
Melangkah terseok-seok, Ara sambut sekeranjang keripik singkong dari tangan Dimas. Aroma pedas, manis dan gurih dari berbagai macam rasa keripik memicu banjir air liur.
"Biar aku aja yang bawa Ra." Merebut paksa keranjang berukuran 30 × 20 × 15 cm dari kedua tangan Ara.
"Oke.. Bentar ya." Ara merelakan aroma keripik singkong menjauh dari penciumannya. Menarik nafas sedalam-dalamnya, Ara siap berubah menjadi toa.
"RIIIAAAAANNNNN!!!"
"ANJ*RR!!" Teriak Dimas tidak kalah lantangnya akibat efek kejut dari suara Ara. Beruntung sekeranjang keripik siap dijual itu tidak ikut terlempar.
"Dimas mulutnya.. Minta di 'ih' gitu ya??" Meremas udara gemas, Ara menyipitkan matanya.
"Lagian teriak tiba-tiba bikin orang kaget aja." Gerutu Dimas.
"Kakak kenapa??" Tanya Rian yang sudah ada di hadapan Ara.
"Tolong Kakak ambil minum sama puding di kulkas ya.." Ucap Ara dengan suara lembut pada Rian. Bergidik ngeri Dimas mendengarkan suara yang terkesan manja dan menjijikkan di telinga.
"Bang Dimas mau minum apa??"
"Yang.."
"Air putih aja. Bang Dimas suka yang tawar." Ara mengedipkan mata kirinya pada Rian setelah memotong ucapan Dimas.
"Abang suka manis kok dek." Ucap Dimas pada Rian. Jangan sampai Rian benar-benar memberinya segelas air putih saja.
"Ya udah pokoknya Rian ambil dulu." Berbalik meninggalkan Dimas dan Ara, Rian melangkah menuju dapur.
Tak
"Kok bisa babak belur gitu??" Meletakkan keranjang di atas meja ruang tamu, Dimas sudah duduk bersila di sofa.
"Jatuh aja."
"Gak disiksa??" Menaikan alis kanannya, Dimas seolah sedang menginterogasi.
"Gak lah.. Siapa yang berani siksa aku??" Terkekeh Ara menggelengkan kepalanya pada dugaan aneh Dimas.
"Ya kali aja saudara mu itu pengen main bola tapi gak ada bolanya jadi pakai alternatif."
"Gak segampang itu mereka bisa siksa aku kali! Mantan atlit nih." Ucap Ara sewot.
"Gak usah ngaku-ngaku kalau baru belajar seminggu itu juga dasar pernafasan. Yang bener itu setan matic." Menyeringai Dimas memandang Ara remeh.
"Setan matic apaan lagi?? Gak jelas banget."
"Lah kalau bukan setan matic jadi apa itu yang doyan ugal-ugalan pakai motor matic di jalan??" Mengangkat dagunya, Dimas bukan memberi pertanyaan, tepatnya cibiran.
"Tapikan kalau ditanya pernah belajar jawabannya pernah." Mencebikkan bibirnya Ara masih ngotot pada argumen yang diutarakannya.
Ara memang pernah ikut kegiatan karate, meski hanya satu bulan. Ara pernah belajar taekwondo, walau cuma dasar nya selama satu minggu. Selain itu juga Ara pernah berlatih tinju yang lagi-lagi tidak bertahan lama, hanya 10 hari karena tidak suka dengan salah seorang anggota di tempatnya berlatih. Perempuan genit yang sirik saat pelatih muda yang mendapat bagian sebagai coach Ara.
Perlu digarisbawahi bahwa Ara tidak pernah ugal-ugalan meski suka kebut di jalan raya. Dari jalan mulus hingga mendaki bukit sudah Ara lalui bersama matic pink miliknya. Meski Ara perempuan dan memakai matic, tapi jangan kira ia masih bingung untuk hanya sekadar memutar pada gang sempit dengan terus maju mundur sedikit-sedikit.
Ara sangat berterima kasih pada sejarah motor butut Yamaha V80 yang melenggang dengan elit di sirkuit arena motor cross dengan Ara sebagai joki cilik yang masih duduk di bangku kelas 4 SD.
(Visual motornya anggap yang kayak gitu ya 👆 Yamaha V80)
Tentu saja semua itu ide gila Papa Yudith. Sebelum membuka bengkel mobil seperti saat ini, Papa Yudith sebenarnya mekanik balap motor lokal yang di setiap kesempatannya akan membawa Ara ikut serta. Hingga momen yang awalnya memalukan bagi Ara itu terjadi. Namun kini Ara justru merasa bangga memiliki momen dan pengalaman berlatih motor pertama kali bukan di lahan kosong, gang perumahan, maupun jalanan sepi, akan tetapi di sirkuit balapan motor.
Tak
"Diminum Bang.." Rian menyodorkan segelas air dingin yang tampak menyegarkan, namun membuat Dimas terbengong heran.
"Kok beneran bening Yan?? Ini rasa leci kan bukan air putih??" Gelas sudah beralih pada tangan Dimas. Ditatap lamat-lamat air dingin itu oleh Dimas.
__ADS_1
"Kan tadi kakak suruh air putih. Bener kan Kak??" Mengerutkan dahinya, Rian menatap Ara meminta pembenaran. Sedangkan Ara yang ditanya sibuk menutup mulut dan memegangi perutnya.
"HAHAHAHAHAHA!!!" Sungguh sudah tidak kuat Ara menahan tawanya. Apalagi melihat wajah polos Rian.
...----------------...
"Kenapa keripiknya gak langsung taruh warung Tante aja sih Ra??" Teriak Dimas dengan suara kencang yang bertubrukan dengan angin.
"Mama yang suruh tau." Balas Ara tidak kalah memekik nya. Keduanya sedang berboncengan menuju warung kaki lima Mang Diro si penjual ketoprak langganan Gilang. Rasanya Ara sudah kecanduan pada ketoprak pedas Mang Diro.
"Pasti repot besok bawa ke warung dari rumah." Gumam Dimas lirih yang tidak bisa Ara dengar, "Lancarkan warung baru Tante??"
"Lumayan lah Dim.. Buat nambah uang jajan Jona sama Rian. Lagian tujuan bangun warung di sebelah bengkel itu juga biar gak bosan sama manfaatin hobi Mama buat jajanan." Ara berujar dengan semangat. Warung kecil Mama Lauritz yang menjual aneka kue dan minuman dingin terbayang di pelupuk mata Ara.
"Gak terhalang lemari penuh lagi hobi ngadonnya Mama. Seminggu 3 sampai 5 kilo tepung pasti kepakai buat kue basah, kalau kue keringnya tergantung pesanan. Makanya Dim, itu keripik pasti laris. Semoga aja ya.." Ucap Ara lagi dengan sedikit ngotot tentunya. Percuma jika bicara bernada biasa bila angin akan membawa pergi suaranya ke arah belakang.
"Iya Ra, semoga lancar usaha kita." Senyum tulus Dimas dapat Ara lihat lewat spion motor Revo Fit milik Dimas.
(Penampakan motor Dimas 👆 Honda Revo Fit)
Mata Ara dan Dimas menatap banyaknya deretan bangunan yang keduanya lewati. Segala macam pertokoan, rumah makan padang dan tentunya kafe elit yang akan melilit kantong ajaib Ara dan Dimas. Mata Ara tiba-tiba seperti memiliki kekuatan zoom in super untuk melihat objek yang jauh. Tampak Rava sedang duduk berhadapan dengan sosok yang menurut Ara juga menjadi penyebab kakinya terkilir.
"ARGH!!"
"ARA!!!??" Teriak Dimas kala Ara dengan tidak sadar sudah meremas kasar pinggang Dimas karena kobaran api amarah yang datang lewat mata dan tersalur pada jemarinya.
"Tadi kenapa cubit-cubit segala??" Menatap sinis Ara, suara ketus Dimas membuat Ara ingin tertawa. Keduanya sudah berada di bawah warung tenda kaki lima milik Mang Diro.
"Gemes aja." Kilah Ara sambil beranjak mendekati Bapak-bapak yang mungkin saja disebut 'Mang Diro' itu.
"Ketoprak nya 2 Mang. Pedas mampus sama pedas lemes. Yang pedas lemes gak usah pakai kerupuk tapi emping nya kasih banyak ya Mang."
Jangan salah sangka bahwa pedas mampus adalah level supernya. Jelas salah, justru pedas lemes level super ketoprak Mang Diro. Level pedas lemes yang membuat si penikmat lemas tidak mampu berkata-kata lagi dan hanya ingin menyerah dan berserah diri.
"Kenapa gak sekalian bilang pengen pecelnya juga?"
"Ck!! Orang bilang pengen gado-gado malah ke pecel." Mendengus kesal Dimas pada Ara.
"Porsi ketoprak nya banyak.. Kenyang lah.. Kalau kurang makan punya ku juga aja nanti."
"Ogah!! Bisa melilit perut ku. Dirimu pikir aku gak tau kalau pasti pilih level yang paling pedas??" Mendelik sebal kali ini Dimas pada Ara. Tidak tau saja Dimas jika Ara juga memesan rasa yang tidak kalah pedas untuknya. Dalam diam Ara menyembunyikan seringainya.
Kesukaan Ara pada cabe sudah tidak tertolong lagi. Satu cabe rawit untuk satu gorengan utuh tidak berlaku untuk Ara, ia butuh satu cabe rawit utuh di setiap gigitannya. Bahkan dengan gilanya Ara pernah ngemil cabe rawit langsung dari pohonnya yang berakhir dengan tarikan manja pada telinganya dari Kanjeng Ratu sang pemilik cabe alias Mama Lauritz.
Menikmati rasa pedas menyengat pada lidahnya, Ara memutar memori otaknya pada objek manusia yang sebelumnya ia lihat. Tidak ada alasan apapun yang mampu Ara kaitkan dari pertemuan mereka.
Rasa kesal dan pedas seketika membuat Ara menggigit sendok sekuat tenaga. Rasa ngilu di gigi Ara tampaknya mengalahkan amarah dari kilasan ingatan yang berputar di depan matanya.
Flashback On
"Sialan!! Brengsek!!" Ara menghempas tas selempang etnik berbentuk tabung ke atas trotoar dengan paving blok balok yang tersusun rapi. Berlari sekencang-kencangnya, cara Ara bernafas sudah seperti Banteng Matador.
(Tas Ara👆)
"Hiiyaaa!!"
Bugh
Brugh
"AARRGGHH!!!" Jerit kesakitan pemilik punggung yang Ara tendang.
Sudah 5 tahun, tapi sedikitpun tidak pernah Ara lupakan sosok manis yang sedang tengkurap di bawah Ara. Punggung sosok yang Ara duduki menahan beban tubuh Ara. Rambut cepak miliknya Ara tarik kuat hingga kepalanya mendongak kebelakang.
__ADS_1
"ARGH!! SIALAN!! LEPASIN BODOH!!" Suara berat menjerit kuat. Tangan kirinya mencoba menjatuhkan Ara.
Bugh
Bugh
Bogeman kuat dari tangan kiri Ara yang terkepal menghantam bebas bahu bidang yang sangat keras itu. Ara masih sadar untuk tidak menambah warna pada tangan kanannya.
Tidak tau siapa nama aslinya, tapi yang Ara tau ia lebih suka dipanggil 'Gus' karena merasa paling tampan. Memang tampan, tepatnya wajahnya manis. Tapi tingkahnya jelas tidak seperti wajah yang rupawan miliknya.
"Gak akan aku lepasin orang sialan kayak gini!!" Ucap Ara yang semakin mengencangkan jambakan nya.
Brugh
"Heh!! Ka.." Amarah yang meluap seketika lenyap kala melihat sorot tajam mata Ara. Rasa bersalah kian menguat, tertumpuk selama 5 tahun memohon pengampunan. Meski sudah puas sampai muak di balik jeruji besi, namun kata maaf yang belum pernah terucap mengusik relung hati.
"A-Ara.. Ma-af.. Ara.." Badan yang sudah sakit itu berusaha menjangkau Ara yang masih terduduk di atas trotoar.
"Jangan sentuh aku!!" Suara Ara rendah, namun sungguh mengerikan. Bunyi gigi saling beradu bergemeretak terdengar dari balik rahang Ara yang mengeras.
Kedua tangan Ara terkepal. Matanya menyorot tubuh jangkung di hadapannya dari ujung kaki hingga ujung rambut yang sudah acak-acakan. Seringai tipis muncul menghiasi wajah Ara.
"Puas di penjara??" Ucap Ara sinis.
Melangkah maju dengan beringas, Ara ingin menerjang perut laki-laki yang menatap Ara sendu. Ingin Ara meremukkan dan mematahkan setiap sendi tulang sosok Gus itu.
Namun naas, kala kaki Ara sudah melayang indah layaknya pesenam ritmik sasarannya justru menghindar. Selokan yang Ara harapkan bisa menampung satu orang untuk memasukan Gus dan menginjaknya kuat nyatanya hanya selebar kaki laki-laki dewasa. Seperti karma, kaki Ara justru masuk ke lubang drainase memanjang sedalam 15 cm yang membuatnya jatuh terjengkang.
"Mamaaaa... Huuaaaaa...." Menjerit dengan tangis tiba-tiba, Ara bukan cengeng dan manja. Jatuh secara tiba-tiba di hadapan orang yang ingin dihancurkan meruntuhkan sisi arogan Ara, ia malu dan sangat malu kala tersadar sudah banyak pasang mata mengamatinya.
"Kakak.." Pemuda tampan yang tidak lain adalah Jona melotot lebar melihat kondisi mengenaskan Kakak nya. Kantong yang di tenteng diletakkan pada gantungan motor matic Ara.
"Doyan banget sih jatuh!! Tangan aja masih memar udah mau nambah aneh-aneh aja."
"Lama banget beli boba nya!!" Suara Ara lirih penuh penekanan, ia masih malu. Setelah aksi beringas dan tangis tidak jelas membuatnya berat mengangkat kepalanya.
"Bantuin.. Gak bisa bangun.." Rengek Ara.
"Mas yang bawa motor. Kaki Kakak sakit." Ucap Ara lagi pada Jona. Mata Ara menyipit, menatap sengit Gus yang ia lewati begitu saja.
"Nanti kalau di tilang gimana Kak??" Tanya Jona khawatir. Keduanya sedang berada di pusat Kota dalam misi membeli sparepart mobil yang tidak ada di bengkel Papa Yudith.
"Lewat jalan tikus lah!!" Ucap Ara geram sambil menahan sakit.
"Gak tau."
"Bawa aja itu motor, nanti Kakak kasih arahan."
Berlalu meninggalkan lokasi kejadian perkara pemicu debaran amarah Ara sekaligus memalukan, Ara masih menatap sinis sosok laki-laki manis yang masih setia diam mematung hingga penglihatan Ara samar.
Flashback Off
...****************...
Matador : Pertunjukan pertarungan yang terkenal di Spanyol dan di negara-negara berbahasa Spanyol lainnya, yang mengadu manusia melawan banteng dimana orang yang diadu dengan banteng dalam pertunjukkan matador disebut torero yang berperan mempermainkan seperti menari dengan gaya yang elegan dan gagah saat menghindari serudukan banteng dan pada akhirnya juga dapat membunuh banteng tersebut.
*
*
*
Ada yang ingat siapa itu 'Gus'??😄
*
*
__ADS_1
Terima kasih buat kakak-kakak yang udah setia pantau kisah Ara😘