
“Ara..”
‘Hans?’ Gumam Ara dalam hati dengan dahi mengernyit bersamaan suara sapaan lemah menyeruak pendengarannya. Sangat aneh bagi Ara bisa mendapati keberadaan Hans hadir di pernikahannya.
Mata yang saling bersirobok itu sekejap terputus oleh tindakan Rava yang seolah sibuk merapikan alis kiri Ara. Singkat, namun Ara tau Rava sedang menunjukkan sisi ketidaksukaannya atas sorot mata lekat yang Ara berikan pada Hans.
“Selamat ya, Ara.. Gak nyangka si penyendiri udah nikah aja.” Ucap teman semasa Ara duduk di bangku sekolah SMA sambil memegangi lengan kiri Ara sok akrab. Mereka tidak berteman dekat, hanya saja kebetulan temannya itu juga warga satu RT dengan Ara, jadi tentu mendapat undangan atas bantuan Pak RT setempat untuk mendata seluruh warganya.
“Aku yang ajak Hans ke sini. Dia sih kuliah jauh banget, wajar kamu susah kasih undangan ke dia. Lagian ternyata gak semua anak-anak dapat undangan kamu ya. Waktu aku posting di grup alumni ngucapin selamat itu banyak loh yang nanyain, termasuk Hans, padahal kalian kan dulu dekat. Akhirnya aku share deh undangan dari kamu. Sayang banget ya teman-teman kita gak bisa kumpul semuanya di sini.” Cerocos gadis sepantaran Ara yang mengenakan kebaya hijau tosca.
Kalimat yang diucapkan cukup panjang dan terlihat sangat nyinyir. Bahkan jika disimak lebih serius dan ditelaah lagi akan tampak tersirat nyaris julid jika lupa tuas rem bibir ditarik secepatnya saat tatapan mata Rava seakan siap mencincang.
“Iya.” Balas Ara singkat, bingung harus menanggapi seperti apa. Sontak hal itu menghadirkan decakan kesal yang samar dengan bibir sewot siap menggerutu.
Sedangkan dibenak Ara, bahkan grup alumni yang dimaksud saja ia tidak pernah tau wujudnya seperti apa. Satu hal lagi, tentu saja tidak semua orang mendapat undangan dari Ara. Isi tamu undangan Ara selain teman kuliah, para Dosen dan sahabatnya, Ara menyerahkan semua hal itu pada Papa Yudith dan Mama Lauritz.
“Oh, iya, rupanya kamu gak join grupnya. Aku udah simpan nomor kamu dari Hans, nanti aku masukin ya ke grup.” Lanjut berucap mengimbuhi cerocosan yang enggan Ara simak lagi. Sangat terasa genggaman Rava mengetat nyaris meremas jemarinya. Tampaknya secara tidak sadar Rava meluapkan kecemburuannya.
Mengulurkan tangannya, Hans memaksakan seulas senyum di bibirnya. Mata Hans memandang lekat wajah Ara yang sudah berstatus istri orang, bukan gadis lajang apa lagi jomblo.
Janjinya pada Ara yang akan pulang dengan cepat, menyelesaikan kuliah dengan gelar Sarjana justru sudah sangat terlambat. Hans sadar Ara tidak pernah menggubris janjinya, namun tidak disangka akan ditinggal menikah seperti yang dihadapinya kini.
“Terima kasih sudah datang!” Ucap Rava datar dengan aura dingin, menyerobot uluran tangan Hans yang ditujukan untuk Ara.
__ADS_1
“Tolong jaga Ara baik-baik!” Ucap Hans tidak kalah datarnya yang langsung direspon kekehan meremehkan dan senyum miring oleh Rava.
Tanpa diminta siapapun, Rava sudah seperti orang kerasukan seribu pasukan elit terlatih dalam menjaga Ara. Dikiranya Rava akan diam saja dan tidak akan menghajar siapapun jika berani bertindak, Dewa saja dulu pernah dihajar Rava tanpa memusingkan sedang berada di tempat umum.
Kedua laki-laki beda usia itu kini saling beradu pandang. Bahkan dari mata tamu undangan yang kelewat peka, bisa terlihat jika ada kobaran api yang menyala di antara Rava dan Hans. Bak tontonan seru dan bisa dijadikan sebuah konten demi satu kata viral, ponsel yang lebih canggih dari pemiliknya itu sudah merekam sebagian ketegangan yang terjadi di pelaminan bernuansa dominan putih dengan bunga-bunga palsu berwarna aqua blue.
Rupanya sorot kamera bak pengawas diam-diam itu tidak berhenti di situ saja. Bahkan sebelum Hans muncul sudah ada yang sengaja mengabadikan sebagian moments, dari menu hidangan sampai sepasang mempelai yang berhasil menggodam jiwa kebucinan. Apa lagi sesaat setelah Hans pergi sesi pelemparan buket dan foto bersama keluarga serta beberapa tamu undangan dilangsungkan.
Kilatan lampu flash kamera mengabadikan moments bersejarah untuk kedua belah pihak keluarga. Meski orang tua Rava sudah tiada, tapi sanak saudaranya masih hidup dengan sehat, hanya hubungan mereka tidak dekat. Alhasil yang menduduki kursi wali dari pihak Rava justru mantan tangan kanan Ayah nya yang sudah dianggap seperti paman dan pengisi kekosongan peran orang tua bagi Rava serta Dion.
“Astaga, ganteng banget sih Pak Dokter.”
“Itu serius yang katanya adiknya Pak Bos? Gila bening..”
“Buka internet coba, kali aja ada cara supaya jadi iparnya Pak Bos.”
“Halu kok segitunya, mending samperin sana! Tapi sadar diri juga, yang ganteng, pinter dan berduit nan nyata itu lebih susah digapai remahan peyek kayak kita.”
Begitulah sekelumit obrolan singkat karyawan Rava di salah satu meja yang masih setia memandangi wajah rupawan Dion. Ketiga wanita dewasa itu mungkin beberapa tahun di atas Ara dan tentunya lebih muda dari Dion yang kini berusia 29 tahun. Bermodal wajah tampan, Dion benar-benar pencuri pusat perhatian.
...----------------...
“Ma, Kakak sama Mas Rava kayak gitu gak malu apa ya dilihatin orang-orang?” Bergidik geli Jona mengamati pemandangan sejoli yang belum ada satu hari berstatus suami istri. Bukan tentang saling merangkul, tapi Rava terang-terangan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ara dalam posisi duduk, sedangkan Ara berdiri risih mencoba menghalau rasa malu sambil mengusap kepala Rava.
__ADS_1
“Biarin aja, Mas. Pengantin baru ya gitu.” Ucap Mama Lauritz santai setelah melirik sekilas pada anak dan menantunya yang duduk agak menjauh. Saat masih pacaran saja kadang Mama Lauritz sering memergoki Rava yang lebih manja, tidak heran jika saat ini malah bertingkah layaknya anak koala.
“Tapi itu lebay banget, Ma. Hiiiih.. Merinding.” Mengusap lengannya tidak beraturan, Jona kembali bergidik geli dan merinding saat matanya tidak sengaja mencuri pandang pada Ara dan Rava. Pasalnya Rava sudah menyamakan tinggi dengan sedikit menunduk, mengecup kilat pipi Ara dengan gemas. Namun kali ini dibalas Ara dengan pukulan bertubi-tubi yang gilanya membuat Rava tertawa renyah.
“Gak usah merinding. Duduk diam sama Rian sana, sebentar lagi kita pulang!” Perintah Mama Lauritz pada Jona, menunjuk kursi di sebelah Rian yang kosong. Terlihat Rian yang hampir tertidur tidak mampu menahan kantuk dalam posisi duduk.
“Mager, Ma. Kaki udah capek.” Tolak Jona sambil menggelengkan kepalanya. Badannya sudah sangat lelah. Walaupun tidak sibuk menyambut tamu undangan seperti kedua orang tuanya dan tentu saja sang Kakak, namun Jona lelah mengamati Rian yang terlalu semangat mencicipi semua hidangan.
"Papa mana, Ma?" Tanya Jona tiba-tiba saat tidak mendapati Papa Yudith di sekitar lobby hotel tempat dilangsungkan acara pernikahan sakral penuh khidmat itu.
“Itu siapa kalau bukan Papa mu!?” Mengedikkan dagunya sekilas yang diikuti oleh lensa mata Jona yang bergerak, terlihat Papa Yudith sedang mengobrol seru dengan beberapa tamu undangan yang sengaja belum pulang.
“Hah.. Bapak-bapak yang satu itu kayaknya lebih heboh dari pada Mas Rava.” Celetuk Jona jengah. Hanya dengan melihat, Jona tau Papa nya pasti kembali membanggakan sang Kakak dengan sangat berlebihan.
“Semua temannya yang datang dipamerin anaknya yang cantik itu. Tapi Kakak memang cantik juga sih didandani, dempul nya manjur.” Celetuk Jona sekenanya, entah bisa disebut memuji atau mencibir.
Hari yang beranjak sore itu benar-benar super melelahkan. Tepat dua jam yang lalu acara usai, sengaja melangsungkan hanya dari pukul sembilan pagi hingga satu siang.
...****************...
*
*
*
__ADS_1
Siapa yang udah nebak dari awal kalau itu Hans?😄
Terima kasih udah selalu dukung Hana sampai sejauh ini🥰