Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Rujak


__ADS_3

Wanita hamil muda itu kini kembali lagi ke rumah sakit yang beberapa waktu lalu di hari yang sama baru disambanginya. Bedanya saat ini wanita yang tidak lain adalah Ara itu sudah terbaring di brankar pesakit. Tangannya tidak berhenti mengusap perut yang masih membulat kecil.


Perut yang sempat dirasa keras dan berat seminggu belakangan tiba-tiba menghilang. Seketika terasa ringan dan seolah mengempis. Bahkan bulatan kenyal dadanya tidak nyeri lagi saat disentuh. Tentu Ara menyentuhnya diam-diam saat dirinya hanya bersama Rava. Itupun dilakukan ketika Rava membalikkan badan saat menutup pintu ruang rawatnya.


Meski sudah menikah hampir 1 tahun, tapi Ara tetap sering menyimpan sisi malu-malunya. Paling sering jika ketahuan ia hanya bersikap sok acuh di hadapan Rava dengan wajah yang memerah tanpa disadarinya.


“Lihat ini kalau kamu gak nurut sama Mas! Pokoknya setelah ini Mas mau kamu istirahat total. Jangan bantah lagi!” Melotot Rava memarahi Ara. Istrinya itu masih sempat ingin membantah padahal sudah hampir celaka bersama bayi mereka.


“Hufft ….” Helaan nafas Rava terdengar berat menyesakkan. Diusapnya pipi Ara yang semakin menebal. Mata bulat wanita kecilnya menyipit karena terhimpit pipi.


Bisa dipastikan beberapa bulan ke depan Ara pasti membengkak. Kehamilan tidak membuat dirinya kehilangan selera makan, justru berimbas pada kerakusan yang selalu ditandai perasaan mudah lapar. Cukup bersyukur Ara pada bayi nya yang tidak rewel.


“Perutnya masih sakit? Biar Mas usapin sini … Asal kamu tau, Mas tadi hampir gila cuma nemuin sebelah sandal kamu aja.” Suara Rava melembut, ketegasannya menurun diiringi tatapan sendu.


“Tau kok. Mas tadi nangis meraung-raung.” Terkekeh Ara membekap mulutnya. Sejatinya Ara berusaha mencairkan suasana sedih dan menutupi rasa bersalahnya.


“Senang banget kamu lihat Mas terpuruk,” ketus Rava sambil mengacak rambut Ara.


Hatinya berangsur lega mendapati kondisi istri dan buah hati dalam kandungan istrinya sejauh ini baik-baik saja. Meski sempat muncul flek akibat efek kejut berulang yang membuat perut Ara menegang, namun selebihnya Ara baik-baik saja selama tidak melakukan aktifitas berlebih.


“Ceritain Sayang tadi gimana kejadiannya sampai kamu harus nyeker. Sampai ada luka itu di kaki kamu.”


“Luka apaan sih, Mas? Tadi Ara lihat itu cuma merah dikit aja,” tolak Ara pada peryataan Rava. Jelas-jelas hanya ada sedikit bekas memerah akibat kerikil tajam yang diinjaknya saat terburu-buru mencari sumber suara panggilan menggelegar Rava.


“Kamu gak lihat ada lukanya di tengah bulatan merah itu?” tanya Rava dengan mata membulat hingga alis berkerut. Dirinya sangat yakin pada luka sebesar jarum suntik yang mengoyak kulit telapak kaki Ara.


“Paling juga goresan setipis jarum. Gak kerasa juga sakitnya.” Ara menggeleng samar dari posisi berbaringnya. Rava memang kelewat lebay dibeberapa kondisi dan Ara tau itu.


Pernah Ara berurai air mata karena tidak sengaja mengucek mata saat memotong cabai kering, namun Rava mengira jari Ara tergunting tanpa memeriksa fakta sebenarnya.


Tahukah apa yang Rava lakukan? Benar, membongkar kotak P3K dan sibuk meneliti jari Ara yang baik-baik saja. Mengingat sekilas kejadian itu sudah membuat Ara kesal. Pasalnya keinginan untuk membasuh matanya yang perih tertahan oleh tindakan absurd Rava.


“Iya tapi tetap aja luka, Sayang … Ayo, sekarang ceritain! Jangan bikin Mas penasaran.” Menempelkan telapak tangan Ara ke pipinya, sesekali Rava mendaratkan bibirnya menciumi telapak tangan dingin yang berusaha dihangatkan nya.


“Iya kayak kecelakaan biasa gitu. Tadi pecah ban waktu truk itu ngebut. Ara udah lihat dari jauh itu truk udah gak bener. Mana bukan tipe yang ban ganda lagi. Jadi buru-buru mau lari ke ruko belakang, menghindar gitu lah Mas. Tapi pas mundur sandalnya gak sengaja terlepas. Terus waktu lari sandal yang tinggal sebelah itu dipijak orang lain sampai putus terus gak tau ketinggalan di mana,” tutur Ara setenang mungkin namun tampak antusias layaknya menceritakan ulang sebuah serial film yang baru disaksikannya.

__ADS_1


“Mas suruh beli sandal agak bagusan dikit kamu gak mau. Ya pantas aja gampang putus sandal 12 ribuan tipis kayak gitu,” cibir Rava pada Ara. Dari swalayan mereka sendiri, sandal pilihan Rava ditolak mentah-mentah demi sebuah sandal jepit berwarna hitam yang katanya sangat simple, ringan dan pastinya murah.


“Sandal yang Mas pilih itu berat. Bikin cepat capek kalau dipakai jalan.” Memutar bola matanya malas, Ara memanyunkan bibirnya.


“Oh ya, Mas tadi lihat kan truk itu nabrak pohon yang tadi Ara tunjukkin mau nungguin Mas di situ? Untung aja gak jadi nungguin di situ, kalau gak … Hih, gak tau lagi.” Bergidik ngeri Ara membayangkan dirinya berubah menjadi remahan rengginang merah. Jika pohon yang keras saja hampir tumbang, apa lagi jika Ara yang terlebih dahulu dihantam oleh truk yang melaju tidak terkendali.


“Sstt … Jangan bahas itu. Kamu bikin Mas takut.”


“Tadi yang mau dengar ceritanya siapa?”


“Mas mau tau kejadian yang sebenarnya kamu alami, bukan andai-andaian kamu yang bikin Mas takut.”


“Iya-iya.” Mencubit singkat hidung Rava, Ara tersenyum memamerkan barisan giginya.


“Jangan cemberut gitu ih Mas … Gak cocok banget kamu cemberut gitu, hahaha … Aduh perut ku.” Godaan dan gelak tawa Ara diakhiri ringisan. Badannya sedikit melengking dengan mata terpejam.


“Sa-sayang … Sabar, Mas … Sebentar …,” ucap Rava gagap. Ia terlalu panik sampai lupa menekan tombol nurse call.


“Mas … Becanda loh …,” teriak Ara nyaring, menghentikan langkah tergesa Rava yang sudah hampir meraih gagang pintu.


“Kamu, Yaaaang … Awas kalau main-main lagi!” hardik Rava garang. Wajahnya merah padam dengan gigi geraham mengerat. Nafasnya yang seketika memburu, kedua tangan terkepal dan mata berkilat menandakan amarahnya sudah siap meledak.


Melipat tangan di depan dada, menatap datar wajah cengengesan Ara, Rava melangkah gontai seolah enggan mendekat. Sumpah dirinya sangat kesal dengan sikap Ara hari ini.


Tapi semarah, kesal, merajuk dan enggannya Rava pada Ara, mana bisa dirinya menolak jika Ara yang mengkode meminta dipeluk. Terbukti saat ini Rava merebahkan separuh badan bagian atasnya memeluk Ara dengan posisi berdiri di sisi kiri brankar. Kepalanya menelusup masuk hingga hembusan nafasnya menerpa ceruk leher Ara.


Menarik lembut setiap helai rambut Rava dengan tangan kanannya, Ara mengulas senyum tipis. “Mas tau gak kalau di luaran sana ada yang minta putus karena alasannya terlalu baik? Hati-hati loh .. Mmppt!! Eugh!! Hah … Hah … Mas ini sembarangan!! Ganas banget!”


“Makanya jangan sembarangan juga omongan kamu itu! Lama-lama Mas buatin kurungan di rumah!”


“Kurung aku Mas … Hahaha … Kok tiba-tiba merinding ya habis bilang itu?”


Menggelengkan kepalanya Rava tidak habis pikir dengan sikap Ara kali ini. Seakan sedang berlibur Ara terlihat santai dan menikmati kondisinya.


“Mama sama Papa udah diperjalanan mau ke sini,” celetuk Rava tiba-tiba yang membuat kelopak mata Ara melebar.

__ADS_1


“Mas belum bilang tentang Lipai. Bisa tambah panik Papa kalau Mas kasih tau kamu hamil juga. Baru pertama kalinya Mas tau Papa bisa cerewet banget.”


“Memang Mas selama ini gak sadar kalau di rumah itu yang paling cerewet Papa? Semua orang di rumah nyerah kalau Papa udah mulai ngoceh. Paling Papa baru berhenti ngomel kalau udah lawan Mama. Kayaknya cerewetnya Jona nurun dari Papa.” Mengusap dagunya, pupil mata Ara membeliak ke atas. Ia seakan berpikir sekaligus mengumpulkan memori kecerewetan ketiga laki-laki di keluarganya sendiri yang tersimpan rapi di seluruh saraf otaknya.


Sedangkan Rava tanpa di suruh sudah mengarahkan tangannya memijat betis hingga ke ujung jari kaki Ara.


“Mas, bagian pergelangan kaki pelan-pelan aja,” ucap Ara sambil menyengir. Badannya bergoyang riang menikmati perlakuan memanjakan dari Rava.


Sejurus kemudian manik mata Rava menatap lurus wajah Ara dengan serius yang selalu berubah ekspresi sesuai inti kalimat yang disampaikan. Meski tergolong biasa saja, tapi interaksi sederhana di dalam ruangan tertutup itu mampu menarik kecil kedua sudut bibir Rava ke atas.


Warna di hidup Rava semakin bervariasi hanya dengan melihat wanitanya merasa lepas, bebas dan menikmati dalam keceriaan atas hal-hal kecil yang mereka lakukan bersama.


“Mas, pengen makan buah yang ada di rujak. Tapi gak mau pakai timun, bengkoang, nanas, papaya. Terus gak usah pakai sambalnya. Mau buahnya aja. Beliin Mas sekarang. Mau ya?” Mendadak Ara mendudukkan dirinya. Tangannya terangkat dan mendarat di lengan Rava. Mengguncang seakan mengganti rengekkan yang keluar dari bibirnya dengan tingkah merayu menuntut.


“Minta Mama aja ya, Sayang? Nanti kamu sendirian di sini kalau Mas yang beli.”


“Tapi Maunya sekarang Mas yang beli!” ucap Ara kukuh. Sama halnya dengan Rava yang kukuh tidak ingin meninggalkan Ara. Aksi tawar menawar yang alot memakan waktu lama untuk mencapai titik kesepakatan.


...****************...


*


*


*


Udah lama menanti UP?🤭


Mohon maaf sebelumnya karena Hana kesehatannya ngedrop padahal udah ditabung untuk next bab nya, tapi tetap aja gak sanggup lanjut revisi😅


(Ditemani si kompres demam buat bocil, tapi aku tetap gagal berjuang🙃)


Selain itu laptop ku hang lagi hampir seharian. Biasanya pakai ctrl+alt+delete bisa ke task manager atau layar utama. Tapi kali ini gak bisa🙂


Karena dompet tipis buat ke tukang service, jadi setelah utak-atik akhirnya aku ... (nanti aku selipin triknya di next bab aja lah😂 kalau gak di rumah Ara ya di Yuki 😄)

__ADS_1


Hari ini juga dapat SURAT CINTA dari apk gara-gara 3 hari gak UP🤧


Terima kasih buat semuanya yang selalu dukung tulisan ku😘


__ADS_2