Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Pencemaran Otak


__ADS_3

“Kak!! Ambil gula sama minyak goreng di gudang!!”


“Iyaa Ma...” Teriak Ara kuat menyahuti Mama Lauritz yang sedang sibuk berkutat di dapur. Entah apalagi yang sibuk Mama Lauritz racik di dapur.


Di bagian rumah yang berbeda, Ara berjalan dengan sekantong minyak kemasan seliteran dan gula 1 kilogram sudah mengisi kedua tangan Ara. langkah cepat namun tidak tergesa-gesa itu membawa Ara memasuki dapur, tampak Mama Lauritz sibuk menguleni tepung beraroma bawang dan amis ikan laut.


“Isi langsung kan Ma?” Ucap Ara sambil mengamati wadah gula pasir yang nyaris kosong.


“Kakak libur hari ini?” Bukannya menjawab, Mama Lauritz justru melontarkan pertanyaan dengan raut wajah heran. Matanya sudah menelisik dari ujung kaki hingga puncak kepala anak gadisnya.


“Masuk sore aja, Ma. Siang ini yang ngajar ada rapat, jadi ganti hari mata kuliahnya.” Ucap Ara sambil melepas karet yang mengikat plastik pembungkus gula pasir.


“Pantesan ngebo sampai siang. Mama sama Adik mu udah teriak. Papa sampai ketuk pintu juga bisa-bisanya masih molor. Kuping mu itu minta dipanggil tukang sedot WC.” Kalimat penuh sindiran Mama Lauritz membuat Ara melongo takjub. Ia meragukan ucapan Mama nya, namun juga menyetujui bahwa nyenyak nya ia tidur bisa memecahkan rekor tidur membatu sedunia. Namun biasanya ia akan tersadar, terbangun dan baru tidur kembali 2 sampai 5 menit setelahnya.


“Masa iya?” Ujar Ara membeo dengan dahi mengkerut.


“Masa nggak?”


“Semalam Kakak bergadang Ma.. Jam 4 baru tidur. Kayaknya gak dengar apa-apa tadi tuh.”


“Bukan kayaknya lagi. Udah selebar ember mulut Mama teriakin kamu juga nggak tembus itu sumbat.”


“Hehehe.. Ya maaf, Ma..” Menggaruk kepala nya yang gatal, Ara meminta maaf sambil menyengir.


“Sampai jam berapa teleponan sama Rava?” Tanya Mama Lauritz tiba-tiba. Tangannya yang sedari tadi sibuk bekerja juga sempat terhenti.


“Ha? Mama kok tau?” Tanya Ara bingung. Pasalnya ia pikir tidak seorang pun di rumahnya yang tau.


“Ck! Kamu lupa masih teleponan waktu tengah malam ke bawah ambil camilan?” Berdecak Mama Lauritz sembari menggelengkan kepalanya.


“Ehh!? Mama dimana?” Pergerakan Ara terhenti. Mulanya ia ingin menuang minyak goreng kemasan, namun kini gunting di tangan kanannya menggantung indah di jari telunjuk. Ara mengurungkan niatnya menggunting ujung kemasan di tangan kirinya itu.


“Astaga.. Kakak..!! Kamu sempat matikan TV yang Papa mu ngorok di karpet itu gak lihat Mama??” Membelalakkan matanya, jelas Mama Lauritz sedang dalam keadaan terkejut tidak habis pikir. Sayangnya bukannya bersuara, Ara justru hanya menggelengkan kepala spontan.


“Kamu lewati Mama yang baru nutup pintu samping masih gak sadar!?” Tanya Mama Lauritz lagi.


“Nggak.” Jawab Ara sembari kembali menggelengkan kepalanya.


“Ya ampun ini bocah!” Ucap Mama Lauritz pasrah.


“Jadi sampai jam berapa?” Lanjut Mama Lauritz berujar sambil menatap Ara sekilas.


“Lupa, Ma.. Mungkin jam setengah 3 lah. Mas Rava bilang mau nemenin Ara ngerjain tugas. Itu juga tamat gara-gara ponsel Ara mati kehabisan baterai.” Jawab Ara santai sembari menuang isi minyak goreng dari plastik kemasan ke dalam wadah botol.


“Dasar kalian.”


Brak..!


“Astaga..!! Jangan es moci Kanjeng Mami..!” Terperanjat Ara hampir saja menyenggol botol minyak goreng yang belum ia tutup. Jika saja kesadarannya tidak secepat kilat kembali, bisa dipastikan akan ada badai di dapur minimalis itu.


“Bawa ini ke meja dekat kompor!” Perintah Mama Lauritz pada Ara, jarinya menunjuk pada wadah berisi adonan bakso ikan ala rumahan yang tadi sudah dibanting kencang.


“Rebus air sekalian kan Ma buat masak baksonya?”


“Iya.” Jawab Mama Lauritz singkat sembari bergerak cepat mengisi panci berukuran sedang dengan air kran.


“Ma..” Panggil Ara tiba-tiba.

__ADS_1


“Pasti ada mau nya kalau sok manis gini..”


“Gak ya..” Ucap Ara cepat sembari mencebikkan bibirnya.


“Ada apa?” Tanya Mama Lauritz tanpa menatap Ara. Ia sudah sibuk meracik bumbu untuk kuah bakso nya.


“Kakak.. Mmm.. Pacaran sama Mas Rava, gak apa-apa ya?” Ujar Ara lirih nyaris seperti bergumam, namun jelas masih bisa didengarkan oleh Mama Lauritz.


“Memang selama ini kamu sama Rava gak pacaran? Aneh-aneh aja kamu tuh Kak.” Ucap Mama Lauritz santai.


“Ya kan kemarin kayak gantung.” Gumam Ara yang benar-benar lirih kali ini.


“Kan kamu yang gantungin.” Ucap Mama Lauritz memukul telak dada Ara yang seketika berdenyut tertekan. Tidak sakit, hanya perasaan sesak sesaat dan kehampaan kala ingatan yang telah terlewat kembali teringat di benak Ara. Ia benar-benar bersyukur telah membuka hatinya untuk Rava.


“Mama ini..!!” Ara berlalu sembari menghentakkan kakinya kuat. Sedangkan Mama Lauritz yang melihatnya hanya terkekeh.


‘Semoga keputusan Mama sama Papa kasih kesempatan ke Rava gak salah. Semoga kamu bisa mendapatkan kebahagiaan yang gak bisa Mama dan Papa berikan.’ Ujar Mama Lauritz dalam hati sambil memandang punggung Ara yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangan.


Ceklek.


Ara yang baru membuka pintu mengedarkan pandangannya pada kamar yang masih berantakan. Tadinya ia sengaja belum merapikan tempat tidurnya karena kebelet buang air kecil. Namun langkah gontai nya berubah gesit kala teriakan Mama Lauritz menyapa pendengarannya.


“Mana ya?” Gumam Ara lirih. Matanya sibuk memindai selimut dan bantal yang teronggok amburadul. Ara sedang mencari keberadaan ponsel yang sempat ia mainkan sebelum rasa bocor nyaris merembes menerpa tubuh bagian bawahnya.


“Hish!! Di sini toh dari tadi gak kelihatan!!” Ucap Ara kesal pada ponsel yang justru tergeletak di atas nakas. Tangannya bergerak cepat menyambar ponsel dan menghempaskan kasar tubuhnya ke atas ranjang.


^^^✉^^^


^^^Me^^^


📩


Mas Rava


Jadi sayang.. Seminggu ini kamu harus full Mas yang antar ke kampusnya. Minggu depan Mas harus ke luar Kota lagi, kita gak punya banyak waktu buat berduaan.


^^^✉^^^


^^^Me^^^


^^^Aku mau kuliah Mas. Bukan berduaan sama kamu.^^^


📩


Mas Rava


Tapi kan tetap bisa berduaan. Sejam lagi Mas jemput ya?


^^^✉^^^


^^^Me^^^


^^^SEJAM??? Ara kuliah masih 3 jam lagi!!!^^^


📩


Mas Rava

__ADS_1


Kangen.


^^^✉^^^


^^^Me^^^


^^^Nggak!! Kita juga udah teleponan mulu hampir semalaman. ^^^


📩


Mas Rava


Mumpung kamu kuliahnya masih lama. Mas kerja setengah hari aja terus izin.


^^^✉^^^


^^^Me^^^


^^^Gak usah bolos kerja!! Mas kalau ada waktu mending tidur aja deh. Pasti tadi pagi harus bangun cepat kan buat kerja?^^^


📩


Mas Rava


Gak apa-apa. Nanti Mas tidur sebentar kalau udah sama kamu.


“Ha!? Apa ini maksudnya? Otak.. Jangan mikir yang aneh-aneh!! Ingat kalau Mas Rava kadang error otak sama bibirnya doyan bikin ambigu! Ingat malam pertama versi Mas Rava yang aneh!!” Ara berkomat-kamit mengucapkan apapun yang ada di otaknya. Ia ingin mensugesti otak yang tiba-tiba tercemar itu. Namun terlambat, ia sudah membayangkan tidur dipelukkan Rava.


“Aaarrgghh!! Kenapa malah ngayal yang nggak-nggak sih!!??” Jerit Ara frustasi sembari menelungkup kan tubuhnya. Wajahnya sudah tertutupi sempurna oleh selimut.


‘Ini pasti gara-gara aku gak tau malu kemarin!!’ Gerutu Ara dalam hati yang berusaha membuyarkan kilasan yang baru ia sadari cukup memalukan.


...****************...


*


*


*


(Gak nanya minta tebak lagi deh kali ini.🤭)


*


*


Maaf ya, Hana gak bakat bikin cerita uwu, romantis, apalagi yang mendebarkan.🙁


Hana hanyalah penulis pemula yang aslinya cuma si pengangguran doyan rebahan yang terjerumus menulis supaya otaknya nggak membeku.🤭


Sayang juga hobi doyan halu gak terealisasikan, tapi memang akhir-akhir ini ide gak bisa tertuang indah di kisah ini.


Kayaknya diriku perlu liburan.😚


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰

__ADS_1


__ADS_2