa yang nggak tenang kamu pulang sendiri gitu.” Mengusap puncak kepala Ara dengan sayang, Papa Yudith menatap Gilang yang mengangguk seakan setuju pada perkataannya.


“Ya lagian sebenarnya Kakak sama anak-anak itu bisa pulang duluan kalau Mama mau lepas rindu di sini dulu.”


“Tau sendiri Kak, Mama mana bisa lepas tangan gitu aja sama Rian. Kalau Kakak sama Mamas ditinggal tetap bisa agak tenang Mama mu. Yakin bisa ngurus diri sendiri. Kalau Adik mu yang satu itu, baru mau nyalakan kompor aja Mama udah khawatir. Gimana tega mau dilepas pulang jauh dari pantauan?”


“Padahal Rian kalau ditinggal Mama jaga warung juga malah kenyang terus. Mamas kan bentar-bentar Adiknya dimasakin.” Ucap Ara sembari menipiskan senyum segaris.


“Kamu mau pulang ke Kota B hari ini Lang?” Tanya Papa Yudith tiba-tiba pada Gilang yang sedari tadi setia mendengarkan obrolan penuh rengekan dan gerutuan Ara.


“Iya, Om. Sore ini baru berangkat. Tadinya mau antar titipan Papi ke Kakek Baren sore aja, sekalian pas berangkat. Tapi Papi udah rewel suruh antar pagi ini.” Jelas Gilang.


“Kalau Ara pulang sama kamu gak masalah?” Tanya Papa Yudith memastikan. Meskipun keluarganya sudah terbiasa pada kehadiran Gilang, namun tetap saja harus tau sopan santun jika meminta bantuan.


“Gak apa-apa Om. Bisa buat temen Gilang juga sih.” Ucap Gilang mengiyakan. “Kamu mau pulang sama Abang?”


“Mau aja kalau dapat izin. Biar cepat sampai dan besok bisa ikut ujian langsung.”


“Papa bilang ke Mama mu dulu Kak. Paling juga dibolehin gara-gara sama Gilang. Tapi kalau nanti tetap diminta ikut pulang besok, kamu bujuk Mama sendiri ya Kak.” Ucap Papa Yudith sebelum berlalu dari hadapan Ara dan Gilang.


...****************...


*


*


*


Apakah akan ada masalah baru imbas dari kebersamaan Gilang dan Ara?🤔


*


*


Apa ada yang sudah bosan?🙂


*

__ADS_1


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2