Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Ingin Menolak


__ADS_3

“Kok aku kayak jadi supir gini?” Gerutuan lirih tertangkap pendengaran Ara.


“Emang.” Jawab Rava singkat sambil menutup pintu. Tangannya bergeser menggenggam jemari Ara ke atas pangkuannya. Sedangkan sang pemilik jemari sudah mendelik dan berusaha melepas genggaman itu.


“Bangs..”


“Jangan mengotori telinga suci calon istri ku!!” Ucap Rava ketus. Menarik kepala Ara dalam dekapannya. Menyembunyikan dan menutup pendengaran Ara yang sebenarnya masih menangkap jelas ujaran Rava.


“Posesif kali..!!” Suara meninggi itu sarat akan ejekan.


“Mbak nya gak apa-apa itu sama jelmaan es balok itu?” Tanya nya tiba-tiba pada Ara.


“Lepas!” Berujar tegas dalam suara pelan tertahan mengelakkan kepalanya, Ara sudah menyandarkan punggungnya.


“Es balok siapa??” Tanya Ara memastikan jawaban yang sudah jelas ia ketahui.


“Mas pacar Mbak..”


“Oh.. Kirain gletser, ternyata es balok.” Ucap Ara sekenanya sambil melirik ke arah Rava.


“Hahaha.. Gletser Rav..!!” Gelaknya dengan tetap fokus pada jalanan.


“Saayaaang..”


‘What? Bisa ngerengek juga beton berjalan itu!!??’ Dari spion depan Ara dapat melihat ada mata yang membulat mendapati tingkah Rava. Entah harus apa, Ara hanya ingin tertawa geli.


“Gak usah ngejek dalam hati!!” Ucap Rava ketus.


Puk.


Puk.


Diam-diam Ara menepuk pelan punggung tangan Rava sambil tersenyum manis. Ara tau Rava bisa lebih kekanakan dibandingkan Rian bila sudah menunjukan sisi manja atau kala merengek padanya. Tentu saja hati Rava menghangat atas perlakuan kecil Ara.


“Mas hati-hati ya..” Ucap Ara sebelum turun dari mobil Rava.


“Kamu juga hati-hati di sini. Kalau mau pergi sama teman jangan pernah berduaan sama Dimas aja.”


“Ehh!?” Mengernyitkan dahinya, Ara tidak menyangka pada pesan yang Rava sampaikan.


“Kenapa? Kalau Yuki sibuk ya terpaksa jadi berduaan sama Dimas aja Mas..” Ucap Ara lagi.


“Cemburu.” Jawab Rava singkat dengan setengah berbisik. Tidak ada gengsi dalam pengakuan lewat sepenggal kata itu.

__ADS_1


“Ihh.. Gitu banget sih. Dimas cuma teman Ara. Malahan udah kayak salah satu anak Mama juga.” Jelas Ara.


“Dia lebih sering menghabiskan waktu sama kamu. Mas takut diam-diam dia ambil kamu dari Mas.” Ucap Rava mencoba menjelaskan kegundahan hatinya. Apalagi dalam sambungan telepon yang belum lama dilakukan dengan Ara dapat Rava dengar jelas ada suara Dimas yang tertangkap.


“Sekarang gini deh.. Kalau ada cewek cantik, seksi, pinter dan pastinya sayang sama Mas, apa Mas tergoda buat menjalin kasih sama dia?” Ucap Ara yang berusaha memberi pengertian lewat jawaban yang akan Rava berikan.


“Sekarang juga Mas punya kamu yang cantik, seksi, pintar dan kayaknya sayang sama Mas. Satu lagi, kamu itu imut banget.” Jawab Rava yang membuat wajah Ara seketika bersemu merah. Gagal dan melenceng pula kalimat yang Ara pikir akan Rava lontarkan sebagai jawaban.


“Ii-iya gak gitu maksudnya. Bukan Ara yang dimaksud di sini. Mas nih..!” Ucap Ara gelagapan. Debaran gugup itu tergambar nyata.


Percayalah percakapan itu masih didengar oleh orang ketiga yang terabaikan. Tarikan dan hembusan panjang udara dari lubang hidung yang sedari tadi setia menemaninya.


“Rav.. Perjalanan masih panjang.” Celetukan tiba-tiba menebarkan degup malu-malu Ara. Berbeda dengan Rava yang melirik sinis pemilik suara yang mengusiknya itu.


“Ya udah Ara turun dulu ya Mas.. Hati-hati..” Ucap Ara yang kini sudah membuka pintu di sisi kanannya. Berjalan turun memutari mobil dengan Rava yang sudah terlebih dahulu membawa keluar tas ransel Ara dari kursi samping kemudi.


“Pokoknya gak akan gitu, percaya ya sama Ara?” Ucap Ara lagi setelah meraih tas nya.


“Mas percaya sama kamu, sayang.. Tapi Mas nggak percaya sama laki-laki lain.” Ucap Rava sambil menyelipkan sedikit rambut yang tidak terkuncir ke balik daun telinga Ara.


“Di sini Mas cukup yakin sama Ara aja.” Menyilangkan tangannya, Ara berujar sambil menatap lekat sepasang iris mata indah Rava.


“Iya.. Mas percaya sama Ara. Hubungan sepasang kekasih tidak akan pernah kandas jika alasannya hanya orang ketiga. Tapi juga salah dari hati yang berubah karena orang ketiga. Jadi gak sepenuhnya salah si orang ketiga, entah itu pelakor atau pebinor. Cuma tetap aja Mas cemburu kalau kamu dekat laki-laki lain.” Jelas Rava sembari mencubit gemas kedua pipi gembul Ara.


Tin.. Tin..


“Astaga!!” Terperanjat kaget Ara hingga tubuhnya tersentak. Jantungnya seketika seolah menjadi joki dalam pacuan kuda.


“Gila ya!!??” Geram Rava pada pelaku yang juga tampak kesal menanti di balik setir kemudi.


“Udah sana berangkat.” Ucap Ara sambil mendorong Rava masuk ke dalam mobilnya.


“Jangan lupa kabari Ara kalau sempat.” Ucap Ara lagi sambil tersenyum.


“Maaf ya Mas tinggalin kamu lagi.” Ucap Rava sesal dan tidak rela. Sungguh tidak ingin sedetikpun meninggalkan Ara. Apalagi membayangkan pergi dalam kurun waktu cukup lama tanpa kejelasan bisa terus memberi kabar atau tidak pada sang pujaan hati.


“Duluan ya Mbak..” Celetuk tiba-tiba dari sosok misterius yang belum juga Ara kenal selain sebagai status teman kerja Rava. Dan begitulah akhir sesi drama perpisahan yang sempat membuat jengah orang ketiga yang terabaikan.


Baru juga Ara berbalik ingin masuk ke rumahnya, ia sudah kembali mengamati arah jalanan. Suara motor yang Papa Yudith kendarai terdengar buru-buru. Tampak wajah kalut dan khawatir yang dapat Ara tangkap dari Papa Yudith.


“Kakak udah pulang?” Tanya Papa Yudith setenang mungkin.


“Iya, Pa. Baru aja sampai. Tadi diantar pulang sama Mas Rava sebelum Mas Rava pergi ke luar Kota.” Jelas Ara pada sang Papa.

__ADS_1


“Masuk mandi atau makan dulu sana Kak. Habis itu kemas baju-baju mu, kita pulang ke Kota K hari ini.” Perintah Papa Yudith sambil melepas helm yang dikenakannya.


“Ada urusan apa lagi Pa? Terus kenapa tiba-tiba gini?” Cerca Ara dengan perasaan semakin tidak enak. Jujur saja ia ingin menolak perintah Papa Yudith.


“Kakek mu minta kita pulang.” Ucap Papa Yudith tanpa penjelasan apapun lagi. Langkahnya sudah berlalu meninggalkan Ara yang masih terpaku dengan segala pikiran dan ide untuk menolak.


“Kenapa tiba-tiba Mas?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Mama Lauritz. Ara yang baru saja memasuki rumahnya memilih diam setelah sayup-sayup mendengar suara Mama Lauritz.


Melangkah pelan tapi pasti, Ara mendekati kamar kedua orang tuanya dengan pintu yang dibiarkan terbuka. Diam-diam Ara mendengarkan percakapan kedua orang tuanya. Mungkin hal ini cukup tidak sopan, namun rasa penasaran benar-benar sudah melingkupi otak dan perasaan Ara.


“Kamu siapin baju anak-anak aja Dek.. Biar baju kita Mas yang kemas.” Ucap Papa Yudith mencoba mengabaikan pertanyaan Mama Lauritz.


“Aku sama anak-anak bakal siap-siap kalau semuanya jelas. Meski yang minta kita pulang itu Papa ku sendiri, tapi kamu kan kepala keluarga di sini. Kasih tau aku alasan sebenarnya sampai kamu kayak gini!?” Ucap Mama Lauritz tegas sambil menyilangkan tangannya. Memandang lekat Papa Yudith yang meraup kasar wajahnya.


“Nanti pasti Mas jelasin. Tapi sekarang lebih baik kita berkemas dulu.” Ucap Papa Yudith lembut seakan meminta pengertian Mama Lauritz.


"Tadi Mas juga udah lihat jadwal penerbangan tercepat. Malam ini kita langsung berangkat ke Bandara." Ucap Papa Yudith lagi yang membuat mata Mama Lauritz dan Ara terbelalak, bahkan Ara sudah menutup mulutnya yang terbuka karena terlalu terkejut.


“Kakak siap-siap sana..!!” Teriak Papa Yudith yang membuat Ara terlonjak kaget. Rupanya dirinya sudah sejak awal ketahuan menguping pembicaraan kedua orang tuanya.


“Iyaaaa..” Ucap Ara pasrah, menunduk dengan langkah gontai berlalu membawa tubuhnya hingga sampai pada kamar bernuansa biru laut.


...****************...


*


*


*


Masalah apa lagi yang akan menerpa keluarga Ara?🤔


*


*


Gak nyangka novel ini bisa dapat like sampai 10k. Terima kasih ya.. 🥰🤗


Maaf banget untuk perayaan 10k like malah gak double UP.🙏


By the way, Hana lagi galau sama judul novel buat Yuki. Sejujurnya jauh-jauh hari bahkan lebih dari sebulan lalu Hana udah kepikiran judul nya 'KITA TANPA AKU'. Tapi hari ini tiba-tiba merasa dilema dengan judul itu. Kurang menarik kan?☹️


*

__ADS_1


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2