
“Gimana caranya aku bisa deketin dia??" Ara menghela nafas kasar, "Dulu aja aku dihina sama dia."
Guratan kesedihan tampak jelas di wajah Ara. Kalimat demi kalimat dari suara familiar kembali berdenging di telinganya. Pantulan diri Ara di cermin meja riasnya seolah mengatakan bahwa riwayatnya sudah tamat.
Drrt.. Drrt..
Tring
📩
Bang Bima
Hi, apa kabar hari ini?? Gimana kuliahnya Ra??
^^^Ara^^^
^^^Hari ini Ara gak kuliah Bang, tapi tugasnya banyak banget jadi lumayan capek banget badan Ara.^^^
Bang Bima
Maaf kalau Abang ganggu ya.. Sekarang istirahat gih biar gak sakit.
Jaga kesehatan ya, jangan suka telat makan juga.
^^^Ara^^^
^^^Iya Bang, makasih ya.. Kalau gitu Ara mau tidur dulu ya. Abang juga istirahat aja sana, jangan begadang lagi.^^^
Senyum Ara yang sempat hilang kembali muncul. Ara tidak kekurangan kasih sayang, namun tidak bisa berbohong bahwa ia merasa serakah masih menginginkan rasa hangat dari orang lain.
Hubungan Ara dan Bang Bima dalam status LDR, tapi bukan Long Distance Relationship melainkan Lebih Dari Rencana. Tentu status keduanya sampai saat ini hanya teman seperti yang Ara inginkan. Akan tetapi satelit pemancar ternyata sudah mengirimkan sinyal kuat pada gelombang kenaikan level status mereka. Sepertinya harapan Mama Lauritz untuk menarik Bang Bima sebagai salah satu kandidat menantunya sedang di proses.
"Bener kata Bang Bima dulu, aku cantik. Aku udah berubah, bukan si buluk Ara lagi. Dia pasti gak akan kenal aku yang sekarang." Ucap Ara menyakinkan dirinya sendiri.
"Aku bakal bikin dia terbiasa sama aku dulu, terus pelan-pelan bakal aku biarin. Kalau dia hina aku lagi juga pasti gak bakal ngaruh banget, udah terlalu banyak hinaan darinya dulu. Kamu bisa Ra. Semangat!!" Menyeringai lebar memandang pantulan dirinya, pikir Ara biarlah ia kali ini di cap sebagai pelakor. Namun sepertinya muka seram Ara kali ini lebih cocok di cap mirip valak, jadi tampaknya lebih baik disebut valakor daripada pelakor.
"AKU BISA!! AKU BISSAAA!! AKKUUU BIIIISSSAAAAA!!!" Teriak Ara tiba-tiba sebagai seruan awal perangnya.
Ceklek
"Kakak!! Udah malam jangan teriak-teriak!!" Suara melengking Mama Lauritz menyadarkan Ara.
"Hehe.. Iya maaf Ma. Tugas Ara susah.. Mau nyerah aja rasanya. Tapi ingat kalau udah mau nyerah Mama bilang harus yakin sambil bilang 'aku bisa' gitu." Meringis malu Ara pandang Mama Lauritz lewat pantulan cermin.
"Heh!! Tapi gak teriak gitu juga. Udah ini di minum susunya.. Jangan tidur malam-malam lagi. Obat tadi udah di makan kan?" Tanya Mama Lauritz sambil meletakkan segelas susu di meja rias Ara.
Gluk
Gluk
Gluk
"Udah kok Ma. Obatnya masih sama, kemaren cuma ngobrol aja sama Dokter Dion." Jawab Ara sambil mengembalikan gelas ke tangan Mama Lauritz. Sungguh anak tidak berakhlak.
"Mama jadi bingung sekarang." Mengeryit heran Ara pada Mama Lauritz yang tiba-tiba berkata bingung.
"Kenapa Ma?" Tanya Ara sambil berbalik memandang langsung Mama Lauritz.
"Pilih Bima apa Dokter Dion ya??" Kata Mama Lauritz menatap Ara penuh tanya.
__ADS_1
"Lah kenapa harus milih?? Dua-duanya dokter, cuma Bang Bima masih koas, kalau Dokter Dion udah Sp.Kj aja kan. Emang Mama mau apa?? Bang Bima koas di rumah sakit yang ada di Kota Y Ma. Mending langsung ke poli umum aja dulu." Ucap Ara sekali lagi dengan penjelasannya.
"Kamu ini gimana sih kak?? Papa sama Mama mu dulu pernah pacaran sama orang lain loh.. Punya mantan.. Anak Mama ini normal kan?? Sering sama Dimas itu kamu anggap dia cowok kan Ra?? Kamu kok bisa gak peka sih ke Dion sama Bima? Kasihan banget cah ganteng itu." Cerocos Mama Lauritz menggebu.
"Dimas emang cowok Ma. Tapi buat Ara kadang Dimas itu ambigu kayak siput laut. Lagian apa hubungannya sama peka?" Tanya Ara heran. Ara benar-benar heran, ia tidak sedang berpura-pura bodoh seperti biasanya.
...----------------...
"Dimas.. Udah selesai aku yang ini. Gantian yuk Dim!?" Bujuk Ara pada Dimas dengan wajah memelas.
"Gak ikhlas banget sih Ra bantuin temen??" Celetuk Dimas tanpa mengalihkan pandangannya pada lensa mikroskop.
"Lagian kenapa diambil sih Dim?? Bikin susah sekampung aja ngitung bakteri." Keluh Ara sebal.
"Heh!! Jangan sembarangan ya.. Bayi-bayi ku ini Ra!! Tinggal 1 cawan petri lagi itu Ra. Di inkubator masih ada 3 cawan lagi itu jatah aku hitung besok, kalau hari ini belum siap inkubasi itu. Masih aku analisis lagi ini bakteri yang udah ke hitung." Mendelik sebal Dimas pada Ara.
"Lagian siapa suruh matiin colony counter tadi!!?? Ngitung ulang 293 koloni bakteri yang udah aku hitung 267 koloni itu gak dikit." Ucap Ara dengan nada merendah tapi penuh tekanan.
"Ya maaf Ra. Gak sadar kalau tadi itu kabel colony counter. Kirain kabel mikroskop. Hehehe.." Terkekeh Dimas tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Udahlah.. Aku mau keluar dulu cari Yuki. Kali aja itu anak udah kelar rekap nilai di luar." Ucap Ara sembari berdiri.
"Jangan lupa sterilin Ra. Ini bakteri air limbah rumah tangga sama air limbah dari kantin kampus."
"Oke. Kalau udah steril lagi aku gak masuk lagi ya.. Bye cuit.." Ucap Ara santai sembari melepas jas lab miliknya.
"Ehh!! Gak gitu juga kali." Sergah Dimas menatap Ara penuh harap.
"Woi!! Di lab berisik ya kalian." Kepala Yuki tiba-tiba sudah muncul di celah pintu Laboratorium Biologi yang terbuka sedikit, "Keluar Ra, ada yang kasih makan siang gratis tuh tadi."
Drek
Bukan Ara yang baru saja menggeser kursi.
"Kenapa tiba-tiba.."
"Biar cepet kelar terus makan siang." Ujar Dimas memotong ucapan Ara. Dasar Dimas si pemburu gratisan, mendengar ada makan siang gratis langsung tancap gas.
"Dari siapa ini Ki??" Tanya Ara pada Yuki. Saat ini Ara, Yuki dan Dimas sedang berada pada kursi panjang di samping laboratorium, namun ketiganya memilih duduk di lantai dan meletakkan makanan di atas kursi.
"Gak tau. Tadi aku kan sempat disuruh ke pos satpam ambil pesanan makan siang Dekan, nah terus ternyata ada yang titip kasih ini Ra. Ini juga ada suratnya deh. Belum aku baca." Yuki menyerahkan amplop kertas biru pastel pada Ara.
Apa kamu bahagia sama yang udah kamu lakuin?
Kalau ternyata nggak, berhentilah.
Buat dirimu bahagia dengan cara lain.
Oya, aku tau sekarang kamu lagi sibuk banget, tapi jangan lupa makan ya..
Aku gak mau kamu tambah sakit.
Jangan takut juga ya sama aku.. Kita akan ketemu lagi di saat yang tepat nanti.
^^^Aku yang mencintaimu^^^
"GILA!!" Ucap Ara spontan mengejutkan Yuki dan Dimas.
"Kenapa Ra??" Tanya Dimas.
__ADS_1
"Udah 2 kali aku dapat pesan dari orang yang sama. Pertama aku gak tau gimana dia masukin surat itu ke tas aku, nah kedua yang ini. Pakai bilang cinta-cinta lagi. Siapa sih dia ini?? Sok misterius banget." Jelas Ara pada Dimas dan Yuki.
"Apa Hans ya Ra??" Ucap Yuki secara tiba-tiba.
"Gak mungkinlah Yuki. Kan itu bocah jauh dari sini." Ucap Dimas menyanggah praduga Yuki.
"Tapi tadi aku lihat Hans lagi ngobrol sama Bu Dian tau!" Mengkerutkan dahinya Yuki sedikit mengotot dan melotot.
"Masa iya dia?? Kayaknya gak mungkin deh dari kata-katanya." Membatin Ara memikirkan kemungkinan yang terjadi.
"Dim, ini gak tau kenapa bisa pas di kasih 3. Makan dulu coba." Ucap Ara pada Dimas sesaat setelah pikirannya kembali normal.
"Kenapa??" Tanya Dimas bingung.
"Makan aja lah." Kali ini Yuki yang berucap. Telepati antara Yuki dan Ara berhasil.
Nyam.. Nyam.. Nyam..
"Enak kok. Ini kayaknya makanannya beli di luar kampus deh. Ayam bakarnya beda, capcay nya juga gak pakai udang. Tau banget yang dikasih gak suka udang." Ucap Dimas sambil terus memasukan suapan demi suapan ke mulutnya.
"Udah lebih 2 menit nih Ra. Aman deh kayaknya Ra." Ucap Yuki menyakinkan Ara dengan stopwatch yang ditunjukan terus bergerak ke menit ketiga.
"Oh jadi kalian mau lihat aku mati atau nggak dulu gitu??" Ujar Dimas menyadari maksud dari tingkah kedua temannya itu. Diabaikan, itulah kondisi Dimas saat ini.
Sedangkan tidak jauh dari ketiganya ada seseorang yang tengah tersenyum manis memperhatikan ketiganya. Akan tetapi sorot mata sosok itu lebih tepat disebut sedang memperhatikan Ara saja, seolah sosok di sekitar Ara hanyalah kabut gas.
...****************...
Sp.Kj : Gelar untuk lulusan spesialis kedokteran jiwa atau psikiatri.
Inkubator Laboratorium : Alat yang digunakan untuk menginkubasi atau menumbuhkan mikroorganisme seperti bakteri pada suatu kondisi.
Cawan Petri : Wadah yang bentuknya bundar, selalu berpasangan dengan ukuran yang agak kecil sebagai wadah dan yang lebih besar merupakan tutupnya, terbuat dari plastik atau kaca yang digunakan untuk membiakkan sel.
Colony Counter : Alat untuk menghitung jumlah koloni bakteri atau mikroorganisme dalam cawan petri yang biasanya dilengkapi dengan pencatat elektronik.
Koloni Bakteri : Sekelompok sel identik (klon) di permukaan atau di dalam media kultur padat yang biasanya berasal dari sel induk tunggal bakteri.
Mikroskop : Alat untuk mengamati objek yang ukurannya sangat kecil hingga mata manusia tidak akan mampu untuk melihatnya.
*
*
*
Note : Gambar yang ku pakai cuma menggambarkan yang dimaksud dari cerita Ara ya.. kalau barang aslinya itu jenis/modelnya bakal lebih beragam lagi😄
Oya, tau gak kenapa perumpamaan Dimas ambigu harus pakai siput laut??
Jawabannya..
__ADS_1
Jeng.. Jeng.. Jeng..
Siput Laut itu Hermaprodit alias kelamin ganda.. Jadi tarik kesimpulan sendiri ya😁