
Memicingkan matanya, Ara amati mobil hitam yang tidak asing sudah terparkir di halaman rumah orang tuanya. Bersandar pada sisi kiri mobil, sosok berjaket denim menyorot tajam Ara yang masih setia duduk di balik punggung Dimas.
"Turun Ra." Perintah Dimas.
"Tunggu Dim!!" Meraih lengan Dimas, Ara masih berjalan tertatih.
Iya, Ara sudah tidak terlalu parno dengan skinship atau sentuhan dengan lawan jenis, apalagi bila masih dibatasi dengan helaian kain yang melekat pada tubuh orang yang ia pegang. Jika sesama perempuan Ara malah biasa saja dan bisa menempel layaknya tokek. Namun tetap saja Ara benar-benar merasa kotor dan jijik bila mengingat saat Bang Dewa menyentuh bahu nya dengan kasar.
Berbeda dengan Ara dan Dimas yang masih sibuk memperhatikan setiap langkah yang Ara ambil, sosok dingin yang hampir melebur sudah nyaris sempurna panas luar dalam menyaksikan sekali lagi Ara menyentuh laki-laki lain. Hilang Bima terbitlah Dimas, begitulah geramnya.
"Sore Pak.." Sapa Dimas.
"Ara, kamu gak apa-apa??" Mendelik sebal Dimas sapaannya diabaikan. Namun ia hanya bisa diam menerima jika yang dihadapi memiliki level jauh di atasnya.
Timbul niat Dimas ingin menjadi minyak bensin pada sosok yang terlihat dingin namun sudah tampak api birunya berkobar hebat dari segala tubuhnya. Tapi jelas hanya niat, Dimas masih ingin hidup enak di kampus dan dimana pun tanpa perlu ditatap sengit sebagai musuh seperti saat ini.
"Ara terkilir aja Pak." Celetuk Dimas. Ara masih diam, ia kesal mengingat apa yang telah ia saksikan sekilas di perjalanan tadi. Meski bukan urusannya, Ara tetap berpikir keras tentang alasan dari pertemuan kedua orang itu.
Bagi Ara, dihadapannya saat ini bukan Kim sosok si Dosen gletser, namun Rava si bucin akut nya. Bolehkan Ara kepedean dan sombong sekali ini saja? Tanpa alasan yang jelas sejak awal Ara memang tidak ramah dengan Dosen yang satu itu.
"Maaf Pak, ada apa ya??" Tanya Ara akhirnya.
"Saya cuma mau lihat kondisi kamu. Kemarin saya masih di luar kota, jadi gak bisa langsung jenguk kamu."
"Memang saya kenapa Pak??" Mengernyit heran Ara pada peryataan Rava. Setahunya ia sehat-sehat saja, hanya kaki terkilir akibat tingkah absurd nya sendiri. Terjengkang karena drainase dihadapan banyak orang setelah aksi beringas bukan sesuatu yang ingin Ara simpan sebagai kenangan.
"Ra, bawa masuk kali!!" Bisik Dimas lirih pada Ara. Dimas merasa Ara tidak seperti biasanya pada orang lain, apalagi bila orang itu lebih tua darinya. Dimata Dimas sopan santun Ara anjlok drastis.
Disuguhkan pemandangan bisik-bisik itu tentu saja bisa ditebak Rava sudah bertanduk semakin cemburu. Ingin ia lempar Dimas ke planet lain dan menyembunyikan Ara dalam dekapannya.
Cukup di kampus ia harus menahan cemburunya kala melihat tawa Ara bersama Dimas. Beruntungnya mereka tidak pernah hanya berdua, melainkan bertiga seperti trio kwek-kwek. Namun hari ini rasa yang bergejolak itu tidak bisa dibendung lagi, mungkin salahnya yang memiliki mobil sehingga Ara duduk dekat tapi berjarak jauh tidak bisa dibandingkan jaraknya dengan Dimas yang berboncengan di atas motor.
Pikiran gila Rava sudah menjelajah kemana-mana untuk merubah tunggangannya. Target baru Rava adalah membeli motor agar Ara bisa duduk di dekatnya. Modus super sudah siap untuk dirancang. Tapi lagi-lagi Rava harus menimang keputusannya, ia tidak ingin Ara kepanasan, kehujanan, apalagi jika diingatkan Ara mudah kedinginan.
"Diminum Pak.." Ini suara Dimas. Ia berlaku selayaknya tuan rumah, membuat minuman dan mempersilakan untuk ketiganya yang saat ini duduk berjarak di sofa ruang tamu.
"Iya." Jawaban singkat dan ketus. Kobaran amarah itu jelas dapat Dimas lihat. Mau bagaimana lagi Ara menahannya untuk pulang. Niat hati ingin kabur secepatnya malah justru terjebak. Tapi syukurnya Dimas sangat membantu Ara untuk tidak bolak-balik ke dapur.
'Sial kali nasib mu Dimas.' Membatin pilu Dimas dalam hati. Sekali lagi Dimas tekankan, ia tidak ingin ditatap sengit sebagai lawan dalam percintaan.
Menghubungi Yuki tentu jelas sudah Dimas lakukan, namun buntut belut itu masih asik berlibur ke Kota Ayahnya di tugas kerjakan. Menghela nafas kasar yang justru menambah kecanggungan, Dimas hanya mampu menyengir.
"Bapak tau saya sakit dari mana??"
"Eh itu.. Mmm.. Saya tanya Papa kamu." Bohong. Itulah yang dapat Ara tangkap dari perkataan sosok yang mengaku jatuh cinta padanya. Semakin kuat dugaan Ara bahwa Rava memiliki hubungan dengan Gus.
"Gila.. Udah dekat sama Om Yudith aja.. Lancar nih Pak kayaknya buat jadi calon mantu.." Mulut Dimas juga lancar cuap-cuap tanpa tau mata Ara sudah seperti laser menatapnya. Sedikit saja Dimas melirik Ara, maka dapat dipastikan ia akan terbelah seketika.
Reaksi Dimas memunculkan senyum menawan Rava. Harga dirinya serasa melambung tinggi disebut 'mantu' oleh laki-laki yang dikategorikan dalam musuhnya. Tampaknya telinga Rava sempat salah loading hingga lupa di depan kata 'mantu' yang Dimas sebut ada kata 'calon' yang bisa berarti belum tentu jadi menantu sungguhan.
"Bapak kok bisa sih suka sama Ara??" Tanya Dimas keheranan, "Bener kan Bapak suka sama Ara??"
"Apaan sih Dim!!?" Ucap Ara dengan suara tertahan, matanya menangkap dua adik marmut raksasa sedang pasang mata dan telinga dibalik gorden. Siapa lagi kalau bukan Jona dan Rian yang bergaya dengan dalih main game dan mencari angle foto selfienya dari ponsel masing-masing.
"Iya.. Saya serius sama Ara. Jadi kalau kamu cuma teman, tetap jaga jarak. Saya gak suka." Melongo Ara dan Dimas mencerna jawaban panjang nan menusuk langsung pada intinya. Merona dan berdebar jelas Ara alami saat ini.
Bila tidak ada dua bayangan kepala yang sedang menguping itu pasti Ara akan bantah habis-habisan Rava. Ara tidak mau memberi contoh buruk pada kedua jiwa kesayangannya.
"I-Iya Pak." Jawab Dimas canggung. Sebenarnya Dimas ingin menertawakan Ara, namun ia tau pasti akan mati diterkam singa ganas bila pawangnya diusik.
__ADS_1
"Maksud Bapak apa sih??" Memaksa tersenyum kaku Ara tatap Pak Rava.
"Ck!! Kan sudah saya bilang Ra, jangan panggil Bapak-bapak lagi.. Gara-gara itu kamu disangka anak saya waktu kita ke taman kota." Mencebikkan bibirnya Rava bertingkah seperti anak kecil.
'Gila!! Udah jalan berdua aja ni bocah masih pakai jual mahal. Ara.. Ara..' Ucap Dimas yang hanya berani diutarakan dalam hati.
Lagi-lagi Dimas hanya bisa terkaget-kaget disuguhkan langsung drama romansa beda usia dihadapannya. Meraih toples berisi kacang telur, Dimas ingin diam mengamati. Jika bisa ia sangat ingin menyiarkan langsung di sosmed miliknya agar Yuki menjerit histeris iri.
"Apaan lagi pakai gaya gitu.. Gak cocok tau Pak. Udah tua, gak imut lagi kayak gitu!" Memutar bola matanya malas, Ara nyaris lupa daratan bahwa ia tidak hanya berdua dengan Rava. Sejujurnya Ara tidak berkata jujur, dimatanya Rava terlihat sangat imut bertingkah seperti saat ini.
"Panggilnya Mas Rava loh Ra.. Jangan Bapak lagi."
"Saya panggil Mas juga gak apa-apa Pak??" Celetuk Dimas semangat yang dijawab kilat dengan tatapan datar.
"Iya gak.. Saya panggil Bapak aja." Ucap Dimas seolah sudah mendapat jawabannya.
"Lagian cocok dipanggil Bapak kok." Ucap Dimas lagi selirih mungkin agar hanya ia yang mampu mendengarkan.
"Masa iya?? Saya kelihatan tua banget ya??" Rupanya telinga Rava kualitas super yang mampu menangkap gelombang suara sekecil apapun. Bukannya marah, Rava justru khawatir akan kalah saing mengingat Ara yang jauh lebih muda dan akan banyak ngengat yang mengejarnya. Saling bertatapan, Ara dan Dimas tiba-tiba terkoneksi pada ide yang sama, yaitu menjahili Rava.
"Maaf Pak, tapi jawabannya iya." Seolah merasa bersalah Dimas menjawab dengan suara direndahkan dan menatap sendu Rava. Sedangkan Ara hanya menahan tawanya dengan ekspresi tidak kalah iba sambil mengangguk pelan.
"Apa karena saya udah tua jadi kamu gak mau terima saya Ra?" Tanya Rava sendu yang tiba-tiba membuat Ara merasa bersalah.
"Bukan. Saya memang gak berminat punya hubungan lebih dengan lawan jenis. Lagian Bu Dian mau Bapak taruh kemana??"
"Saya gak ada hubungan apa-apa sama perempuan itu Ra."
"Tapi barengan terus itu."
"Saya mana bisa tolak kalau dia perwakilan Dosen utusan. Kalau saya tolak nanti saya gak bisa ketemu kamu lagi.. Kamu tau kan saya gak ngajar di fakultas kamu, apalagi jurusan yang kamu ambil itu. Mana ada kesempatan saya bisa dekat sama kamu." Tidak ada rasa malunya kalimat itu diucapkan, tepatnya Rava hanya sadar sedang berdua bersama dengan Ara. Dimas?? Siapa Dimas??
"Permisi.." Suara dari teras rumah mengusik drama yang sedang berlangsung.
"Biar aku aja Ra yang lihat." Dimas beranjak dari duduknya dan berlalu secepatnya.
"Loh.. Hans kan?" Suara tanya Dimas yang menyeruak pendengaran membekukan Ara. Nafasnya tiba-tiba terasa sesak.
Memaksa melihat tamunya langsung, Ara berjalan terseok menahan sakit. Jika benar tamunya adalah Hans yang dikenalnya itu, maka ingin Ara siram garam sekeliling rumahnya. Namun tingkah Ara yang seperti itu diartikan lain oleh Rava. Rava mengira Ara ingin menyambut Hans.
Kecewa, marah, cemburu, kesal dan pasrah Rava miris terhadap kondisinya. Belum lagi bila harus berhadapan dengan Bima dan lawannya yang lebih rumit, yaitu Dion yang tidak lain adalah adiknya.
"Ara.." Senyum merekah Hans hadiahkan saat melihat Ara muncul dari balik pintu.
"Kamu kenapa Ra??" Tanya Hans khawatir. Bila dulu Hans mengkhawatirkannya seperti ini pasti Ara akan meleleh terharu dan terpesona.
"Ngapain kamu ke sini?" Tanya Ara ketus. Sudah muak Ara berhadapan dengan Hans.
"Aku bawain kamu oleh-oleh.. Baru kemarin malam aku sampai terus langsung ke sini." Jawab Hans masih dengan senyum ramah, bahkan tidak ada tanda-tanda permusuhan dengan Dimas. Berbeda dengan Rava yang sejak awal memasang pagar berduri diantaranya.
Sekarang disinilah keempatnya, duduk canggung dengan masing-masing pikirannya. Jangan tanya bagaimana pikiran Dimas, jelas saat ini ia sangat senang bisa menjadi saksi adegan yang tidak tau akan berakhir seperti apa. Bersyukur Dimas sempat ditahan oleh Ara.
"Pak Kim kok bisa ada di sini??" Tanya Hans heran dengan dahi mengerut samar.
"Kenapa? Salah kalau saya datangin rumah calon istri saya??" Menyeringai Rava bertanya dengan sinis.
"Ma-Maksudnya.. Maksudnya gimana Pak??" Tanya Hans bingung.
__ADS_1
"Pak!!" Bentak Ara dengan suara berat.
Sungguh gila bagi Ara apa yang Rava lakukan di ruang tamu rumah orang tuanya itu. Tidak habis pikir bagaimana reaksi Mama Lauritz dan Papa Yudith jika harus mendengar penyataan nekad dari sang Dosen tampan.
"Mas!!" Suara lembut Rava hilang berganti dengan nada tegas.
"Panggil Mas!! Bukan Bapak!!"
"Iya." Jawab Ara singkat. Percuma jika dibantah, lebih baik nanti Ara langgar saja perintahnya.
"Loh kok rame ini??" Tanya Papa Yudith yang baru saja melewati pintu depan, "Ada nak Rava juga toh?? Libur kuliah tapi tugas kampus tetap jalan ya.."
'Nak?? Kok gak Bapak lagi manggilnya??' Mengernyit Ara membatin heran. Di sisi lain Ara berharap Papa nya tidak mendengar pernyataan konyol yang baru saja menjadi bom di rumahnya.
"Nggak Om.. Cuma mau ketemu Ara aja.." Beranjak dari duduknya, Rava menghampiri dan mencium punggung tangan Papa Yudith.
"Om apa kabar??"
"Baik.. Sehat banget.. Oya, mobil gimana?? Radiator nya udah diganti??"
"Ehh.. Udah Om. Udah aman kok.."
"Ikut Om dulu ke samping, ada barang bagus buat mobil yang kemarin kita bahas." Berat kaki Rava melangkah mengikuti Papa Yudith, apalagi meninggalkan Ara dengan musuh nyatanya yang seumuran dengan Ara. Namun demi mengejar restu, Rava sadar harus mendekatkan diri dengan keluarga Ara.
Jika Ara sulit diraih bukan berarti Rava harus menyerah. Di kursi kecil bersama onderdil mobil, Rava menemani Papa Yudith, tapi jelas pikirannya melalang buana pada keberadaan Ara.
"Gak usah khawatir gitu Rav.. Ada Dimas itu yang nemenin Ara." Terlonjak kaget Rava mendengar ucapan Papa Yudith.
"Kamu suka sama anak Om?" Tanya Papa Yudith santai, namun tatapannya penuh intimidasi.
"Iya, Om. Saya mau serius sama Ara." Singkat, tegas dan mantap. Tatapan mata Rava tidak ada gentar keraguan.
"Memang anak Om mau kamu seriusin?" Pukulan telak menohok Rava. Dekat saja masih susah, apalagi mau diajak serius.
"Sebentar lagi calon kandidat mantu pilihan Om datang. Kamu kenalan baik-baik ya sama dia." Menepuk pelan bahu Rava, Papa Yudith menahan gelak tawanya saat wajah Rava menegang.
Benar saja, tidak lama kemudian datang sosok laki-laki yang tidak kalah tampan dan pastinya lebih muda dari Rava. Menenteng kantong besar berwarna hitam, sosok itu menatap lekat Rava yang tampak asing baginya.
"Lagi ada tamu ya Om??"
"Dosennya Ara, tapi Om ajak liat barang buat mobilnya Lang." Ucap Papa Yudith yang hanya dijawab dengan anggukan.
Rupanya tidak hanya Dimas yang sedang senang menyaksikan drama percintaan. Papa Yudith juga tidak kalah gila ingin menyaksikan api cemburu berkobar di rumahnya. Semoga tidak ada adegan baku hantam karena genre yang diambil romantis, bukan action.
...****************...
*
*
*
Hayoo looh.. Kira-kira siapa nih kandidat pilihan Papa Yudith??š¤
Ara terima aja kok kalau nanti bakalan dijodohinš¤
*
*
__ADS_1
Terima kasih masih setia ngikutin kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hanaš„°